BAB 28: BANTAL BAHU

1426 Words
"Temen gue di Bogor bisa perbaikin laptop dalam sehari. Tapi kita harus bawa sendiri." Naya berdiri di depan kamar Arsya. Tas ransel di punggung. "Lu siap?" Arsya mengangguk. Hatinya berdebar. Pertama kali pergi keluar kota berdua dengan Naya. Lira memeluk kaki Arsya. "TUAN, JANGAN TINGGALKAN AKU!" Matanya berkaca-kaca. "Aku bisa ikut! Aku bisa menyamar sebagai tas!" "Lira. Ini cuma sehari." "Tapi—" "Kamu jaga kosan." Arsya tegas. "Jangan sentuh kompor. Jangan ajak Bima belajar ritual Excel. Dan tolong... jangan buka pintu untuk siapa pun." "Tapi bagaimana jika ada penyusup? Atau roh administrasi datang untuk KTP?" "Tidak akan ada roh administrasi." Lira mengeluarkan tas kecil berisi benda aneh. "Siapkan perlengkapan bertahan hidup untuk Tuan!" Ia mengeluarkan: 1. Botol air "bertuah" — air keran dengan label. 2. Batu "penangkal roh jalanan" — batu biasa dari halaman. 3. Selimut mini "pelindung dingin bus" — sapu tangan besar. 4. "Mantra penunjuk jalan" — peta tua tahun 2005. Arsya memandang Naya. "Maaf." "Gapapa." Naya mengambil batu itu. "Ini buat apa?" "Penangkal roh! Di perjalanan, banyak roh penasaran yang bisa mengganggu!" "Oke." Naya memasukkan batu ke tas. Tanpa ekspresi. "Gue bawa aja." --- Terminal bus. Kerumunan. Suara. Bau asing. Arsya memutar kepala seperti burung hantu. "Di mana kita mencari bus ke Bogor?" Naya berjalan dengan yakin. "Ikut gue." Arsya mengikuti. Tapi matanya terus menangkap hal baru. Mesin tiket otomatis: "Altar penerbitan karcis ajaib! Ia mengeluarkan kertas sakti setelah kita memasukkan uang!" "Itu mesin tiket." Petugas keamanan dengan alat pemindai: "Prajurit penjaga gerbang! Dengan tongkat sihir pendeteksi logam!" "Itu security." Penjual makanan keliling: "Pendeta persembahan makanan! Dia membawa altar mini di pinggang!" "Penjual asongan." Naya. "Mau beli air?" --- Mereka dapat tiket. Duduk di area keberangkatan. Arsya kaku. Tas di pangkuan. "Nervous?" Naya. "Sedikit." Arsya menatap lantai. "Aku tidak terbiasa dengan keramaian manusia seperti ini." "Nanti di bus lu bisa tidur. Perjalanan sejam setengah." "Tidur? Di kendaraan bergerak?" Ia menoleh. "Bukankah berbahaya?" "Banyak orang tidur di bus." "Tapi bagaimana jika kita terbawa ke dimensi lain dalam tidur?" Naya memandangnya. "Lu beneran nanya?" "Maksudku..." Arsya menelan ludah. "...mimpi buruk." --- Bus datang. Besar. Bergemuruh. Arsya terkesima. "Kereta perang darat! Sangat besar!" "Itu cuma bus. Ayo." Di dalam, Arsya mendapat kursi dekat jendela. Naya di sebelahnya. "Kenapa kursinya bisa direbahkan?" Ia memegang sandaran. "Apakah ini kursi ajaib?" "Biar nyaman. Nanti lu coba." Bus bergerak. Arsya mencengkeram sandaran. Buku jari putih. "Jangan tegang gitu. Santai aja." "Tapi kecepatannya..." Ia melihat ke luar. "Kita meluncur seperti burung tanpa sayap!" Naya menghela napas. Lalu mengeluarkan earphone. "Nih, dengerin musik. Biar nggak panik." Ia memasangkan satu earphone ke telinga Arsya. Satu ke telinganya sendiri. Lagu instrumental. Lembut. Arsya terkejut. Mereka berdua mendengarkan musik yang sama. Jarak mereka hanya sepanjang kabel earphone. "Ini..." Ia menelan ludah. "...menyenangkan." Naya mengangguk. Menutup mata. --- Kondektur datang. "Tiket, mbak, mas." Arsya panik. "Dia meminta persembahan perjalanan!" "Bukan persembahan." Naya memberikan tiket. "Tiket." Kondektur menyobek. Pergi. "Lihat!" Arsya berbisik. "Dia merobek kertas sakti kita! Apakah itu bagian dari ritual?" "Itu buat bukti." Naya. "Sudah, tidur aja." --- Tapi Arsya tidak bisa tidur. Ia terlalu banyak melihat hal baru. Pegunungan di kejauhan: "Punggung naga yang tertidur!" Pabrik dengan cerobong asap: "Kuil dengan persembahan asap!" Truk kontainer panjang: "Ular logam raksasa!" Naya akhirnya membuka mata. "Lu nggak pernah keluar kota ya?" "Tidak." Arsya menggeleng. "Ini pertama kalinya." "Beneran dari desa terpencil ya?" "Ya." Jeda. "Sangat terpencil." Naya memandangnya. Beberapa saat. "Gue juga dulu pertama kali naik bus panik." Suaranya pelan. "Sekarang udah biasa." "Kamu sering bepergian?" "Iya. Dulu ikut keluarga. Sekarang sendiri." --- Mereka berbicara. Naya bercerita tentang masa kecilnya di kampung. Tentang pindah ke Jakarta. Hidup mandiri. Arsya mendengarkan dengan saksama. Sesekali bercerita tentang "desa DiRaTim" yang ia ciptakan. "Jadi di desa lu nggak ada bus?" "Tidak. Kita berjalan kaki." Jeda. "Atau... naik hewan." "Hewan? Kuda?" "Semacam itu." --- Bus memasuki tol. Kecepatan meningkat. Bus menikung. Arsya tanpa sengaja memegang lengan Naya. "Maaf." "Gapapa." Naya tidak menarik. "Lu takut ya?" "Sedikit." Naya tidak menarik lengannya. Arsya juga tidak melepaskan. Mereka duduk seperti itu. Beberapa menit. Sampai Arsya sadar. Melepaskan. Malu. --- Terminal Bogor. Cuaca sejuk. Arsya menghela napas dalam. "Udara di sini... berbeda. Seperti ada aura penyegaran." "Ya, Bogor lebih sejuk." Naya melihat ponsel. "Ayo, temen gue tunggu di luar." --- Teman Naya: Rizal. Bengkel laptop di rumah. Ramah. Sedikit aneh. "Laptop kena air ya? Gampang. Tapi butuh waktu tiga jam." "Kita tunggu di sini?" Arsya. "Bisa. Atau kalian jalan-jalan dulu." Rizal. "Nanti jam dua balik." Naya menatap Arsya. "Kita ke Kebun Raya? Dekat sini." Arsya mengangguk. --- Perjalanan ke Kebun Raya. Arsya salah paham tentang banyak hal. Angkot: "Kereta mini berwarna-warni! Dengan rute terbang di kacanya!" "Itu angkot. Transportasi umum kecil." Penjual roti bakar: "Pendeta roti! Dengan altar api terbuka!" Taman kota: "Tanah suci yang dijaga patung!" --- Kebun Raya Bogor. Arsya berhenti di pintu masuk. "Ini seperti surga kecil di dunia manusia." "Lu suka tanaman?" Naya. "Di tempat asalku, tanaman adalah sahabat." Ia menatap dedaunan. "Mereka memiliki jiwa." Naya tersenyum. "Di sini juga. Tapi manusia sering lupa." Mereka berjalan di antara pohon-pohon raksasa. Jembatan kecil. Kolam. Ikan-ikan berenang. Arsya berhenti. "Lihat. Mereka hidup dengan damai." "Kok lu bisa lihat hal-hal kecil gitu?" Arsya berpikir. "Karena dulu aku hidup di dunia yang sangat besar." Jeda. "Sekarang di dunia manusia, hal kecil menjadi istimewa." Naya memandangnya. Matanya—biasanya cuek—kali ini lembut. "Lu orang yang aneh, Arsya." Jeda. "Tapi aneh yang baik." "Apakah kamu tidak terganggu dengan keanehanku?" "Gue malah suka." Ia menatap ke depan. "Hidup sama lu nggak pernah boring." --- Mereka duduk di bangku kayu. Sunyi. Nyaman. Dring. Dring. Telepon Arsya berdering. "Ya, Lira." "APAKAH KAMU SUDAH MELAKUKAN RITUAL PENYEMBAHAN PADA DEWA PERJALANAN?" "Tidak ada ritual." "TAPI BIMA BILANG, KALAU PERGI JAUH HARUS MEMBERI SESA—" "Bima salah." Arsya. "Kami baik-baik saja." "Oke! HATI-HATI DENGAN ROH JALANAN! DAN JANGAN LUPA, BATU PENANGKAL HARUS DIPEGANG TERUS!" Arsya menutup telepon. "Maaf." "Gapapa." Naya. "Lira emang gitu." "Kamu sangat sabar dengan kami." "Karena kalian tulus." Naya memandang langit. "Beda sama orang kota yang banyak pura-puranya." --- Bengkel Rizal. Pukul 14.00. Laptop selesai. "Keyboardnya harus diganti. Tapi sementara pake keyboard eksternal dulu." Rizal menyerahkan laptop. Arsya membayar. "Terima kasih." "Oke. Hati-hati di jalan." --- Bus pulang. Senja. Arsya sudah mulai terbiasa dengan bus. Langit jingga. Indah. Naya terlihat lelah. Matanya mulai terpejam. Kepala terangguk-angguk. Lalu—tanpa sadar—kepala Naya bersandar di bahu Arsya. Arsya membeku. Napasnya ditahan. Tidak berani bergerak. Dengan perlahan, ia menyesuaikan posisi. Agar Naya lebih nyaman. --- Bus bergerak dalam gelap. Lampu jalan sesekali menerangi wajah Naya. Cuek bahkan dalam tidur. Hati Arsya berdebar. Momen ini... sangat manusiawi. Dan sangat berarti. --- Satu jam. Arsya tidak bergerak. Bahunya mulai pegal. Tapi ia tidak peduli. --- Naya terbangun. Ia sadar sedang bersandar di bahu Arsya. Cepat duduk tegak. "Maaf." Suaranya masih serak. "Gue ketiduran." "Tidak apa-apa. Kamu lelah." "Bahu lu pegal ya?" "Tidak." "Bohong." Jeda. "Tapi makasih." Mereka diam. Tapi sekarang ada kehangatan di antara mereka. --- Kos Bu Rini. Malam. Lira sudah menunggu di teras. Wajah cemas. "TUAN! AKU KHAWATIR KAU TELAH DICULIK ROH JALANAN!" "Tidak, Lira." Arsya turun dari motor Bima (yang meminjamkan tumpangan). "Kami baik-baik saja." Lira memeriksa Arsya dari ujung kepala ke kaki. "Apakah kamu mengalami cobaan? Atau serangan gaib?" "Tidak." Arsya menghela napas. "Kami hanya pergi, memperbaiki laptop, dan pulang." "Tapi Bima bilang, perjalanan keluar kota selalu penuh bahaya!" "Bima lagi-lagi salah." Naya menguap. "Gue masuk dulu. Capek." Setelah Naya masuk, Lira menarik Arsya ke kamar. "Ceritakan segalanya!" Bisiknya keras. "Apakah ada momen romantis? Apakah kamu melindungi Naya dari bahaya? Apakah ada pelukan?" "Tidak ada pelukan." Arsya duduk di kursi. "Hanya... dia tidur di bahuku." LIRA MELOMPAT GEMBIRA. "ITU BUKTI KEPERCAYAAN!" Matanya berbinar. "Di alam kita, membiarkan diri tertidur di dekat seseorang adalah tanda kepercayaan tinggi!" "Benarkah?" "YA! Itu berarti dia merasa aman bersamamu!" Arsya tersenyum. "Mungkin." "Jadi, bagaimana perasaannya?" Lira duduk di lantai, siap mendengar. "Apakah hatimu berdebar? Apakah kamu ingin waktu itu berlangsung selamanya?" "Lira. Itu terlalu dramatis." "Tapi aku tahu!" Lira menunjuk wajah Arsya. "Aku melihat senyum kecilmu!" Arsya tidak menjawab. Tapi ia tidak menyangkal. --- Di kamar Bima, telepon berdering. "Halo, Di! Mereka pulang! Wajahnya beda! Pasti ada sesuatu!" "Bima." Dinda lelah. "Jangan bikin teori konspirasi lagi." "TAPI INI NYATA!" "Kamu kerja proyek aja udah selesai?" "..." "Selesaikan dulu. Urusan hati orang biarkan mereka sendiri." --- Di kamar Naya, lampu padam. Tapi matanya masih terbuka. Memandang langit-langit. Bajunya nyaman. Dia tidak bergerak sama sekali. Bodoh. Tapi baik. --- Di kamar Arsya, Lira sudah tidur. Arsya masih duduk di kursi. Memandang jendela. Mungkin Lira benar. Mungkin aku mulai tidak ingin kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD