Sabtu pagi. Kos Bu Rini heboh.
Bukan karena ulang tahun. Bukan karena proyek freelance.
Tapi karena keran kamar mandi bocor.
Naya sudah jongkok di sana sejak sepuluh menit lalu, memeriksa sambungan. Wajahnya datar, tapi tangannya cekatan.
Arsya berdiri di ambang pintu. Tangannya mengepal. Sikapnya seperti prajurit yang siap bertempur.
"Ada yang perlu dibantu?"
Naya menoleh. "Lu bisa benerin keran?"
"Tentu." Jawabnya percaya diri.
Hatinya: Apa itu keran? Makhluk air kecil?
Lira muncul dari belakang. Langkah gesit. Mata waspada.
"Aku akan membantu Tu—kakak!" Cepat diperbaiki. "Musuhnya di mana?"
Naya mengangkat alis. "Musuh?"
"Bukan musuh." Arsya mendesis cepat. "Ini... tugas perbaikan."
---
Naya mengedip sekali. Lalu mengangkat kunci inggris.
"Ini alatnya. Kerannya bocor di sambungan ini." Ia menunjuk. "Coba dikencangkan."
Arsya menerima kunci inggris itu seperti menerima pedang keramat.
Tangannya gemetar sedikit. Hormat.
Ia memeriksa dengan serius. "Alat yang menarik." Jeda. "Bentuknya seperti tulang raksasa yang dibengkokkan."
"Itu kunci inggris, Kak." Naya datar.
Lira menyelonongkan kepala. "Untuk mengunci orang Inggris?"
"Bukan."
---
Dengan penuh keyakinan, Arsya memasang kunci inggris ke mur.
Ia memutar.
Kreek!
Suara logam berdecit.
"Itu dibuka, bukan dikencangkan." Naya.
"Ah." Arsya tidak berhenti. "Maksudku memang membukanya untuk memeriksa musuh dalam selimut."
"Musuh?"
"Maksudku... kotoran. Kotoran di dalam!"
Lira berjongkok. Mengamati keran seperti mengamati makhluk mitologi.
"Apakah ini naga air mini, Ka—Tuan? Eh, kakak!" Wajahnya tegang. "Ia mengeluarkan air dari mulutnya!"
"Itu keran, Lira." Arsya. "Bukan naga."
"Tapi ia bisa mengeluarkan air!" Lira tidak percaya. "Seperti naga!"
Naya menghela napas. Halus.
"Coba sekarang diputar balik. Perlahan."
---
Arsya mencoba lagi.
Fokus dewa. Konsentrasi penuh.
Tangannya bergetar sedikit—tapi ini wajar. Ini pertempuran.
Harus berhasil. Demi menunjukkan kemampuan pada Naya.
Tiba-tiba.
"HATI-HATI, TU—KAKAK! IA MELETUP!"
Lira melompat mundur. Seperti diserang ular.
Percikan air kecil. Tidak lebih.
Tapi Arsya kaget. Tangannya menyentak.
Klak!
Bagian atas keran terlepas.
Air memancur deras ke atas. Menyemprot langit-langit.
"AAAH!" Lira berteriak. "NAGA ITU MARAH! IA MENYEMBUR!"
---
Naya berdiri cepat. Mencapai keran utama.
Tapi Arsya menghalangi tanpa sengaja.
"Berdiri geser." Suara Naya sedikit lebih keras.
Arsya melompat ke samping.
Menginjak selang yang tergeletak.
Terpeleset.
Badannya berputar. Tangannya—masih memegang kunci inggris—tanpa sengaja mengenai ember kosong.
Ddorrr!
Ember berputar-putar di lantai. Seperti gasing gila.
"SERANGAN EMBER BERPUTAR!" Lira mengambil keset. "BIAR KUATASI DENGAN KESET!"
Plak! Plak!
Keset basah. Lantai licin. Air makin ke mana-mana.
---
Naya akhirnya mencapai keran utama. Diputar.
Air berhenti.
Tapi kekacauan belum usai.
Arsya mencoba bangun. Melangkah di lantai licin.
"Aduh—!"
Kakinya meluncur. Badan oleng.
Ia berpegangan pada rak handuk.
Rak goyah.
"TU—KAKAK! RAK ITU AKAN JATUH!" Lira masih belum konsisten.
Refleks dewa. Arsya mendorong rak menjauh.
Dorongan terlalu kuat.
Rak meluncur di lantai basah—langsung menuju Naya yang baru saja berdiri.
Naya melihat rak meluncur ke arahnya.
Matanya melebar. Sedikit.
Tapi cukup. Arsya tahu ini bahaya.
"NAYA!"
Ia melompat. Tubuhnya membentang. Mencoba menghentikan rak.
Malang. Ia ikut terbawa.
Arsya dan rak—meluncur seperti perahu di air.
Naya melompat ke samping. Tepat waktu.
Braak!
Rak menabrak dinding. Handuk berhamburan.
Arsya tergeletak di atas tumpukan handuk. Napas tersengal.
Lira bertepuk tangan.
"KAKAK BERHASIL MENGALIHKAN SERANGAN RAK! TAPI KENAPA HANDUKNYA JADI KORBAN?"
---
Naya berdiri di sampingnya.
Air menetes dari rambutnya. Sedikit.
Pipinya bergerak. Apakah itu senyuman?
"Lu..." Suaranya pelan. "Lu niat bantu atau bikin banjir bandang?"
Arsya memerah.
"Saya... saya ingin membantu."
"Kerannya sudah beres." Naya melihat sekeliling. "Tapi kamar mandinya kayak kapal karam."
Lira mulai mengumpulkan handuk.
"Ini peninggalan perang, Naya. Handuk-handuk pemberani."
Naya mengeluarkan suara kecil. Seperti tertahan.
"Aduh."
Arsya duduk.
"Maaf. Saya tidak mahir dengan alat manusia."
"Kelihatan." Jeda. "Tapi usaha bagus. Minimal raknya nggak nabrak aku."
"Rak itu musuh licik." Lira serius. "Ia menyerang diam-diam."
---
Naya mengambil kunci inggris yang tergeletak.
"Besok kalo ada yang rusak lagi..." Ia memeriksa alat itu. "Mending gue panggil tukang aja."
"Jangan!" Arsya terlalu cepat.
Naya menatapnya.
"Maksudku..." Ia mencari kata. "Saya bisa belajar. Saya cepat belajar."
Naya memandangnya beberapa detik.
"Oke. Tapi next time..." Ia melirik Lira. "Jangan bawa adik lu. Dia kayak komentator pertandingan."
"Aku bukan adik biasa!" Lira protes. "Aku asisten de—asisten kakak!"
Arsya menutup mata.
Hampir terbongkar lagi.
---
Setelah kamar mandi agak rapi, Naya menawarkan teh.
Mereka duduk di teras kecil.
"Jadi gitu cara benerin keran." Naya menyesap teh. "Bukan dikasih mantra atau apa."
"Kami pikir semua masalah di dunia manusia butuh pendekatan... spiritual." Arsya hati-hati.
Lira mengangguk sungguh-sungguh.
"Di tempat kami, keran bocor biasanya karena roh air yang kesal. Harus diberi persembahan."
Naya mengangkat alis.
"Tempat lu jauh banget ya?"
"Sangat jauh." Arsya cepat. "Di... DiRaTim. Desa terpencil."
"Oh." Naya mengangguk. "Makanya lucu."
"Lucu?" Arsya.
"Iya. Cara pikir lu berdua. Unik."
---
Arsya merasa hangat di d**a. Bukan karena teh.
"Kamu tidak... terganggu?"
"Gue sih nggak. Malah menghibur."
Naya melihat ke arah Lira yang sedang 'menjinakkan' keset basah dengan cara didongakkan.
"Apalagi adik lu."
Tiba-tiba.
"KAKAK!" Lira berteriak. "KESET INI MEMILIKI BAYANGAN YANG ANEH!"
Itu cuma bayangan sendiri. Lampu teras. Tapi Lira sudah siap siaga.
Arsya menghela napas.
"Lira, itu cuma bayangan."
"Tapi ia bergerak mengikutiku! Seperti penjaga bayangan!"
---
Naya akhirnya tertawa.
Suara pendek. Tapi jelas. Nyata.
Arsya terpana.
Naya tertawa. Karena Lira.
"Dia selalu begitu?" tanya Naya, masih ada sisa senyum di sudut mulutnya.
"Selalu." Arsya ikut tersenyum. "Tapi itu membuat hidup tidak membosankan."
"Iya juga." Naya menatap langit senja. "Kosan jadi lebih rame."
---
Malam itu, setelah Naya masuk ke kamar, Arsya masih duduk di teras.
Lira duduk di sampingnya.
"Tuan." Bisik. Kini bebas memanggil sebutan asli. "Aku rasa Naya mulai menyukai kita."
"Kita?"
"Iya. Dia tertawa tadi. Itu pertanda baik di alam manusia, kan?"
Arsya mengangguk.
"Mungkin. Tapi ingat, kau hampir beberapa kali memanggilku 'Tuan' di depan Naya."
"Aku tahu." Lira menghela napas. "Tapi saat panik, mulutku bergerak sendiri."
"Aku akan lebih hati-hati."
"Aku tahu kau bisa."
Arsya memandang langit Jakarta. Jarang bintang. Tapi malam ini terasa indah.
"Iya. Menyenangkan."
---
Dari dalam, samar terdengar suara Naya bicara di telepon.
"Iya, Bu. Kerannya udah." Jeda. "Tadi dibantu temen kos."
Jeda lebih panjang.
"Hasilnya? Kamar mandi kayak baru dikunjungi badai."
Suara tawa kecil.
"Tapi lucu sih."
---
Arsya tersenyum sendiri.
Lira mendengus.
"Badai." Ia mengangguk. "Itu pujian, kan, Tu—maksudku, Kak?"
"Mungkin." Arsya. "Di dunia manusia, 'lucu' dan 'menghibur' adalah pujian."
"Kalau begitu." Lira bangga. "Kita sudah menjadi dewa penghibur!"
Arsya menggeleng. Tertawa.
Mungkin Lira tidak sepenuhnya salah.
Mungkin, di dunia manusia ini, menjadi 'lucu' dan 'menghibur' adalah kekuatan baru mereka.
---
Tapi kekuatan itu rapuh.
Esok hari, proyek freelance akan dimulai lagi.
Mereka harus berhadapan dengan teknologi.
Musuh yang lebih abstrak daripada keran bocor.
Tapi untuk malam ini...
Cukup dengan senyuman Naya yang sedikit.
Dan kamar mandi yang sudah tidak banjir.
Itu sudah menjadi kemenangan kecil.