Minggu sore. Proyek freelance akhirnya selesai.
Tiga minggu kerja keras. Data klien beres. Uang masuk.
Bu Rini sebagai supervisor: 10%.
Naya sebagai teknisi: 25%.
Arsya dan Lira sebagai pekerja utama: 40%.
Bima sebagai penghubung: 15%.
Rania sebagai konsultan desain folder: 10%.
"Kita patungan makan-makan yuk!" Bima bersemangat.
Tapi Arsya punya rencana lain.
Saat semua sibuk menghitung uang di ruang tamu, ia mendekati Naya.
"Naya. Apakah kau punya waktu nanti sore?"
Naya melipat uang. Berhenti.
"Aku ingin mengajakmu minum kopi." Jeda. "Sebagai ucapan terima kasih."
"Gak perlu. Aku bantu karena memang mau bantu."
"Tapi aku ingin." Arsya menahan napas. "Jika kau tidak keberatan."
Naya memandangnya sejenak.
"Jam berapa?"
"Jam empat. Warung kopi dekat sini."
Naya mengangguk.
---
Lira mendengar.
Matanya berbinar.
"KENCAN! Ini kencan pertama!" bisiknya.
"Bukan kencan." Arsya cepat. "Hanya pertemuan antara kolega yang berterima kasih."
Lira sudah tidak mendengar.
Dia menghampiri Bima.
"Bima! Kita harus mengawasi mereka dari jauh! Untuk keamanan!"
"Keamanan apa?" Bima mengernyit. "Ngintipin orang kencan itu nggak etis."
"Ini bukan mengintip! Ini observasi budaya!" Lira tegas. "Aku perlu mempelajari ritual kencan manusia untuk penelitian!"
Bima tersenyum.
"Jadi kita jadi spy? Asyik kayak film." Ia mengangguk. "Oke, aku ikut."
Rencana terbentuk.
Arsya dan Naya ke warung kopi.
Lira dan Bima mengikuti dari jarak aman.
Kamuflase: topi dan kacamata gelap pinjaman Rania.
---
Kopi Temaram.
Cahaya redup. Musik jazz pelan. Aroma kopi menggantung di udara.
Arsya memilih meja di sudut dekat jendela.
Dia datang 15 menit lebih awal.
Di kepalanya, skenario percakapan sudah disusun rapi.
Naya datang tepat waktu. Kaos. Jeans. Sederhana.
"Kamu sudah lama nunggu?"
"Tidak. Aku juga baru sampai."
Mereka memesan.
Arsya: kopi hitam.
Minuman yang membuatmu terlihat sophisticated, kata artikel yang dia baca.
Naya: teh tarik.
"Jadi." Arsya memulai. "Proyeknya sudah selesai dengan baik."
"Iya. Klien puas." Naya menyandarkan punggung. "Mereka bahkan tawarin proyek lanjutan."
"Bagus. Itu berarti pendapatan tambahan."
"Tapi jangan sampai mengganggu kerja utama."
"Tentu."
---
Diam.
Arsya mengamati Naya.
Dia memandang ke luar jendela. Wajah tenang. Cahaya sore yang keemasan membuatnya terlihat lebih lembut.
"Kenapa kamu sering membantuku?" tanya Arsya tiba-tiba.
Naya menoleh.
"Aku gak sering bantu orang lain." Jeda. "Cuma kebetulan aja."
"Tapi kau melakukannya lebih dari sekadar kebetulan." Arsya menghitung. "Membelaku soal printer. Meminjamkan scanner. Membantu urus KTP."
"Mungkin karena kamu terlihat seperti orang yang berusaha keras." Naya. "Tapi sering salah arah."
Jeda.
"Aku cuma kasihan aja."
Arsya tahu itu bukan hanya kasihan.
Tapi dia tidak menekan.
---
Di luar warung kopi.
Bangku taman seberang jalan.
Lira membawa teropong mainan—hadiah dari proyek freelance.
"Kak, aku tidak bisa melihat dengan jelas!" Ia mengutak-atik teropong. "Ini hanya memperbesar dua kali!"
"Itu cukup." Bima duduk santai. "Lihat, mereka sedang berbicara."
"Arsya terlihat nervous." Lira mengamati. "Dia memegang sendok kopinya seperti memegang pedang upacara!"
"Wajar. Ini kencan pertamanya."
"BUKAN KENCAN!"
---
Di dalam.
Percakapan mulai mengalir lebih alami.
Naya bercerita tentang masa kecil. Kampung. Mandiri sejak kecil.
"Kamu sudah bekerja sejak SMA?"
"Iya. Bantu-bantu di warung nenek." Ia menyesap teh. "Setelah itu merantau ke Jakarta. Kerja sambil kuliah."
"Kamu kuat."
"Nggak juga. Cuma bertahan aja."
Arsya berpikir.
Manusia. Perjuangan. Sederhana. Keras. Penuh ketekunan.
Di alam dewa, segalanya diberikan.
Di sini, segalanya diperjuangkan.
Dan Naya adalah bukti keindahan perjuangan itu.
"Kalau kamu?" Naya bertanya. "Masa kecilmu seperti apa?"
Arsya panik.
Cerita masa kecil fiktif. Belum disiapkan.
"Aku... dibesarkan di lingkungan yang terisolasi." Ia mencari kata. "Banyak belajar teori. Sedikit praktik kehidupan."
"Makanya kamu kaku."
"Apakah itu buruk?"
"Nggak." Naya hampir tersenyum. "Justru unik. Kebanyakan orang di sini terlalu banyak praktik, sedikit teori."
Mereka tertawa.
---
Pelayan datang. Kopi Arsya tiba.
Arsya menyesap.
Pahit. Sangat pahit.
Dia tidak sanggup. Tapi malu mengaku.
Naya memperhatikan.
"Kamu pesan kopi hitam tapi mukanya kayak lagi minum obat cacing." Ia mengambil sachet gula. "Mau?"
"Tidak, tidak apa-apa."
"Gak usah sok kuat."
Naya menyodorkan gula.
"Di sini, ngaku nggak suka pahit itu biasa."
Arsya akhirnya menambahkan gula.
"Terima kasih."
"Kamu sering terlalu keras sama diri sendiri." Naya. "Kayak harus sempurna dalam segala hal."
"Kebiasaan lama."
"Sekarang kamu bukan di tempat lama." Jeda. "Di sini, nggak sempurna itu wajar."
---
Percakapan itu menyentuh sesuatu.
Arsya memang selalu menuntut kesempurnaan.
Sebagai dewa.
Sebagai penyintas di dunia manusia.
Sebagai kakak untuk Lira.
Tapi di depan Naya, dia merasa boleh tidak sempurna.
---
Di luar.
Lira bersorak pelan.
"MEREKA TERTAWA! Itu pertanda baik!" Ia memegang teropong erat-erat. "Oh, dia memberinya gula! Itu ritual berbagi!"
Bima tertawa. "Lo ini lebay banget. Itu cuma gula."
"Tapi simbolis!" Lira berbisik keras. "Di alam kami, berbagi garam dan gula adalah tanda ikatan persahabatan yang mendalam!"
"Ya sudah, kalau gitu."
Tiba-tiba.
"Oh tidak!" Lira menjatuhkan teropong. "RANIA!"
Bima menoleh.
Rania berjalan santai menuju warung kopi.
"Dia akan mengganggu!" Lira panik. "Kita harus menghentikannya!"
"Jangan." Bima menahan. "Biarin aja. Naya bisa handle."
---
Rania masuk.
Pura-pura tidak sengaja.
"Wah, Arsya! Naya!" Senyum manis. "Kalian di sini?"
Arsya kaku. "Iya. Kamu mau minum?"
"Boleh gabung?" Rania sudah menarik kursi. "Aku lagi nunggu temen. Kayaknya dia telat."
Naya diam. Ekspresi datar.
Arsya bisa merasakan ketidaknyamanannya.
"Lagi ngobrol apa?" Rania.
"Tentang proyek." Naya singkat.
"Wah, masih urusan kerja." Rania tertawa kecil. "Kan hari libur."
"Kami juga baru selesai membicarakannya." Arsya mencoba menyelamatkan.
Rania tidak pergi.
Dia memesan smoothie. Mulai bercerita tentang kencannya yang gagal kemarin.
Arsya dan Naya hanya bisa mendengarkan.
---
Di luar.
Lira gelisah.
"Dia merusak momen!" Ia mondar-mandir. "Kita harus melakukan sesuatu!"
"Gak bisa. Nanti ketahuan kita ngintip."
Lira berhenti.
Dia mengeluarkan ponsel.
Menelepon Arsya.
---
Di dalam, ponsel Arsya bergetar.
"Maaf, ada telepon." Ia melihat layar.
Lira.
"Halo?"
"Kak! Situasi darurat!" Suara Lira di seberang, panik. "Buruan pulang! Ada masalah dengan scanner!"
Jeda.
"MENGELUARKAN ASAP!"
Arsya tahu itu bohong.
Tapi ini kesempatan.
"Maaf, Naya, Rania." Ia berdiri. "Scanner di kos ada masalah. Aku harus pulang."
Naya mengangguk. Paham.
"Aku ikut." Ia bangkit. "Soalnya scanner punyaku."
Rania tersenyum getir.
"Ya sudah. Aku tunggu temenku di sini aja."
---
Mereka keluar dengan cepat.
Di luar, Lira dan Bima bersembunyi di balik pohon.
"Naya." Arsya berhenti. "Aku minta maaf untuk adikku."
"Nggak apa-apa." Naya melirik Lira yang pura-pura melihat langit. "Lumayan lucu."
Mereka berjalan pulang.
Lira terus meminta maaf.
"Aku hanya tidak ingin Rania mengganggu kencan kalian."
"INI BUKAN KENCAN." Arsya dan Naya bersamaan.
Mereka saling pandang. Tersenyum.
---
Malam. Kos Bu Rini.
Arsya duduk di teras depan.
Naya keluar. Dua gelas teh di tangan.
"Untukmu."
"Terima kasih."
Mereka duduk diam. Udara malam. Sepi yang nyaman.
Dari dalam, samar-samar terdengar:
Televisi Bu Rini.
Tawa Bima.
Suara Lira menjelaskan sesuatu tentang konstelasi bintang.
"Lira memang unik." Naya.
"Dia adalah bagian terbaik dari hidupku."
"Kamu beruntung punya dia."
"Ya."
---
Diam lagi.
"Naya." Arsya memecah keheningan. "Terima kasih untuk hari ini. Dan untuk segalanya."
"Gak usah berterima kasih terus."
"Tapi aku ingin." Ia menatap gelasnya. "Karena berkatmu, aku mulai merasa..."
Jeda.
"Ini bukan tempat yang asing lagi."
Naya memandangnya.
Cahaya lampu teras redup. Mata Arsya jujur.
"Kamu juga membuat kos ini lebih hidup." Suara Naya pelan. "Dulu kos ini cuma tempat tidur dan makan."
Jeda.
"Sekarang ada cerita."
Mereka tersenyum.
Tidak ada kata-kata besar. Tidak ada deklarasi.
Hanya keheningan yang nyaman.
Antara dua orang yang mulai saling memahami.
---
Lira mengintip dari jendela.
Melihat mereka duduk berdampingan.
Dia tersenyum. Lalu pergi tanpa mengganggu.
---
Kamar 207. Malam.
Lira berbaring. "Kak."
"Ya."
"Apakah kau sudah menyadari?"
Arsya diam. "Menyadari apa?"
"Bahwa kau merasa nyaman dekat Naya." Lira menatap langit-langit. "Bahwa dunia ini mulai terasa seperti rumah."
Arsya berpikir.
Ya.
Saat di warung kopi tadi. Saat berjalan pulang. Saat duduk di teras.
Dia merasa damai.
Tidak perlu menjadi sempurna. Tidak perlu menyembunyikan segalanya.
Cukup menjadi Arsya.
Manusia yang belajar.
"Ya." Suaranya pelan. "Aku mulai merasa nyaman."
"Dan itu berkat Naya?"
"Sebagian." Arsya. "Sebagian lagi berkat kamu. Dan berkat semua di sini."
"Apakah kita masih ingin kembali ke alam dewa?"
Arsya memandang langit-langit.
"Aku tidak tahu." Jeda. "Mungkin tidak sekarang. Mungkin di sini pun tidak buruk."
Lira tersenyum.
"Aku juga merasa begitu."