Sabtu pagi. Proyek freelance memasuki minggu ketiga.
Arsya dan Naya duduk di meja dapur. Laptop terbuka. Dua gelas kopi. Wajah mereka serius, suara rendah.
Lira turun mengambil air. Mendengar sepenggal.
"Dokumen KTP itu harus segera diurus. Nanti bisa jadi masalah." Naya.
"Aku tahu. Tapi bagaimana caranya? Kita tidak punya data asli." Arsya.
"Bisa pakai jalur khusus. Tapi butuh waktu dan biaya."
Dokumen KTP? Jalur khusus?
Lira menyelinap mendekat. Tapi Naya sudah menutup laptop.
"Sudah. Kita bicarakan nanti." Naya berdiri. "Aku harus ke kantor dulu."
---
Setelah Naya pergi, Lira menghampiri Arsya.
"Kak. Apa yang kalian bicarakan?" Matanya tajam. "Aku mendengar tentang KTP dan jalur khusus."
Arsya gelisah. "Itu... urusan administrasi. Tidak penting."
"Tapi kau bicara sangat serius. Seperti merencanakan misi rahasia." Jeda. "Tanpa melibatkan aku."
"Bukan rahasia. Hanya urusan manusiawi."
"Kita berdua tim!" Suara Lira meninggi. "Selama 1200 tahun kita selalu berbagi informasi! Mengapa sekarang kau menyembunyikan sesuatu?"
Arsya menarik napas.
"Lira. Ini dunia manusia. Ada hal-hal yang lebih baik tidak kau ketahui. Demi keamananmu."
Demi keamananmu.
Di alam dewa, kalimat itu diucapkan sebelum misi berbahaya.
"Jadi ada bahaya?" Lira menatapnya. "Kau melindungiku dengan cara mengucilkanku?"
"Bukan begitu."
"Lalu apa?" Suaranya bergetar. "Katakan padaku!"
"Tidak sekarang." Arsya menunduk. "Nanti."
Lira tidak menjawab. Berbalik. Pergi ke kamar.
---
Sepanjang hari, Lira pendiam.
Bima datang. "Lira, aku bisa ajarin kirim email attachment."
Angguk singkat.
Rania lewat. "Mau ikut belanja sore?"
Geleng.
Arsya melihat dari pintu. Ada yang tidak beres. Tapi kepalanya terlalu penuh.
KTP. Dokumen. Biaya. Risiko.
Naya menawarkan bantuan: kenalan yang bisa buat dokumen palsu. Tapi ilegal. Mahal. Berisiko.
Arsya tidak ingin melibatkan Lira dalam keputusan ini.
---
Sore. Pertengkaran pecah.
Pemicunya sederhana: Lira membuatkan teh.
Tapi pikirannya sedang kacau. Garam, bukan gula.
Arsya meneguk. Wajahnya berubah.
"Lira. Teh ini asin."
"Oh." Lira menatap cangkir. "Maaf. Mungkin tertukar."
Jeda.
"Tapi setidaknya aku masih berusaha melayani." Suaranya tajam. "Tidak seperti kakak yang sudah tidak mempercayaiku lagi."
"Ini bukan soal percaya."
"Lalu apa?" Lira meletakkan teko dengan keras. "Aku melihat kau semakin sering berbisik dengan Naya. Apa ada yang tidak beres dengan identitas kita? Apakah kita dalam bahaya?"
Arsya meletakkan cangkir.
"Tidak ada bahaya. Hanya urusan dokumen."
"Dokumen apa?" Lira hampir berteriak. "Katakan!"
"KTP!" Arsya akhirnya meledak. "Kita butuh KTP palsu agar tidak dicurigai! Naya tahu seseorang yang bisa membantu, tapi butuh uang dan itu ilegal! Itu mengapa aku tidak ingin kau terlibat!"
Lira terdiam.
Wajahnya berubah. Dari bingung, menjadi terluka. Lalu marah.
"JADI KAU MEMILIH MEMPERCAYAI MANUSIA YANG BARU KAU KENAL BEBERAPA BULAN—"
"Naya bukan—"
"—DARIPADA AKU YANG SUDAH MENEMANIMU 1200 TAHUN?"
"Ini bukan soal percaya! Ini soal melindungimu!"
"PROTEKSI BERLEBIHAN ADALAH BENTUK PENGUCILAN!" Mata Lira berkaca. "Di alam dewa, kita selalu menghadapi risiko bersama! Sekarang kau ingin jadi hero sendirian?"
Bima keluar dari kamar 205. "Ada apa? Berantem?"
"Bukan urusanmu!" Lira dan Arsya bersamaan.
"Wah, kompak sih." Bima mundur.
Rania muncul. "Lagi ada drama nih? Asyik."
Naya pulang. Melihat keributan.
"Kenapa?"
"Arsya dan Lira lagi berantem." Rania tersenyum.
Naya mendekati kamar 207. "Bisa tenang? Bu Rini bisa marah."
Arsya membuka pintu. "Maaf. Kami hanya berdiskusi."
"Dengan suara setinggi itu?"
Lira tiba-tiba menunjuk Naya.
"KAU! Kau yang membuat kakakku berubah!" Suaranya pecah. "Sekarang dia lebih mendengarkanmu daripada mendengarkan aku!"
Naya terkejut. "Aku tidak—"
"SUDAH! Aku mengerti!" Lira melangkah mundur. "Di dunia ini, ikatan dewa-asisten tidak ada artinya lagi!"
Jeda.
"Aku hanya beban bagimu sekarang, Kak."
Lira berlari. Menuruni tangga. Menghilang ke arah gang.
---
Arsya hendak mengejar. Naya menahannya.
"Biar aku saja." Suaranya tenang. "Kamu sedang jadi sumber kemarahannya."
Naya pergi.
Arsya duduk di kasur. Lelah.
Bima masuk hati-hati.
"Bang. Gak usah dipikirin. Saudara pasti suka berantem."
"Dulu aku sama adikku pernah gak bicara seminggu. Cuma gara-gara spidol favoritnya ilang."
"Ini berbeda."
"Masalah KTP ya?" Bima duduk di kursi. "Emang kalian belum punya? Gampang. Aku kenal orang kelurahan."
"Kami... dokumen asli hilang."
"Bisa urus surat kehilangan. Ribet sih. Tapi bisa."
Arsya mengangguk.
Tapi pikirannya pada Lira.
---
Warung Bakso Pak Haji.
Lira duduk sendirian.
Semangkuk bakso di depan. Dingin. Tidak disentuh.
Naya masuk. Duduk di seberang.
"Boleh?"
Lira mengangguk pelan.
Naya memesan teh. "Aku tahu kamu marah."
Diam.
"Tapi Arsya hanya ingin melindungimu."
"Melindungi dengan cara berbohong?"
"Dia tidak bohong. Hanya menunda memberitahu."
"Di tempat asalku, penundaan informasi sama dengan pengkhianatan."
Naya menyesap teh.
"Di sini, kadang kita menunda memberi tahu orang yang kita sayangi. Agar mereka tidak khawatir."
Lira menatapnya.
"Kau sangat memahami kakakku."
Jeda.
"Sepertinya kau lebih cocok menjadi partnernya daripada aku."
Naya hampir tersedak.
"Jangan ngomong gitu." Ia meletakkan gelas. "Kamu dan Arsya punya ikatan yang berbeda. Aku hanya teman. Kebetulan tahu cara urus dokumen."
"Tapi kau bisa memberitahunya langsung." Suara Lira pelan. "Sedangkan aku harus mencuri dengar."
"Karena aku orang luar." Naya. "Arsya tidak perlu khawatir kalau aku yang ambil risiko. Tapi kalau kamu yang terlibat, dia akan panik."
Lira diam.
"Apakah kau menyukai kakakku?"
Naya terdiam lama.
"Aku... peduli padanya."
Jeda.
"Tapi itu tidak mengurangi ikatan kalian."
"Di tempat asalku, kalau seorang dewa menemukan pasangan, asisten biasanya akan mengundurkan diri." Lira menunduk. "Atau diangkat menjadi dewa juga."
"Kalian bukan dewa, Lira." Naya menatapnya. "Kalian manusia. Dan di sini, punya pacar tidak berarti mengabaikan saudara."
Lira menatap bakso yang dingin.
"Aku hanya takut menjadi tidak berguna." Suaranya nyaris berbisik. "Selama ini tugasku membantunya. Tapi di dunia ini, dia semakin bisa melakukan segalanya sendiri."
Jeda.
"Dan semakin sering meminta bantuanmu."
"Kamu masih sangat berguna." Naya. "Kamu yang membuatnya tertawa. Yang mengingatkannya untuk makan. Yang selalu ada."
Jeda.
"Aku hanya membantu hal teknis."
Lira tersenyum kecil.
"Kau baik, Naya."
"Aku memaafkanmu."
Naya menggeleng. "Jangan maafkan aku. Tidak ada kesalahan."
Jeda.
"Minta maaflah pada Arsya."
---
Kos Bu Rini. Ruang tamu.
Bu Rini sedang menasihati Arsya.
"Kakak adik itu jangan sampe berantem lama. Nanti jadi renggang."
"Kami akan berbaikan, Bu."
Lira masuk.
Arsya berdiri.
Hening.
Naya dan Bu Rini pergi. Memberi ruang.
"Maafkan aku, Kak." Lira lebih dulu. "Aku terlalu reaktif."
"Tidak." Arsya menggeleng. "Aku yang salah. Seharusnya aku jujur padamu dari awal."
"Maka dari sekarang." Lira menatapnya. "Tidak ada rahasia di antara kita. Bahkan jika itu berbahaya."
"Baik. Tidak ada rahasia."
Mereka berpelukan.
Tapi kemudian Lira berkata, "Sebenarnya... ada satu rahasia kecil yang aku sembunyikan."
Arsya tegang. "Apa?"
"Aku sudah tiga hari ini meminjam ponsel Bima." Jeda. "Untuk menonton video kucing. Tanpa izinmu."
Arsya tertawa. Lega.
"Itu saja?"
"Dan aku memakan cokelat persediaanmu." Lira menunduk. "Yang disembunyikan di balik buku."
"Lira!"
"Tapi aku akan menggantinya!" Ia mengangkat tangan. "Aku sudah belajar bahwa di dunia manusia, mengganti barang yang diambil tanpa izin adalah bentuk penebusan!"
Arsya menggeleng. Tersenyum.
"Sudah. Tidak apa." Jeda. "Tapi lain kali tanyakan dulu."
---
Malam. Dapur.
Mereka bertiga.
Arsya, Lira, Naya.
Diskusi terbuka. Tanpa bisik-bisik.
"Jadi, kenalanmu itu bisa membuat KTP palsu yang terlihat asli?" Arsya.
"Iya." Naya. "Tapi harganya mahal. Dan risikonya besar kalau ketahuan."
"Apakah ada cara lain?" Lira bersemangat. "Misalnya, mengaku sebagai korban bencana alam yang kehilangan semua dokumen!"
Dia menunjuk udara. "Itu sering terjadi di film!"
Naya mempertimbangkan.
"Itu bisa. Tapi butuh surat dari desa. Prosesnya panjang."
Jeda.
"Lebih baik urus sungguhan. Bima bilang kenal orang kelurahan."
"Tapi kita tidak punya data asli." Arsya.
"Kita bisa buat dari nol." Naya. "Tapi butuh waktu."
Mereka memutuskan: jalur resmi dulu. Bantuan Bima.
---
Makan malam. Sederhana.
Nasi. Telur dadar. Sayur bening.
Bima ikut bergabung.
"Gue udah telepon temen gue." Ia menyendok nasi. "Katanya bisa bantu. Tapi butuh surat pengantar dari RT."
"Kalian udah punya alamat tetap. Itu sudah cukup."
"Berapa biayanya?" Arsya.
"Gak banyak. Mungkin cuma administrasi biasa." Bima mengunyah. "Tapi kalian harus bisa kasih data konsisten. Nama. Tempat tanggal lahir. Nama orang tua."
Lira mengernyit.
"Orang tua? Mereka sudah meninggal di dunia lain—maksudku, di kampung."
"Tetap harus ada nama." Bima. "Bisa pakai nama fiksi. Asal konsisten."
Arsya dan Lira saling pandang.
Proyek baru: menciptakan identitas manusia yang lengkap.
---
Kamar 207. Malam.
Lira duduk di lantai. Arsya di kursi.
"Kak." Suaranya pelan. "Aku minta maaf lagi."
"Kamu sudah minta maaf."
"Ini untuk yang serius." Lira menatap tangannya. "Aku tidak ingin menjadi beban."
Arsya turun dari kursi. Duduk di sampingnya.
"Kamu bukan beban."
Jeda.
"Kamu adalah alasan aku bertahan di dunia ini."
Lira menoleh.
"Dan Naya?"
Arsya diam.
"Dia adalah alasan aku mulai menikmati dunia ini."
Lira tersenyum.
"Itu jawaban yang bagus." Ia mengangguk. "Aku menyetujui."
Arsya tersenyum. Tidak membantah.