BAB 18: KEBENARAN YANG DI PAKSAKAN

1668 Words
Jumat sore. Bima berdiri di lorong kos dengan senyum lebar. "Hari ini ulang tahun gue yang ke-22!" Ia membentangkan tangan. "Malam ini ada makan-makan di ruang tamu. Semua wajib datang ya!" Lira yang sedang mengembalikan piring ke dapur, berhenti. "Ulang tahun?" Ia memiringkan kepala. "Artinya hari kelahiranmu?" "Iya! Jadi nanti kita makan bersama. Ada kue. Tiup lilin. Nyanyi lagu." Arsya keluar dari kamar. "Apakah ada ritual khusus yang harus kami persiapkan?" "Ritual?" Bima tertawa. "Gak juga. Cuma bawa senyum aja." Jeda. "Oh iya, biasanya bawa kado. Tapi gak wajib kok." --- Kamar 207. Lima menit kemudian. "Kak." Lira berjalan mondar-mandir. "Kita harus memberikan persembahan untuk kelahirannya! Tapi apa yang pantas?" Arsya duduk di kursi, berpikir. "Di alam dewa, kita biasanya memberikan permata atau ramalan." "Kita tidak punya permata." Lira berhenti. "Uang kita terbatas." "Bagaimana jika kita memberikan jasa?" Matanya berbinar. "Misalnya, membersihkan kamarnya selama seminggu?" "Tidak praktis." Arsya menghela napas. "Mari kita tanya Naya." --- Naya sedang keluar dari kamar. Handuk di bahu, mau ke kamar mandi. "Ada apa?" "Bima ulang tahun." Arsya. "Apa yang biasanya diberikan sebagai hadiah?" Naya berpikir. "Biasanya barang yang dia butuhkan atau sukai." Jeda. "Tapi kalau belum kenal dekat, uang aja dalam amplop juga bisa." "Uang?" Lira mengernyit. "Memberikan mata uang sebagai hadiah kelahiran?" "Iya. Biasa di sini." "Tapi itu terasa tidak personal." Lira cemberut. "Ya terserah." Naya mengangkat bahu. "Aku juga belum beli. Nanti aku ke minimarket cari kaos atau sesuatu." Rania muncul dari kamar 206. Tas belanja mewah di tangan. "Aku sudah beli hadiah untuk Bima." Ia mengeluarkan kotak kecil. "Jam tangan. Dia pasti suka." Lira menatap kotak itu. "Jam tangan? Bukankah itu alat pengukur waktu?" Ia mengernyit. "Memberikan penjara waktu sebagai hadiah?" Rania terkekeh. "Iya, biar dia selalu ingat waktu." Jeda. "Lucu ya kamu." --- Sore menjelang malam. Ruang tamu kos berubah menjadi ruang pesta sederhana. Bu Rini sibuk di dapur: mie goreng, ayam goreng, sayur. Bima membeli kue ulang tahun kecil. Lilin-lilin mini tertancap rapi, membentuk tulisan "22". Semua berkumpul. Bima menyalakan lilin. Satu per satu. Api kecil berpendar di atas kue. Lira memperhatikan dengan sangat serius. "Api kecil di atas tumpukan lemak padat gula." Ia bergumam. "Ini simbolik apa?" "Itu tradisi." Bima tersenyum. "Nanti aku tiup. Terus kalian nyanyi 'Happy Birthday'." "Kami harus menyanyikan mantra kelahiran?" "Bukan mantra." Bima tertawa. "Lagu." Naya memulai. Suaranya pelan, datar. Happy birthday to you... Semua menyanyi. Kecuali Arsya dan Lira. Mereka hanya bergumam. --- Lagu selesai. Bima menarik napas. Bersiap meniup. "TUNGGU!" Lira mengangkat tangan. Semua diam. "Kenapa?" Bima masih dengan posisi siap tiup. "Api itu mengandung harapan dan doa!" Lira serius. "Jika kau tiup, berarti kau mengusir keberuntunganmu sendiri!" Rania tertawa. "Itu cuma mitos, Lira. Tiup aja, Bim." "Tapi di tempat asalku, api ritual tidak boleh dipadamkan sembarangan." Lira tegang. "Harus dibiarkan padam sendiri. Atau dicelupkan ke dalam air suci." "Ini bukan api ritual, Lira." Arsya mencoba tenang. "Ini lilin kue." Tapi Lira sudah mengambil gelas air. "Biarkan aku memadamkannya dengan cara yang benar." Suaranya penuh wewenang. "Dengan penuh hormat." Bima tidak sempat bereaksi. Byur! Air menyiram kue. Lilin padam. Kue basah di satu sisi. Air tumpah ke meja. "LIRA!" Bu Rini hampir menjatuhkan sendok sayur. "Kuenya jadi basah!" "Tapi api telah dipadamkan dengan hormat!" Lira mengangguk puas. "Sekarang arwah api tidak akan marah." Bima menatap kue yang lembab. Lalu tertawa. "Gak apa-apa, Bu." Ia mengambil pisau. "Bagian atasnya aja yang basah. Bagian bawah masih bisa dimakan." --- Krisis pertama selesai. Kue dipotong. Bagian atas dipisahkan di piring terpisah. Bima membuka hadiah. Dari Rania: jam tangan. Bima tersipu. "Wah, mahal ini Ran." Dari Naya: kaos bergambar band favorit Bima. "Thanks, Nay! Gue suka banget band ini!" Dari Bu Rini: amplop merah. Uang. Dari Arsya dan Lira: buku catatan dan pulpen. "Wah." Bima membolak-balik buku. "Ini bakal berguna banget buat catat materi kuliah." Lira bangga. "Kami memilihnya dengan pertimbangan fungsionalitas maksimal." --- Setelah makan. Suasana hangat. Bima mengusulkan permainan. "Main yuk! Truth or Dare. Sederhana aja." Dia mulai. "Naya. Truth or dare?" Naya menyeruput teh. "Truth." "Apa hal paling memalukan yang pernah kamu lakukan di kantor?" Naya berpikir. Jeda. "Pernah kirim email ke bos. Tapi salah lampirin file." Ia menatap tehnya. "File fotoku waktu kecil. Lagi pakai diapers." Semua tertawa. Rania terpingkal-pingkal. Lira mencatat mental: Manusia dewasa ternyata juga bisa salah kirim dokumen. Ini pelajaran penting. --- Giliran Naya memilih Bima. "Bima. Truth or dare?" "Dare!" "Lompat satu kali keliling ruangan." Naya tanpa ekspresi. "Sambil berkokok seperti ayam." Bima berdiri. Berlari. Satu putaran. Kukuruyuk! Suara ayam kota. Parau. Tidak meyakinkan. Tapi semua tertawa. Ruangan penuh gelak. --- Giliran Bima memilih Rania. "Ran. Truth or dare?" "Truth." Rania menyilangkan kaki. "Tapi yang tidak terlalu pribadi ya." "Pernah pacaran sama siapa aja selama di kos ini?" Rania tersenyum genit. "Rahasia." Jeda. "Tapi yang di kos ini cuma satu. Dan itu bukan kamu." Semua tertawa lagi. Bima menggaruk kepala. Lira berbisik pada Arsya, "Kak, apa tujuan permainan ini?" "Untuk bersenang-senang." Arsya. "Mengungkap rahasia atau melakukan tugas memalukan." "Ritual sosial yang rumit." --- Giliran Rania memilih Arsya. "Arsya. Truth or dare?" Arsya gugup. "Truth." "Kamu pernah suka sama seseorang di sini?" Rania tersenyum. Hening. Naya menatap tehnya. Lira menahan napas. Bima diam. Arsya berkeringat. "Bisa... ganti pertanyaan?" "Gak boleh." Rania. "Rules-nya." Arsya melihat sekeliling. "Aku... menghormati semua orang di sini." "Tapi ada yang spesial?" Rania mendesak. Bima mencoba menyelamatkan. "Udah, Ran. Jangan dipaksa." Tapi Rania tidak mundur. "Ini permainan. Harus jujur." Arsya menelan ludah. "...Ada." Lalu cepat-cepat minum air. Rania tersenyum puas. Naya masih menatap tehnya. Tapi telinganya merah. --- Giliran Arsya memilih. "Lira. Truth or dare." Lira takut. "Dare! Lebih baik tantangan fisik daripada mengungkapkan rahasia!" "Baik." Arsya berpikir. "Lakukan tarian tradisional dari daerahmu. Satu menit." Semua bersorak. Lira panik. Tarian tradisional daerah mana? Mereka tidak punya. Tapi tidak bisa mengaku. Lira berdiri. Mengambil posisi. Lalu mulai bergerak. Campuran aneh: ritual dewa, gerakan acak, dan sedikit gerakan yang dia lihat di video tari Bali tempo hari. Berputar. Melambai. Menghentak. Semua tertawa terbahak-bahak. "Tarian apa itu?" Bima memegang perut. "Tarian..." Lira mencari kata. "...pemanggil hujan versi modern!" Satu menit berlalu. Lira duduk. Wajah merah. "Aku lebih suka mengungkapkan rahasia lain kali." --- Permainan berlanjut. Giliran Lira memilih Naya. "Naya. Truth or dare?" "Truth." Lira berpikir keras. "Hewan peliharaan ideal... menurutmu?" Pertanyaan sederhana. Naya tersenyum kecil. "Kucing." Jeda. "Karena mandiri. Tidak merepotkan." --- Giliran Naya memilih Bima. "Bima. Truth or dare?" "Truth." "Apa yang paling kamu sesali selama tinggal di kos ini?" Bima diam. Wajahnya berubah serius. "Mungkin..." Ia menghela napas. "Terlalu cepat mengungkapkan perasaan ke seseorang." Jeda. "Sampai bikin hubungan jadi canggung." Semua tahu siapa. Lira menunduk. --- Permainan terus berlanjut. Hampir semua dapat giliran. Bu Rini dipaksa ikut. "Bu, truth or dare?" "Ya ampun, ibu-ibu disuruh main ginian." Bu Rini mendengus. "Dare." Bima bersemangat. "Telepon mantan pacar Bu Rini! Bilang masih sayang!" "Gak bisa!" Bu Rini hampir melempar sendok. "Masa sama ibu-ibu disuruh gituan!" Semua tertawa. Akhirnya Bu Rini hanya disuruh menyanyikan lagu dangdut. "Goyang dua jari... asyik..." Suaranya tidak bagus. Tapi semangat. --- Tiba-tiba. Pzzzzzt. Lampu padam. Gelap gulita. "Wah, mati lampu!" Bima. "Demi dewa!" Lira panik. "Kegelapan menyelimuti! TUAN, APAKAH INI SERANGAN?!" "Bukan, Lira." Suara Arsya di gelap. "Hanya pemadaman listrik biasa." Tapi di kegelapan, kekacauan mulai. "Aduh!" Rania. "Aku ketabrak siapa nih!" "Aku cari lilin." Bu Rini. "Senter juga ada." Naya ingat ada lilin cadangan di dapur. Dia berdiri. Tapi di gelap, tidak melihat kaki Bima yang terulur. Terantuk. Tubuhnya oleng. Hampir jatuh. Arsya refleks menangkap. Tangan di pinggangnya. Tangan lain di bahu. "Kamu baik-baik saja?" Suara Arsya dekat. "Ya." Napas Naya pendek. "Gelap banget." Mereka masih dalam posisi itu. Dalam gelap, tidak ada yang melihat. Hampir tidak ada. Lira memiliki penglihatan malam. Sisa dari alam dewa. Tidak tajam, tapi cukup. Dia bisa melihat samar: kakaknya memeluk Naya. Dan tidak segera melepaskan. Lira tersenyum. --- Bima menyalakan senter ponsel. Cahaya putih menerangi ruangan. Dia melihat Arsya dan Naya masih berdekatan. Cepat-cepat mengarahkan senter ke tempat lain. Bu Rini datang dengan lilin dan korek. Satu per satu lilin dinyalakan. Ruangan kembali diterangi cahaya redup, hangat. "Listrik biasanya nyala lagi sejam lagi." Bu Rini. --- Dalam cahaya lilin, suasana berubah. Lebih intim. Lebih tenang. Mereka duduk melingkar. Bima mengusulkan, "Listrik mati nih. Gimana kalau kita cerita hantu?" "Jangan!" Rania memeluk bantal. "Aku takut!" "Justru seru." Bima sudah memulai. Dia bercerita tentang "hantu perempuan berkebaya" yang konon menghuni kos tua di sebelah. Suara Bima dalam. Efek lampu redup bikin suasana makin mencekam. Lira mendengarkan dengan serius. "Di tempat asalku," katanya saat Bima selesai, "makhluk halus biasanya hanya energi yang tersesat." Jeda. "Bisa diarahkan dengan ritual kecil." Bima penasaran. "Kamu bisa ngusir hantu?" "Tidak sekarang." Lira ragu. "Tapi kami punya ilmu untuk itu." Arsya menendang kaki Lira di bawah meja. "Dia hanya bercanda." Suaranya cepat. Rania sudah pucat. "Jangan cerita hantu lagi." Suaranya gemetar. "Aku mau pulang ke kamar." "Listrik masih mati." Bu Rini. "Lebih baik kita tetap bersama di sini." Rania tidak jadi pergi. --- Mereka mengobrol ringan. Topik berganti. Kuliah. Pekerjaan. Harga cabai di pasar. Dalam cahaya lilin, Naya dan Arsya duduk bersebelahan. Sesekali bahu mereka bersentuh. Lira memperhatikan. Tersenyum sendiri. --- Satu jam kemudian. Klik. Lampu menyala. Semua bersorak. Pesta ulang tahun berakhir. Mereka membersihkan ruangan bersama. Saling membantu. --- Kamar 207. Malam. Lira berkata, "Kak." Arsya sedang melipat selimut. "Ya." "Tadi dalam gelap." Lira menatapnya. "Kau memeluk Naya." Arsya berhenti. "Kau salah lihat. Aku hanya menahannya agar tidak jatuh." "Tapi kau tidak segera melepaskannya." "Karena gelap." "Ah." Lira tersenyum. "Tidak apa-apa." Jeda. "Aku senang." Arsya tidak menjawab. Tapi dia juga tersenyum. --- Di kamar 205. Bima mematikan lampu. Masih tersenyum. Pesta berjalan baik. Meski kuenya basah. --- Di kamar 206. Rania membuka jendela. Menatap kosan sebelah. Malam ini, kedekatan Arsya dan Naya dalam gelap—dia melihatnya. Dia bukan Lira. Tapi cahaya lilin cukup untuk melihat. --- Di kamar 204. Naya duduk di tepi tempat tidur. Ponsel di tangan. Tidak ada pesan masuk. Dia meletakkan ponsel. Masih ingat tangan Arsya di pinggangnya. Hangat. --- Di ruang tamu. Bu Rini mengelap meja. Bekas air dari kue yang disiram Lira. Ia menggeleng. Tersenyum. "Anak-anak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD