BAB 17: ROBOT HANTU

1277 Words
Rabu pagi. Proyek freelance memasuki fase kritis. Bima mengumpulkan semua anggota di grup w******p yang baru dibuat. "Team, mulai hari ini koordinasi lewat sini. Besok jam 10 pagi kita video call sama klien." Arsya dan Lira saling pandang. WhatsApp. Video call. Kedengarannya seperti ritual komunikasi jarak jauh tingkat tinggi. "Apa itu... w******p?" tanya Lira. Bima tertegun. "Kamu gak pernah pakai w******p? Itu aplikasi chat di HP!" "Kami... tidak punya ponsel yang mendukung." Arsya cepat. Mereka hanya punya ponsel buta pemberian Bu Rini. Telepon dan SMS saja. "Gak bisa. Harus pake smartphone." Bima menghela napas. "Nanti aku pinjamin HP lama aku buat sementara. Tapi kalian harus belajar dulu." --- Dua smartphone bekas mendarat di kamar 207. Satu layar retak. Satu baterai cepat habis. Tapi cukup. "Pertama, download aplikasinya." Bima menunjukkan. "Download..." Lira memegang ponsel seperti memegang telur naga. "...artinya memanggilnya dari awan digital?" "Iya, dari internet. Tapi wifi kos lagi lemot. Nanti malam aja." Arsya sudah penasaran. "Bagaimana cara kerjanya? Apakah seperti telepati tertulis?" "Mirip SMS, tapi bisa kirim gambar, suara, video." Bima mengetik cepat. "Nanti kalian masuk grup. Semua ada: aku, Rania, Naya, kalian, dan Bu Rini buat monitor." "Bu Rini juga?" Lira menelan ludah. "Iya, biar transparan." --- Siang. Naya datang dengan laptop. "Aku udah setup software database-nya." Ia membuka layar penuh tabel. "Data yang diinput langsung masuk sini. Tapi kalian harus belajar dulu." DataEntryPro. Tampilannya seperti peta strategi perang yang rumit. "Ini... kompleks." "Gampang. Aku ajarin." Naya duduk di samping Arsya. Dia menunjukkan klik kiri—pilih. Klik kanan—menu. "Mengapa harus dibedakan?" Lira mengernyit. "Apakah klik kanan lebih sakral?" "Cuma konvensi." Naya sabar. "Biasa aja." Lalu shortcut: Ctrl+C, Ctrl+V. Arsya bereaksi. "Jadi kombinasi tombol ini mantra penyalin dan tempel? Sangat efisien!" Naya tersenyum. "Iya, mirip mantra. Tapi jangan bilang gitu di depan klien." Rania lewat. Mendengar. "Wah, Arsya lagi belajar komputer ya?" Ia masuk, berdiri tepat di belakang Arsya. "Aku bisa bantu privat." Naya tanpa menoleh. "Sudah hampir selesai. Tinggal praktik." Rania tidak mundur. "Arsya, nanti aku kasih tutorial video call. Biar gak kagok pas ketemu klien." --- Sore. Wifi stabil. Bima membantu mendownload w******p. Pling! Lira menjatuhkan ponsel. "APA ITU? SUARA PERINGATAN BAHAYA?!" "Itu notifikasi." Bima tertawa. "Ada yang kirim pesan." Lira mengambil ponsel dengan dua tangan. Pesan dari Bima: "Test." "Dia mengirimkan kata 'Test'. Apakah ini ujian?" "Itu cuma buat ngecek chat nyampe." Notifikasi berdatangan. Grup proyek dibuat. Anggota mulai menyapa. Naya: "Semangat kerjanya." Rania: "Jangan lupa istirahat, Arsya 😘" Bu Rini: "Jangan ganggu waktu tidur. Jam 9 grup ini harus sepi." Lira membaca pesan Rania. "Apa artinya simbol mata dan bibir itu?" "Itu emoji." Bima gugup. "Artinya... sayang." "Kenapa dia mengirimkan simbol sayang pada kakakku? Apakah ini mantra cinta digital?" "Gak, cuma bercanda." Pling! Pling! Pling! Arsya memegang kepala. "Bisakah kita mematikan suara panggilan roh ini?" "Bisa di-silent. Tapi nanti kalau ada info penting gak kedengeran." --- Malam. Video call percobaan. Bima mengajar dari kamar 205 via layar. Wajahnya muncul di ponsel. "ADA MANUSIA TERPERANGKAP DALAM KOTAK KACA!" Lira berteriak. "TUAN, SELAMATKAN DIA!" "Itu cuma video, Lira!" Arsya menahan lengan adiknya. "Bima ada di kamarnya!" "Tapi dia terlihat datar dan bergerak-gerak! Apakah ini ilusi optik?" Dari layar, Bima terbahak. "Lira, kamu lucu banget! Ini webcam. Aku di sini ngeliat kalian juga." Kamera diarahkan ke mereka. Lira melihat dirinya sendiri di layar. Panik. "AKU JUGA TERPERANGKAP! INI KUTUKAN!" Arsya berusaha tenang. "Ini hanya pantulan cahaya. Seperti cermin yang merekam." Sepuluh menit. Lira mulai tenang. Lalu Rania bergabung. "Halo, Arsya!" Makeup lengkap. Malam hari. "Kamu sudah bisa video call ya?" Arsya kaku. "Iya. Sedang belajar." "Besok video call sama klien, kamu harus pake baju rapi." Rania tersenyum. "Aku bisa bantu pilih." Naya bergabung. Hanya suara, tanpa kamera. "Yang penting sopan. Gak usah berlebihan." "Tapi kesan pertama penting, Nay." Rania masih tersenyum. Suasana di dunia maya tegang. Bima memotong. "Oke, besok kita kumpul di kamar Arsya jam 9.30 buat persiapan. Sekarang istirahat." --- Pukul 23.00. Lira menjelajahi ponsel. Salah pencet. Bleep! "Halo, saya asisten virtual. Apa yang bisa saya bantu?" Lira menjatuhkan ponsel. "ADA SUARA HANTU DARI DALAM PONSEL! TUAN, ADA MAKHLUK TAK KASAT MATA!" Arsya mengambil ponsel. "Ini hanya program." "Tapi dia menyapa! Menawarkan bantuan! Seperti roh penjaga yang terikat dalam benda!" Asisten virtual: "Saya tidak mengerti. Bisakah Anda mengulangi?" "DIAMLAH, ROH JAHAT!" Asisten virtual: "Memutar lagu 'Roh Jahat' dari Spotify..." Heavy metal menggelegar dari speaker kecil. Lira menjerit. "DIA MENGELUARKAN MANTRA PENGUSIR!" Arsya mencari cara mematikan. Tidak tahu. Akhirnya mencabut baterai. Sunyi. "Kita... butuh pelatihan lebih lanjut." --- Kamis. Jam 9.30. Kamar 207 penuh. Naya membawa laptop. Rania membawa ring light—entah dari mana. Bima siap jadi "klien palsu" untuk simulasi. "Pertama, pastikan kamera menghadap tepat." Naya. Rania memasang ring light di depan Arsya. "Ini biar cahayanya bagus. Kamu terlihat lebih tampan." Arsya merasa seperti sedang dipersiapkan untuk ritual pemujaan. Lira duduk di samping, masih trauma dengan "roh penjaga". Simulasi dimulai. Bima, sebagai "Pak Budi", berdiri di layar. "Selamat pagi, tim. Bagaimana progres datanya?" Arsya kaku. "Selamat pagi, Pak. Kami telah menyelesaikan 30 persen dokumen." "Bagus. Ada kendala?" "Tidak ada, Pak. Hanya... beberapa tantangan teknis kecil dengan perangkat lunak." Rania berbisik, "Senyum, Arsya. Jangan kaku kayak robot." Arsya mencoba tersenyum. Hasilnya: seperti orang sakit gigi. Lira tidak tahan. Tertawa kecil. "Pak Budi" di layar: "Saya dengar ada suara tawa. Ada apa?" Lira cepat menjawab, "Maaf, Pak. Saya sedang... tersedak energi positif." Naya mematikan mikrofon. "Jangan jawab aneh-aneh." --- Rania "tidak sengaja" masuk ke frame. Berdiri sangat dekat dengan Arsya. Seolah mereka tim yang sangat kompak. Naya dari samping, datar: "Rania, kamu menghalangi kamera." "Ah, maaf." Rania bergeser sedikit. "Aku cuma mau pastikan Arsya tidak sendirian di frame." Latihan selesai. Hasil: · Arsya masih kaku. · Lira masih takut pada teknologi. · Rania semakin menggoda. · Naya semakin kesal diam-diam. --- Hanya mereka bertiga. Arsya, Lira, Naya. "Besok video call beneran." Naya melipat kabel. "Jangan panik. Kalau ada yang gak tahu, diam aja dulu. Nanti aku yang jawab." "Terima kasih, Naya." "Gak apa-apa." Jeda. "Cuma... jangan terlalu dekat sama kamera. Nanti keliatan keringat." Lira bertanya, "Naya, apakah kau pernah berkomunikasi dengan roh penjaga di dalam ponsel?" Naya mengernyit. "Roh penjaga?" "Asisten virtual! Dia menyapa! Memutar musik!" "Oh, Google Assistant." Naya hampir tersenyum. "Itu cuma program. Kamu bisa suruh dia matikan lampu kalau punya smart home." "Memerintah roh untuk mematikan lampu?" Lira terkesima. "Itu kekuatan tingkat tinggi!" Arsya menghela napas. "Sudah, Lira. Naya, maafkan dia." Naya tersenyum kecil. "Gak apa-apa. Lucu kok." --- Malam. Pesan masuk di w******p Arsya. Dari Naya. "Jangan nervous. Kamu bisa. Kalau perlu, taruh fotoku di samping laptop biar tenang. 😄" Emoji pertama dari Naya. Arsya tersenyum. Lira mengintip. "Dari Naya? Dia kirim simbol hati kecil?" "Bukan hati. Wajah tersenyum." "Sama saja." Lira mengangguk yakin. "Itu tanda kasih sayang digital." Arsya tidak membantah. Dia membalas: "Terima kasih. Aku akan coba tenang. Tidur yang cukup." Balasan cepat: "Oke. Besok aku datang jam 9. Bawa kopi buat kamu." Lira, masih mengintip: "Dia membawakan kakak kopi! Itu ritual pertemanan yang semakin dalam!" "Tidur, Lira." --- Di kamar 204. Naya menatap layar ponsel. Pesan yang dia kirim sendiri. Kenapa aku jadi begini? Dia meletakkan ponsel. Membalikkan badan. Tidak bisa tidur. --- Di kamar 206. Rania merencanakan skenario besok. Tampil natural. Membantu. Tapi juga... memorable. --- Di kamar 205. Bima berpikir. Proyek ini harus lancar. Biar bisa ajak Lira "celebrasi" setelah selesai. --- Kamar 207. Arsya masih memandang layar. Percakapan dengan Naya. Fotoku di samping laptop. Dia tersenyum sendiri. Lira sudah tidur. Atau pura-pura tidur. Di luar, lampu kos satu per satu padam. Besok, ujian sesungguhnya. Video call dengan klien nyata. Dan setelah semua kekacauan teknologi, roh penjaga, dan mantra digital— Satu hal yang pasti. Pertemuan virtual tidak akan pernah sama lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD