BAB 16: AIR MATA CABAI

1255 Words
Selasa pagi. Proyek freelance input data sudah dimulai. Naya berhasil membawa scanner kantor ke kos—sebuah mesin besar berwarna abu-abu yang sekarang mendominasi meja kecil di kamar 207. "Kak, mesin ini seperti mata ajaib." Lira mengelus scanner. "Ia menelan kertas dan mengeluarkan ingatannya." "Itu scanner, Lira." Arsya menyusun tumpukan dokumen. "Bukan makhluk hidup." Tok tok tok. Rania di pintu. Senyum manis. Dua cangkir kopi di tangan. "Pagi! Aku dengar kalian mulai proyeknya." Ia menyodorkan kopi. "Ini buat semangat." "Terima kasih." Arsya menerima dengan kaku. "Gimana? Butuh bantuan?" Rania duduk di kasur. Padahal kursi masih kosong. "Katanya kalian butuh yang jago atur folder dan kompres file. Itu spesialisasiku." "Kami baru mulai. Mungkin nanti." "Jangan nanti-nanti. Sekarang aja." Rania merapikan rambut. "Aku bisa bantu scan sambil kamu input data. Lebih cepat." Lira yang sedang membaca manual scanner mendongak. "Naya juga mau bantu. Dia yang pinjamkan scanner ini." "Tapi Naya kan kerja dari pagi sampai sore." Rania tersenyum. "Aku lebih fleksibel." Arsya terjepit. "Baiklah. Tapi kita harus koordinasi jadwal." "Gampang. Kita mulai sekarang." Rania menepuk kasur. "Kamu input data di laptop. Aku yang scan. Lira bisa... apa ya, Lira?" "Aku akan mengatur dokumen berdasarkan tanggal dan jenis." Lira bangga. --- Mereka mulai bekerja. Tapi segera jelas bahwa "membantu" versi Rania berarti: Duduk sangat dekat dengan Arsya. Sesekali "tidak sengaja" menyentuh tangannya saat menyerahkan dokumen. Tertawa terlalu keras pada hal-hal yang tidak lucu. "Arsya, kamu ngetiknya cepat banget!" Rania mendekat. "Jari-jarimu lentik ya." "Itu karena sering berlatih... di kantor." Arsya fokus pada layar. Lira memperhatikan dengan curiga. Ia berbisik, "Kak, aku merasa dia punya motif tersembunyi. Seperti musuh yang menyamar sebagai sekutu." "Jangan berprasangka. Dia hanya membantu." Rania bersin. "Tidak sengaja" memegang lengan Arsya untuk keseimbangan. Lira hampir protes keras. --- Pukul 11.00. Naya pulang lebih awal. Kantor libur. Dia langsung menuju kamar 207. Yang dia lihat: Rania duduk sangat dekat dengan Arsya. Tertawa. Lira berdiri di samping dengan wajah cemberut. "Oh." Naya meletakkan tas. "Kamu sudah dapat asisten ya." Nada datar. Arsya menjauh sedikit dari Rania. "Rania menawarkan bantuan." "Terlihat asyik." Naya mendekati scanner. "Mesinnya sudah bisa jalan?" "Masih belajar." Lira cepat menjawab. "Rania bilang dia bisa, tapi ternyata tidak lebih baik dariku." Rania tersenyum tipis. "Aku kan cuma bantu." Jeda. "Naya, kamu mau ambil alih?" "Gak perlu." Naya memeriksa kabel scanner. "Kalian sudah mulai, ya bagus. Aku cek aja." Dia tidak menatap Rania. Gerakannya lebih tajam dari biasa. "Sini, aku tunjukin cara yang bener." Naya menatap Arsya. Tidak melibatkan Rania. Rania tidak mau kalah. "Aku juga mau belajar." "Scanner ini model kantor." Naya tanpa ekspresi. "Kalau tidak hati-hati, rusak. Lebih baik aku yang handle." --- Makan siang. Ruang tamu. Bu Rini memanggil semua penghuni. Ikan bandeng presto spesial. "Arsya, proyeknya lancar?" tanya Bu Rini. "Lumayan, Bu." "Rania bantuin ya? Baik banget." Rania tersenyum manis. "Iya, Bu. Soalnya Arsya kan masih baru. Jadi butuh bimbingan." Naya mengambil nasi. "Dia sudah bisa sendiri. Kemarin di kantor handle data yang lebih rumit." "Tapi kan ini proyek sampingan." Rania menyendok ikan. "Bedalah." Bima berbisik pada Lira. "Kayaknya ada perang diam-diam nih." Lira berbisik balik. "Naya sedang mempertahankan wilayahnya. Seperti dewa pelindung yang menjaga altar." "Kamu ini imajinasinya tinggi banget." --- Sepanjang makan, Rania memuji masakan Bu Rini dengan berlebihan. Sambil sesekali mencuri pandang ke Arsya. Naya makan dengan tenang. Tapi menghabiskan makanannya lebih cepat dari biasa. --- Setelah makan. Teras. Rania mengajak Arsya "konsultasi khusus" tentang sistem folder. "Aku punya ide bagus untuk naming convention yang efisien." Arsya tidak bisa menolak. Mereka duduk di teras. Rania membuka laptop. "Ini, kita bisa pakai kode warna dan tanggal." Ia mendekat. "Tapi aku perlu penjelasan lebih detail tentang struktur datamu." --- Dapur. Naya membantu Bu Rini mencuci piring. Tapi matanya sering melirik ke teras. "Kamu tidak suka sama Rania ya?" Bu Rini tiba-tiba. Naya terkejut. "Kenapa Bu bilang gitu?" "Keliatan. Dari caramu ngomong tadi." "Gak juga." Naya menggosok piring. "Cuma dia memang sering lebay." "Rania emang suka cari perhatian." Bu Rini menyabuni panci. "Tapi Arsya itu anak baik. Gak gampang tergoda." Naya diam. "Kamu juga baik ke Arsya." Bu Rini tersenyum. "Jarang liat kamu segitu peduli sama orang baru." "Itu karena dia butuh bantuan." "Bantuan biasa, atau bantuan khusus?" Naya tidak menjawab. Fokus menggosok piring. --- Teras. "Konsultasi" Rania berubah semakin menggoda. Ia pura-pura tidak mengerti istilah teknis. "Arsya, kamu jelasin dong." Rania mendekat. "'Metadata' itu apa? Aku sering dengar tapi gak paham." "Metadata adalah data tentang data." Arsya profesional. "Misalnya, jika dokumen adalah foto, metadata-nya berisi tanggal pengambilan, ukuran file, tipe kamera." "Wah, pinter banget." Rania tersenyum. "Kamu kayak walking encyclopedia." Lira mengintip dari balik jendela. Tidak tahan. Ia keluar membawa dua gelas teh. "Kakak, tehnya sudah jadi." Lira meletakkan gelas. "Dan Naya mencari kakak untuk membahas scanner." Rania mendelik. "Scanner-nya kan sudah beres." "Tapi ada masalah teknis." Lira tanpa ekspresi. "Naya bilang harus segera." Arsya lega. "Baik, saya datang." "Nanti malam aku balik ya." Rania tidak menyerah. "Masih banyak yang perlu didiskusikan." --- Sore. Kamar 207. Naya benar-benar menemukan masalah dengan scanner. Mesin itu tiba-tiba tidak mau menyala. "Aku rasa ada kabel yang longgar." Naya membongkar bagian belakang. "Biarkan aku bantu." Arsya mendekat. Mereka berdua membenahi scanner. Kepala hampir bertabrakan. Lira mengamati dari jauh. Tersenyum. "Kak, kalian seperti tim ahli teknologi." Naya tiba-tiba bersin. Debu. Arsya refleks memberikan tisu dari saku. "Ini." "Terima kasih." Keheningan singkat. Agak canggung. Lira memecah. "Aku akan membuatkan teh lagi!" Lari. --- Naya menatap Arsya. "Rania memang mau bantuin?" "Sepertinya iya." "Hati-hati." Naya merapikan kabel. "Dia punya reputasi suka ganggu cowok baru." "Kau khawatir?" Naya menatapnya. "Gak." Jeda. "Cuma ngasih tahu aja." Tapi nada suaranya berbeda. Arsya tersenyum. "Aku bisa mengatasi." --- Malam. Kamar 207. Bencana. Rania kembali. Membawa "camilan spesial". Keripik pedas level setan. "Ini buat teman kerja lembur." Mereka mencoba. Lira menggigit satu. Matanya langsung berair. "APA INI? SERANGAN PANAS DI MULUT!" Wajahnya merah. "TUAN, AKU KERACUNAN!" Arsya cepat menutup mulut Lira. Tapi kata "Tuan" sudah terucap. Rania mendengar. "Tuan?" Ia mengernyit. "Kamu manggil kakakmu 'Tuan'?" Lira panik. Mulutnya masih terbakar. "Itu... seruan sakit!" Suaranya cempreng. "'Tuan' artinya... panas sekali!" Rania tertawa. "Kalian memang unik." Jeda. "Tapi hati-hati. Jangan sampai ada yang salah paham." Naya datang dengan air putih untuk Lira. Mendengar percakapan itu. "Mereka punya bahasa daerah sendiri." Naya menyerahkan air. "Sudah biasa." "Bahasa daerah yang aneh." Rania. --- Setelah Rania pergi—"ada janji video call"—suasana rileks. Naya duduk di lantai kamar 207. Melihat Arsya mencoba menenangkan Lira yang masih kepedasan. "Kalian memang dekat banget." "Kami hanya saling menjaga." "Rania tadi bilang 'hati-hati jangan sampai ada yang salah paham'." Naya menatap Arsya. "Maksudnya apa ya?" Arsya gelisah. "Mungkin tentang panggilan 'Tuan'." "Atau tentang hubungan kalian yang terlalu dekat buat saudara." Lira yang sudah lebih tenang tiba-tiba berkata, "Kami bukan saudara sedarah! Kami—" Arsya menendang kaki Lira. "Kami memang sangat dekat." Suaranya cepat. "Karena sudah melalui banyak hal bersama." Naya mengangguk. "Oke." Dia berdiri. Menuju pintu. "Besok aku bantu scan dari pagi." Tidak menoleh. "Jadi gak perlu bantuan 'khusus' dari Rania." Itu jelas. Naya sedang menandai wilayah. --- Setelah pintu tertutup. Lira berbisik, "Kak." Matanya berbinar. "Naya cemburu! Aku melihat api kecil di matanya!" "Itu mungkin hanya bayangan lampu." "TIDAK!" Lira hampir berteriak. "Itu api cemburu! Dan kakak senang, kan?" Arsya diam. "...Tidur saja, Lira." Tapi dia memang merasa sedikit... senang. Naya menunjukkan tanda kepemilikan. Walau halus. Itu berarti dia peduli. --- Di kamar 206. Rania tersenyum di depan cermin. Hari ini dia sudah menabur benih keraguan. Besok, rencana berikutnya. --- Di kamar 205. Bima bertanya-tanya. Apakah Lira akan minta saran tentang "perang perempuan" yang dia saksikan hari ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD