Senin pagi itu seharusnya biasa saja.
Tapi begitu Arsya tiba di kantor, dia disambut tumpukan dokumen setinggi 30 sentimeter di mejanya.
Catatan tempel dari Pak Anton:
"Arsya, tolong koreksi data klien PT Maju Jaya dari 2019–2022. Ada ketidaksesuaian di Q3 2020 dan Q1 2022. Selesaikan hari ini."
Arsya menghela napas.
Koreksi data.
Artinya: membandingkan ratusan entri antara file Excel, laporan fisik, dan faktur asli.
Bagi dewa yang terbiasa dengan sistem arsip kristal otomatis—di mana satu sentuhan bisa memanggil dokumen mana pun dalam sekejap—ini adalah siksaan.
Naya datang. Kopi di tangan.
"Kamu dikasih gunung itu?" Ia menatap tumpukan dokumen. "Kasihan."
"Ini bukan gunung." Arsya membuka file pertama. "Ini lebih seperti... kuburan data yang tidak terurus."
"Ya, namanya juga klien lama. Dulu administrasi mereka berantakan."
---
Tiga jam pertama berjalan lancar.
Lalu Arsya menemukan ketidaksesuaian pertama.
Di Q3 2020, ada transaksi Rp50.000.000 yang tercatat dua kali.
Dia periksa faktur asli. Ternyata hanya satu.
Harus menghapus satu entri.
Tapi saat dia menghapus, formula di Excel yang menghitung total otomatis—
#VALUE!
Seluruh kolom berubah merah.
"Tidak..." gumam Arsya.
Ctrl + Z. Terlalu banyak langkah. Perubahan tidak bisa dibatalkan.
"Naya." Suaranya tegang. "Excel-ku error."
Naya melihat. "Kamu hapus sel yang jadi referensi formula." Jeda. "Harus di-update manual."
"Update manual?" Arsya menelan ludah. "Artinya harus menghitung ulang semua?"
"Cuma beberapa baris yang terkait."
Tapi bagi Arsya—yang perfeksionis, yang terbiasa dengan kesempurnaan absolut—
"Beberapa baris" berarti semua data harus diverifikasi ulang dari nol.
---
Dua jam berikutnya.
Arsya memeriksa setiap baris. Mata mulai berkunang-kunang.
Di Q1 2022, masalah lebih besar.
Selisih Rp12.350.000 antara laporan bank dan catatan mereka.
Dia melacak. Menemukan sumbernya.
Kesalahan input staf sebelumnya: "12350000" diketik "1235000".
Kehilangan satu digit.
"Siapa yang bisa salah input seperti ini?" Suara Arsya mulai tinggi. "Ini dasar matematika!"
Naya mendengar. "Tenang. Namanya juga manusia. Salah itu wajar."
"Tapi kesalahan ini menyebabkan ketidakseimbangan dua tahun!" Arsya menahan amarah. "Dua tahun, Naya!"
"Makanya kita yang harus betulkan."
---
Pukul 14.00.
Arsya sudah merasakan tekanan di kepala.
Belum lagi dia harus mencetak laporan sementara untuk Pak Anton.
Dia menuju printer.
Mesin yang sudah menjadi musuh bebuyutannya.
Printer hari ini sedang moody. Kertas sering macet. Tinta belang. Suaranya seperti orang mendengkur kesakitan.
Arsya memasukkan dokumen 20 halaman. Menekan print.
Printer bekerja.
Halaman 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8—
Berrrrt.
Macet.
Kertas tersangkut.
"Tidak." Arsya mendekat. "Bukan sekarang."
Dia menarik kertas dengan hati-hati.
Robek.
Separuh tertinggal di dalam.
"LAGI-LAGI KAU MERUSAK RENCANAKU!"
Arsya berteriak pada printer.
Lupa bahwa mesin itu tidak punya kesadaran.
---
Dia membuka tutup printer. Mencoba mengeluarkan sisa kertas dengan penjepit.
Tangannya gemetar. Frustrasi.
Penjepit itu menyangkut di roda penggulung.
"Keluar!" Arsya menarik lebih keras. "Keluarlah!"
KRAK!
Suara plastik patah.
Roda penggulung terlepas sebagian.
Printer mengeluarkan dengungan aneh. Seperti sedang sekarat.
Naya bergegas.
"Arsya! Kamu pecahin printer?!"
"Dia yang memulai!"
Jawabannya seperti anak kecil. Lalu langsung menyesal.
Pak Anton keluar dari ruangan.
"Ada apa? Suara apa itu?"
"Printer... rusak, Pak." Naya.
Pak Anton melihat printer yang sekarang mengangguk-angguk tak beraturan.
"Ini printer baru setahun!" Suaranya meninggi. "Apa yang terjadi?"
"Saya mencoba mengeluarkan kertas yang macet." Arsya berusaha profesional. "Tapi ternyata bagian dalamnya terjepit."
"Kamu tarik terlalu keras?"
"Saya... tidak mengira plastiknya begitu rapuh."
Pak Anton menghela napas panjang.
"Printer ini masih garansi. Tapi kalau rusak karena kelalaian pengguna, tidak ditanggung."
Ia menatap Arsya.
"Naya, tolong telepon teknisi."
---
Sepanjang sisa sore, Arsya bekerja dalam diam.
Rasa bersalah. Frustrasi. Campur aduk.
Dia menyelesaikan koreksi data. Tiga kesalahan lain ditemukan. Diperbaiki.
Pukul 17.00. Dia menyerahkan laporan pada Pak Anton.
"Laporan sudah, Pak." Jeda. "Maaf tentang printer."
"Ya sudah." Pak Anton menerima dokumen. "Tapi Arsya, kamu harus belajar mengendalikan emosi. Printer itu alat. Bukan musuh."
"Saya mengerti."
---
Di dalam hati, Arsya merasa gagal.
Di alam dewa, dia tidak pernah kehilangan kendali seperti ini.
Dunia manusia benar-benar menguji batasannya.
---
Kos Bu Rini. Sore.
Arsya masuk dengan wajah muram.
Lira sedang menonton tutorial memperbaiki sepatu di ponsel. Begitu melihat Arsya, ia menjeda video.
"Kak." Matanya mengamati. "Apa yang terjadi? Wajahmu seperti baru kalah perang."
"Saya merusak printer di kantor."
"Printer itu lagi?" Lira mengernyit. "Apakah dia menyerangmu dulu?"
"Tidak." Arsya duduk. "Saya yang menarik terlalu keras."
Lira berdecak.
"Mesin itu memang sering bermasalah. Mungkin dia dirasuki roh jahat." Ia berpikir. "Di alam kita, ada roh pengganggu yang suka tinggal di benda mati."
"Ini bukan soal roh, Lira." Arsya memijat pelipis. "Ini soal kesabaran."
Tapi Lira sudah punya teori sendiri.
"Kakak sedang stres." Ia mengangguk yakin. "Energi negatifmu memicu reaksi dari mesin itu. Printer mungkin hanya korban."
"Kamu terdengar seperti dukun."
"Saya hanya menganalisis berdasarkan pengetahuan multidimensi."
---
Bima lewat. Mendengar perdebatan.
"Ada apa? Printer lagi?" Ia menyelonong masuk. "Kantormu itu kayaknya punya kutukan printer deh."
Rania muncul dari kamar.
"Arsya marah sampai ngerusak printer?" Senyum genit. "Wah, jarang lihat kamu emosi."
"Saya tidak marah." Arsya menghela napas. "Hanya... frustrasi."
Naya tiba dari luar. Pulang belakangan—menunggu teknisi.
"Printernya harus dibawa ke service center." Nada datar. "Biaya perkiraan delapan ratus ribu."
Arsya merasa pusing.
Rp800.000? Hampir sepertiga gajinya.
"Apakah perusahaan yang menanggung?" tanya Lira.
"Kalau rusak karena kesalahan pegawai, potong gaji." Naya.
Arsya mengangguk pasrah.
"Baik. Saya akan tanggung."
"Aku sudah bilang ke Pak Anton itu kecelakaan." Naya tanpa ekspresi. "Printer kan emang sering macet. Jadi ditanggung perusahaan."
Arsya terkejut.
"Kenapa kau lakukan itu?"
"Biar kamu gak terbebani." Jeda. "Tapi lain kali hati-hati."
Rania mendengus.
"Wah, Naya baik banget ya." Sinis. "Nggak setiap hari dia belain orang."
Naya tidak menanggapi. Langsung masuk ke kamar.
---
Malam. Ruang tamu kos.
Bu Rini menyuruh semua penghuni makan malam bersama.
"Ada yang perlu dibicarakan."
Ternyata, Bu Rini membuat bubur ayam besar.
"Katanya ada yang panas di kantor." Ia menyajikan. "Jadi kita makan yang adem-adem."
Bubur ayam Bu Rini memang enak. Hangat. Gurih. Suwiran ayam dan telur asin.
Mereka duduk melingkar.
"Jadi, Arsya, katanya kamu hampir bikin printer meledak?" tanya Bu Rini.
"Hanya rusak kecil, Bu."
"Kamu harus belajar sabar." Bu Rini menatapnya. "Hidup di kota itu penuh tekanan. Tapi jangan sampai tekanan itu bikin kamu rusakin barang."
"Saya belajar, Bu."
Bima menyela.
"Ngomong-ngomong." Ia menaruh sendok. "Gue denger kantor lo lagi cari freelance buat input data backlog. Bayarannya lumayan."
Ia menatap Arsya.
"Arsya mau coba? Kan bisa nambah penghasilan."
Arsya tertarik.
"Input data? Tugasnya seperti apa?"
"Scan dokumen lama. Masukin ke database." Bima. "Bisa dikerjakan dari kos."
"Tapi butuh scanner dan komputer yang baik."
"Naya punya scanner di kantor." Bima menunjuk. "Bisa minjam. Komputer lo juga kan ada."
Naya—yang sedang meniup buburnya—mengangguk.
"Bisa. Tapi harus di luar jam kerja."
Kesempatan bagus.
Arsya mengangguk. "Baik. Saya akan coba."
Lira mengangkat tangan.
"Apakah aku bisa membantu?" Matanya berbinar. "Aku cepat mengetik."
"Bisa aja." Bima tersenyum. "Nanti gajinya dibagi."
Rania tidak mau ketinggalan.
"Kalau butuh yang jago kompres file dan atur folder, aku bisa bantu." Ia menyilangkan tangan. "Tapi bayarannya harus worth it ya."
Bu Rini menggeleng.
"Ngomongin duit mulu." Ia menepuk meja. "Makan dulu buburnya sebelum dingin."
---
Selama makan, Lira memperhatikan.
Interaksi Arsya dan Naya.
Kali ini, dia melihat sesuatu yang berbeda.
Naya sesekali melirik Arsya. Ekspresi... peduli. Bukan sekadar cuek.
Dan Arsya—meski masih tampak lelah—sesekali tersenyum kecil pada Naya.
Teori Bima tentang perubahan prioritas muncul lagi di kepalanya.
Tapi kali ini, Lira tidak cemas.
Melihat kakaknya tersenyum, itu menyenangkan.
---
Dapur. Setelah makan.
Arsya membantu Naya mencuci panci bubur.
"Terima kasih tadi." Suaranya pelan.
"Untuk apa?"
"Membela saya tentang printer."
"Aku cuma ngomong yang bener." Naya menggosok panci. "Printer itu emang sensitif."
"Tapi kau mengambil risiko untuk saya."
Naya berhenti.
"Kamu orang baik." Ia menatap sabun di tangannya. "Cuma terlalu keras sama diri sendiri."
Jeda.
"Kadang aku lihat kamu kayak orang yang lagi belajar jadi manusia versi kilat."
Arsya tertawa getir.
"Itu deskripsi yang tepat."
"Ya sudah." Naya melanjutkan mencuci. "Besok kita mulai proyek freelance-nya. Aku bawa scanner-nya pulang."
"Kau terlalu baik."
"Jangan bilang-bilang." Senyum tipis. "Nanti aku dibilang lemah."
Mereka tersenyum.
---
Di balik pintu dapur, Lira mengintip.
Lalu pergi.
Pelan-pelan.
Perasaan lega.
---
Kamar 207. Malam.
"Kak." Lira berbaring. "Tadi aku melihat Naya membelamu."
Jeda.
"Dia tidak cuek seperti biasanya."
"Mungkin dia hanya tidak suka melihat ketidakadilan." Arsya.
"Atau mungkin." Lira menatap langit-langit. "Dia mulai peduli padamu lebih dari sekadar teman."
Arsya diam.
"Lira..."
"Aku tidak keberatan, Kak." Suara Lira lembut. "Justru senang. Kau pantas mendapat seseorang yang memahami."
Arsya tidak menjawab.
"Aku masih harus fokus pada bertahan hidup di sini."
"Tapi bertahan hidup bisa lebih menyenangkan." Lira menoleh. "Jika ada yang menemani."
---
Di kamar 205, Bima berpikir.
Proyek freelance bisa jadi cara mendekati Lira lagi.
Tapi kali ini pelan-pelan.
---
Di kamar 206, Rania kesal.
Naya lagi-lagi yang jadi pahlawan.
Aku harus cari cara lebih kreatif.