BAB 14: BROWNIS RACUN

1861 Words
Kamis pagi. Bima bangun dengan tekad baru. Seminggu sejak ditolak Lira, dia sudah melalui fase sedih, marah, dan akhirnya—menurut pengakuannya sendiri—"menerima". Tapi hari ini berbeda. Hari ini dia memutuskan untuk menjadi teman yang lebih dewasa dan bijak. Strategi ini dia baca dari artikel online: How to Win Her Heart by Being Her Best Friend First. --- Tok tok tok. Pukul 08.00. Pintu kamar 207 terbuka. Lira masih memakai piyama bergambar kucing—hadiah Bu Rini. Matanya masih setengah sadar. "Lira, pagi." Bima tersenyum lembut. Sok bijak. "Aku mau minta maaf kalau aku dulu terlalu langsung." "Tidak apa-apa." Lira menguap. "Aku sudah melupakannya." "Bagus." Bima mengangguk puas. "Dari sekarang, aku cuma mau jadi teman baikmu. Teman yang bisa diajak bicara apa saja." Lira mengangguk. Bingung. Tapi sopan. "Baik. Apakah kamu butuh bicara sesuatu sekarang?" "Bukan sekarang." Bima memasang muka misterius. "Nanti siang. Aku mau ajak kamu ngobrol santai di warung kopi. Aku traktir brownies." Jeda dramatis. "Bisa?" Lira menoleh ke dalam kamar. Arsya sedang merapikan tempat tidur. Mengangguk pelan. "Baik. Jam berapa?" "Jam empat sore." Bima tersenyum. "Tenang. Ini cuma sebagai teman." --- Jam setengah empat. Bima sudah di warung kopi. Brownies terbaik dipesan. Meja pojok sudah diamankan. Buku catatan kecil berisi "topik obrolan bijak" terbuka di pangkuan. Dia siap. --- Jam empat. Lira datang. Pakaian sederhana. Tidak ada piyama kucing. "Lira, sini duduk." Bima menunjuk kursi seberang. "Aku pesanin brownies spesial. Katanya enak." "Terima kasih." Lira menggigit brownies. Matanya berbinar. "Rasanya... kompleks." Ia mengunyah pelan. "Campuran cokelat, gula, dan mungkin sedikit garam. Teksturnya padat tapi lembut." Jeda. "Ini sangat efisien untuk meningkatkan mood." Bima tersenyum. "Kamu selalu punya cara unik mendeskripsikan makanan." "Itu karena aku memperhatikan detail." Lira mengunyah lagi. "Seperti yang kakakku ajarkan: observasi adalah kunci adaptasi." "Ngomong-ngomong soal kakakmu..." Bima menarik napas. Mempersiapkan nada bijak. "Sebagai teman, aku perhatiin nih. Kamu dan kakakmu itu sangat dekat." Jeda. "Tapi kadang, terlalu dekat bisa bikin kamu gak punya ruang buat berkembang sendiri." Lira mengerutkan kening. "Maksudmu?" "Maksudku, kamu mungkin perlu mencoba hal-hal sendiri." Bima menekankan. "Tanpa selalu bergantung pada kakakmu." "Tapi kami selalu bersama." Lira bingung. "Itu tugas kami." "Tugas?" Bima mengangkat alis. "Kenapa harus jadi tugas?" Lira sadar. Hampir salah bicara. "Maksudku... komitmen keluarga." Suaranya cepat. "Kami berjanji saling menjaga." "Ooh, aku ngerti." Bima mengangguk bijak. "Tapi sebagai teman yang peduli, aku mau bilang: jangan sampai kamu kehilangan jati dirimu sendiri hanya karena selalu mengikuti kakakmu." Lira diam. Jati diri? Di alam dewa, identitas mereka jelas. Arsya adalah Dewa Strategi. Dia adalah Asisten Dewa. Tidak ada krisis jati diri. "Apakah kamu pernah mengalami krisis jati diri?" tanya Lira. Bima merasa ini saatnya berbagi kebijaksanaan. "Pernah. Dulu aku selalu ikutin temen-temen." Suaranya dalam. "Tapi akhirnya aku sadar, aku harus jadi diriku sendiri. Sekarang aku lebih percaya diri." "Bagaimana caramu menemukan 'dirimu sendiri' itu?" "Ya... coba hal baru. Ikut kegiatan. Gak takut beda." Lira berpikir. "Aku sudah mencoba hal baru." Ia menghitung jari. "Memasak. Belanja. Kerja panitia." Jeda. "Tapi aku tetap merasa seperti... diriku yang sedang belajar jadi manusia." Bima tersenyum lega. Ini berjalan baik. "Nah, itu bagus." Ia memangku tangan. "Sekarang, sebagai teman baik, aku mau kasih saran tentang hubunganmu dengan kakakmu." "Hubungan kami baik-baik saja." "Iya, tapi coba bayangkan." Bima mencondongkan tubuh. "Apa yang akan kamu lakukan jika suatu hari kakakmu punya pacar? Misalnya Naya?" Lira terdiam. Pertanyaan itu. Belum pernah terpikir. "Aku... akan mendukungnya." "Tapi kamu akan merasa tersisihkan?" "Mengapa aku harus merasa tersisihkan?" Lira mengernyit. "Kami akan tetap bersama." "Beda, Lira." Bima menggeleng pelan. "Kalau kakakmu punya pacar, waktunya untukmu akan berkurang. Dia akan lebih sering dengan pacarnya." Lira mulai cemas. "Apakah itu berarti dia akan meninggalkanku?" "Bukan meninggalkan." Bima mengoreksi. "Tapi prioritasnya berubah." --- Ini mengkhawatirkan. Di alam dewa, ikatan dewa-asisten adalah abadi. Tidak ada "pacar" yang bisa mengganggu. "Kamu terlihat khawatir." Bima menyesap kopi. "Maaf kalau aku bikin kamu overthinking." "Tidak." Lira menatap brownies yang tinggal setengah. "Terima kasih untuk perspektifmu." Jeda. "Aku akan... mempertimbangkannya." --- Pulang ke kos. Lira gelisah. Ia menemui Arsya di kamar. "Kak, kita perlu bicara." Arsya menutup buku—Panduan Menggunakan Aplikasi Mobile Banking untuk Pemula. "Ada apa?" "Bima mengatakan bahwa jika kakak punya pacar, misalnya Naya, prioritas kakak akan berubah." Lira menelan ludah. "Dan aku mungkin akan tersisihkan." Jeda. "Apakah itu benar?" Arsya terdiam. "Lira. Bima hanya berasumsi." Suaranya pelan. "Dia tidak tahu hubungan kita." "Tapi apakah secara teori manusia itu benar?" Lira tidak menyerah. "Apakah ikatan romantis lebih kuat daripada ikatan saudara?" "Itu... kompleks." Arsya menghela napas. "Tapi kamu tidak perlu khawatir. Kita punya ikatan yang berbeda." "Tapi jika kakak memang tertarik pada Naya..." Lira ragu. "...apakah aku harus mundur?" "Jangan gunakan kata 'mundur'." Arsya menatapnya. "Kita akan selalu bersama. Apa pun yang terjadi." Lira tidak sepenuhnya yakin. Tapi ia mengangguk. Eksperimen kecil, putusnya. Besok, saat kakak dan Naya ke pasar. Aku akan mengamati. --- Di lorong kos. Bima berjalan dengan puas. Rania keluar dari kamar. "Lagi dari mana, Bim?" "Dari ngobrol sama Lira." Bima memasang muka sok rendah hati. "Aku coba jadi teman baik yang bijak." Rania terkekeh. "Bijak? Kamu?" Ia menyilangkan tangan. "Jangan bikin dia makin bingung aja." "Gak kok." Bima defensif. "Aku kasih dia perspektif baru tentang hubungannya dengan kakaknya." "Ah." Rania menggeleng. "Mau pecah belah mereka biar kamu bisa masuk ya?" "Bukan!" Bima hampir tersedak. "Aku tulus mau jadi temannya." Rania tidak percaya. Tapi ia punya urusan sendiri. Arsya dan Naya punya rencana ke pasar besok. Dan Rania punya rencana lain. --- Malam. Makan malam. Suasana canggung. Lira memperhatikan setiap interaksi antara Arsya dan Naya. Ketika Naya mengambilkan garam: Tindakan kecil. Tapi penuh perhatian. Ketika Arsya bertanya jam berangkat: Koordinasi logistik. Tanda kerja sama yang baik. Bima, yang melihat Lira sibuk mencatat di ponsel, bertanya. "Lagi ngapain, Li?" "Menganalisis dinamika sosial." Semua terdiam. Naya memandang Lira. "Menganalisis? Maksudnya?" "Aku sedang belajar interaksi manusia." Lira tanpa ekspresi. "Sebagai bagian dari adaptasi." Arsya cepat menambahi. "Lira memang suka penelitian sosial. Dia dulu ingin jadi antropolog." Bima manggut-manggut. "Wah, keren. Jadi besok mau penelitian ke mana?" "Nanti lihat." Rania menyela. "Katanya besok ada pasar murah di belakang kos ya?" Senyum manis. "Aku juga mau ikut. Bisa kan, Naya?" Naya—yang biasanya cuek—mendelik pelan. "Bebas. Pasar umum." "Wah, asyik." Rania bertepuk tangan. "Jadi kita bisa jalan berempat. Aku, Naya, Arsya, dan Lira." "Lira besok tidak ikut." Tiba-tiba. Semua menoleh. Lira menatap piringnya. "Aku ada... penelitian lain." "Penelitian apa?" Arsya mengernyit. "Aku akan mengamati pola konsumsi kopi di warung-warung sekitar." Alasan dibuat-buat. Tapi Lira ingin memberi ruang. Menguji teori Bima tentang perubahan prioritas. Naya memandang Arsya. Lalu Lira. "Kamu yakin?" "Ya." Lira mengangguk. "Kalian saja yang pergi." --- Kamar 207. Setelah makan. "Kenapa tiba-tiba tidak ikut?" Arsya. "Kakak butuh waktu berdua dengan Naya." Lira melipat selimut. "Aku tidak ingin menjadi penghalang." "Siapa bilang kamu penghalang?" "Bima mengatakan bahwa dalam hubungan manusia, kehadiran pihak ketiga sering mengganggu." Lira tanpa ekspresi. "Aku tidak ingin mengganggu." "Lira." Arsya menekan pelipis. "Kamu tidak pernah mengganggu. Dan ini bukan kencan. Hanya pergi ke pasar." "Tapi undangannya khusus untuk kakak." Lira menatapnya. "Aku tidak diundang." Arsya menghela napas. "Baiklah. Tapi jangan melakukan 'penelitian' yang aneh-aneh." "Tidak. Aku hanya akan mengamati dari jauh." "Jangan mengamati kami." Lira diam sejenak. "...Maksudku mengamati pola konsumsi kopi." Jeda. "Itu tadi." Arsya tidak yakin. Tapi mengizinkan. --- Sabtu pagi. Warung Kopi. Lira duduk sendirian. Buku catatan terbuka. Pukul 8:05, pria paruh baya pesan kopi hitam. Minum cepat, lalu pergi. Kemungkinan: buru-buru kerja. Tapi pikirannya tidak di situ. Apakah mereka sudah berangkat? Apakah mereka berbicara hal-hal romantis? Apakah Arsya benar-benar akan mengubah prioritas? --- Pasar. Arsya dan Naya berjalan di antara lapak sayuran. Rania—yang katanya mau ikut—tidak muncul. "Ketiduran", katanya lewat pesan singkat. "Lira beneran nggak mau ikut?" Naya memilih tomat. "Dia bilang ada penelitian." "Penelitian kopi?" Naya mengernyit. "Aneh." "Mungkin dia hanya ingin memberi kita ruang." Naya berhenti. "Ruang untuk apa?" Arsya tersipu. "Maksudku... ruang sebagai teman." Naya mengangguk. Melanjutkan berjalan. Tapi ada senyum kecil di sudut mulutnya. --- Warung Kopi. Bima muncul. "Lira! Katanya kamu lagi penelitian? Boleh aku ikut observasi?" Lira kaget. "Kamu tidak perlu—" "Ah, gak apa-apa." Bima sudah duduk. "Aku juga pengen belajar." Lira terpaksa melanjutkan sandiwara. "Menurutmu, apa motivasi orang minum kopi?" tanya Bima. "Berdasarkan pengamatan awal." Lira membaca catatannya. "Untuk mendapatkan energi kafein. Untuk ritual sosial. Atau untuk menghangatkan tubuh." "Kamu pernah dengar tentang 'third place'?" Lira mengerutkan kening. "Tempat ketiga? Apakah ada dimensi keempat?" Bima tertawa. "Bukan. Third place itu tempat selain rumah dan kerja. Tempat orang bersosialisasi. Seperti warung kopi ini." "Ah." Lira manggut-manggut. "Seperti taman dewa tempat dewa-dewa berkumpul informal." Bima mengangkat alis. "Taman dewa? Itu di mana?" Lira panik. "Maksudku... taman di daerahku." Suaranya meninggi. "Kami menyebutnya 'taman dewa' karena indah." "Ooh, keren." --- Jam 10.00. Lira melihat jam. Sudah dua jam. Bagaimana keadaan mereka? Tanpa berpikir, ia berdiri. "Maaf, Bima. Aku harus pergi." "Ke mana?" "Ke... pasar." Lira sudah setengah berlari. "Aku lupa ada yang harus dibeli." --- Pasar. Lapak bumbu. Lira menyelinap di antara kerumunan. Mencari. Menemukan. Arsya dan Naya berdiri berdekatan. Naya tersenyum pada sesuatu yang dikatakan Arsya. Kakak tersenyum. Lebar. Lira merasa campur aduk. Senang. Tapi juga cemas. Mungkin teori Bima benar. Prioritas akan berubah. Tiba-tiba— KOKOK! Seekor ayam lepas dari kandang. Lari ke arahnya. Lira panik. Mengira itu serangan. "AYAM BUAS! TUAN, AWAS—!" Teriakannya memecah keramaian. Arsya menoleh. Langsung berlari. "Lira! Apa yang terjadi?!" "Ayam itu menyerangku!" Arsya melihat ayam yang sudah tertangkap penjual. "Itu cuma ayam kabur, Lira." Tapi kata "Tuan" sudah terdengar. Naya mendekat. "Lira." Suaranya datar. "Kamu ngomong 'Tuan' lagi." "Itu... seruan terkejut." Lira berkeringat dingin. "Seperti 'astaga'!" Naya memandangnya skeptis. Tapi tidak mengejar. "Kamu katanya lagi penelitian kopi?" "Aku... sudah selesai." Arsya menarik napas panjang. "Sudah. Kita pulang." --- Perjalanan pulang. Naya berjalan di depan. Arsya dan Lira di belakang. "Kamu mengikuti kami?" desis Arsya. "Aku hanya ingin mengobservasi." "Kamu hampir terbongkar." "Maaf, Kak." Naya tiba-tiba berhenti. Menoleh. "Kalian berdua punya rahasia ya?" Nada datar. "Selalu begitu." Arsya dan Lira diam. Naya menghela napas. "Gak apa-apa. Aku juga gak mau memaksa." Jeda. "Cuma... kalau kalian percaya sama aku, mungkin aku bisa bantu." Lira memandang Arsya. Mata penuh harap. Arsya menggeleng pelan. "Tidak ada rahasia." Suaranya terkendali. "Hanya Lira yang terlalu protektif." Naya mengangguk. Tidak terlalu percaya. Tapi tidak mendesak. --- Kos Bu Rini. Teras. Bima sudah menunggu. "Lira, tadi kamu kabur cepat banget." Ia bangkit. "Gimana penelitiannya?" "Berhasil." Lira melenggang masuk. "Aku sudah mengumpulkan data cukup." Rania keluar dari kamar. "Wah, pulang bareng nih?" Senyum manis. "Gimana pasarannya?" "Lumayan." Naya singkat. Masuk ke kamar. --- Malam. Kamar 207. "Kak." Lira berbisik. "Tadi Naya menawarkan bantuan. Dia mungkin bisa dipercaya." "Belum saatnya." Arsya berbaring. "Dan jangan lagi mengikuti kami." "Tapi aku melihat kakak tersenyum lebar dengannya." Jeda. "Itu bagus." Arsya tersenyum kecil. "Ya. Aku memang merasa nyaman dengannya." "Apakah prioritas kakak akan berubah?" Arsya memandang langit-langit. "Tidak." Suaranya pelan. "Kamu tetap yang paling penting." Lira lega. Mungkin teori Bima tidak sepenuhnya benar. Di kamar 204. Naya membuka laptop. Tidak mencari apa-apa. Hanya menatap layar kosong. Mereka jelas menyembunyikan sesuatu. Tapi aku penasaran, bukan ingin membongkar. Aku ingin tahu siapa mereka sebenarnya. --- Di kamar 206. Rania tersenyum di cermin. Rencana gagal. Tapi tidak apa. Masih ada waktu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD