BAB 13: RESEP RAHASIA

944 Words
Rabu sore. Lira berdiri di depan kompor. Ekspresi tekad baja. Di tangannya, buku resep pemberian Naya. Halaman: Ayam Kecap Manis – Level Pemula. "Kak, hari ini aku akan membuktikan bahwa aku bisa memasak tanpa menyebabkan alarm kebakaran." Arsya mengangkat kepala dari tagihan listrik kos yang rumit. "Baik. Tapi ingat. Api kompor bukan api upacara dewa. Jangan terlalu besar." "Aku sudah mempelajari teorinya!" Lira membalik halaman. "Langkah pertama: panaskan dua sendok makan minyak goreng." Minyak dituang ke wajan. Panaskan. Di alam dewa, pemanasan pakai energi dalam. Bukan api terbuka. Lira menyalakan kompor. Api paling kecil. Menunggu. "Kak, bagaimana tahu minyak sudah panas?" "Biasanya ada asap kecil. Atau kalau dicelupkan sendok, ada gelembung." Lira mencelupkan sendok kayu. Tidak ada gelembung. Lima menit. Masih tidak ada. Dia menaikkan api ke sedang. Lalu lupa karena membaca langkah berikutnya. "Tumis bawang putih dan bawang merah hingga harum." Dia mengupas bawang. Memotongnya sangat halus. Terlalu halus. Seperti bubuk. Saat ditaburkan ke minyak— CES! Bawang langsung gosong. "Asap! Asap muncul!" Lira panik. "Apakah ini bagian dari proses?!" Arsya bergegas membuka jendela. "Itu artinya bawangmu gosong! Aduk cepat!" Lira mengaduk. Gerakannya seperti mengaduk cauldron ajaib—putaran melingkar penuh tenaga. Hasilnya: sebagian bawang terbang keluar wajan. "Oh tidak! Bahan kita berkurang!" "Tenang. Sisanya masih bisa dipakai." --- "Masukkan potongan ayam, aduk hingga berubah warna." Lira mengambil ayam potong dadu—sudah disiapkan Bu Rini sebelumnya. Dimasukkan semua. Sekaligus. BYUR! Minyak meletup-letup. "Serangan minyak panas!" Lira melompat mundur. "TUAN, ADA PERLAWANAN DARI BAHAN MAKANAN!" Arsya cepat menutup mulut Lira. "Jangan panggil aku Tuan! Dan itu wajar—ayam dingin masuk minyak panas!" Tapi kata 'Tuan' sudah terlanjur. Naya berdiri di ambang pintu dapur. Tangan di saku celana. Wajah datar. "Lagi latihan perang?" --- Lira tersipu. "Maaf, Naya. Aku sedang mencoba resepmu." Naya mendekat. Melihat ke wajan. "Ayamnya hampir gosong di satu sisi. Mentah di sisi lain." Jeda. "Aduknya jangan seperti lagi aduk beton." "Aduk beton?" "Pokoknya pelan-pelan. Rata." Lira mengangguk. Mengaduk dengan hati-hati. Tapi terlalu fokus. Lupa langkah berikutnya. "Tambahkan kecap manis, kecap asin, dan air." Arsya membaca resep. "Sekarang tambah kecap." Lira melihat botol kecap. "Berapa banyak?" "Dua sendok makan kecap manis. Satu sendok makan kecap asin." Lira mengambil sendok nasi. Jauh lebih besar dari sendok makan. Hasilnya: ayam tenggelam dalam lautan hitam pekat. "Kak. Warnanya jadi sangat gelap. Apakah ini normal?" "Kurasa tidak..." Naya menghela napas. Halus. "Kamu kebanyakan kecap. Tambah air dua gelas. Biarkan mendidih. Lalu kecilkan api." Lira menambahkan air. Dua gelas besar. Sekarang ayam berenang dalam cairan coklat encer. --- "Kecilkan api, tunggu 30 menit hingga bumbu meresap." Lira mengecilkan api. Sangat kecil. Sampai nyaris mati. "Sekarang kita tunggu." Bangga. Sepuluh menit kemudian. Air belum mendidih. Arsya memperhatikan. "Sepertinya apinya terlalu kecil." "Tapi kata Naya 'kecilkan api'." "Bukan sampai hampir mati." Naya—yang ternyata belum pergi—berkata tanpa ekspresi. "Api kecil itu masih ada apinya. Bukan seperti nyala lilin orang sedang bernyanyi 'Happy Birthday'." Lira menaikkan sedikit. Mereka menunggu. --- Naya duduk di kursi dapur. Mengamati. Arsya canggung. "Kamu tidak punya kerja lain?" "Lagi libur." Jeda. "Dan lebih menarik lihat kalian masak daripada nonton TV." "Kami selalu jadi hiburan, ya?" Setengah bercanda. "Lumayan. Jarang ada yang bisa bikin memasak ayam kecap seperti misi penyelamatan dunia." Arsya tersenyum. Lira—yang mendengar itu—tersipu bangga. Dia kira itu pujian. --- Tiga puluh menit kemudian. Ayam Kecap Manis ala Lira selesai. Hasil: ayam terlalu manis. Kuah encer. Tapi matang sempurna. "Coba dulu." Naya mengambil sendok. Mencicipi kuah sedikit. Diam. "Rasanya... unik." "Unik baik atau unik buruk?" Lira cemas. "Unik berarti tidak seperti ayam kecap biasa." Jeda. "Tapi masih bisa dimakan." "YES!" Lira mengepalkan tangan. "Aku berhasil!" --- Mereka membawa makanan ke meja makan. Bima dan Rania kebetulan ada. Bu Rini sudah siapkan nasi dan sayur asam. "Wah, Lira masak lagi?" Rania. "Berani ya." "Kali ini tanpa asap." Lira bangga. Bima mencicipi. "Manis banget. Kayak manisan ayam." "Tapi matang." Naya duduk di seberang Arsya. Makan malam berjalan lancar. Ayam kecap Lira memang terlalu manis. Tapi dengan nasi dan sayur asam, masih bisa dinikmati. Bu Rini memuji. "Lumayan. Nanti kurangin kecapnya saja." --- Setelah makan. Mencuci piring. Naya mendekati Arsya. "Lira memang tidak pernah setengah-setengah ya." Jeda. "Kecapnya sebotol hampir habis." "Tapi dia senang bisa memasak sesuatu yang bisa dimakan." "Kamu juga senang melihatnya senang." Arsya mengangguk. "Dia seperti adikku yang sebenarnya." Naya diam. "Kalian memang dekat." Jeda. "Jarang lihat kakak adik serumah seperti kalian." "Kami hanya punya satu sama lain." Mungkin ada sedikit emosi di suara Arsya. Naya memandangnya lebih lama dari biasa. "Kamu baik ke adikmu. Itu bagus." "Kamu juga baik ke kami." Arsya. "Terima kasih untuk buku resepnya." "Sama-sama." --- Naya pergi. Lira berbisik, "Kak. Tadi dia melihatmu dengan ekspresi yang berbeda. Aku melihatnya." "Kamu terlalu banyak berimajinasi." "Tidak! Mata dewa aku tidak pernah salah!" "Kamu bukan dewa lagi." Arsya melirik. "Ingat?" Lira cemberut. --- Malam. Kamar 207. Tok. Tok. Tok. Bukan pintu. Jendela. Arsya membuka tirai. Tidak ada siapa-siapa. Tapi di ambang jendela, sepotong kertas dilipat rapi. Dia membukanya. "Besok ada pasar murah di belakang kos, jam 5 sore. Kalau mau belajar belanja sayur segar, ikut aku. -N" Lira mengintip dari belakang. "Wah! Undangan!" Matanya berbinar. "Dari Naya!" "Bukan undangan." Arsya melipat kertas. "Cuma tawaran." "Tapi dia menulis khusus untukmu!" Lira hampir berteriak. "Ini perkembangan besar!" Arsya tersenyum kecil. Menyimpan kertas itu di saku. Mungkin Lira benar. Mungkin ada sesuatu yang mulai tumbuh. --- Di kamar 204. Naya menulis di buku harian. "Hari ini melihat mereka masak lagi. Lucu." "Arsya terlihat lebih rileks." "Aku mengundangnya ke pasar besok." "Aneh sendiri." --- Di kamar 206. Rania tersenyum licik. Dia melihat Naya menaruh kertas di jendela 207. Ide bagus. Tapi dia punya ide yang lebih baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD