Sabtu pagi. Bu Rini terlihat pucat di ruang tamu.
"Aduh, masuk angin kayaknya." Ia merebahkan diri di sofa. "Gak bisa ikut belanja hari ini."
Semua penghuni berkumpul. Naya mengambil inisiatif.
"Gimana kalau kita bagi tugas?" Ia membuka buku catatan. "Aku yang buat daftar belanja. Bima angkat barang berat. Rania pilih sabun dan perlengkapan mandi."
"Aku gak mau pilih sabun." Rania menyilangkan tangan. "Aku mau urus snack aja."
"Ya sudah. Snack juga."
"Tapi siapa yang bawa uang dan hitung?" Bima menggaruk kepala.
Naya menoleh ke Arsya. "Arsya kan jago strategi dan angka. Dia yang pegang uang dan kalkulator."
Arsya panik.
Memegang uang kelompok? Di supermarket?
Tapi tidak bisa menolak.
"Baik. Saya akan bertanggung jawab."
"Gue ikut ya." Bima tersenyum manis ke arah Lira. "Buat bantuin Lira."
Lira menatap Arsya. Kakaknya mengangguk pelan.
"Baik. Kita akan bekerja sama."
---
Mereka berlima berangkat ke Supermarket Segar Selalu.
Bangunan besar. Lampu terang. Bau campuran deterjen dan roti baru.
Begitu masuk, Lira terpana.
"Kak!" Bisiknya. "Lihat! Kereta perang beroda!"
"Itu kereta belanja, Lira." Arsya meraih satu. "Bukan untuk perang."
"Tapi bentuknya seperti kereta yang bisa mendorong musuh!"
Mereka mengambil dua kereta. Naya membagi daftar: satu untuk makanan, satu untuk non-makanan.
Arsya memegang kalkulator dan dompet. Isi: uang patungan Rp1.200.000.
---
Masalah pertama: Sayuran.
Lira diminta mengambil dua ikat kangkung.
Dia bingung.
"Kak, mana yang lebih segar?" Ia memegang dua ikat. Membandingkan. "Apakah kita harus menganalisis kadar air daun? Atau tingkat hijau klorofil?"
"Cukup pilih yang tidak layu." Naya.
Tapi Lira terlalu serius.
Ia mendekatkan kangkung ke lampu. Memutar. Memeriksa setiap helai.
"Yang ini memiliki bintik coklat di tepi daun. Pertanda awal pembusukan." Ia meletakkan. "Yang ini lebih hijau, tapi batangnya bengkok. Apakah itu mempengaruhi nutrisi?"
Bima tertawa. "Lira, kamu kayak ilmuwan sayuran."
"Saya hanya ingin memastikan investasi kelompok tidak sia-sia."
Lima menit kemudian. Lira akhirnya memilih.
Kangkung yang "paling mendekati sempurna".
Saat menimbang, ia bertanya pada petugas.
"Apakah timbangan ini sudah dikalibrasi hari ini?" Wajahnya serius. "Di tempat asalku, kita verifikasi keakuratan setiap transaksi."
Petugas melotot. "Ini digital, Mbak. Otomatis akurat."
"Tapi kesalahan kalibrasi 0,1 gram bisa berakumulasi dalam pembelian massal—"
Arsya menarik lengan Lira.
"Sudah. Percaya saja."
---
Masalah kedua: Beras.
Mereka butuh 10 kg. Ada promo: Beli 5 kg gratis 1 kg.
Lira menghitung cepat.
"Kak. Jika kita beli 10 kg, kita harusnya dapat 2 kg gratis." Jeda. "Tapi promonya tertulis 'maksimal 1 kg gratis per transaksi'."
Matanya berbinar.
"Itu berarti kita harus membeli dalam dua transaksi terpisah untuk memaksimalkan keuntungan!"
"Kita tidak perlu memaksimalkan." Naya. "Cukup beli 10 kg saja."
"Tapi itu pemborosan potensi penghematan sebesar harga 1 kg beras!"
"Waktunya lebih berharga."
Tapi Arsya—perfeksionis—setuju dengan Lira.
"Lira benar. Kita bisa menghemat sekitar Rp15.000 jika beli dua transaksi."
Naya menghela napas.
"Ya sudah. Silakan."
Mereka beli 5 kg + 1 kg gratis. Antri. Lalu ulangi.
Masalah: antri dua kali.
Dan di antrian kedua, Bima tertinggal di bagian snack bersama Rania.
---
Masalah ketiga: Daging.
Promo: Diskon 30% untuk pembelian di atas Rp100.000.
Lira membaca tanda. Berpikir.
"Kak. Diskon 30% itu artinya kita bayar 70% dari harga asli?" Jeda. "Atau harga asli dikurangi 30%?"
"Itu sama saja."
"Tapi secara matematis, apakah pembulatan terjadi sebelum atau sesudah diskon?" Ia menunjuk kertas. "Dan apakah pajak ditambahkan sebelum atau sesudah diskon?"
Petugas daging tidak sabar.
"Mbak, mau berapa?"
"Kami ingin memaksimalkan diskon." Lira serius. "Jika kami beli tepat Rp100.000, diskonnya Rp30.000. Tapi jika Rp99.999, apakah masih dapat diskon?"
"Harus di atas Rp100.000."
"Jadi kami harus membeli sedikit melebihi batas untuk memicu diskon." Lira menghitung di udara. "Lalu menghitung rasio kelebihan terhadap total diskon. Untuk memastikan efisiensi maksimal."
Arsya ikut menghitung.
"Kita butuh daging ayam 2 kg. Harga per kg Rp55.000. Total Rp110.000." Ia menekan kalkulator. "Diskon 30% jadi Rp77.000. Hemat Rp33.000."
"Tapi jika beli 1,8 kg, harga Rp99.000. Tidak dapat diskon." Lira menggeleng. "Jadi kita harus beli 2 kg meski mungkin berlebihan."
Ia menatap Arsya.
"Apakah ada opsi membeli 2 kg lalu menjual kelebihan pada penghuni kos lain?"
Naya menyerah.
"Kita beli 2 kg saja. Nanti simpan di freezer."
---
Rania dan Bima muncul. Kereta penuh snack.
"Kita dapat promo beli 2 gratis 1!" Rania berseri.
Naya memeriksa kemasan.
"Ini snack mahal." Ia melihat harga. "Uang kita bisa habis untuk ini."
"Tapi ini hemat, Ran." Rania menepuk kereta.
Arsya menghitung.
"Dengan membeli 6 bungkus, kita dapat 3 gratis." Jeda. "Tapi apakah kita membutuhkan 9 bungkus snack?"
Ia menatap data.
"Konsumsi snack per orang per hari maksimal 50 gram. Total ini 2,7 kg." Kalkulator berbunyi. "Itu berlebihan."
"Snack bisa disimpan." Bima.
"Tapi ada tanggal kedaluwarsa." Arsya. "Berdasarkan perhitungan, kita akan membuang 40%."
Rania menggerutu.
"Kakak ini terlalu hitung-hitungan."
"Lebih baik beli kebutuhan pokok dulu." Naya mendukung Arsya.
Rania cemberut. Tapi tidak membantah.
---
Dua jam kemudian.
Kasir. Dua pilihan: biasa atau self-checkout.
Lira melihat mesin self-checkout. Matanya membelalak.
"Wah!" Bisik. "Mesin yang bisa membaca kode barang!"
Jeda.
"Seperti mata dewa yang mengetahui harga!"
Mereka memilih self-checkout. Antrian lebih pendek.
Naya memindai. Bima memasukkan ke tas. Arsya dan Lira mengawasi.
Lalu—
BEEP. ERROR.
"Harap menunggu bantuan karyawan."
Karyawan datang.
"Ini barang berat. Harus dipindai di kasir khusus."
Mereka pindah antrian. Kasir biasa.
Petugas kasir memindai dengan cepat. Lira takjub.
"Kak." Berbisik. "Dia sangat cepat. Seperti penyihir yang mengenali semua benda!"
Total: Rp1.150.000.
Arsya mengeluarkan uang tunai.
"Kartu debit/kredit diskon tambahan 5%." Petugas kasir.
Arsya bingung.
"Kami tidak punya kartu."
"Ya sudah. Tetap bisa bayar tunai."
Tapi Lira bertanya.
"Apakah kami bisa meminjam kartu seseorang, lalu kami bayar tunai padanya, untuk mendapatkan diskon 5%?"
Petugas kasir mengernyit.
"Harus transaksi dengan kartu."
Naya mengeluarkan dompet.
"Pakai punyaku saja. Nanti kalian ganti."
"Terima kasih, Naya." Arsya.
Diskon 5% berhasil. Hemat Rp57.500.
Saat Naya memasukkan PIN, Lira berseru.
"Wah! Mantra angka rahasia!" Reflek. "Jangan dilihat orang!"
Orang-orang menoleh.
Naya cepat menyelesaikan transaksi.
"Lira." Arsya berbisik. "Itu PIN. Bukan mantra."
"Tapi fungsinya sama." Lira polos. "Akses rahasia kepada kekuatan!"
---
Parkir supermarket.
Mereka membawa belanjaan keluar. Menunggu taksi online.
Lira mendorong kereta dengan terlalu bersemangat.
Tanpa sengaja. Pegangan terlepas.
Kereta meluncur menurun. Kecepatan tinggi.
"AAH! KERETA LIAR!" Lira panik. "TUAN, HENTIKAN!"
Arsya bereaksi.
Refleks dewa. Berlari mengejar.
Sepatu licin. Ia terpeleset.
Tapi tubuhnya berputar 180 derajat di udara. Mendarat tepat di jalur kereta.
BRUK!
Kereta berhenti. Menabrak tubuhnya.
Arsya berdiri. Mengusap lutut.
"Saya baik-baik saja." Napas sedikit tersengal. "Keretanya berhenti."
"Kak!" Lira bergegas.
Bima dan yang lain datang.
"Gile, bang." Bima melongo. "Refleksmu kaya pemain parkour!"
Naya memeriksa lutut Arsya.
"Kamu sakit?"
"Tidak. Hanya memar kecil."
Petugas keamanan datang.
"Maaf. Kereta belanja tidak boleh dibawa keluar area parkir."
"Mereka baru belajar." Naya tersenyum minta maaf.
---
Taksi online.
Perjalanan pulang penuh tawa.
Rania mengolok.
"Kalian berdua itu kayak duo komedi." Ia geleng-geleng. "Gak pernah bosen lihat tingkah kalian."
Lira menunduk malu. Tapi tersenyum.
Arsya diam. Memandang lututnya yang memar.
Di alam dewa, ia tidak pernah jatuh. Tidak pernah terluka.
Di sini, ia jatuh. Memar. Tapi ada yang menolong.
Ada Naya yang memberinya salep nanti malam.
Ada Lira yang menangis karena khawatir.
Ada Bima yang memujinya.
Mungkin sakit seperti ini... tidak buruk.
---
Kos Bu Rini. Malam.
Belanjaan ditata. Bu Rini sudah sedikit membaik.
"Bagus." Ia melihat rak dapur yang penuh. "Kalian bisa bekerja sama."
Setelah semua selesai, Arsya dan Lira di kamar.
"Kak." Lira membuka buku catatan. "Hari ini kita belajar tentang diskon, kereta belanja, dan PIN."
Jeda.
"Dunia manusia sangat kompleks."
"Ya." Arsya berbaring di lantai. "Tapi kita berhasil menghemat Rp57.500."
"Berkat Naya."
"Ya."
"Apakah kita harus membalas budinya?"
"Kita akan traktir dia makan. Suatu hari nanti."
Lira tersenyum.
"Kakak semakin sering ingin traktir Naya."
"Itu hal yang wajar."
"Apakah kakak akan mengajaknya makan berdua saja?"
Arsya tersipu.
"Mungkin bersama kamu juga."
"Tidak." Lira menggeleng. "Saya tidak mau mengganggu."
"Lira—"
"Tidur saja, Kak." Lira mematikan lampu. "Besok hari libur. Kita bisa istirahat."
---
Tok tok tok.
Naya di pintu.
"Ini." Ia menyodorkan salep. "Obat untuk memarmu. Aku lihat tadi kamu jatuh."
Arsya menerima.
"Terima kasih. Kau sangat perhatian."
"Gak mau kalau besok kamu masuk kerja pincang." Naya tersenyum tipis. "Nanti dikira habis berantem sama printer."
Arsya tertawa kecil.
"Terima kasih," katanya lagi.
Naya pergi.
Arsya memegang salep itu. Merasa hangat di d**a.
---
Di kamar 205.
Bima merenung.
Lira susah didekati. Tapi dia unik. Mungkin harus lebih sabar.
---
Di kamar 206.
Rania membanting bantal.
Arsya lebih banyak bicara dengan Naya hari ini.
Tidak adil.