BAB 11: ATURAN FLEKSIBEL

1375 Words
Senin pagi. Kantor Pak Anton terasa lebih santai dari biasanya. Pak Anton mengumpulkan semua staf—total lima orang termasuk Arsya dan Naya—untuk briefing mingguan. "Team, mulai minggu ini kita coba sistem kerja fleksibel." Pak Anton tersenyum lega. "Kalian bisa atur jam kerja sendiri. Asal target mingguan tercapai. Mau datang jam tujuh pagi atau jam sepuluh pagi, terserah. Yang penting produktif." Arsya duduk dengan postur tegak sempurna. Seperti menghadiri rapat dewa. Fleksibel? Dalam kamusnya, fleksibel berarti bisa menekuk tanpa patah. Apakah ini metafora untuk kemampuan adaptasi? Atau secara harfiah? "Apakah 'fleksibel' ini termasuk fleksibilitas dalam berpakaian?" Arsya serius. "Misalnya, jika target tercapai, apakah boleh bekerja dengan piyama?" Naya di sebelahnya menutup mulut. Menahan tawa. Pak Anton terkekeh. "Bukan sampai segitunya, Arsya. Maksudnya jam kerja saja yang fleksibel. Tapi untuk pakaian, tetap sopan." "Tapi jika kita bisa bekerja dari rumah, secara teknis kita bisa memakai piyama." "Kita belum sampai ke work from home. Nanti kalau sudah berkembang." Arsya mengangguk. Mencatat mental. Fleksibel = hanya jam, bukan pakaian. Kecuali work from home = piyama diperbolehkan. "Ada lagi." Pak Anton melanjutkan. "Hari ini kita ada brainstorming session setelah makan siang. Saya mau kalian keluarkan semua ide gila. Out of the box. Tidak terbatas. Jangan takut dikritik. Ini sesi bebas." Brainstorming. Arsya mengenali kata itu. Storm = badai. Brain = otak. Badai otak. Apakah ini semacam ritual manusia untuk mengumpulkan energi pikiran kolektif? Di alam dewa, mereka punya "Council of Minds". Tapi menggunakan kristal pemusat. "Apakah kita membutuhkan alat bantu untuk brainstorming?" tanya Arsya. "Misalnya, bola kristal atau peta pikiran multidimensional?" Sekarang semua orang menatapnya. Naya cepat menyelamatkan. "Arsya lagi senang baca novel fantasi. Maksudnya, peta minda biasa aja, Pak." Pak Anton mengangguk. Bingung. Tapi tetap tersenyum. "Cukup whiteboard dan spidol." --- Sepanjang pagi, Arsya mencoba memahami konsep "kerja fleksibel". Ketika melihat Naya datang jam delapan—biasanya jam setengah delapan—ia bertanya. "Apakah kamu memanfaatkan fleksibilitas dengan datang lebih lambat?" "Enggak. Aku cuma ketiduran." "Tapi itu sah dalam aturan baru." "Ya. Tapi jangan diambil kesempatan." Arsya bingung. Jika aturan membolehkan, mengapa tidak dimanfaatkan? Di alam dewa, aturan adalah aturan. Tidak ada "kesempatan" yang tidak boleh diambil. --- Makan siang. Arsya membawa bekal nasi goreng. Buatan Lira. Kali ini berhasil tanpa asap. Tapi rasanya agak aneh—Lira menambahkan "rempah penyembuh". Sebenarnya jamu kunyit. "Kamu masak sendiri?" Naya membuka kotak makanannya. "Adik saya yang mencoba. Dia sedang belajar." "Semangat ya." Naya menyendok nasinya. "Tadi kamu serius banget nanya soal piyama." "Saya hanya ingin memahami batas aturan." Arsya mengunyah. "Jika fleksibel hanya setengah-setengah, bukankah itu bukan fleksibel sejati?" Naya tersenyum. "Kamu memang literal banget." "Literal?" "Ya. Mengartikan kata perkata sesuai kamus." "Itu seharusnya tepat, bukan?" "Tapi di dunia nyata, banyak kata punya makna kontekstual." Arsya mengangguk. Mencatat mental. Manusia menggunakan kata tidak sesuai makna harfiah. Sistem komunikasi tidak efisien. --- Sesi brainstorming. Pukul 13.00. Mereka duduk melingkar. Pak Anton menulis di whiteboard: "Ide untuk menarik klien baru." "Silakan lempar ide." Pak Anton memegang spidol. "Bebas. Tidak ada yang salah." Budi mengusulkan. "Kita bisa buat webinar gratis tentang perpajakan." Anggukan setuju. Naya menyarankan. "Atau kolaborasi dengan UMKM lokal." Lalu giliran Arsya. Ia berdiri dengan khidmat. Seperti hendak menyampaikan pidato penting di hadapan Dewa Tertinggi. "Saya memiliki usulan yang mungkin terdengar... gila." Jeda dramatis. "Tapi sesuai permintaan: ide out of the box." "Silakan." Pak Anton memberi isyarat. "Kita bisa menciptakan sistem perpajakan berbasis multidimensi." Sunyi. "Di mana klien tidak hanya membayar pajak dalam bentuk uang. Tapi juga dalam bentuk energi positif atau jasa sosial." Budi mengernyit. "Kita buat portal—maksudnya, platform digital—yang menghubungkan pembayar pajak dengan penerima manfaat secara langsung." Arsya semakin bersemangat. "Seperti ritual persembahan di kuil-kuil kuno. Tapi dengan teknologi blockchain." --- Ruang meeting sunyi. Lalu Budi tertawa. "Wih, Arsya ini beneran out of the box! Portal ke kuil kuno gitu?" Naya memandang Arsya. Mata berbinar campur cemas. "Maksudnya mungkin crowdfunding untuk program sosial, Pak." Suaranya cepat. "Ya. Semacam itu." Arsya menyambar. Menyadari ia hampir menyebut portal sungguhan. "Tapi istilah 'ritual persembahan' agak... mistis." Pak Anton menggaruk kepala. "Kita kantor pajak. Bukan tempat peribadatan." "Saya hanya menggunakan analogi." Arsya berusaha tenang. "Intinya, membuat sistem yang lebih manusiawi dan terhubung." Pak Anton akhirnya mencatat ide itu. "Sistem pajak partisipatif." Arsya lega. Tapi kemudian— "Dan kita bisa memanfaatkan energi kolektif klien untuk menciptakan gelombang kesadaran pajak." Ia menambahkan. "Seperti mantra. Tapi dalam bentuk kampanye media sosial." Tendangan kecil di bawah meja. Naya menendang kaki Arsya. "Cukup, Arsya." "Oke." Pak Anton masih bingung. "Ide menarik. Kita lanjut ke ide berikutnya." --- Sesi berakhir dengan beberapa ide lain. Lebih normal. Saat keluar ruangan, Naya menarik Arsya ke sudut. "Kamu hampir bilang 'portal' dan 'mantra' tadi." Bisiknya. "Hati-hati." "Saya hanya mencoba mengikuti aturan. Ide gila." "Tapi jangan sampai seperti orang yang percaya magic." "Bukankah semua teknologi yang cukup maju terlihat seperti magic?" Naya tersenyum. "Kutipan Clarke." Jeda. "Kamu baca banyak ya." "Clarke? Siapa itu?" "Penulis sci-fi." Naya menghela napas. "Sudah, pulang saja. Jam fleksibel, kan? Kamu boleh pulang lebih awal. Karena sudah memberikan ide... unik tadi." Arsya mengangguk. Ia memang butuh waktu untuk memproses hari ini. --- Kos Bu Rini. Sore. Arsya menemui Lira yang sedang asyik menonton video tutorial memasak. Di ponsel Bima. "Kak! Bagaimana brainstorming-nya?" Lira menjeda video. "Apakah terjadi badai otak sungguhan?" "Tidak ada badai fisik. Hanya diskusi." Arsya duduk. "Tapi saya hampir membongkar kita." Lira meletakkan ponsel. "Serius? Ceritakan!" Arsya menceritakan semuanya. Portal. Ritual persembahan. Blockchain. Gelombang kesadaran pajak. Lira mendengarkan dengan mulut terbuka. Lalu mulai tertawa. Tertawa terbahak-bahak. Sampai tergelak-gelak. "Kakak mengusulkan sistem pajak dengan ritual persembahan?" Napasnya tersendat. "Di kantor pajak? Oh, Tu—eh, Kak! Itu lucu sekali!" "Jangan tertawa!" Arsya memerah. "Itu ide yang bagus sebenarnya. Di alam dewa, sistem persembahan bekerja dengan baik." "Tapi kita di dunia manusia, Kak!" Lira masih terkikik. "Mereka tidak punya portal nyata! Dan mantra? Mereka akan mengira kakak anggota aliran sesat!" "Tapi mereka meminta ide gila." "Gila dalam konteks manusia, Kak." Lira menekankan. "Bukan gila dalam konteks dewa!" Arsya menghela napas panjang. "Aku masih belajar." Lira akhirnya berhenti tertawa. "Maaf, Kak. Tapi memang lucu." Ia menyeka air mata. "Aku bisa bayangkan ekspresi mereka." "Bagaimana harimu?" Arsya mengalihkan topik. "Ada masalah?" Lira tiba-tiba teringat. "Oh iya! Bima mengajakku makan siang lagi." Arsya menegang. "Dia bertanya tentang kampung halaman kita. Aku bilang kita dari pegunungan terpencil di timur." Lira gugup. "Lalu dia tanya nama desanya. Aku kebingungan." Jeda. "Aku bilang 'Desa Tranquility'." Arsya memejamkan mata. "Desa Tranquility? Itu bahasa Inggris." "Aku panik!" Lira memelas. "Tapi Bima bilang, 'Wah, desanya pakai nama Inggris? Keren.' Dia pikir itu nama yang kita terjemahkan." "Kita harus membuat cerita yang konsisten." Arsya berpikir. "Buat peta desa imajiner. Beserta adat istiadatnya." "Baik, Kak. Aku akan buat besok." --- Malam. Makan malam. Suasana normal. Hampir. Bima tiba-tiba bertanya pada Arsya. "Bang, desa kalian di pegunungan timur itu dekat mana sih?" Ia menyendok nasi. "Apa dekat Bromo?" Arsya berhenti mengunyah. "Tidak." Suaranya terkendali. "Lebih ke timur lagi. Dekat... perbatasan dimensi—" Naya, yang sedang minum air, hampir tersedak. "—maksudnya, perbatasan provinsi." Arsya cepat memperbaiki. "Perbatasan dimensi?" Naya mengangkat alis. "Perbatasan daerah dimensi administratif." Arsya berkeringat dingin. "Namanya panjang: Dimensi Raya Timur. Tapi kami singkat jadi DiRaTim." Bu Rini mendengus. "Dengar-dengar sih daerah sana memang terpencil." Ia mengunyah sayur. "Tidak heran kalian kaku di kota." Rania tersenyum manis. "Tapi justru itu yang membuat Arsya menarik. Unik." Naya tidak berkomentar. Hanya memandang Arsya. Tatapan penuh arti. --- Setelah makan. Dapur. Naya menghampiri Arsya yang sedang mencuci piring. "Kamu harus lebih berhati-hati." Suaranya pelan. "'Perbatasan dimensi' itu kedengaran seperti dari film fiksi." "Saya tahu." Arsya menunduk. "Tapi saya sedang dalam tekanan." "Kenapa tidak buat cerita sederhana saja?" Naya mengambil lap piring. "Misal dari Flores atau Papua. Yang jauh. Jadi wajar jika belum paham budaya sini." "Itu ide bagus." Arsya menoleh. "Terima kasih." "Gak usah berterima kasih." Naya mengeringkan piring. "Aku cuma tidak mau kamu dicurigai." "Apakah kamu pernah curiga pada kami?" Naya diam sejenak. "Aku percaya setiap orang punya rahasia." Ia meletakkan piring. "Selama tidak merugikan, itu urusan mereka." Arsya merasa hangat di d**a. Naya memang berbeda. --- Kamar 207. Malam. Lira berbisik dalam gelap. "Kak. Naya lagi-lagi membantu kita." Jeda. "Dia baik sekali." "Ya." Arsya memandang langit-langit. "Tapi kita tidak bisa terus bergantung padanya." "Apakah kita akan memberitahunya kebenaran?" Arsya diam. Tidak menjawab.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD