Malam setelah penolakan.
Kos Bu Rini terasa seperti habis badai.
Bima mengunci diri di kamar 205. Rania video call dengan suara agak keras. Bu Rini sibuk menghitung uang kas sambil mendengus.
Di kamar 207, Arsya dan Lira duduk bersila di lantai.
Dua gelas teh jahe di antara mereka—upaya Lira untuk "menenangkan saraf setelah hari penuh gejolak sosial".
"Kak." Lira meniup tehnya. "Apakah aku membuat kesalahan dengan menolak Bima?"
"Tidak. Itu pilihanmu." Arsya menyeruput. "Dan lebih aman untuk kita."
"Tapi dia sedih. Aku merasa bersalah."
"Perasaan manusia kompleks. Tapi mereka cepat pulih." Jeda. "Menurut literatur, rata-rata butuh 3-7 hari untuk move on dari penolakan ringan."
Lira mengangguk. Mencatat mental.
"Kak." Suaranya ragu. "Tadi kamu bertanya, apakah mungkin dewa jatuh cinta pada manusia. Apakah kakak sudah menemukan jawabannya?"
Arsya tergagap. "Aku tidak sedang mencari jawaban untuk itu."
"Tapi ekspresimu berubah saat bersama Naya. Detak jantungmu meningkat 20% berdasarkan pengamatanku."
"Kau mengukur detak jantungku?!"
"Hanya observasi umum. Sebagai asisten dewa, aku terlatih membaca perubahan fisiologis."
Arsya menghela napas panjang.
Krucukk.
Perutnya protes. Mereka lupa makan malam.
"Kita butuh nutrisi." Lira bangkit. "Aku akan coba masak. Kali ini tanpa asap."
"Biar aku saja. Kau sudah cukup membuat kejadian hari ini."
"Aku harus belajar!" Lira bersikeras. "Aku akan membuat 'telur rebus'. Itu seharusnya aman."
Arsya mengizinkan. Dengan syarat dia mengawasi.
---
Dapur kos sepi.
Lira mengambil dua butir telur dari kulkas. Memasukkannya ke panci berisi air. Menyalakan kompor.
"Proses sederhana." Lira percaya diri. "Air mendidih, telur matang. Tidak ada minyak. Tidak ada api besar."
Dia lupa satu hal.
Berapa lama?
Lima menit.
"Kak, sudah matang?"
"Biasanya 10-15 menit."
"Tapi video tutorial bilang 8 menit untuk telur rebus sempurna."
"Maka tunggu 8 menit."
Mereka menunggu.
Lalu Lira mencium bau aneh.
"Apa itu? Bau belerang?"
"Telur mungkin retak."
Lira membuka tutup panci.
Air mendidih keras. Dua telur saling bertabrakan.
Krak.
Satu retak. Putih telur keluar, membentuk ubur-ubur aneh di air panas.
"Oh tidak! Telurnya terluka!" Lira panik.
"Itu wajar. Biarkan."
"Tapi bentuknya tidak bulat sempurna! Ini kegagalan estetika!"
"Santai, Lira. Yang penting bisa dimakan."
Lira terlalu fokus pada telur "cacat" itu. Tangannya gemetar. Sendok terlepas.
Byur!
Telur retak jatuh ke lantai. Kuning dan putih menyebar.
"TIDAK!" Lira nyaris menangis. "Aku telah menghancurkan lagi! Aku tidak bisa melakukan hal sederhana sekalipun!"
Napasnya memburu.
"TUAN, AKU GAGAL LAGI!"
---
Kata itu meluncur keras di keheningan malam.
Dan siapa yang kebetulan turun ke dapur untuk mengambil air mineral?
Naya.
Dia berdiri di ambang pintu. Memandang Lira yang hampir menangis. Memandang Arsya yang mencoba menenangkan.
"Ada apa?" Nada datar.
"Lira... sedang frustrasi dengan telur." Arsya cepat.
"Dan dia memanggilmu 'Tuan' lagi."
"Itu... seruan kekecewaan dalam bahasa daerah kami." Keringat dingin. "'Tuan' artinya... 'duh, sialan'!"
Naya mengangkat alis. "Bahasamu aneh sekali."
Lira masih dalam mode panik. "Tuan—maksudku Kak—tolong jangan marah. Aku akan bersihkan."
Naya mengambil lap. "Aku bantu. Kamu ambil telur satunya, sebelum terlalu matang jadi karet."
---
Mereka bertiga membersihkan kekacauan.
Lira akhirnya berhasil mengangkat telur yang selamat. Tapi sudah overcooked.
Setelah dikupas, telur itu abu-abu kehijauan di sekitar kuningnya.
"Ini telur rebus sulfur." Naya. "Terlalu lama."
"Apakah masih aman?" Lira.
"Aman. Cuma baunya agak kuat."
Mereka duduk di meja kecil dapur.
Arsya dan Lira berbagi telur sulfur itu. Naya minum air mineral.
"Kenapa kalian belum makan malam?" Naya.
"Suasana agak canggung setelah... kejadian siang." Arsya.
"Bima? Dia cuma malu. Besok sudah biasa lagi."
"Kamu yakin?"
"Dia sudah pernah ditolak tiga kali di kos ini." Naya tenang. "Pertama Rania, kedua cewek teman kampus, sekarang Lira. Mental tahan banting."
Lira merasa lega. "Manusia ternyata resilien."
"Harus. Kalau tidak mau stres."
---
Arsya memandang Naya.
Di pencahayaan lampu dapur yang redup, wajahnya lebih lembut. Tidak cuek seperti biasanya.
"Terima kasih sudah membantu."
"Gak apa-apa." Naya mengambil sebungkus kerupuk dari rak. "Aku juga lapar. Mau?"
Mereka berbagi kerupuk dalam keheningan yang nyaman.
Lira mengunyah telur dengan ekspresi serius. Seperti mengevaluasi setiap molekul.
"Kak, teksturnya kenyal." Ia berpikir. "Seperti daging naga muda."
Arsya menendang kaki Lira di bawah meja. "Maksudnya... seperti daging ayam yang unik."
Naya tersenyum kecil. "Kalian berdua punya bahasa sendiri ya."
"Kami sudah bersama lama." Arsya.
"Kelihatan. Kadang kalian kayak punya frekuensi yang lain."
---
Bu Rini muncul.
"Loh, masih pada bangun? Dapur kok bau telur busuk?"
"Lira sedang bereksperimen, Bu." Naya.
"Ah, yang penting jangan bakar dapur lagi." Bu Rini menggeleng. "Oh iya, Arsya, besok ada tukang listrik datang. Kamu dan Lira jangan ke mana-mana dari jam 9 sampai 12."
"Baik, Bu."
Bu Rini pergi. Tinggal mereka bertiga.
"Naya." Arsya tiba-tiba. "Kamu tidak pernah penasaran tentang kami?"
Naya mengunyah kerupuk pelan. "Setiap orang punya masa lalu. Kalau kalian mau cerita, ya aku dengar. Kalau enggak, ya gak apa-apa."
"Kamu tidak seperti kebanyakan orang."
"Kepo itu melelahkan." Jeda. "Lebih baik fokus pada sekarang."
Lira bertanya, "Apa kamu tidak punya rasa penasaran sama sekali?"
"Ada." Naya menatapnya. "Tapi aku percaya orang akan cerita kalau sudah nyaman. Memaksa hanya bikin orang kabur."
Arsya terdiam.
Di alam dewa, semuanya transparan. Tidak ada rahasia.
Di sini, manusia punya batas privasi yang kompleks.
Dan Naya menghormati itu.
Mulia.
---
Kerupuk habis. Naya berdiri.
"Aku naik dulu. Besok kerja lagi."
"Terima kasih." Arsya.
Naya mengangguk. Di ambang pintu, ia berbalik.
"Oh, Arsya. Jangan terlalu khawatir tentang Bima. Dia baik. Hanya ceroboh dalam urusan perasaan."
"Kamu selalu tahu apa yang harus dikatakan."
"Hidup di kos Bu Rini mengajarkanku itu."
Naya pergi.
---
Lira memandang Arsya.
"Kak. Dia sangat tenang. Seperti danau di pegunungan dewa."
"Ya. Tenang."
"Dan kakak melihatnya dengan ekspresi yang sama seperti saat menemukan artefak langka di perpustakaan alam dewa."
"Lira." Arsya berdiri. "Sudah cukup."
---
Mereka naik ke kamar.
Saat akan masuk, Arsya melihat cahaya dari bawah pintu kamar Naya masih menyala.
Entah mengapa, itu membuatnya merasa tidak terlalu asing.
---
Di kamar. Lira bersiap tidur.
"Kak, malam ini aku belajar: kegagalan memasak bisa menjadi awal percakapan yang berarti."
"Kau selalu melihat sisi positif."
"Itu tugas asisten dewa. Menemukan pelajaran dalam setiap kekacauan."
Mereka berbaring. Malam ini giliran Arsya di kasur—kesepakatan bergantian sejak Lira menang argumen dua hari lalu.
Lampu dimatikan.
"Kak." Bisik Lira dalam gelap. "Aku mulai merasa nyaman di sini. Meski sulit. Meski aneh."
Arsya memandang langit-langit. "Aku juga."
"Apakah kita masih berharap bisa kembali ke alam dewa?"
Diam.
"... Aku tidak tahu."
Itu pertama kalinya Arsya mengakui keraguannya.
Selama ini, ia selalu yakin mereka harus kembali.
Tapi malam ini, setelah percakapan sederhana di dapur dengan Naya.
Setelah melihat Lira belajar menjadi manusia.
Mungkin tidak semua buruk.
"Kakak." Suara Lira mengantuk. "Kalau kita tidak kembali... apakah kita akan menjadi manusia selamanya?"
Arsya tidak menjawab.
---
Mek.
Suara pelan dari jendela.
Arsya bangkit. Membuka tirai.
Kucing liar itu duduk di pinggir jendela.
Kucing yang dulu dikira Lira sebagai penjaga gerbang neraka.
Ia menatap Arsya dengan mata berkedip. Lalu mengeong pelan.
Arsya tersenyum.
Kucing itu melompat pergi.
---
Dari kamar 205, suara dengkuran Bima mulai terdengar.
Dari kamar 206, Rania tertawa kecil di telepon.
Dari kamar 204, cahaya lampu akhirnya padam.
Arsya kembali berbaring.
Di dalam hatinya, ada perasaan yang belum pernah ia alami di alam dewa.
Kedamaian dalam ketidaksempurnaan.
Mungkin, hanya mungkin.
Terdampar di Jakarta bukanlah kesalahan terbesar mereka.
Mungkin ini justru petualangan yang mereka butuhkan.