Rumah ini akan menjadi saksi bisu, seberapa berpengaruhnya seorang Heru Abdil Abdullah bagi hidup Aisyah Aswara. Tidak hanya menarik aku saja, Heru juga melibatkan kedua orangtuaku. Huh! Sepertinya lelaki ini adalah hal pertama yang tidak termasuk bagian keberuntunganku. Aku tidak berani melihat tatapan mengancam Abi dan Erly, juga tidak tega melihat wajah memelas Umi. Heru? Nah, lelaki lancang ini tersenyum sangat normal kepadaku, seolah bukan dirinya yang sedang aku pertimbangkan sekarang. "Abi, mungkin kita bisa memberikannya tumpangan sebagai bentuk terimakasih," kataku bersikap netral sesuai sikon. Aku melihat Abi tertunduk, beliau menyerah. Abi-ku memang lelaki sejati, beliau tidak egois. Kulihat Umi menepuk lembut pundak Abi dengan senyum meyakinkan, bukan senyum mengejek. Mereka

