Jangan lupa love nya, karena itu sangat membantu untuk perkembangan cerita ini
Happy reading.
****
Devian POV .
Tidak biasanya, aku merasa kesepian didalam rumah sendiri. Aku menyangkal keberadaan Ferisha yang membuat rumah ini terasa lebih bewarna. Perhatian kecil darinya mampu membuatku merasa nyaman. Tidak ada yang tau kalau aku diam-diam memakan masakan Ferisha. Masakan Ferisha enak, seperti buatan Mama.
Selama satu minggu ini, Ferisha belum kembali kerumah. Aku tidak tau keberadaan nya dimana setiap ditelfon, sambungan selalu ditolak. Mungkin kerumah orangtua nya? Aku juga tidak tau dan berusaha untuk tidak perduli. Mungkin dengan tidak ada dia, aku bebas. Tetapi kali ini, aku gagal untuk tidak peduli.
Aku mengendarai lamborghini bewarna merah untuk menuju kerumah Mama dan papa. Rumah yang sudah lama tidak aku kunjungi karena terlalu sibuk mengurus kantor dan Arleta. Mengingat wanita itu membuatku merasa kecewa padanya.
Setelah lama menunggu macet yang panjang, akhirnya tiba di rumah megah yang ditumbuhi banyak sekali bunga-bunga diperkarangan nya. Aku berjalan masuk begitu saja tanpa harus mengetuk pintu. Karena rumah ini tidak di kunci pada siang hari.
" MA..... " teriak ku diruang tamu.
Tidak lama, diundukan tangga terlihat mama berjalan kearah ku.
" Yaampun.... Anak Mama yang ganteng.. " ujar Mama senang dia sedikit berlari.
Setiba dibawah, Mama menciumi seluruh wajah ku kelakuan yang tidak pernah berubah saat kami hanya berdua.
" Kau hanya sendiri? " tanya Mama sambil menuntun ku untuk duduk.
" Ya seperti yang mama lihat. "
" Loh Ferisha mana? Tidak ikut dengan mu?"
Aku menggeleng, kemudian menceritakan semuanya kepada Mama. Dimulai dari Ferisha tidak ada dirumah yang penyebab nya tidak aku ketahui,sampai sudah satu minggu ini hilang begitu saja.
" YaAllah Dev! Kenapa tidak memberitahu Mama lebih awal? Kau sudah menghubungkan ponselnya? "
Aku mengangguk, " Sudah beberapa kali, tapi dia tidak mengangkat telfon Dev. "
" atau jangan-jangan Ferisha pulang kerumah orangtua nya? " tebak Mama.
" Dev juga berpikir seperti itu. "
" Tapi kenapa tidak kau susuli Dev? "
" Aku tidak peduli saat itu. "
Kulihat Mama memijat keningnya beberapa kali, Aku yang berada disampingnya hanya bisa mengelus pundak Mama menenangkan.
" Coba saja telfon menggunakan ponsel Mama. " usul ku.
Mama mengangguk membenarkan, dia mengambil ponselnya yang berada dikamar atas. Lalu kembali duduk bersama ku. Saat beberapa kali menelfon, akhirnya panggilan tersambung dengan Ferisha.
" Hallo Assalammualaikum Ma. " terdengar suara gadis diseberang sana karena dispeaker.
" Waalaaikumsalam. "
" Iya ada apa menelfon Ma? "
" tidak ada. Emangnya Mama tidak boleh nelvon Ferisha? "
" Tentu boleh kok. "
Aku membisiki Mama agar menanyakan dimana keberadaan gadis itu.
" Ferisha sedang berada dirumah bersama Devian kan??" tanya Mama membuat keheningan terjadi, sampai Ferisha menjawab dengan nada gugup.
" T-tidak. Ferisha sedang tidak dirumah.,"
" Memangnya kau berada dimana? "
Terdengar helaan nafas berat yang keluar dari mulut Ferisha, " Ferisha saat ini berada dirumah ibu dan ayah. "
" Ooh.. Kau sedang berkunjung bersama Devian bukan? " tanya mama mengikuti instrupsi dariku.
" maaf Ma. Ferisha kabur dari rumah saat Devian sedang tidur. "
Mata Mama melotot menatap ku, dan aku membalasnya dengan melambaikan tangan tanda aku sama sekali tidak bersalah. Dia menceritakan semuanya pada Mama sampai aku benar-benar tidak menyangka akan melakukan itu pada Ferisha. Itu semua diluar kendaliku, aku hanya mengingat lampu kelap-kelip yang berasal dari club. Ferisha menangis saat menceritakan itu semua, membuat rasa bersalah ku terlalu besar padanya. Setelah sambungan terputus, Mama menatap ku kecewa. Tatapan yang sangat tidak ingin aku harapkan.
" Kau benar-benar tega padanya Devian. "
" Itu diluar kendali Dev Ma. " sangkal ku.
" Ya, walaupun diluar kendali mu, tidak seharusnya kau mengucap kan nama w************n itu Dev. "
Aku menyangkal ketika Mama memanggil Arleta murahan ," Ma.... Dia bukan w************n. Dia wanita yang Dev cintai. "
Mama menggeleng kan kepalanya, " Dan kau masih berhubungan dengan nya Dev? "
Aku hanya diam.
" Jawab Dev! "
" Aku... Sudah putus dengan nya. "
" Makanya kau memilih mabuk-mabukan karena w************n itu? "
" Sudah dev katakan, dia bukan w************n,dia Arleta, wanita yang Dev cintai. "
" Kau sudah buta dengan cinta Dev, bahkan sampai buta melihat mana wanita Iblis dan wanita yang berhati baik seperti Ferisha. Kau tau, dia adalah wanita baik yang pernah Mama temui. Kau tidak tau bagaimana Ferisha kepada orang-orang tersayangnya Dev. Dia wanita lemah lembut, penurut, bahkan harus dijodohkan dengan mu. Mama merasa dia tidak pantas untuk mu yang hanya bisa menyakiti hatinya. Sebenarnya, Ferisha sempat menolak atas perjanjian pernikahan ini, karena dia sayang keluarganya termasuk kakek yang dia sayangi, Ferisha rela mengorbankan masa depannya dengan mu. "
Hatiku berdesir begitu saja mengingat betapa perhatian nya Ferisha kepadaku. Dia bahkan rela mencuci bajuku yang menumpuk karena aku sering ganti-ganti baju sampai malam hari. Dia juga menyiapkan makanan yang banyak, menyambut ku saat pulang kerja, menyiapkan segala keperluan ku. Perhatian yang tidak pernah aku dapatkan bersama Arleta. Sampai lamunan ku terbuyar mendengar perkataan Mama yang entah kenapa membuat ku tidak rela dan merasa marah.
" Mungkin ,perceraian adalah hal yang tepat untuk kebahagiaan Ferisha. "
****
Bukan penulis andal seperti yang lain.
Jangan lupa love nya.