Ando tak tenang. Dari tadi, ia mencoba mengulang hapalannya tapi tetap buntu. Hingga ia berhenti di tengah-tengah ayat. Lalu mengeluh dalam hati, menurunkan Al-Quran dari tangannya seraya menghela nafas. Jiwanya tak tenang karena air mata itu. Farras kenapa? Itu tanya hatinya. Ia tidak berani menduga-duga karena takut kecewa. Takut karena nyatanya, ia masih menaruh harap pada gadis itu. Namun ia juga penasaran. Allah....ia harus bagaimana? Ia memutuskan untuk menutup Qurannya lalu ia simpan ke dalam tas. Mungkin ia perlu tidur sekarang. Maka itu, ia putuskan untuk membaringkan badan lalu memejamkan mata. Kemudian berdoa pada-Nya agar segera terlelap. Namun sialnya, malah muncul wajah Farras dan air mata itu lagi. “Kenapa baru sekarang bilangnya?” Kalimat itu menamparnya telak-telak. Mak

