Aku tak bisa membantah, mengikuti saran bapak. Mungkin ada benarnya, Damian tidka nyaman tinggal di sini. Dari segi tempat dan makanan. Damian benar-benar tidak suka.
"Tapi, Pak ... Bapak gimana di sini? Siapa yang nemenin Bapak?"
Jujur, aku tak tega meningalkan bapak di klinik ini. Belum lagi, di sini bapak sudah tidak punya siapa-siapa. Kekhawatiranku pada Juragan Norman kembali lagi menemui bapak.
"Enggak apa-apa. Besok juga Bapak sembuh. Kalau Bapak udah sembuh, Bapak udah punya uang, Bapak akan menyusulmu ke kota."
Keputusan bapak membuatku gamang. Aku sangat bingung. Apakah mengikuti ajakan suami kembali ke kota atau lebih mementingkan keadaan bapak?
"Salsa, Damian bisa mencukupi segala kebutuhanmu. Sedangkan Bapak? Dari dulu cuma bisa menyusahkanmu. Kamu sekarang udah menjadi seorang istri, utamakan suami dari pada orang lain."
Aku mendongak mendengar kalimat bapak. Benar kata bapak, seorang istri semestinya mengikuti perintah suami lebih dulu ketimbang orang tua. Bapak bukan orang lain, tapi aku pernah dengar kisah seorang istri pada zaman Nabi SAW pada waktu aku masih ikut pengajian sebelum menikah dulu.
Katanya seorang istri harus lebih mengutamakan perintah suami selagi perintah itu tidak bertentangan dengan agama.
"Ya sudah, aku pulang sekarang ya, Pak. Kalau Bapak kenapa-napa atau ada orang yang jahat, Bapak hubungi nomorku. Ini, pake handphone-ku aja. Nanti di jalan aku beli hape dan nomor baru lagi. Aku akan menghubungi Bapak lebih dulu."
Aku tahu bapak tidak punya handpone. Oleh karenanya, kuberikan handphone milikku. Aku ingin tetap berkomunikasi dengan bapak meski kami berpisah.
Kulihat bapak ragu mengambil handphone yang aku sodorkan.
"Enggak apa-apa, Pak. Bapak ambil aja supaya aku tenang ninggalin Bapak di sini," kataku mengulas senyum agar bapak berpikir aku baik-baik saja, tidak keberatan memberikan ponsel padanya.
"Terima kasih, Nak."
"Iya, Pak. Sama-sama. Aku panggil Damian dulu ya, Pak?"
"Iya," sahut bapak. Kedua bola matanya berembun. Aku tak mau melihat bapak menangis. Biarlah bapak menangis sendirian di sini. Kalau ada aku, pasti bapak akan merasa malu.
Keluar ruangan, mencari keberadaan Damian. Di kursi luar klinik, hanya ada Mang Sukra dan Bi Sanah.
"Mang, Bi, Damian mana?" tanyaku pada pasangan suami istri itu.
"Ada di dalam mobil, Non."
Aku melirik ke arah mobil, melihat Damian sedang memangku kucing kesayangannya. Kalau lihat dia begitu, aku kesal.
Berjalan ke arah mobil, mengetuk kaca jendela mobil. Damian menoleh, membuka setengah kaca.
"Ada apa?" tanyanya dingin. Aku melihat Kucing Miau duduk dengan nyaman di atas pangkuan Damian. Kenapa pula kucing itu ikut dengannya sih?
"Kita pulang sekarang," kataku.
"Ya udah."
Hanya itu tanggapan Damian. Kupikir dia akan senang dan antusias mendengar keputusanku. Ternyata hanya biasa-biasa saja.
Aku mendengkus kesal.
"Kamu gak mau pamit dulu sama bapak?" tanyaku agak sewot. Damian menoleh lagi, menghela napas, lalu memindahkan Miau dari pangkuannya. Damian keluar mobil, berjalan lebih dulu ke ruangan bapak. Meski kesal dan emosi, aku tetap mengikutinya dari belakang. Aku tidak mau kalau Damian berkata yang menyakitkan pada bapak.
Masuk ke ruangan bapak, cukup terkejut melihat Damian meraih telapak tangan bapak, mencium punggung tangannya. Aku pikir Damian tidak akan menghormati bapak seperti itu, ternyata ....
"Hati-hati, Damian. Bapak minta maaf udah repotin kamu dan Salsa."
Damian tersenyum tipis, menganggukkan kepala.
"Enggak apa-apa. Semoga Bapak lekas sembuh."
"Iya, Nak. Terima kasih."
"Pak!" Panggilanku membuat dua lelaki itu menoleh. Aku berjalan dengan raut wajah ceria. Senang, melihat Damian mau menghormati bapak dengan cara mencium punggung tangannya.
"Pak, kami pulang sekarang, ya? Kalau Bapak mau ke kota, nanti telepon aku dulu."
"Iya, Nak. Terima kasih."
Aku dan Damian pamit pulang ke Jakarta. Meski hatiku merasa cemas, tapi tidak bisa berbuat banyak. Perintah suami lebih utama jika perintah itu tidak bertentangan dengan agama. Aku berdoa semoga bapak di sini baik-baik saja dan kembali sehat. Aamiin.
Aku dan Damian keluar ruangan. Tiba-tiba langkah Damian terhenti di samping kursi yang ditempati Bi Sanah dan Mang Sukra.
"Bibi, pulang dengan kami sekarang. Mang Sukra, jangan pulang sekarang. Temenin bapak di sini. Kalau bapak udah sembuh, Mang Sukra ajak ke Jakarta."
Aku tak menduga Damian memberi perintah pada Mang Sukra agar mau menemani bapak di sini. Aku pikir, dia tidak mempedulikan bapak. Hatiku sangat terenyuh dan bahagia. Kalau tidak malu, ingin rasanya kupeluk erat Damian.
"Iya, Mas."
"Kami pulang dulu."
Aku, Damian, dan Bi Sanah pergi dari klinik. Kami satu mobil.
"Dam, kalau ada counter handphone berhenti dulu, ya? Aku pengen beli hape baru dan nomor baru," kataku pada lelaki yang duduk di balik kemudi. Pandangan Damian fokus ke depan, jalan raya.
"Handphone kemana?"
"Aku kasih ke bapak. Kasihan bapak, gak punya hape. Boleh, ya?"
"Iya."
Hatiku bersorak riang. Benar-benar bahagia. Semoga saja Damian sifatnya selalu baik dan perhatian.
Ternyata benar, Damian menepikan mobil saat ada counter handphone.
"Jangan banyak menawar! Cepat beli. Aku gak suka menunggu," pesan Damian sebelum aku membuka pintu mobil.
"Iya. Aku bakalan sebentar."
Aku dan Bibi keluar mobil. Kami berjalan ke counter, memilih handphone yang aku suka. Setelah mendapat handphone baru dan nomor baru, aku dan Bi Sanah kembali masuk ke dalam mobil. Kami pun melanjutkan perjalanan.
Sepanjang jalan, bibirku mengulas senyum memerhatikan i-phone yang selama ini hanya bisa aku lihat dari kejauahan. Sekarang justru sudah ada di genggaman. BAgaikan mimpi.
Perjalanan yang cukup jauh membuat perutku terasa kram. Beruntung, kubawa obat yang diresepkan dokter. Di dalam mobil, kuminum obat pereda nyeri dan mual.
"Kamu minum obat apa?" tanya Damian melirik padaku.
"Obat kram. Perutku terasa kram. Mungkin karena kelamaan duduk," kataku meringis. Berulang kali mengubah posisi duduk agar lebih nyaman tapi gagal. Masih saja terasa kram. Kayaknya aku harus rebahan dulu.
"Mau ke rumah sakit dulu? Kalau mau, kita mampir."
"Enggak, enggak. Aku cuma pengen rebahan aja. Soalnya pinggangku pegel banget. Perut jadi ikutan kram."
Melihat raut wajah Damian tampak khawatir.
"Kalau kamu mau rebahan, kita ke hotel aja. Kita sewa dua kamar hotel. Perjalanan ini emang cukup jauh."
Aku pasrah, mengikuti saran Damian. Beruntung sekarang kami sudah di kota Bogor. Seingatku, tidak jauh dari sini ada penginapan atau hotel mewah.
"Dam, itu hotelnya!" Aku menunjuk pada bangunan yang menjulang tinggi. Damian langsung membelokkan mobil. Masuk ke halaman gedung.
Kendaraan kami berhenti tepat di depan lobby hotel. Damian memanggil salah satu pelayan hotel, menyuruhnya agar memarkirkan kendaraannya. Damian juga memberikan uang tips pada pelayan itu.
Bi Sanah menuntunku yang merasakan kram di area perut. Sedangkan Damian, ke meja resepsionis.
Ketika menunggu Damian selesai memesan hotel, kedua mataku melihat sosok wanita berpakaian s3ksi yang baru keluar dari lift bersama seorang pria berusia sekitar 50 tahunan.
"Chika? Itu kan Chika? Ngapain dia ada di sini bareng Om-Om?"