Bab 14. Mainkan Dia!

1096 Words
Ternyata benar kata Damian, banyak lelaki yang mencicipi tubuh Chika. Aku pikir yang dikatakan Damian tidak benar. Pandanganku dan Chika bertemu. Ia tampak salah tingkah, melepaskan tangannya dari lengan lelaki tua itu. Kemudian, dia berjalan lebih dulu. Aku malas menegurnya, membiarkan Chika pergi dari hotel. Damian membalikkan badan, menghampiriku dan Bi Sanah "Bi, ini kunci kamar hotel Bibi." Damian menyerahkan kunci kamar hotel yang berbentuk kartu. Bibi mengambil seraya mengucapkan terima kasih. Kami masuk ke dalam lift. Melirik Damian, tampaknya dia tidak melihat Chika di hotel ini. Apa aku kasih tahu aja, ya? Kamar Bi Sanah dan kamarku bersebelahan. "Non, kalau ada apa-apa, hubungi Bibi, ya? telepon aja, Non." Bi Sanah berpesan sebelum masuk ke dalam kamarnya. Aku mengulas senyum tipis, menganggukkan kepala. "Iya, Bi. Sekarang Bibi istirahat aja. Perutku udah agak mendingan kok." "Alhamdulillah. Ya udah, Non Salsa masuk ke dalam kamar duluan." "Iya, Bi." Aku masuk ke dalam kamar. Di atas ranjang, terlihat Damian sedang berbaring. Sepertinya dia sedang kelelahan. "Hei, katanya perutmu kram, sini rebahan!" Aku menghampiri Damian, merebahkan diri di sampingnya. Baru beberapa menit merebahkan tubuh, tiba-tiba Damian terlonjak kaget. "Ya ampun, Miau ketinggalan di mobil." "Eh iya, bener, Dam. Miau ketinggalan. Cepet kamu ambil!" Damian segera berjalan keluar kamar. Dia sangat panik. Lagian kenapa pula kucing diajak? Udah bagus di rumah, ada kandangnya, ada yang jagain. Aku hanya menggelengkan kepala. Kalau ada Miau di kamar, Damian pasti membelai Kucing betina itu. Aku yang jadi istrinya, tidak pernah satu kalipun dibelai. Tidak berselang lama, Damian kembali masuk ke dalam kamar sambil menggendong si Miau. "Dia gak kenapa-napa, 'kan?" "Enggak. Tadi dia malah tidur." Huh, dasar Kucing pemalas. Terkunci di dalam mobil saja masih bisa tidur nyenyak. "Eh, si Miau mau tidur di sini juga?" tanyaku melihat Damian meletakkan Miau di atas ranjang. "Iya. Kasihan dia, tadi habis kekunci di dalam mobil. Enggak akan ganggu kamu." "Bukan begitu, Dam ... aku ini lagi hamil. Katanya kalau orang lagi hamil, jangan dekat-dekat sama kucing. Nanti anaknya kayak kucing, banyak bulunya. Mau kamu?" "Enggak maulah. Oke, oke ... aku suruh si Miau tidur di sofa." "Nah gitu dong. Yang tidur seranjang itu istrimu bukan kucingmu, Dam!" ketusku sambil merebahkan kembali tubuh. Ck, cuma kucing saja dibelai-belai sampai tidur. Istrinya sendiri? Jangankan dibelai-belai sampai tidur, dibelai sekalipun tidak pernah. Aku menarik selimut sebatas d**a, memejamkan kedua mata. Lebih baik aku tidur dari pada lihat kemesraan Damian dan si Miau. Iyuh, menyebalkan. "Eh, eh cewek matre, sekarang kamu percaya kan sama aku kalau si Chika perempuan murahan? Perempuan yang sering dicicipi banyak lelaki." Aku langsung membuka kedua mata, menoleh pada Damian. Ternyata lelaki itu pun melihat Chika bersama om-om tadi. Aku pikir tidak lihat. "Jadi, tadi kamu lihat Chika sama Om-Om?" tanyaku dengan intonasi tinggi. Damian menempelkan jari telunjuk ke depan bibirnya, menyuruhku jangan berisik. "Ngomongnya pelan-pelan! Miau udah mulai ngantuk." Hem, perhatian banget. Terus saja, perhatiian tuh Kucing janda. Jangan perhatiin istri sendiri. Kataku dalam hari. Aku terdiam, menunggu Damian selesai meninabobokan si Miau. "Aku tadi lihat wanita itu keluar dari lift tapi aku pura-pura enggak lihat," celetukkan Damian membuatku terkejut. Menoleh padanya, memicingkan kedua mata. "Maksud wanita itu siapa?" tanyaku pura-pura tak mengerti. Hanya ingin meyakinkan apa yang aku dengar. "Chika." "Oh ... Iya sih, aku juga gak nyangka. Pantas aja kamu gak mau sama dia padahal kalian teman dari kecil 'kan?" "Iya." "Tapi, kamu pernah cinta sama dia?" "Iya." "Sekarang udah gak?" "Enggak." "Sejak?" Damian terdiam, menatapku lekat. Aku menelan saliva melihat sorot mata Damian yang tajam. "Kamu cerewet sekali. Aku sekarang udah gak cinta wanita manapun. Aku udah punya istri." Aku menelan saliva, mendengar intonasi Damian yang cukup tinggi. Aku merunduk, memainkan jari jemari. Kemudian, berbaring kembali. Aku tak suka ia membentak. Kenapa tidak bicara baik-baik kalau tak suka aku bertanya? Sudahlah, mungkin aku yang salah karena terlalu ingin tahu. Sekarang lebih baik aku tidur. Kedua mataku mengerjap, keadaan tubuh sudah terasa lebih enak. Merentangkan kedua tangan, menguap, dan mengucek mata. Pandanganku tertuju pada lelaki yang duduk santai di sofa sambil nonon televisi. Di samping kanannya ada seekor kucing. Menyibak selimut, turun dari ranjang, hendak ke toilet. Entah sekarang sudah jam berapa, aku tak tahu. Melihat sekitar, ada handuk dan alat-alat mandi lainnya. Aku pun membersihkan badan. Selesai mandi, kukenakan kembali pakaian semula. Sebenarnya agak gatal, tapi mau bagaimana lagi. Tidak ada pakaian ganti. "Pakaian gantimu ada di dalam situ." Perkataan Damian membuatku mengalihkan pandangan pada goodie bag di atas kasur. Sejak kapan dia belanja membelikan pakaian ganti untukku? Apa ketika aku tidur dia pergi? Ternyata benar, isinya pakaian ganti wanita. Ada juga pakaian d4lam. "Makasih," kataku singkat tanpa ingin berkata apa-apa lagi. Aku lagi kesal padanya gara-gara tadi dibentak hanya karena aku bertanya. Setelah mengganti pakaian, aku duduk di atas meja rias. Melihat jam dinding kamar hotel, sudah pukul dua malam. "Wah, ternyata aku tidur lama juga," kataku terkejut melihat jam dinding. "Mungkin karena kamu kelelahan. Sekarang kamu makan nih! Makanan ini enggak ada sambalnya. Aku bisa pastikan kamu enggak akan kepedesan. Setelah itu, minum s**u ibu hamil." Aku menoleh pada lelaki yang pandangannya lurus ke depan. Intonasi suara Damian sangat datar. Sudah seperti sebelumnya lagi. Aku harus terbiasa menghadapi sikap dingin dan suaranya yang keras. Menghampiri Damian, duduk di sebelahnya. Kuambil nasi yang ada di depan mata. Melihat lauk pauk yang ada, bibirku menyunggingkan senyum. Mau tanya, dia beli di mana? Tapi, aku kan lagi marah. Lebih baik langsung aku makan saja. Damian beranjak, membawa s**u ibu hamil. Ternyata dia ke dispenser, membuatkan s**u untukku. "Ini susunya! Harus kamu habisin!" katanya, meletakkan segelas s**u cokelat di hadapan. Damian naik ke atas ranjang, merebahkan tubuh. Aku melirik Miau yang duduk tak jauh. Tidak biasanya kucing itu tidak diajak ke atas ranjang? Usai menyantap makan malam, meneguk s**u ibu hamil. Aku nonton televisi. Duduk santai. "Eh, kamu udah selesai makannya?" Pertanyaan Damian menyentakku. Aku pikir dia sudah tidur. "Udah." "Udah selesai minum susunya?" "Udah. Nih," jawabku mengangkat gelas yang sudah kosong. Damian terdiam, aku meletakkan gelas kembali, menonton acara kriminal di televisi. "Kalau udah dikasih makan, udah dikasih s**u, harusnya kamu ngapain?" Keningku mengkerut mendengar pertanyaan Damian. "Aku ngapain? Nonton tivi." "Enak aja! Emang yang kasih kamu makan, yang kasih kamu s**u, tivi?" Ya Allah, salah lagi ... Aku menggelengkan kepala, mengabaikannya. Aku lagi malas bertengkar atau berdebat dengannya. "Eh! Eh, cewek matre!" "Apa?" "Sini kamu!" "Ngapain?" Ganggu saja. Baru saja aku santai, nonton televisi, sudah disuruh tidur. "Aku belum ngantuk. Gak mau tidur," kataku duduk di sisi ranjang. "Memangnya siapa yang nyuruh kamu tidur?" "Lah terus, ngapain nyuruh aku ke sini?" Damian tak langsung menjawab, pandangannya justru ke arah bawah. "Mainkan dia!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD