Pagi hari, aku sudah berkemas meninggalkan hotel. Melanjutkan perjalanan menuju rumah Damian. Sedari tadi, hampir 20 menit, Damian masih berada di dalam toilet. Dia kalau mandi memang suka lama, bikin kesal menunggu. Aku menghampiri toilet, mengetuk pintu berulang kali.
"Ada apa?" Terdengar suara shower dimatikan. Masih nanya ada apa?
"Cepetan! Udah siang nih!" kataku setengah berteriak.
"Iya."
Dari tadi iya, iya doang. Tapi, tidak juga keluar dari toilet. Kalau perutku mulas mau lahiran, bisa-bisa bayinya keluar duluan daripada Damian yang keluar dari toilet.
Aku menghela napas, melihat pintu toilet, belum ada tanda-tanda Damian mau keluar.
Aku kembali berjalan ke pintu toilet, mengetuk pintu sambil memanggil namanya.
"Apa lagi?" tanya Damian tanpa membuka pintu toilet.
"Kucing kamu kena asma! Napasnya sengal-sengal. Kayaknya dia lagi sakaratul maut, cepetan ke ---"
Belum selesai kalimatku, Damian sudah keluar dari toilet. Bergegas menghampiri si Miau yang tidur di sofa depan televisi. Giliran masalah kucing saja, langsung tergesa-gesa.
"Miau, kamu gak kenapa-napa?" Damian mengangat kucing betinanya. Memeriksa samping kanan dan samping kiri tubuh Miau.
"Meong ...."
Nah lho, tuh Kucing bisa nyahut lagi. Aku mengulum senyum geli. Melihat Damian yang tiba-tiba panik.
Aku mengambil handuk dari dalam toilet, melilitkan sebatas pinggang.
"Eh, kamu bohongin aku?"
"Kalau iya kenapa?" tanyaku santai. "Gara-gara Kucing, kamu sampe lupa pake handuk. Kelihatan tuh aurat utamamu," kataku menggelengkan kepala.
"Enggak apa-apa. Kamu sama si Miau emang udah sering lihat 'kan? Ngapain ditutupin?"
Dasar b0doh! Handuk dijatuhkan begitu saja. Tidak punya malu. Sok kebesaran, sok keperkasaan.
"Jangan dilihatin terus, kalau mau sini. Mainin lagi!" katanya kepedean.
"Ogah. Capek. Kamu doang yang enak, aku dapat capeknya doang. Malesin."
"Kamu sendiri gak mau. Katanya takut nanti baby kena guncangan tak terkendali." Idih, malah ngeledek. Kurang asem emang tuh bos mafia. Jelas saja aku gak mau. Damian sudah dikasih tahu sama dokter, jangan kasar mainnya, dia tetap saja main kasar. Kalau sampai bayi ini keguguran, bisa-bisa aku disuruh mengganti uangnya.
Setelah Damian mengenakan pakaian. Dia datang menghampiri.
"Eh, sisirin rambutku!"
Manja banget ... cuma nyisir rambut saja, harus aku yang melakukannya.
"Enggak mau?" tanyanya sinis.
"Mau." Kuambil sisir dari tangannya, menyisir rambut berwarna hitam pekat.
"Kita berangkat sekarang. Miau mana?" tanyanya setelah kuletakkan sisir di atas meja rias.
"Molor!" jawabku kesal. Selalu saja kucing yang ditanyakan. Aku kapan ditanyain? Kapan digandeng kalau jalan? Cuma ketika menemui keluarga besarnya saja dia romantis, setelahnya romantis sama si Miau.
Keluar kamar, Bi Sanah sudah berdiri di depan pintu kamar hotel. Wanita itu membungkukkan setengah badan saat aku dan Damian melintas di depannya. Bi Sanah berjalan di belakang kami.
Di dalam lift, memerhatikan Damian yang tengah menggendong Kucing. Bi Sanah ada di belakangku dan Damian.
"Dam?" panggilku.
"Hm?"
"Kenapa kamu gak nikahin si Miau aja sih? Dia kan betina, pasti punya rahim, pasti punya anak. Udah gitu, kamu juga sayang banget sama dia 'kan?" tanyaku asal. Melampiaskan rasa kesal. Damian terkekeh, mengelus lembut dan mencium kepala si Miau. Idih, menyebalkan.
"Kalau dia manusia, tanpa kamu suruh, udah aku nikahi. Kalau aku nikah sama Miau, enggak perlu aku bayar sepeserpun."
"Halah, kalau si Miau manusia, bisa jadi lebih matre daripada aku," tandasku setengah emosi. Damian terkekeh, tidak marah sedikit pun. Aneh emang sikap orang satu ini. Kadang yang aku anggap akan marah, dia terlihat santai. Menurutku santai, justru dia marah. Sulit diprediksi.
"Kamu cemburu sama Miau? Iya?"
"Yey ... ngaco. Mana mungkin aku cemburu sama si Miau. Enggak banget," timpalku bersidekap, membuang muka ke arah lain. Ingin rasanya aku buang jauh-jauh itu si Miau. Misalnya ada panti asuhan Kucing, sudah kutitipkan si Miau di sana tanpa sepengetahuan Damian.
"Kalau enggak cemburu, jangan marah-marah. Kamu harus mau menerima Miau apa adanya."
"Ogah," jawabku cepat. Bertepatan dengan itu, pintu lift terbuka. Aku dan bibi berjalan lebih dulu, meninggalkan Damian yang menggendong Kucing kesayangannya.
Setelah kami masuk ke dalam mobil semua, Damian mengemudikan kendaraan, meninggalkan halaman hotel.
Sepanjang jalan, tidak ada yang bersuara. Aku sendiri, malas bertanya atau malas memulai obrolan.
"Eh, nanti sampai rumah, mandiin si Miau. Dari kemaren dia belum mandi," celetuk Damian.
"Males," jawabku tanpa banyak berpikir.
"Kamu gak nurut apa kataku? Inget, aku ini suamimu."
"Cuma suami kontrak aja, bangga. Kalau dibayar tiga juta aku mau mandiin si Miau," kataku memamerkan senyuman manis.
"Mandiin si Miau bayar tiga juta? Kamu ... kamu bener-bener cewek matre."
"Harus. Cewek itu harus matre. Lagian cewek matre enggak aneh. Yang aneh itu cowok matre. Gimana mau gak? Kalau gak mau ya udah ... Suruh Bibi aja yang mandiin."
Lebih baik jual mahal. Jangan terlalu terkesan membutuhkan uang. Uang bagi Damian, bukan masalah besar.
"Maaf, Non Salsa. Bukan Bibi gak mau. Tapi ... kalau dimandiin sama Bibi, Non Miau suka berontak. Suka ngamuk, suka cakar muka Bibi."
Apa? Bi Sanah panggil Non Miau? Waduh, udah tiga bulan tinggal satu atap bersama Bibi, baru kali ini aku dengar Bi Sanah memanggil si Miau dengan sebutan 'Non Miau.
"Bi, sopan amat panggil si Miau? Bi, jangan panggil kucing itu Non Miau lagi, ya? Jijik dengernya," kataku sambil melihat Miau yang sudah tertidur di atas pangkuan bi Sanah. Tuh Kucing kerjaannya tidur, tidur, tidur, dan tidur. Nikmat sekali hidupnya.
"Eh, emang apa urusanmu? Si Miau kesayanganku. Wajar aja, kalau Bibi memanggilnya Non Miau. Salahnya apa?"
"Salahnya ... derajat bibi lebih mulia dari pada si Miau. Bibi manusia, si Miau binatang. Wah, otak kamu bener-bener harus diservis. Koslet tau gak?"
Lagi, Damian tidak marah. Dia diam, tidak menimpali ucapanku. Mungkin dalam hatinya, ia membenarkan ucapanku.
"Bi, mulai sekarang jangan panggil dia non Miau. Dia itu cuma kucing, panggil aja Miau."
Bibi tak menanggapi ucapanku. Dari spion aku lihat bibi menoleh pada Damian. Mungkin Bi Sanah takut kalau Damian marah.
"Dam, boleh kan, mulai sekarang Bi Sanah memanggil Miau tanpa ada kata Non?"
"Iya, boleh."
Senyumku mulai merekah. Damian akhirnya mau menuruti perintahku.
"Tuh, Bi ... kata Damian enggak usah panggil Non Miau, cukup Miau aja," tandasku sambil melirik Damian yang membuang muka keluar jendela.
"Iya, Non Salsa. Terima kasih."
"Sama-sama."
Sesaat tidak ada lagi yang bicara.
"Eh, jadi gimana? Kamu mau gak mandiin si Miau kalau udah sampe rumah?"
Ya ampun aku sampai lupa. Aku berdehem, mengubah posisi duduk, lebih tegak, dan pandangan lurus ke depan.
"Tergantung kamulah ... kalau kamu mau bayar tiga juta, aku dengan senang hati mandiin kucingmu. Kalau kamu gak mau bayar segitu, mandiin aja sendiri. Males ah, mandiin Kucing gratis." Aku pura-pura mencebik, menahan gelak tawa. Ingin tahu, apakah Damian mau mengabulkan permintaanku atau justru sebaliknya?
"Oke aku bayar tiga juta. Tapi, rambutnya Miau harus wangi. Kalau perlu di-creambath."
Aku langsung menoleh, memicingkan kedua mata, menghadap laki-laki yang duduk di balik kemudi.
"Damian, kalau kamu pengen si Miau rambutnya di-creambath, sekalian aja sih bawa ke salon. Cuma mandiin kucing harus di-creambath? Ribet amat."
"Eh, kalau gak di-creambath, nanti rambutnya rontok. Aku nyuruh kamu mandiin Miau gak gratis, bayar 3 juta. Masa bayar 3 juta cuma mandi biasa?"
Ya Allah perhitungan amat manusia satu ini?
"Oke, oke. Nanti si Miau aku creambath sekalian aku rebonding," kataku sambil membayangkan mandiin si Miau.
"Nah bagus itu, sekalian direbonding aja. Pokoknya aku mau, Miau bersih, wangi dan makin cantik."
Astaghfirullahalzhim ... suamiku ini jiwanya, apa jiwa manusia apa jiwa kucing jantan? Kok lebih perhatian sama kucing daripada sama aku, istri kontraknya?