Menjelang Subuh, kedua kakiku pegal dan perut terasa kram. Damian terlihat tidur nyenyak di atas pangkuan. Aku tak tega membangunkannya. Tetapi, kalau tidak bangun, perutku yang hamil anak Damian bagaimana? Perutku benar-benar sangat kram. Sakit.
"Dam, Damian, bangun dong. Perutku sakit ...." ucapku pelan.
Damian bergeming. Kedua matanya masih tertutup rapat.
"Damian, Dam ... bangun dong. Damian. Damian!"
Lelaki itu langsung terlonjak, duduk tegak. menoleh padaku.
"Kamu kenapa teriak-teriak?"
Ya Allah, kumat lagi ketusnya. Aku mengubah posisi, memegang perut agar tidak terlalu sakit.
"Perutmu sakit?" Damian mulai khawatir. Aku mendelik, mengnggukkan kepala.
"Sakit kenapa?"
Kedua mataku membeliak, lalu kupukul kepalanya cukup kuat.
"Dasar bodoh! Perutku sakit karena kamu. Apa kamu lupa, dari tengah malam sampe setengah lima Subuh, tidur di atas pangkuanku? Lupa? Hem, pantes ... udah tua."
Aku mencebik, mengingatkannya kalau dia tidur di atas pangkuanku berjam-jam.
Kedua kakiku masih sangat pegal. Terasa kaku. Belum lagi perut.
"Sorry. Tidur di atas pangkuanmu sangat nyaman. Sekarang kita ke dokter, periksa kandunganmu."
"Enggak mau. Aku mau istirahat dulu di sana."
Kalau ke dokter, paling ujung-ujungnya disuruh minum obat. Malas, minum obat terus.
Aku berusaha berdiri, tapi perut masih terasa sakit. Damian tanpa kuduga membopong tubuhku, merebahkan di atas pembaringan. Aku sangat tidak menyangka kalau dia mau membopong tubuh ini.
"Makasih," kataku pelan.
"Iya. Apa perlu aku usap-usap perutmu?" tanya lelaki yang bahu sebelah kirinya mengenakan perban. Aku menganggukkan kepala. Sebelah tangannya langsung mengusap perutku.
"Hm ... terima kasih, kamu udah mau bantuin ngobatin luka aku," kata Damian melihat sekilas luka yang berada di bahunya. Entah apa yang dilakukan oleh Damian semalam. Biasanya dia jarang terluka tetapi sekarang, bahunya tertembak.
"Iya sama-sama. Dam, apa aku boleh tau penyebab luka itu?" tanyaku hati-hati. Khawatir dia tersinggung atau marah.
Damian menghela napas panjang. Sebelah tangannya masih mengelus perutku yang sudah membaik.
"Tertembak," jawabnya singkat.
"Maksudku kenapa bisa tertembak? Emang kamu lagi ngapain?" Aku terus mendesak, penasaran. Damian menatapku lekat. Tatapan yang sulit kuartikan. Jujur, aku jadi salah tingkah.
"Kamu gak perlu alasannya. Yang penting bagiku, kamu dan calon bayi ini aman dan selamat. Tolong jaga dia."
Pandangan DAmian beralih pada perutku yang belum membuncit. Aku mengangukkan kepala, mengiyakan permintaan lelaki yang baru kukenal tiga bulan lalu.
Perkenalan yang tak terduga, perkenalan yang menghantarkan kami ke dalam sebuah pernikahan kontrak. Apa benar, nanti setelah anak ini lahir, Damian akan menceraikanku? Aku kok sekarang jadi merasa berat meninggalkan Damian?
"Iya, Dam. Insya Allah aku akan menjaganya. Aku mau tidur dulu," ujarku menghalau tangan Damian dari perut.
"Udah enggak kram lagi?" tanyanya sembari tetap mengelus perut ini.
"Enggak. Udah jauh lebih baik. Makasih."
"Iya. Kalau gitu, aku mau mandi dulu. Kamu tidurlah."
Menganggukkan kepala, menarik selimut.
Damian sudah masuk ke dalam toilet sambil membawa pakaian yang berlumuran darah. Sejujurnya aku masih penasaran penyebab Damian ditembak seperti itu? Baru kali ini, aku merasa takut kalau Damian meninggal dunia.
Menggelengkan kepala, menghalau pikiran buruk. Damian pasti baik-baik saja walaupun bergelut dalam dunia hitam pasti beresiko besar.
Kedua mataku mengerjap, saat sinar matahari menerobos di jendelan kamar Damian. Merentangkan kedua tangan, menggeliat dan menguap. Tubuhku pagi ini sudah lebih baik setelah istirahat sejenak. Kedua kaki pun sudah tidak pegal lagi. Mengitari sekeliling, tidak ada siapa-siapa? Kemana lagi bos mafia itu?
Aku menyibak selimut, menuruni ranjang dan berjalan ke toilet. Lebih baik aku mandi dulu. Setelahnya barulah kucari keberadaan Damian.
Hampir lima belas menit di dalam toilet membersihkan badan. Keluar toilet hanya mengenakan handuk sebatas pinggang. Aku cukup terkejut melihat Damian yang sudah berdiri di depan pintu toilet.
"Ngapain kamu berdiri di sini?" tanyaku ketus. Mendorong tubuhnya agar menghindar dari hadapanku. Tak kusangka, dirinya justru menarik pinggang. Mencium pundakku agak kasar.
"Dam, lepasin! Aku baru mandi, masa nanti mandi lagi?" Aku berusaha meronta agar terlepas dari rengkuhannya.
"Memangnya kenapa kalau mandi lagi?" Tatapan DAmian terlihat sendu. Sepertinya lelaki itu sudah mulai berhasrat lagi. Aku menghela napas berat. Saatnya melayani sang suami.
"Kalau mau main, mainnya pelan-pelan. Ingat, di dalam perutku ada baby," kataku memperingatkan. Damian tersenyum, mengangkat tubuhku dan kami melakukannya di pagi hari sebelum menyantap sarapan.
***
Benar-benar keterlaluan si Damian. Sudah diperingatkan pelan-pelan, masih saja bermain kasar. Enak, tapi agak ngeri. Aku takut kalau kandungan ini keguguran karena ulahnya.
"Aku tadi udah bilang, pelan-pelan. Kalau bayimu kenapa-napa gimana? Dasar gila."
Bukannya minta maaf, minimal berpikir, dia justru terkekeh, merangkul tubuhku agar lebih mendekat.
"Aku enggak bisa. Kamu terlalu candu. Boleh sekali lagi?"
"Kagak boleh! Aku enggak mau ambil resiko. Lepasin tanganmu, aku mau mandi. Lepasin enggak?" tanyaku melotot. Rangkulan Damian sangat erat membuatku kesulitan terlepas. Damian tidak bisa dikasih tahu dan keras kepala.
"Sekali lagi, oke?"
"Enggak. Damian, please ... perutku sakit."
Langsung dilepas pelukanku. Dia menatap lekat, memeriksa kandungan.
"Sekarang masih sakit?"
"Udah enggak. Kamu minggir, aku mau mandi dulu. Jangan minta nambah!" ancamku menunjuk wajahnya yang terihat tegang.
"Iya, enggak. Mau aku bopong ke toiletnya?"
Aku menggelengkan kepala. Turun dari ranjang, berjalan ke toilet.
***
Usai sarapan, Damian berniat mau pergi. Maunya aku, dia tidak perlu pergi lagi. Mengingat lukanya yang masih basah.
"Lukamu belum sembuh, jangan pergi dulu," kataku ketika mengantarnya ke depan rumah.
"Enggak apa-apa. Aku udah lebih baik. Oh ya, kalau perutmu sakit lagi, nanti ke rumah sakit saja. Minta diantar bibi dan mang Sukra. Aku kayaknya pulang malam."
Kedua pundakku menurun. Meski di hati belum ada cinta, tapi aku tidak bisa berpisah lama-lama dengannya. Aku takut terjadi hal buruk yang menimpanya lagi.
"Dam, tolong hindari keributan! Sekecil apapun, tolong dihindari!" pesanku pada lelaki yang rambutnya gondrong. Damian menghela napas panjang, lalu kembali menatapku cukup lekat.
"Aku gak bisa menghindari itu. Kamu tau sendiri, duniaku memang dunia kejahatan. Keributan sudah biasa terjadi. Pokoknya, kamu enggak usah khawatir. Aku pasti pulang dalam keadaan baik. Justru kamu yang mesti waspada dan hati-hati. Meski tinggal di rumah, kalau ada orang yang datang dan mencari keributan, pergi dari sini dan sembunyi. Jangan lupa, bawa handphone supaya kamu tetap bisa memberitahuku."
Aku menelan saliva mendengar perkataan Damian. Apa mungkin musuh-musuh Damian akan datang ke rumah ini?
"Iya. Tapi, aku harap, enggak ada yang datang ke sini mencari keributan. Jujur saja, aku takut."