"Kalau urusanku udah selesai, aku akan langsung pulang. Kunci aja semua pintu dan jendela."
Diingatkan seperti itu, aku semakin was-was. Tetapi, yang bisa kulakukan saat ini hanya mengangguk, mengiyakan perintah lelaki yang telah sah menjadi suamiku.
"Dam, rencananya hari ini aku mau ketemu sama bapak dan juragan. Aku mau bayar utang-utang bapak."
Dahi Damian mengkerut, terlihat tampak berpikir. Semoga saja Damian mengizinkan.
"Enggak bisa besok?"
"Enggak bisa. Hari ini tenggang waktunya. Aku ke sana sama Mang Sukra dan Bibi. Kalau udah bayar utang, aku gak akan lama-lama di sana, mau langsung pulang aja," kataku yakin. Sekarang aku sudah tidak betah tinggal di kampung. Hampir semua orang yang ada di kampung itu tidak menyukai keluargaku apalagi dengan tingkah polah bapak yang suka berjudi dan mabuk-mabukkan.
"Oke. Kalau urusanku beres lebih awal, nanti aku nyusul ke sana."
Aku menganggukkan kepala, meraih telapak tangan kanan Damian. Ia agak tersentak.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Cium tanganmu. Kamu kan suamiku, Dam. Emang gak boleh?"
"Oh itu ... boleh. Ya udah aku berangkat sekarang." Damian terlihat salah tingkah. Dia memang aneh kadang-kadang. Kadang terlihat cerdas, terlihat berwibawa, terlihat sangar dan terlihat bodoh.
Melambaikan tangan ketika kendaraan yang ditumpangi Damian sudah melaju meninggalkan halaman luas rumah kami.
Aku masuk ke dalam rumah kembali, menemui bibi Sanah.
"Bi?" Panggilanku membuat wanita yang usianya sekitar 50 tahunan itu menoleh. Membungukkan setengah badan.
"Iya, Non?"
"Antar saya pulang ke kampung dulu, ya? Sekalian aja Mang Sukra. Suruh dia yang nyupir."
"Sekarang, Non?"
"Iya. Bibi udah selesai masak belum?" tanyaku melongok ke arah meja makan.
"Sudah, Non. Non Salsa mau makan dulu?"
"Boleh deh soalnya kan mau perjalanan jauh. Nanti bayiku lapar lagi," jawabku terkekeh. Bi Sanah meletakkan piring di depanku. Menyendok nasi dan beberapa lauk pauk.
Aku akui, kehidupanku semenjak dinikahi Damian sangat berubah drastis. Di sini aku bisa makan enak dan mau makan kapan saja. Sedangkan dulu, susah sekali mencari makan. Jangankan bisa makan sehari sampai dua atau tiga kali, makan satu sekalipun rasanya sulit sekali.
Keputusanku menerima tawaran Damian mungkin yang terbaik. Pertemuan yang tak sengaja, membuat kami melakukan pernikahan. Damian dan kedua bodyguard-nya tiba-tiba di kampung. Siapa sangka, kedatangannya di kampungku justru mencari gadis yang masih perawan.
Setelah aku dan salah satu bodyguard-nya membiacarakan tujuan Damian serta imbalan yang akan didapat jika mau mengandung benihnya, aku langsung setuju. Tidak peduli pernikahanku nantinya akan bahagia atau tidak.
Pernikahanku dengan Damian dilaksanakan di kampung ini. Hanya dihadiri bapak, ketua RT, penghulu dan beberapa orang warga yang menyaksikan. Selebihnya tidak ada. Masyarakat lain justru memfitnahku karena pernikahan itu. Mereka berpikir kalau aku dihamili orang kota. Aku tidak peduli. Setelah dinikahi Damian, aku diajak ke kota. Dua hari tinggal bersamanya, Damian mengenalkanku dengan keluarga besar. Tentu saja mereka menentang. Aku dihina, dicaci maki bahkan aku diusir dari rumah bak istana itu. Namun, demi uang, aku tetap bertahan. Aku ingin melunasi utang bapak sebelum juragan mencelakainya. Di dunia ini, aku cuma bapak. Baik buruk sifatnya, dia adalah bapak kandungku.
Usai makan, aku, Bi Sanah dan Mang Sukra bergegas ke kampung. Jarak dari kota sampai ke sana memakan waktu tiga sampai empat jam. Itu juga kalau tidak terjebak macet.
"Bi, bisa tolong pijatin kakiku? Pegel banget," kataku pada wanita yang duduk di sebelah.
"Bisa, Non. Naikin kakinya ke sini," titah Bi Sanah sigap. Menuruti perintahnya, kunaikan kaki ke atas jok mobil. Bi Sanah pijatannya sangat enak. Tidak hanya itu, Bi Sanah juga pandai mengerok punggungku kalau masuk angin.
"Non, kalau lagi hamil jangan capek-capek. Jangan banyak pikiran. Harusnya Non juga jangan melakukan perjalanan jauh apalagi kondisi kehamilan Non Salsa masih sangat muda. Tetapi, Bibi doakan semoga selalu sehat dan selamat sampai melahirkan."
Aku tersenyum mendengar saran yang disampaikan Bi Sanah.
"Iya, Bi. Setelah ini aku enggak akan melakukan perjalanan jauh lagi."
Melihat Bi Sanah aku teringat sosok almarhum nenek. Sejak ibu pergi meninggalkan bapak, tak tahan dengan sikap bapak yang suka main judi dan mabuk-mabukan, aku dibesarkan dan dirawat oleh nenek. Namun, pada saat aku lulus SMA, nenek dan kakek telah tiada. Tinggallah aku dengan bapak. Setiap hari aku mencari uang supaya bisa makan. Kadanga mengajar anak-anak yang les di desa sebelah. Kadang kuli apa saja di pasar.
Memejamkan kedua mata, menghela napas berat. Sekarang Damian telah mengubah hidupku meski kehidupan rumah tangga hanya palsu, hanya terikat kontrak.
Setelah menempuh perjalanan tiga jam setengah, akhirnya kami sampai di rumah bapak. Rumah sederhana, jauh dari kata mewah. Beberapa pasang mata warga mengarah pada kendaraan yang aku tumpangi. Mereka mulai berdesas-desus, tapi aku tidak peduli.
"Assalamualaikum, Pak ... Bapak ...." ucapku ketika berdiri di depan pintu rumah bapak. Mengintip di kaca jendela, sepertinya kosong.
Mengitari sekeliling, tidak ada warga. Pada kemana mereka?
Aku kembali mengetuk pintu, memanggil nama bapak berulang kali tapi tetap saja tidak yang menjawab.
"Bi, Mang, kita langsung ke rumah juragan aja deh. Kayaknya bapak lagi enggak ada di rumah," kataku tegas.
"Baik, Non."
Akhirnya aku dan Mang Sukra masuk kembali ke dalam mobil. Kali ini menuju rumah Juragan. Juragan yang dulu memintaku menjadi istri keenamnya kalau ingin utang-utang bapak dilunasi. Tentu saja aku tidak mau. Tidak sudi menjadi istrinya. Jangankan menjadi istri keenam, menjadi istri pertama saja aku tidak sudi.
Kendaraan yang kami tumpangi menuju rumah juragan. Dari luar gerbang, terlihat banyak warga yang berdiri di halaman rumah juragan. Sepertinya lagi terjadi masalah. Mereka yang ada di sana menoleh, memerhatikan kami. Aku turun dari mobil, memastikan apa yang mereka lihat?
"Salsa, kamu udah pulang kampung lagi?" Pertanyaan salah satu warga tidak aku hiraukan. Aku terus berjalan cepat, ingin menemui juragan. Namun, langkahku terhenti melihat seorang pria yang terjatuh telungkup di atas tanah bersimbah darah.
"Bapak!" Aku berteriak histeris. Tubuh bapak sudah dipenuhi darah. Entah apa yang mereka lakukan sampai bapak tidak sadarkan diri.
"Pak, aku pulang. Bapak buka mata Bapak. Pak, bangun, Pak ...."
Hatiku sangat perih melihat kondisi bapak saat ini. Aku sangat yakin, juragan dan anak buahnya menganiaya bapak tanpa hati dan ampun.
"Hahahaah ... Salsa ... ternyata kamu datang juga. Bagaimana, Sayang? Apa kamu bawa uang untuk melunasi utang-utang bapakmu?"
Juragan b******k itu berdiri tak jauh dariku. Kedua tanganku mengepal, air mata tak dapat dicegah lagi.
"Kenapa Juragan melukai bapakku? Emangnya bapakku salah apa?'
Sebenarnya sangat muak melihat lelaki yang perutnya gendut itu. Kalau tidak ingat dosa, sudah kubunuh sejak dulu.
"Karena apa? Karena bapakmu enggak bisa bayar utang."
Suara Juragan terdengar sangat kencang di telinga.
"Aku udah bilang, tunggu aku pulang lagi pula jatuh tempo utangnya hari ini kan?"
Kuberanikan membalas tatapan Juragan dengan tajam. Lelaki gendut itu tertawa lepas.
"Betul, betul sekali. Tapi, dia gak mampu bayar, Sayang."
"Aku yang akan bayar! Mang Sukra, bawa koper itu ke sini!"
"Baik, Non."