Kalau tidak takut akan hukum dan dosa, sudah kubunuh juragan sombong itu.
Mang Sukra membawa koper berisi uang cash. Sebelum sampai di sini, kami sempat mampir di bank, mencairkan seratus dua puluh juta rupiah dari dua bank.
"Bi, tolong pegang kepala Bapakku," titahku pada bibi yang sedari tadi berjongkok tak jauh.
"Iya, Non."
Setelah bibi memangku kepala bapak, kuambil koper berisi uang itu dari tangan Mang Sukra. Menghampiri Mang Sukra, membuka koper lalu berserakan uang-uang itu.
"Ini! Aku lunasi semua utang-utang bapak serta bunga-bunganya." Melemparkan beberapa gepok uang ke tubuhnya. Juragan b******k itu tertawa lepas. Aku tak peduli, membalikkan badan dan menyuruh Mang Sukra mengangkat tubuh bapak ke dalam mobil. Aku ingin membawa bapak ke rumah sakit untuk mengobati luka-lukanya.
Di dalam mobil, memandangi wajah bapak. Wajah yang dulu selalu membelaku ketika ada teman-teman atau para warga yang merendahkan. Kebiasaan bapak berjudi dan mabuk-mabukkan tetapi pada anak, bapak begitu baik dan perhatian. Melakukan perbuatan itu pun dengan uangnya sendiri. Kadang berhutang. Bapak tidak pernah berani bermain judi atau membeli minuman dengan uang hasil jerih payahku.
"Non Salsa maaf." Mang Sukri membuyarkan lamunanku.
"I-iya, Mang?"
"Bukannya di sini kalau rumah sakit sangat jauh? Bagaimana kalau bapak Non kita bawa ke klinik aja?"
Aku baru sadar kalau sekarang lagi di kampung.
"Iya, Mang. Ke klinik aja."
Memandangi wajah bapak yang tak juga sadarkan diri. Kedua matanya terpejam.
"Pak, bangun, Pak ... buka mata Bapak."
B1ad4b sekali juragan itu. Aku tidak akan membiarkan bapak tinggal di kampung lagi. Bapak harus tinggal bersamaku dan Damian. Nanti aku akan bicara baik-baik padanya supaya mengizinkan bapak tinggal di kota bersama kami.
Sampai di klinik, dokter bernama Juanda langsung memberi perawatan. Luka-luka bapak sudah dibersihkan. Sekarang bapak sudah berada di ruang sempit klinik ini.
"Pak dokter, kenapa bapak belum juga sadarkan diri?" tanyaku cemas. Aku takut bapak mengalami luka di dalam tubuh.
"Sebentar lagi juga sadarkan diri. Mbak tunggu aja."
Aku duduk di kursi samping ranjang. Sedangkan bibi dan Mang Sukra menunggu di luar klinik. Aku menggenggam telapak tangan bapak, mencium takzim. Meski dulu bapak sosok lelaki yang tidak terlalu tanggung jawab, tetapi aku sangat sayang bapak. Dulu, sering sekali bapak bertengkar dengan warga hanya karena mereka merendahkanku atau bilang 'Percuma cerdas kalau miskin.' Kalimat itu masih saja teringang sampai sekarang. Mungkin sampai mati aku akan selalu mengingat.
Tangan bapak yang berada di dalam genggaman, perlahan bergerak. Kedua mataku membeliak, menegakkan tubuh. Menunggu bapak membuka kedua mata.
"Pak, Bapak, bangun, Pak?"
Perlahan tapi pasti kedua mata bapak terbuka. Ia menatapku cukup lama. Aku sengaja tersenyum, menyeka lelehan air mata yang tak dapat dicegah.
"Sal ... sa?"
Suara bapak masih terdengar terputus-putus. Aku menganggukkan kepala, menggenggam telapak tangannya erat.
"Iya, Pak? Ini Salsa. Bapak harus sembuh, ya? Nanti bapak ikut aku ke kota. Bapak gak boleh tinggal di kampung lagi, Pak ... enggak boleh ...." Tangisanku pecah, membayangkan penyiksaan yang dialami bapak. Memang salah bapak, memiliki utang sangat banyak.
Dulu, aku sempat bingung memikirkan cara membayar utang-utang bapak pada juragan. Sekarang aku bersyukur, Tuhan mempertemukanku dengan Damian walau awalnya menolak pernikahan kontrak, tapi karena utang bapak yang sangat besar, akhirnya aku setuju.
"Sal, b-ba-bapak gak bi-bisa ikut kamu, Nak ...."
Aku menggelengkan kepala berulang kali. Bapak selalu saja begitu. Menolak ikut denganku dan Damian.
"Enggak, Pak. Pokoknya Bapak harus ikut sama aku ke kota. Si juragan b******k itu gak boleh menyiksa bapak lagi."
Bapak terdiam, pandangannya menerawang. Bapak terlihat kebingungan.
"Pak, kalau bapak di sini, aku enggak bisa tenang. Bapak tau gak? Kalau sekarang aku sedang hamil. Semua utang Bapak dan bunga-bunganya udah aku bayar lunas, Pak. Bahkan aku lebihkan."
Sebisa mungkin, bapak harus ikut denganku tinggal di kota. Kalau di kampung, bapak akan diolok-olok warga. Kasihan bapak, dia hidup sebatang kara.
"Ka-kamu hamil, Nak?"
Aku menganggukkan kepala seraya tersenyum.
"Makanya sekarang Bapak harus ikut sama aku ke kota. Paling gak, kita tinggal bersama Damian sampai aku melahirkan. Bapak jangan takut, sekarang aku punya banyak uang. Di sana, nanti kita beli rumah baru, Pak," kataku berusaha keras membujuk bapak. Kalau bapak tinggal bersamaku, aku bisa memantau keadaan bapak. Aku akan membawa bapak ke tempat rehabilitasi atau ke psikolog supaya bapak tidak mabuk-mabukan lagi.
"Sal, ka-kamu juga udah bayarin utang-utang bapak?"
"Udah, Pak."
Sebulir air mata keluar dari sudut mata bapak. Baru kali ini melihat bapak mengeluarkan air mata. Sewaktu kakek dan nenek meninggal, bapak tidak menangis sama sekali. Tetapi, sekarang bapak justru menangis mendengar aku melunasi utang-utangnya.
"Salsa ... ba-bapak minta maaf, Nak ... gara-gara Bapak, ka-kamu jadi berurusan dengan juragan. Maafin Bapak ...."
Bapak menggenggam telapak tanganku erat. Aku tak bisa lagi menahan air mata. Kami menangis. Menangisi nasib yang selama ini kami jalani.
"Makanya, Pak. Ikut sama aku ke kota. Aku gak mau, disisa usia Bapak, mereka masih menghina keluarga kita. Aku juga ingin bapak enggak minum-minuman lagi dan berjudi, Pak. Taubat, Pak ... Taubat ...."
Tak pernah bosan aku mengingatkan bapak agar berusaha mengubah hidup menjadi lebih baik. Aku sangat tidak suka melihat bapak minum-minuman alkohol lagi.
"Ba-bapak takut bi-bikin kamu malu, Nak ...." Suara bapak masih terdengar bergetar. Menggelengkan kepala, menepis ucapan bapak.
"Enggak, Pak. Bapak enggak akan bikin aku malu. Sekarang Bapak istirahat dulu. Kalau keadaan Bapak sudah lebih baik, besok langsung kita ke kota."
Aku berdiri, tidak membiarkan bapak mengelak lagi. Pokoknya aku harus membawa bapak pergi dari kampung ini. Orang-orang kampung yang hanya bisa menyakiti orang miskin seperti kami.
Keluar ruangan, terlihat Bibi dan mang Sukra sedang berbincang di bangku panjang depan klinik. Aku menghampiri mereka.
"Bi? Mang?" sapaku. Mereka berdua menoleh. Berdiri, membungkukkan setengah badan.
"Iya, Non?"
"Bibi sama Mamang kalau mau pulang sekarang, pulang aja, ya? Nanti kalau kondisi bapak udah lebih baik, mang Sukra baru jemput saya di sini," kataku menyuruh mereka pulang lebih dulu. Bibi dan Mang Sukra saling pandang.
"Non, kami di sini saja. Enggak mungkin kalau Bibi dan Mamang ninggalin Non di sini sendirian."
Aku menghela napas berat. Menatap lekat wajah mereka berdua.
"Aku takut, Damian di sana lebih membutuhkan kalian. Kalau aku nyuruh dia yang ke sini, pasti gak akan mau."
Teringat dulu, waktu Damian pertama kali ke sini, menikah denganku. Aku minta tidur satu malam saja, dia tidak mau.
Tiba-tiba terdengar suara handphone-ku dari dalam tas yang dipegang Bibi. Wanita setengah baya itu menyodorkan tasku. Tanpa berpikir panjang, aku mengambil handphone, rupanya Damian yang telepon.
"Hallo?"
"Kamu udah nyampe?" tanya Damian langsung.
"Udah."
"Urusanmu udah beres?"
Aku bagai diintrogasi.
"Udah."
"Kalau gitu, sekarang pulang! Cepat!"
Kedua mataku membeliak.
"Damian tunggu! Teleponnya jangan ditutup. Aku mau cerita."
Terdengar suara helaan napas dari ujung telepon. Tanpa menunggu tanggapan dia, aku langsung bercerita tentang kondisi bapak serta meminta izin tinggal di sini untuk beberapa hari.
"Kalau begitu, aku juga akan menemani di sana. Tunggu aku!"