Apa aku tidak salah dengar? Tadi Damian bilang mau ke sini?
Sambungan telepon sudah terputus. Memang kebiasaan Damian, selalu mematikan sambungan telepon sepihak.
"Bi, Mang, jangan pulang dulu. Katanya Damian mau ke sini. Kita tunggu aja," kataku pada mang Sukra dan Bi Sanah.
"Baik, Non."
Aku kembali masuk ke dalam ruangan bapak. Di sana Bapak sedang istirahat, kedua matanya terpejam. Mungkin karena efek obat. Duduk di kursi samping ranjang, menatap wajah yang dipenuhi luka lebam. Juragan itu sangat kejam. Memberikan pinjaman tetapi bunganya sangat besar. Belum lagi, jika tidak dapat membayar, nyawa orang akan melayang. Beruntung kami datang tepat waktu. Tidak dapat dibayangkan jika datang terlambat. Mungkin bapak sudah mati. Warga juga tidak dapat menolong, mereka hanya bisa menonton, keterlaluan.
Satu jam kemudian, bapak terbangun. Menggeliat dan meringis kesakitan. Aku tersenyum melihat bapak yang keadaannya sudah jauh lebih baik.
"Pak, bagaimana keadaan Bapak?"
Bapak menoleh, tersenyum getir.
Ya Allah, sudah lama sekali baru melihat senyum bapak lagi. Dulu ketika aku lelah bekerja, bapak selalu tersenyum meski dalam keadaan mabuk. Bapak pemabuk, tetapi dia tidak pernah melukaiku.
"Sudah baikan. Kamu belum pulang ke kota, Sal? Nanti suamimu marah." Suara bapak terdengar lemah. terlihat cemas jika mengingat perilaku Damian. Mertua bapak itu sangat tidak sopan. Awal mula bertemu dengan bapak, Damian tidak mencium punggung tangan bapak. Beruntung, bapak tipikal orang yang tidak terlalu peduli. Bapak selalu berkata, yang penting aku bahagia padahal tujuanku menikah dengan Damian karena ingin melunasi semua utang bapak.
"Katanya dia mau ke sini, Pak. Udah, Bapak jangan banyak pikiran. Pak, gimana ceritanya si juragan b******k itu sampai memukuli Bapak?" Aku penasaran dengan kejadian yang menimpa bapak. Rasanya ingin sekali melaporkan perbuatan Juragan pada pihak kepolisian. Tetapi sayang, di sini ke kantor polisi cukup jauh. Belum tentu juga akan diusut kasusnya. Juragan Karman orang yang banyak uang dan terpandang di desa ini. Sulit bagi pihak penegak hukum menangkapnya. Dia banyak yang membela, para warga yang bodoh banyak yang membela. Menyebalkan. Sekarang aku tidak akan membiarkan bapak hidup di kampung ini. Akan aku bawa bersamaku. Jika nanti pernikahanku dengan Damian sudah habis kontrak, bapak akan tetap diajak kemanapun aku pergi.
"Suamimu mau ke sini? Mau ngapain, Nak?"
"Enggak tau. Pak, jawab dengan jujur. Kenapa Bapak bisa ditangkap juragan itu?" Bapak tampaknya merahasiakan sesuatu. Lelaki tua yang sudah beruban itu menghela napas berat. Pandangannya menerawang.
"Jatuh tempo utang Bapak dipercepat. katanya takut Bapak gak bisa bayar. Mereka mau membunuh Bapak. Nanti beberapa organ tubuh Bapak yang masih bagus, mau dijual di Bos Chang We."
Kedua mataku membeliak terkejut, mendengar cerita yang disampaikan Bapak. Jadi, sekarang Juragan Norman bukan cuma jadi rentenir, tapi jadi penjual organ manusia? Astaghfirullah, biadab sekali.
"Ya Allah, Pak ... kenapa semua warga diam saja? Apa karena juragan orang kaya? Makanya kalian diam saja?" Aku benar-benar baru tahu kalau juragan Norman melakukan bisnis terkutuk itu.
"Enggak tau, Nak. Apa kamu udah melunasi utang Bapak?"
"Alhamdulillah udah, Pak. Sekarang Bapak bebas. Makanya aku pengen Bapak ikut ke kota. Tinggal bersamaku," kataku antusias. Namun, raut wajah bapak tampak murung.
"Bapak di sini aja, Sal. Bapak gak mau ikut sama kamu. Nanti malah merepotkan kalian."
Aku menghela napas berat. Memegang lengan bapak yang terdapat selang infus. Bapak meski tukang main judi dan suka mabuk-mabukkan tetapi ia termasuk orang yang tahu diri. Sekalipun tidak pernah meminta uang padaku. Memang bapak juga jarang sekali memberi uang tetapi kalau meminta, tidak pernah.
"Bapak pengen di sini, supaya masih bisa mabuk-mabukkan lagi? Supaya masih bisa main judi lagi?" Pertanyaanku tidak langsung dijawab. Bapak melengoskan wajah ke arah lain. Sudah dapat kutebak, alasan bapak tidak ingin ikut denganku bukan karena takut merepotkan tapi takut tidak bisa melakukan kebiasaannya itu.
"Taubat, Pak! Bapak udah tua. Mau sampai kapan kayak gitu? Mau mati ketika mabuk? Mau mati di atas meja judi?"
"Enggak mau, Salsa. Kamu kalau ngomong sembarangan."
"Makanya Bapak sekarang harus berusaha melupakan kebiasaan buruk itu. Bapak harus membersihkan diri dari judi dan minum-minuman. Lihat badan Bapak, sangat kurus. Pak, sebentar lagi Bapak akan menjadi kakek, Bapak akan punya cucu. Bapak mau, kelakuan Bapak diketahui cucu? Enggak 'kan?"
Bapak menggelengkan kepala. Aku harus bisa membuat bapak meninggalkan kebiasaan buruknya. Aku ingin di masa tua bapak bisa hidup tenang, bisa hidup sehat dan bisa hidup bahagia.
"Tapi, itu gak gampang, Salsa."
"Bapak pasti bisa," kataku optimis. Bapak harus bisa meninggalkan itu semua. Salah satunya harus menjauhkan bapak dari lingkungan yang membuatnya melakukan kembali kebiasaan buruk.
"Aku mohon, Pak. Nanti ikut sama aku, ya?"
Akhirnya bapak menganggukkan kepala. Aku tersenyum bahagia, memeluk tubuh bapak penuh kasih sayang. Di dunia ini, hanya bapak yang aku miliki.
Malam hari, Damian sudah datang. Lelaki itu tampak kelelahan. Melihat luka yang ada di bahu Damian, masih belum membaik.
"Dam, lukamu masih belum membaik. Diobati di klinik ini, ya?" bujukku saat kami duduk di kursi tunggu. Damian melirik lukanya, lalu pandangannya beralih padaku.
"Kamu jangan sok tau."
Sialan. Bukannya terima kasih diperhatikan, malah berkata tak enak didengar.
"Aku bukan sok tau. Lihat aja ini, masih basah. Belum kering, Dam. Eh, aku gak mau ya, nanti pas anak ini lahir, bapaknya mati."
Sontak, Damian menoleh padaku. Kedua matanya membeliak, terkejut. Aku memasang wajah yang meyakinkan.
"Kamu jangan ngomong sembarangan!"
"Aku gak ngomong sembarangan. Emangnya kamu pikir, kalau luka yang udah infeksi enggak menyebabkan kematian? Bakal mati, Dam. Aku serius."
Luka Damian harus diobati secara medis. Tidak bisa hanya diobati dengan obat luka ringan. Damian tampak berpikir, aku harus bisa membuat lelaki keras kepala itu memeriksakan lukanya di klinik ini.
"Kalau dokternya nanya-nanya penyebab luka ini apa, kamu mau jawab apa?"
"Ketusuk paku. Udah deh, belum tentu juga dokternya nanyain penyebab lukanya. Yuk, mau ya? Maulah ... dari pada pas anakku lahir, enggak ada bapaknya."
Tanpa kuduga, Damian membekap mulutku.
"Sekali lagi kamu ngomong kayak gitu, mulutmu aku bekap," kata Damian menurunkan bekapan tangannya di mulutku.
"Kalau dibekap sama bibirmu sih enggak masalah," ucapku menggoda. Damian melirik, menggelengkan kepala.
"Ayok, mau gak?" tanyaku memegang lengan Damian.
"Iya, iya. Bawel!"
Aku tersenyum bahagia, pada akhirnya Damian mau menuruti saranku.
Hampir setengah jam, luka Damian dibersihkan dan diobati.
"Ya Allah, Pak. Untung saja lukanya mau diobati. Kalau cuma diobati dengan obat luka biasa, nanti bisa kena infeksi."
Aku berdiri di samping Damian yang tidak terlihat kesakitan sedikitpun saat lukanya dibersihkan dan diobati. Aku sendiri ngeri melihatnya.
"Emangnya kenapa kalau luka udah infeksi, dok?"
Dokter klinik mendongak, menatap lekat Damian. "Bapak akan mati."