Aku menahan tawa mendengar jawaban dokter. Wajah Damien berubah pucat pasi.
"Ka-kalau gitu, bersihin yang bener! Saya gak mau mati. Istri saya lagi hamil. Sa-saya pengen hidup lebih lama dan ... dan pengen lihat anak saya dewasa." Suara Damian terdengar gugup. Dokter tampak tenang membersihkan dan mengobati luka bekas tembakan di bahu Damian. Aku sendiri merasa puas mendengar jawaban dokter. Bukan apa-apa, lelaki model Damian sangat sulit dikasih tahu. Maunya bagaimana pemikiran dia.
"Makanya, Mas. Kalau bagian tubuh kita terluka, harus cepat-cepat diobati. Dulu tuh ya, di desa ini ada salah satu warga yang digigit Ular di sawah. Dia gak mau berobat cuma ditetesi perasan daun apa gitu. Baru dua hari, di dalam luka bekas gigitan ular itu, muncul belatung-belatung yang menjijikan." Kedua mata dokter Eli membulat membuat Damian semakin takut.
"Eh, kamu! Sini!" Pandangan Damian mengarah padaku.
"Kenapa?"
"Kenapa kamu jauh-jauh dariku. Mana tanganmu?"
Dih, mau ngapain Damian. Aku menyodorkan kedua tangan di depannya. Tanpa kusangka, ternyata Damian mengenggam sebelah tanganku, memejamkan kedua mata, dan mulutnya meringis kesakitan. Hem, Bos Mafia kok ada modelan kayak dia?
"Gak usah takut, Mas. Udah selesai dibersihin dan diobatinya," kata dokter Eli yang berasa dari Bandung.
Damian membuka mata, menoleh pada luka yang ada di bahunya.
"Ada belatungnya gak, dok?" tanya Damian. Lagi, aku menahan tawa. Damian benar-benar seperti anak kecil. Mudah sekali ditakut-takuti. Aku jadi penasaran bagaimana ceritanya dia jadi bos mafia?
"Baru telurnya. Belum menetas."
"Hah? Serius, dok? Terus sekarang, udah dibuang belum telurnya?" Damian panik lagi. Genggaman tangannya juga semakin erat.
"Dam, tanganku jangan dipegang kuat begini. Sakit tau!" kataku berusaha melepaskan darinya.
"Eh, aku takut. Takut nanti telur belatung itu pecah, jadi belatung. Kamu mau, punya suami di tubuhnya ada belatung? Mau?"
Sorot mata Damian sangat tajam. Tapi aku tidak takut justru jadi geli sendiri melihatnya. Aku menoleh pada dokter Eli yang melipat bibir menahan tawa.
"Ya gak maulah. Mending aku nikah lagi."
Pletak!
Astaghfirullah, dia pukul kepalaku.
"Kamu tuh ya, jadi cewek selain matre, enggak setia. Awas aja, kalau aku sakit parah kamu nikah lagi. Aku bunuh sekalian."
"Eh, Mas. Gak boleh bersikap abusive. Saya bisa lho jadi saksi atas sikap Mas barusan pada istrinya."
Dokter Eli memperingatkan Damian serius. Sebelah tanganku yang tidak digenggam Damian mengusap kepala.
"Ya ... ya jangan, dok. Maaf. Saya cuma kesel aja sama dia. Masa suami sakit mau nikah lagi?"
"Ya sudah, silakan sekarang Mas keluar ruangan. Saya mau siapin obatnya. Mbak Salsa, ikut ke ruangan saya, ya?"
"Iya, dok."
Dokter Eli meninggalkanku dan Damian. Lelaki itu berdiri, tangannya masih menggenggam telapak tanganku.
"Dam, lepasin tanganku. Diobatinnya kan udah. Aku mau ke ruangan dokternya," kataku melirik tangan Damian yang menggenggam erat.
"Iya. Cepetan! Jangan lama-lama ngobrolnya!"
"Iya."
Damian keluar klinik, aku berjalan ke ruangan dokter Eli. Dokter yang sedari dulu sudah mengabdi di desa kami.
"Gimana, dok?"
"Salsa, sebenarnya suami kamu kerja apa?" Pertanyaan dokter Eli menyentakku. Aku menelan saliva, bingung menjawab. Tidak mungkin kalau aku bilang Damian seorang bos mafia.
"Memangnya kenapa, dok?"
Dokter Eli menarik napas panjang, menyodorkan beberapa obat di hadapanku.
"Saya tau, luka di bahu suami kamu bukan karena tusukan pisau tapi karena tertembak peluru. Siapa yang mengeluarkan pelurunya, Salsa?"
Astaghfirullah, bagaimana ini? Aku semakin bingung menjawab. Di kampung tidak ada yang tahu kalau Damian adalah bos mafia. Bukan tidak percaya pada dokter Eli, tapi aku ....
"Ya udah kalau kamu gak mau jawab. Lain kali kalau suamimu kena luka akibat tertembak lagi, lakukan seperti tadi saya lakukan. Saya tau, dari tadi kamu memerhatikan cara saya mengobatinya."
Aku mengangukkan kepala. Bernapas lega karena dokter Eli tidak memaksaku mengatakan yang sejujurnya.
"Terima kasih ya, dok. Hm, dok, kalau bapak saya boleh dibawa pulang kapan?" Aku harus memastikan kapan diperbolehkan pulang. Misalnya boleh pulang besok, aku mau mengambil pakaiannya di rumah.
"Mungkin 2 harian lagi di sini Tapi, kalau kondisi bapakmu besok sudah membaik, besok sore udah boleh pulang."
"Iya, dok. Terima kasih banyak."
"Iya, sama-sama."
Aku keluar ruangan dokter Eli sambil memerhatikan beberapa jenis obat. Di bangku tunggu, ada beberapa warga yang berasal dari kampungku. Tatapan kedua mata mereka masih menunjukkan tidak suka. Aku tak peduli, melewati tiga orang itu tanpa sedikitpun ingin bertanya. Memilih berjalan ke ruangan bapak.
Bibirku menyunggingkan senyum melihat Damian dan bapak sedang berbincang. Bapak yang bercerita, entah apa yang diceritakannya.
"Salsa?" Panggilan bapak membuat Damian menoleh ke arahku. Aku berjalan lambat menghampiri mereka.
"Gimana keadaan Bapak? Udah enakan belum?" tanyaku mengulas senyum. Damian berdiri, mempersilakanku duduk di kursi yang sebelumnya dia tempati.
"Alhamdulillah, bapak udah lebih baik. Salsa, tadi Damian mengajak bapak ikut bersamamu."
Kedua mataku membeliak, terkejut karena tak menyangka Damian mau mengajak bapak langsung ke kota.
"Serius, Dam? Kamu mau ngajak bapak ke rumahmu?" Aku masih tak percaya, memastikan pada Damian kalau bapak benar-benar diajak ke kota bersama kami.
"Serius. Kasihan bapakmu kalau di sini sendirian."
Aku tak bisa menahan diri. Langsung kupeluk tubuh Damian seraya mengucapkan terima kasih berulang kali.
"Iya sama-sama," katanya melepaskan pelukan dariku. Aku tersenyum bahagia karena Damian sudah mulai perhatian pada bapak. Sewaktu awal bertemu, Damian tampak tidak peduli. Tetapi sekarang? Alhamdulillah ya Allah ....
"Pak, dokter juga tadi bilang, kalau sekarang kondisi Bapak udah baik, besok sore udah boleh pulang. Kita langsung ke kota aja ya, Pak? Enggak usah pulang ke rumah," kataku kembali duduk di kursi samping ranjang pasien.
"Pakaian ganti Bapak gimana, Sal? Bapak juga ... pengen bawa foto ibumu."
Ya Allah ... ternyata bapak masih menyimpan foto ibu? Padahal ibu sudah meninggalkan bapak bersama pria lain. Memang tidak bisa sepenuhnya disalahkan Ibu. Ibu seperti itu karena tidak tahan dengan kebiasaan bapak yang suka minum-minuman dan bermain judi.
"Bapak mau mengambilnya dulu, Nak," sambung bapak. Tanpa kusadari, air mata menetes. Mengingat kembali kepergian ibu yang tanpa pesan. Aku yang ketika itu masih kelas 5 SD, menangis histeris mencari keberadaan Ibu. Hatiku saat itu sangat bersedih dan sakit hati ketika warga kampung mengatakan kalau ibu pergi bersama lelaki kaya raya, yang mau menjadikannya istri kedua. Hingga saat ini, aku tidak pernah mendengar kabar ibu dan tidak pernah satu kalipun ibu kembali ke kampung.
"Begini aja, Pak. Biar aku dan Damian yang mengambil pakaian ganti Bapak dan foto ibu. Bapak simpan di mana fotonya?" Lebih baik aku dan Damian saja yang kembali ke rumah. Kalau bapak yang kembali ke rumah, takutnya berubah pikiran. Tidak mau diajak ke kota.
"Pakaian bapak ada di lemari kamarmu, Nak. Sedangkan foto ibumu, ada di laci lemari itu."