"Ya udah, Pak. Aku mau ambil pakaian Bapak dulu," kataku hendak pergi.
"Jangan lupa foto Ibumu, Salsa."
Aku menoleh sekilas, tersenyum, dan menganggukkan kepala. "Iya, Pak. Pasti aku bawa."
Keluar ruangan, Damian ternyata ikut juga.
"Kamu tunggu di sini. Aku ke rumah diantara Mang Sukra aja," ucapku pada lelaki yang berdiri tegap di sebelah.
"Memangnya enggak boleh kalau aku yang mengantarmu?" Suara Damian terdengar dingin. Bisanya salah paham terus.
"Bukan gak boleh. Kamu kan baru datang dari kota, lukamu juga baru diobatin. Emang gak capek?" jelasku agar dia tidak salah paham. Manusia di muka bumi ini memang sering salah mengartikan perhatian atau kebaikan seseorang.
"Enggak," sahutnya singkat, padat dan jelas. Damian berjalan lebih dulu ke mobil, aku mengikuti dari belakang.
Sempat terkejut melihat Damian membukakan pintu mobil untukku. Seketika senyum merekah tanpa bisa dicegah. Tidak biasanya dia romantis begini?
"Terima kasih," ucapku duduk dengan nyaman. Namun, baru beberapa menit berada di dalam mobil, terdengar suara kucing. Langsung menoleh ke belakang, ternyata ada Miau. Astaghfirullah dari kota ke kampung, Damian bawa Kucing?
"Dam, Kucingmu kenapa dibawa ke sini?" tanyaku heran, menatap lekat lelaki yang baru saja duduk di kursi bagian kemudi.
"Memangnya kenapa? Masalah?"
"Iyalah. Ya Allah, Dam ... kalau dia kenapa-napa kamu kunciin di dalam mobil gimana?"
"Eh, eh ... kamu jangan gendong Miau. Ingat, kamu lagi hamil?" Gerakanku yang ingin mengambil Miau dari jok belakang terhenti.
"Emang kenapa?"
"Nanti dia ketularan hamil lagi kayak kamu. Si Miau udah sering hamil, aku pusing kalau dia punya anak lagi. Biarin aja dia di belakang."
Idih, random banget nih manusia. Apa hubungannya aku gendong si Miau dengan kehamilanku?
Biarin sajalah, ikuti apapun perintah dan larangan dari suami.
Sampai di depan pagar rumah bapak, Damian mematikan mesin mobil. Aku lekas turun, berjalan lebih dulu darinya. Membuka pintu rumah, seketika kenanganku bersama nenek dan kakek melintas. Mereka berdua yang berusaha keras agar aku tetap sekolah meskipun keterbatasan ekonomi. Berjalan pelan memasuki rumah yang sangat sederhana. Sekarang rumah ini sudah tidak terlalu terawat. Bekas botol minuman berserakan, puntung rokok ada di mana-mana. Aku mengambil sapu, membersihkan. Botol-botol bekas minuman alkohol dibawa ke belakang rumah. Kuletakkan di sana.
"Kamu jangan terlalu kecapekan. Sini, biar aku yang nyapu." Tiba-tiba Damian sudah berdiri di belakangku. Aku terkejut, membalikkan badan. Melihat tangan Damian yang mencekal batang sapu.
"Enggak usah, Dam. Nyapu enggak bakalan bikin aku capek. Sorry ya, rumahnya kecil dan kotor."
Sebenarnya aku tidak enak melihat kondisi rumah seperti ini. Kehidupan Damian sudah terbiasa dengan kemewahan dan kemegahan. Mungkin dia risih berada di rumah bapak.
"Enggak apa-apa. Lebih baik kamu kemasi pakaian bapakmu. Aku enggak mau lama-lama di sini."
Tuh kan, apa kataku. Damian pasti tidak nyaman tinggal di rumah ini. Jangankan Damian, aku juga tidak betah. Ruah yang kecil, kotor dan pengap.
"Oke deh kalau itu maumu. Nih, sapunya! Yang bersih nyapunya."
Damian tak menanggapi, aku langsung ke kamar bapak.
Mengambil tas ransel, lalu memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas tersebut tak lupa membuka laci lemari, mengambil selembar foto seorang wanita yang wajahnya agak mirip denganku. Kenangan bersama mama melintas. Namun, segera kutepis. Kalau memang mamah sayang padaku, harusnya dia kembali. Paling tidak mengajakku pergi dari sini, ikut dengannya. Tetapi, kenyataannnya, hinggga kini mama tidak pernah kembali dan mencariku.
Keluar kamar, Damian masih saja menyapu. Aku tersenyum simpul melihat gerakan Damian saat menyapu.
"Dam, kalau nyapu bukan begini. Harusnya seperti ini," kataku menunjukkan gerakan menyapu yang baik dan benar. Bukannya diperhatikan gerakanku menyapu, Damian justru melengos pergi keluar rumah.
Astaghfirullah, diajarin nyapu yang baik dan benar, malah pergi keluar. Dasar suami aku.
Kami segera masuk ke dalam mobil. Damian tampaknya benar-benar tidak ingin lama di rumah bapak. Setelah aku masuk ke dalam mobil, Damian menyalakan mesin, melaju menuju ke klinik tempat bapak menerima perawatan dan pengobatan.
Sampai di klinik, kedua mataku memicing. Sepertinya aku tidak asing dengan mobi itu.
Ya Allah, bukankah itu mobil juragan Norman? Mau ngapain dia di klinik ini?
"Dam, di dalam klinik ada juragan Norman. Orang yang meminjamkan uang ke bapak dan orang yang memukul bapak sampai babak belur," ucapku setengah berbisik. Damian menoleh, kedua matanya membeliak.
"Dia ada di dalam?"
"Kayaknya iya. Itu mobilnya kayak mobil dia. Duh, Dam ... jangan-jangan dia mau pukul bapak lagi."
Aku bergegas turun dari mobil. Begitu pula Damian. Kami berjalan cepat, masuk ke dalam klinik, mencari keberadan bapak. Ternyata benar, juragan Norman ada di ruangan bapak. Mereka tengah berbincang.
"Eh, Sayang Salsa ... akhirnya kamu datang juga. Juragan ke sini mau lihat bapakmu, Salsa. Apakah dia sudah sehat atau sudah mati?"
Kedua tanganku mengepal kuat mendengar ejekan juragan Norman. Rasanya ingin sekali kubalas perlakuan dia pada bapak. Melihat ke arah bapak, lelaki yang kusayangi itu merunduk. Seperti ketakutan.
"Aku dan bapak enggak butuh dia lihat Juragan. Bapakku udah sehat. Sekarang lebih baik Juragan keluar dari ruangan ini." Aku muak melihat lelaki yang sombong, sok berkuasa dan banyak istri itu.
"Hahahaah ... sekarang sombong sekali kau, Salsa Sayang."
"Jaga mulut Anda, tua bangka!" Aku menoleh cepat mendengar Damian angkat bicara. Lelaki yang sudah berstatus menjadi suamiku menghampiri Juragan Norma. Sorot matanya sangat tajam. Dia berdiri di depan lelaki yang sering melakukan kejahatan itu.
"Hahahaah ... memangnya kamu siapa anak muda?"
"Aku suami sah dia. Dan kamu ...." Damian mengangkat kerah baju yang dikenakan juragan Norman.
"Lepasin! Turunkan saya! Lepasin!"
Aku tersenyum bahagia melihat juragan Norman tubuh gempalnya diangkat Damian.
Dengan kasar, Damian menghempaskan tubuh Juragan Norman hingga terbentur kursi. Raut wajah Juragan Norman berubah geram. Ia mendekati Damian, sorot matanya nyalang.
"Kamu dengar baik-baik anak muda. Suatu saat, Salsa akan menjadi istriku. Salsa harus menjadi istriku."
Bugh!
Damian langsung memukul perut juragan Norman hingga lelaki tua bangka itu meringis kesakitan. Aku tersenyum puas melihat tindakan Damian. Sekarang aku mulai yakin kalau Damian lelaki atau suami yang menjaga kehormatan istrinya.
"Jaga mulutmu, gendut! Aku bisa saja membunuhmu sekarang juga. Sekarang pergi! Pergi!" Damian terlihat sekali amarahnya. Aku bernapas lega. Meskipun Damian hanya suami kontrak, tetapi ia tidak suka kalau ada lelaki lain yang mengharapkan cinta istrinya.
Juragan Norman keluar klinik dengan geram. Aku sangat yakin, jika bukan di klinik, mungkin juragan Norman sudah babak belur dihajar suamiku.
"Damian, terima kasih, ya? Kamu ... kamu udah belain aku," kataku tersipu malu. Damian menganggukkan kepala. "Iya. Kalau suatu saat dia ngomong kayak tadi lagi, aku pastikan dia hanya tinggal nama."