Aku sangat bahagia mendengar kalimat pembelaan yang disampaikan Damian. Merasa sangat dilindungnya. Andai saja dari dulu Damian seperti ini, mungkin hari-hariku tinggal bersamanya tidaklah membosankan. Apakah perubahan sikap Damian karena aku sedang hamil? Semoga saja sampai aku melahirkan, sikap Damian masih seperti ini.
"Dam, makasih, ya? Kamu ... kamu udah belain aku. Aku senang banget tau!" kataku seraya mengulas senyum semanis-manisnya.
"Iya."
Seketika senyumku sirna melihat tanggapan Damian yang berubah dingin, tanpa ekspresi.
Sepertinya benar, kebaikan dan sikap Damian yang membelaku hanya karena di dalam rahim ini ada benihnya.
Menghiraukan pikiran buruk, menghampiri Damian yang duduk di kursi depan klinik. Di atas pangkuannya ad Miau yang sedang dielus-elus tubuhnya. Aku berdehem, mencoba mengajak Damian bicara dari hati ke hati.
"Dam?" panggilku memiringkan tubuh lebih menghadapnya.
"Hm?" sahut Damian, tapi pandangannya tetap saja pada kucing kesayangan.
"Kamu ... kamu udah makan belum?" tanyaku hati-hati. Aku harap Damian mengerti maksud pertanyaanku. Jujur saja, perutku sangat lapar.
Damian menoleh, membalas tatapanku.
"Kamu udah makan belum?"
"Belum." Akhirnya ditanyakan. Bagiku pertanyaan itu seperti perhatian yang dilakukan Damian.
"Kenapa belum makan? Apa kamu gak mikirin baby-mu? Kalau calon anakku kelaparan bagaimana? Kita cari makan sekarang!"
Baru saja tadi aku memujinya, sekarang galaknya sudah kumat lagi.
"Eh, cepetan!"
"Iya, iya. Aku mau bilang bapak dulu."
Kalau Damian mulai marah-marah sangat menyebalkan. Aku kembali masuk ke ruangan, menemui bapak.
"Pak, aku mau keluar dulu ya? Nanti Bapak ditemenin bibi sama mang Sukra," kataku pada lelaki yang tengah berbaring di atas ranjang pasein sambil memandang selembar foto Ibu. Cinta bapak sangat luar biasa walaupun disakiti ibu tapi masih saja mencintainya.
"Iya, Nak. Kamu hati-hati."
"Bapak mau nitip apa? Aku sama Damian mau cari makan."
Bapak menggelengkan kepala tanpa menatapku. Pandangannya benar-benar tertuju pada selembar foto wanita yang tengah duduk di atas bale.
"Ya udah, aku berangkat sekarang."
Mengambil tas, bergegas keluar ruangan bapak. Di depan klinik, mencari keberadaan Damian.
"Non, Mas Damian udah di mobil," ucap Bi Sanah. Aku menghela napas, menggelengkan kepala.
"Ya udah, aku mau berangkat dulu. Bibi sama mang Sukra tolong temenin bapakku dulu ya?"
"Iya, Non."
"Makasih, Bi."
"Sama-sama, Non."
Aku berjalan cepat ke mobil. Ternyata benar, Damian sudah duduk di balik kemudi. Wajahnya sangat masam. Sebenarnya Damian tidak terlalu jelek, dia cukup tampan hanya saja raut wajahnya sangat jutek. Sangar.
"Kita berangkat sekarang," kataku setelah duduk di kursi jok samping kemudi.
Kendaraan yang kami tumpangi keluar pekarangan sempit klinik desa.
"Restoran yang dekat sini di mana?"
Hah? Dia bilang restoran? Mana ada restoran di kampung?
"Di kampung enggak ada restoran, Dam. Adanya warteg, tukang nasi padang, warung sunda. Enggak ada restoran. Tuh, di situ aja kita makannya!" Jari telunjukku mengarah pada warung masakan nasi padang.
"Mana restorannya?" Damian bodoh sekali. Dibilang tidak ada restoran masih bilang restoran. Apa warung nasi padang itu aku sebut restoran saja?
"Itu restorannya. Tuh, yang ada rumah gadang. Ituh!" Damian memarkirkan mobilnya. Mematikan mesin, lalu keluar lebih dulu dari aku. Rupanya Damian membukakan pintu mobil buatku. Kalau begini, rasanya hatiku melayang-layang, bagai putri Raja.
"Restorannya kecil amat?" gumam Damian melihat sekitar.
"Bukan kecil tapi estetik."
"Estetik? Boleh juga."
Kan apa kataku? Damian itu unik. Kadang terlihat pintar dan berwibawa, kadang terlihat bodoh dan menyebalkan. Suka penasaran, mamanya dulu ngidam apa waktu mengandung Damian? Punya anak unik begini.
"Salsa, kemana aja kamu? Udah lama gak kelihatan?"
Udah Faisal langsung bertanya. Aku tersenyum meringis.
"Sibuk, Da. Aku kan sekarang udah punya suami," kataku seraya menggamit lengan Damian.
Pandangan Uda Faisal mengarah pada Damian. Kedua matanya menatap DAmian adari ujung rambut hingga ujung kepala.
"Kayaknya suami kau orang tajir, Sal. Siapa namanya?" Aku semakin bangga pada Damian. Tidak perlu kukatakan Damian orang yang kaya raya, cukup dilihat dari penampilannya saja, orang-orang sudah dapat menerka. Siapa sosok Damian?
"Namanya Damian. Dam, kenalan dong. Itu Uda Faisal, pemilik restoran ini," kataku tersenyum merekah. Uda Faisal tergelak tertawa lepas seraya mengulurkan sebelah tangan, Damian menyambutnya.
"Dam, kamu duduk di sana dulu gih! Aku mau pesen menu makanannya. Oke?"
Damian tidak berkata, ia hanya mengangukkan kepala. Uda Faisal sudah bersiap mengangkat piring.
"Da, aku pengen lauk itu, itu, itu, itu, sama yang itu ...." ucapku menunjukkan beberapa menu lauk pauk.
"Sal, kamu gak salah pilih lauk pauk? banyak sekali?"
"Eh, gak muat di piringnya ya, Da?"
Uda Faisal orang yang baik. Dulu aku pernah kerja di tempat ini tetapi karena istrinya selalu saja cemburu padaku, akhirnya Uda Faisal menyuruh aku berhenti kerja. Katanya dia tidak mau dicurigai terus-menerus oleh istrinya.
"Iyalah, Salsa ... enggak bakal muat. Uda pisahin di piring lain saja, ya?"
"Oh gini aja, Da. Nasinya sama lauk-pauk dipisah."
"Nah iya, begitu saja."
"Oke. Aku tunggu di sana ya, Da?"
"Siap."
Aku menghampiri Damian yang masih saja pandangannya mengitari sekeliling. Sesekali ia menghela napas berat.
"Aku baru masuk restoran seperti ini," gumam Damian.
"Nah sekarang kamu mulai bersyukur kan, punya istri macam aku? Gara-gara kamu nikah sama aku, kamu jadi bisa masuk ke restoran estetik kota Padang." Aku pura-pura sumringah dan membanggakan diri. Raut wajah Damian masih saja datar. Tidak menunjukan rasa bahagia atau menyenangkan. Masih muram dan sangar
"Makanannya datang ...." ujar Uda Faisal, membawakan dua piring nasi dan bermacam-macam lauk pauk. Kulihat Damian mengerutkan kening. Tampak ragu menyendoknya.
"Kamu kenapa bengong begitu, Dam? Ayok makan! katanya lapar." Damian mendongak, menatapku dengan tatapan datar.
"Yang bilang lapar bukan aku tapi kamu," tandasnya menyendok ayam bakar, sambel dan perkedel kentang. Kubiarkan Damian menyendok sambel lumayan banyak. Biarkan saja, kalau kepedesan paling minum.
Uda Faisal datang kembali membawa dua gelas teh hangat manis. Damian menghentikkan gerakannya. Ia urung menyuapi nasi yang dicampur sambal ke dalam mulut. Damian sekarang menelisik minuman teh yang ada di hadapan kami.
"Kamu pesen teh hangat manis?" tanya Damian menatapku intens.
"Iya. Emang kenapa?"
"Ck, aku gak suka teh manis. Aku mau jus Alpukat mix madu. Kamu pesenin sekarang!"
Kedua pundakku melorot mendengar perintah Damian. Mana ada minuman kayak gitu di sini? Ada-ada saja makhluk satu ini.
"Tunggu sebentar. Mau aku tanyain dulu, ada gak jus Alpukat mix madu."
Damian hanya menganggukkan kepala. Aku beranjak, meninggalkan Damian. Meski aku tahu, di warung nasi padang ini tidak ada jus Alpukat yang dimix madu, tapi aku harus berpura-pura pesan.
Baru saja menghampir Uda Faisal, Damian berteriak. "Salsa ... ini apaan? Kenapa pedas sekali?"
Kedua mataku membeliak mendengar teriakan DAmian yang menyebut namaku. Keajaiban apalagi ini? Tidak biasanya Damian menyebut namaku.
"Suamimu kenapa, Sal?"
"Enggak tau, Da."
Aku dan Ud Faisal menghampiri Damian yang tampaknya sedang kepedesan. Sebelah tangan Damian mengipas-ipas di depan mulutnya. Segelas air teh hangat manis sudah habis. Diminum Damian.
"Dam, kamu kepedesan?" Kulihat sambal di piring sisa setengah. Setengahnya ada di piring Damian. Pantas saja dia kepedesan.
Damian mengangukkan kepala, mengambil segelas air teh milikku lalu meneguknya hingga habis.
"Tolong ambilin air minum yang kayak gini lagi. Cepetan! Uh, uh, uh ...." titah Damian mengibaskan tangan di depan mulutnya.
"Siap, Mas." Uda Faisal berjingkat pergi. Aku menyilangkan kedua tangan di depan d**a sambil menatapnya.
"Katanya gak suka teh hangat manis, kok itu habis dua gelas? Malah pengen nambah."