Kekalahan

1213 Words
"Aku ingin mendengarnya sekali lagi, Sayang. Sepertinya pendengaranku sedikit memburuk akhir-akhir ini!" John tersenyum penuh kemenangan. Dia sudah menebak pasti mudah baginya untuk mengendalikan Celline. Wanita itu hanya terlalu keras kepala saja. Suruh siapa Celline menolak keinginan John? Dengan penolakan Celline itu, hanya akan menbuat John bertindak lebih kejam lagi. John sekarang berdiri di depan bangunan asrama Lily, menatap gadis yang berdiri tak jauh darinya dengan penuh rasa puas. Lily adalah tiketnya dalam mengendalikan Celline. Lily adalah kunci emas baginya saat ini. Dan Lily sudah berada dalam genggamannya. "Apa semuanya baik-baik saja? Kakakkku sepertinya terdengar cukup histeris mengetahui aku akan pulang." Lily berjalan mendekat ke arah John, merasa khawatir dengan kondisi Celline. Rambut Lily yang berwarna madu seperti kakaknya, terlihat indah diterpa cahaya lampu. "Aku perlu berbicara dengan kakakmu untuk membuatnya tenang. Tunggulah di sini sebentar!" John mengangguk kecil, berjalan beberapa langkah menjauh dari Celline. Dia perlu menjamin percakapannya tak didengar oleh Lily. "Celline. Bagaimana keputusanmu?" tanya John terkekeh kecil seperti seorang psikopat yang menang lotere. "Biarkan Lily tetap di asramanya. Biarkan dia menjalani sekolah dengan normal. Jangan ganggu dia, John! Demi Tuhan. Kau tak berhak merusak hidupnya. Dia masih remaja. Jalan hudupnya masih panjang!" Suara Celline bercampur dengan tangis. Celline berlutut dengan putus asa. Ia terisak mengenaskan. Suaranya sudah mirip seperti hewan yang tak berdaya. Menunggu eksekusi berat yang sebentar lagi ia terima. Tangan lemahnya menopang tubuh Celline di lantai yang dingin. Buku jari-jarinya memutih seperti kapas. Bibir Celline bergetar hebat. Air mata sudah tak lagi terhitung berapa banyaknya yang jatuh. Celline lelah. Lagi-lagi ia kalah. John terlalu licik. Dia b******n sejati yang dibiarkan tetap berkeliaran. Suatu hari nanti, jika ada karma yang sebenarnya, Celline ingin ia melihat kehancuran yang John alami. Jika di masa depan John bisa berada di titik terendah hidupnya, tak berdaya dan tertekan, Celline ingin ia bisa melihatnya. "Kau harus melakukan apa yang kumau. Itulah harganya, Sayang Tidak ada yang gratis di dunia ini. Katakanlah, kau perlu membayar kebaikan hatiku, bukan?" John mendesak Celline. "Apa pun itu, John. Apa pun!" "Besok malam, kau harus pergi kepada lelaki itu lagi. Akan ada sopir yang menjemputmu. Ingat, Celline! Aku tak ingin kau melakukan hal-hal yang tak seharusnya. Aku tak akan pulang hingga besok malam. Aku perlu mengawasi adikmu di sini secara langsung. Jika kau melakukan hal-hal bodoh, seperti melaporkanku ke polisi atau semacamnya, percayalah! Aku bisa mengambil adikmu dan menghancurkannya dengan cepat saat itu juga. Ingat! Aku juga memiliki koneksi di kepolisian. Jadi aku tahu kau mulai melakukan laporan tentang diriku, adikmu dalam bahaya. Kau dengar itu, Sayangku? Kau paham itu?!" John mengancam. Meskipun kehidupan John sangatlah bobrok dengan banyak riwayat hutang di sana-sini, meskipun lelaki itu cukup kacau dalam mengendalikan uang dan usaha, tetapi apa yang ia sampaikan kepada Celline mengandung kebenaran. John memiliki koneksi dalam lingkungan polisi dan penjahat. Kebiasaannya yang buruk telah berhasil menjadikan dirinya mengenal orang-orang serupa juga. Itulah kenapa ia bisa menastikan Celline tak bisa bergerak sama sekali dengan ancamannya. Suruh siapa wanita itu terlalu bodoh untuk tidak mendengar semua perintahnya? Andai Celline cukup cerdas dan langsung mematuhi kemauan John, ia tak perlu pergi malam-malam ke Belingham dan secara langsung mengunjungi Lily untuk menunjukkan ancamannya yang serius. "Aku akan melakukannya!" Celline menjawab dengan lirih, menyerupai bisikan. Dia menggenggam ponsel di tanggnya dengan lebih erat. Hari-harinya terasa semakin tak terarah saja. Hal buruk demi hal buruk terus saja terjadi dalam hidupnya. Seolah-olah mereka memang sengaja mengolok-olok Celline secara langsung. "Bagus. Itulah yang aku ingin dengar dari dirimu, Sayang. Bukankah dengan begitu semuanya bisa lebih baik?" John merasa senang. Bayangan uang menari-nari di matanya, membuat ia seperti merasakan aroma narkotika paling mahal dan istimewa. Uang adalah candunya. Uang adalah keinginannya. Demi hal itu, apa pun akan John lakukan. Tidak peduli dengan mengorbankan prinsip dan moralnya. "Kau menang kali ini, John. Kau tahu aku tak bisa melawanmu lagi kali ini!" Celline mendesah dalam. "Satu lagi, Celline! Akan ada orang yang mengirimmu pakaian. Kau hanya harus memakainya dan pulas dirimu sebaik mungkin. Dia akan memberikanmu uang untuk merawat diri." … Hampa. Itulah apa yang Celline rasakan saat ini. Sebuah long dress berwarna tosca ia kenakan dengan belahan d**a yang cukup rendah. Mata emas Celline seperti padam dan tak memberikan nuansa cahaya sama sekali. Redup. Sinarnya hilang. Hanya kepasrahan total yang ia rasakan saat ini. Kali ini Celline memakai anting panjang berwarna emas. Ada seorang lelaki tua yang memberikan Celline satu paket lengkap gaun malam berikut aksesori yang kini ia kenakan. Selain gaun dan anting, orang itu juga menyerahkan hiasan rambut berwarna perak dengan beberapa batuan aneka warna. Sangat cocok dengan rambut Celline yang saat ini disanggul tinggi, menampakkan lehernya yang jenjang dan mulus. Sebuah pewarna bibir orange ia pulas dengan hati-hati. Membuat penampilan Celline lebih lembut dari pada tampilannya beberapa malam yang lalu ketika Celline datang dalam kesepakatan pertamanya dengan Kendall. Mengingat tentang Kendall, suasana hati Celline jadi semakin kacau. Dia mengambil heels hitam setinggi sepuluh centi dan mengenakannya di kaki dengan gerakan serampangan. Kendall. Lelaki itu sukses membuat hidup Celline akhir-akhir ini semakin kacau. Jika John adalah pemicu dari kekacauan, maka Kendall adalah wujud dari kekacauan itu sendiri. Kedua lelaki itu sama-sama memberi efek yang kurang baik dalam kehidupan Celline. John adalah hal buruk yang terjadi dalam hidupnya. Sementara Kendall, lelaki itu seperti hal yang paling dihindari, tetapi justru memberikan guncangan yang sangat kuat. Membuat Celline kehilangan akal sehat dan kewarasannya. Sebuah cermin berukuran tiga puluh kali empat puluh menampilkan sosok Celline yang sempurna. Di usianya yang masih menginjak awal dua puluh, dia telah menunjukkan kecantikan murni dan semakin tampak menonjol dengan sedikit saja sentuhan make up. Wajah Celline berbentuk oval dengan tulang pipi tinggi, seperti kaum bangsawan jaman dahulu. Kedua bulu matanya sangat lentik, membuat netra emasnya terlihat semakin menonjol. Hidungnya kecil dan mancung, disempurnakan dengan bibir sensual yang meskipun tidak terlalu penuh tapi mampu memberikan efek menggoda dan mengundang. Kulitnya seputih s**u dengan kelembutan sepertu sutra. Jari-jemari tangannya lentik. Ukuran tubuhnya juga proporsional dengan tinggi hampir seratus tujuh puluh centi meter. Dia memiliki lekuk-lekuk di bagian tubuh yang pas. Meskipun saat ini tubuh Celline tak terlalu berisi karena stress yang ia alami dalam rumah tangganya dengan John, setidaknya Celline masih memuliki penampilam istimewanya. Dia tak kehilangan kecantikannya. Hanya ada satu cacat yang dimiliki Celline. Bagian perut dan punggung belakang. Di bagian itu, ada banyak bilur-bilur bekas kekerasan yang dilakukan John. Entah suaminya cerdas atau licik, John selalu menjadikan perut dan punggung Celline sebagai sasaran amarahnya. Bagian yang cukup tertutup dan tidak mudah tampak oleh orang lain. Selama ini Celline diam karena ia masih cukup sabar memberikan toleransi kepada John. Kekerasan apa pun itu, selama Celline masih cukup bisa mengatasinya, ia tak akan mencoba mengeluh. Hanya saja, semakin ke sini John semakin tak terkendali. Dia bahkan rela menjual istrinya sendiri demi uang. Ini mulai gila. Sangat gila. Entah monster apa yang selama ini telah bersarang lama di balik sosok John yang tadinya terkesan ramah. Ketika keadaan sudah mulai berada di tingkat yang tak lagi bisa ditoleransi, ketika Celline berniat mulai keluar dan menggebrak situasi, ia kembali diseret mundur dan dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit. Dia terlanjur terpenjara dengan John dan semua rencana liciknya. Hingga jalan keluar seperti hal yang sangat sulit untuk ia raih. Ia kalah dan jadi pecundang. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD