Celline terdiam lama. Menatap banyak benda pecah belah di dapur yang berserakan tak karuan di lantai. Menjadi kepingan-kepingan kecil tak berguna lagi.
John baru saja marah. Dia meluapkan emosinya dengan menbanting barang-barang yang ada di dapur. Kini dia pergi entah ke mana. Celline sudah tak lagi peduli.
Lelaki itu tiba-tiba pulang larut malam dengan keinginan baru. Dia ingin agar Celline melayani Kendall lagi besok malam. Lelaki itu mulai bersikap gila dengan menjualnya kembali. Celline lelah. Dia menolak mati-matian dan tidak mau menuruti apa yang dikatakan suaminya. Semakin lama, Celline semakin berpikir untuk mencari bantuan hukum agar ia bisa terlepas dari belenggu John. Pernikahan ini tidak sehat. Pernikahan ini rusak. Sebagai wanita yang cukup realistis, Celline harus mencari jalan keluar sesegera mungkin. Sebelum akhirnya dia terjebak dalam keadaan yang lebih buruk lagi.
Masalah Lily, Celline harus segera mencari solusi. John selalu menggunakan Lily sebagai ancaman. Gadis remaja yang tak memiliki kesalahan itu terpaksa harus menjadi objek yang dipertaruhkan. Terkadang, John memang bisa
sangat kejam. Jika Celline tak mau, Celline yakin John benar-benar akan melakukan banyak hal kepada Lily. Ya Tuhan. Lily. Dia masih enam belas tahun. Tidak semestinya gadis itu ikut terseret. Harus ada cara yang bisa Celline lakukan. Demi menyelamatkan hidupnya. Demi menyelamatkan hidup Lily yang masih suci.
Dengan lemah, Celline mulai menaikkan kemeja panjang yang ia pakai setinggi siku. Ia mengambil alat pembersih dan mengumpulkan serpihan-serpihan perabotan yang tersebar di sana-sini. Beberapa kali Celline berjengit ketika tak sengaja bersentuhan dengan ujung pecahan benda yang tajam. Jari-jemarinya mengeluarkan darah di beberapa titik. Dengan sabar, Celline mengoles luka kecil itu dengan obat cair dan membiarkannya mengering begitu saja.
Dua tahun terakhir semenjak ia hidup dengan John, Celine sudah terbiasa dengan kekerasan. Dia menjadi korban dari setiap temperamen John yang tak menentu. Terkadang John bisa tiba-tiba kasar kepadanya, tiba-tiba bisa marah-marah tak jelas dan melampiaskannya pada perabotan di rumah. Celline benat-benar sudah lelah menghadapinya. Andai ia bisa dan memiliki kemampuan, ia pasti sudah memilih bercerai dari John lama sebelumnya.
Setelah keadaan dapur lebih baik, Cellime kembali ke kamar dan mengunci pintu. Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Aktifitas di lingkungan ini mulai berkurang. Celline merasa lebih aman berada di kamar seorang diri. Dia akhir-akhir ini melindungi dirinya sendiri dari sentuhan John. Lelaki itu hanya membuatnya jijik saja. Dia tak lagi tertarik untuk melakukan kewajibannya sebagai istri terhadap John. Salah satu alasannya, karena John pun juga tidak cukup jantan untuk mengayominya. Jangankan mengayomi. Yang ada selama ini hanya menyudutkan hidup Celline dalam keterpurukan saja.
Baru saja Celline hampir terlelap, dia mendapat panggilan dari ponselnya yang ia letakkan di meja nakas. Dahi Celline mengernyit, mengira-ngira orang yang menghubunginya. Selama Celline hidup di kawasan ini, kehidupan sosialnya mulai dibatasi. Orang-orang yang ia kenal dan bisa membentuk komunikasi dengannya hanya segelintir saja. Itu pun Celline jarang berkomunikasi dengan mereka.
Saat Celline menatap layar utama, terdapat nama John terpampang jelas. Celline semakin mengernyit tak senang. Dia enggan berurusan lagi dengan John. Bahkan, mulai besok Celline berencana akan meminta bantuan hukum untuk bisa melepaskan diri dari ikatan John. Semakin cepat ia bertindak, semakin baik. Meskipun saat ini Celline tak memilili uang, Celline yakin jika ia cukup keras dalam berusaha mencari jalan keluar, dia pasti akan menemukannya. Mstahil jika negara tak memfasilitasi orang-orang seperti dirinya.
Seharusnya, Celline lebih berani dan mengambil keputusan lebih awal. Selama ini dia selalu terkendala uang. Dia tak terlalu yakin untuk mencoba keluar dari ikatan perkawinan tanpa modal sama sekali. Tetapi, sekarang tekad Celline semakin kuat. Apa pun akan ia hadapi demi untuk bisa keluar dari penjara yang John ciptakan. Tak peduli ratusan prosedur hukum yang harus ia lalui nantinya. John harus tahu jika istrinya tak lagi bisa diperlakukan selayaknya boneka begitu saja.
"Halo? Ada apa lagi, John? Kau menghubungiku sepagi ini?" tanya Celline tak suka. Lelaki itu baru saja menghancurkan dapur mereka, pergi tanpa pamit lebih dari dua jam lalu dan sekarang mengubungi dirinya.
"Aku hanya ingin mengatakan padamu aku sedang di Annapolis, Maryland, untuk mengunjungi Lily." Suara John penuh kemenangan.
Lily adalah siswa senior high school di salah satu sekolah asrama yang berada di Annapolis. Mendengar John mengunjungi Lily dini hari seperti ini, membuat Celline dipenuhi perasaan was-was. Apalagi yang akan dilakukan lelaki itu? Rencana gila apa yang telah lelaki itu miliki saat ini?
"Apa maksudmu, John?" tanya Celline tak mengerti. Sekolah asrama Lily meskipun tidak termasuk golongan elite, tetapi mereka menerapkan sistem yang cukup ketat tentang kunjungan anggota keluarga. Biasanya jika bukan karena hal-hal penting, pasti tak mudah untuk mengunjunginya di waktu-waktu yang tidak ditentukan. Seperti saat ini, misalnya.
Satu-satunya tebakan yang bisa Celline tangkap adalah John telah mengunjungi Lily dengan alasan yang dibuat-buat sehingga pihak sekolah mengijinkannya. Entah alasan apa yang diumbar lelaki itu.
"Kau mungkin akan berbicara dengan adikmu, Sayang. Dia sekarang berada di sisiku." John berkata serius, menekankan maksud buruknya yang terpendam.
Lily bersama dengan John? Adiknya bersama lelaki b******k itu? Ya Tuhan. Celline mulai merasa tak tenang. Apa rencana John yang mulai ia lakukan pada adiknya? Kebobrokan apa yang lelaki itu coba realisasikan saat ini?
Celline mulai memucat. Dia memegangi kepalanya yang mulai berdenyut menyakitkan. Baru saja Celline berniat untuk mencari jalan keluar dari pernikahan ini, sekarang John telah melakukan aksi baru dengan mengambil Lily dari sekolah asrama.
"Celline. Aku sedang berada di depan sekolah asrama. John baru saja mengabariku jika kau sedang sakit parah. Aku benar-benat tak tahu kondisimu. Kau sakit apa?" tanya Lily khawatir. Gadis remaja itu sungguh tak tahu jika ia sedang dibohongi oleh John. Di mata Lily, John masih lelaki baik yang bertanggung jawab. Celline tak pernah membiarkan adiknya mengetahui kebobrokan rumah tangga mereka.
"Celline, aku baik-baik saja! Dengar, kau tetap di asrama, oke? Jangan keluar ke mana-mana. Kau tak perlu pergi dengan John! Kau dengar kata-kataku? Kau harus tetap di—"
"Sayang, adikmu terlalu khawatir dengan kondisimu saat ini. Biarkan dia menjengukmu. Aku akan meminta ijin kepada kepala asrama agar Lily diijinkan keluar untuk satu dua hari ke depan. Dia perlu melihatmu dan sedikit bersenang-senang dengan dunia luar. Bagaimana?" Suara John yang menjijikkan menggantikan Lily dengan segera. Rupanya lelaki itu tak ingin Celline memberikan peringatan pada adiknya terlalu jelas.
Jelas John mengancam Celline dengan kondisi ini. Jika sampai Lily dibiarkan keluar dari asrama di bawah kendali John, entah nasib apa yang akan dialami oleh adiknya. John bisa cukup gila, dia bisa saja menghancurkan Liliy hanya dalam waktu satu malam. Remaja itu masih suci. Remaja itu masih lugu. Celline tak ingin John merusak adik satu-satunya yang ia sayang.
Dengan pikiran kacau, Celline berdiri dan berjalan mengitari kamar tak tentu arah. Dia menarik-narik rambutnya sendiri dengan putus asa. John bergerak lebih cepat. Jika Celline meminta bantuan hukum pun, dia bisa saja terlambat dalam menolong adikya.
"Jangan bawa ia keluar, John. Biarkan ia tetap di asrama. Biarkan ia melanjutkan pendidikannya. Kau tak bisa merusaknya. Demi Tuhan, dia masih kecil. Jangan lakukan apa pun padanya saat ini!" pinta Celline setengah berteriak. Dia memukul dinding kamar dengan putus asa. John benar-benar b******k. Dia lelaki paling bobrok sedunia. Celline menyesal menikahinya. Celline menyesal mengikuti kata-kata ayahnya yang egois.
"Aku hanya mengajak Lily untuk menjengukmu sebentar, Sayang. Karena sepertinya kondisimu kurang baik. Nanti, jika ada waktu luang, mungkin aku bisa mengajaknya bersenang-senang. Aku bisa membawa Lily ke mana pun aku mau saat ini!" Suara John menajam, memberikan petunjuk ia tak suka dibantah. Setiap kata-katanya mengandung ancaman. Celline merinding mendengarnya.
"Biarkan Lily tetap di situ! Jangan lakukan apa pun padanya! Jangan bawa ia keluar. Kau menang kali ini, John. Kau menang. Aku akan melakukan apa pun untukmu selama Lily tidak kau bawa ke mana pun. Biarkan adikku tetap aman di asrama!" Suara Celline pecah dalam tangis histeris. Dia tak tahu apakah Lily kut mendengar tangisnya atau tidak. Yang jelas, saat ini yang terpenting adalah tidak membiarkan Lily dibawa keluar dari asrama oleh John.
..