John dan Kendall

1152 Words
Dua hari kemudian, John kembali pulang larut malam dalam keadaan mabuk sangat parah. Dia telah sukses menghabiskan seluruh uang yang ia terima dari Kendall untuk hal-hal tak berguna dan menutup sebagian hutangnya. Salah satunya adalah menyewa perempuan malam. Perempuan yang ia bawa ke motel-motel murah untuk melakukan aktifitas bobrok. Perempuan-perempuan yang baginya lebih menggairahkan dari pada istrinya sendiri. Tak ada yang lebih membuat John merasa puas selain menghambur-hamburkan uang yang ia miliki. Kehidupannya telah sangat berubah. Uang dan kemewahan menjadi hal yang yang sudah lama ia rindukan. Dia terkadang lupa bagaimana rasanya menggenggam uang dan menggunakannya tanpa pusing berpikir bagaimana kehidupannya besok. Semua aset yang ia miliki telah habis menutupi semua gaya hidupnya yang menggila. Bahkan, aset-aset milik istrinya juga sudah ia gunakan. Tak ada lagi yang tersisa. Hidupnya sudah seperti pecundang. Mengemis ke rekan-rekannya seperti gembel. Terkadang, John terpaksa pulang tanpa uang sama sekali. Terpaksa kembali ke flat bobrok yang di dalamnya ada Celline. Celline cantik. Celline anggun. Celline cerdas. Celline lembut. Celline luar biasa. Singkat kata, memiliki istri seperti Celline terkadang membuat harga dirinya agak tergores. Wanita sesempurna itu sangat sulit untuk ditaklukkan secara penuh. Sebagai efeknya, alih-alih memperlakukan Celline dengan baik, John sering kali menyiksa wanita itu. Hanya sekadar untuk menunjukkan d******i dan kekuatannya sebagai seorang laki-laki. John menggerutu tak jelas di bawah bangunan yang menjadi tempat flatnya berada. Matanya sudah memerah, hidungnya mengeluarkan cairan menjijilkan, dan langkahnya sedikit sempoyongan. Dia tadi terpaksa berjalan beberapa blok ke sini. Uangnya sudah menipis untuk digunakan memakai sub way. "John!" Suara seorang lelaki ia kenal memanggil John dengan nada berat. Dengan lemah, John menatap sesosok lelaki bersetelan armi yang berdiri beberapa meter darinya. Lelaki dengan wajah tampan, berdiri menjulang dengan kedua tangan disilangkan di depan d**a. Cara berdiri lelaki itu menunjukkan ia memiliki kekuasaan dan kemampuan istimewa. Seolah-olah, entah bagaimana kehendaknya bisa dilakukan oleh orang-orang di dekatnya. "Kau?" John memegangi kepalanya, mencari ingatan yang ia miliki di sudut-sudut memorinya. Alkohol yang ia konsumsi membuat otak John menumpul setiap saat. Ingatan dan kecerdasanya seperti berkurang perlahan-lahan. Mungkin, John sudah seharusnya mengurangi cairan itu. Bagaimana pun, kesehatannya sudah mulai memburuk dengan cepat. "Aku Kendall Shancez. Lelaki yang menyewa istrimu tiga malam yang lalu." Kendall menatap John yang seperti gembel di pinggir jalan. "Kendall Shancez? Oh iya iya. Kendal Shancezz! Aku ingat itu. Aku ingat! Kendall Shancez. Kau orang yang memberiku uang banyak. Bagaimana kabarmu, heh?" tanya John dengan racauannya. Dia menatap setelan klimis yang lelaki itu kenakan dengan menahan sepenuh hati tangannya agar tak menyentuh kain mahal itu. Terkadang, John merasa iri melihat lelaki-lelaki lain yang lebih sukses darinya. Jiwa persaingannya sebagai lelaki merasa terganggu. "Aku ingin mengajakmu melakukan kesepakatan lagi!" Kendall menatap John tak suka. Lingkungan yang ia datangi kali ini cukup berada di pinggiran dan masuk kategori kawasan bobrok. Andai Kendall tak memiliki maksud terselubung, dia tak akan pernah mau datang ke lokasi seperti ini. Di kawasan ini, bukan hanya bangunannya yang parah dan keadaan lingkungannya yang buruk, tetapi tingkat kriminalitasnya juga tinggi. "Kesepakatan?" John mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mengulangi apa yang ia dengar. Kendall mengangguk membenarkan. Dia berdiri di depan bangunan lawas yang sangat tak terurus. Lantai di sini sudah retak-retak di banyak sisi. Langit-langitnya kotor dengan banyak noda. Sisi-sisi temboknya penuh coretan grafity dan kata-kata kotor. Bagaimana bisa John membawa istrinya sendiri hidup di lingkungan seperti ini? Sebuah keajaiban John dan Celline bisa bertahan hingga detik ini. "Aku akan menawarkannya sekali saja padamu. Aku tidak akan mengulangi apa yang kutawarkan ini. Jadi, dengarkan aku baik-baik! Aku menginginkan kesepakatan beberapa malam lagi bersama istrimu. Aku akan membayarmu dengan nominal yang sangat besar. Kau hanya perlu melepaskan Celline untuk beberapa hari ke depan. Bagaimana?" Kendall menatap John yang seperti orang linglung. Berbicara dengan John dalam keadaan mabuk sepertinya bukan cara yang bagus. Dalam keadaan sadar saja lelaki itu memiliki konsentrasi yang kurang. Apalagi saat ini ketika kondisi kesadaran John cukup dipertanyakan. "Uang?" John memegangi kepalanya, mencoba merangkai seluruh informasi yang ia dengar dari Kendall. Saat ini yang bisa ia tangkap adalah Kendall akan memberinya uang. Uang dengan nominal yang sangat besar tentunya. Lelaki itu juga menyebut-nyebut tentang Celline. Celline dan uang. Uang dan Celline. Celline dan uang. Uang yang sangat besar. Oh. John mulai mengambil kesimpulan. Kendall pasti berniat akan memakai Celline lagi. Melakukan seperti yang lelaki itu lakukan beberapa malam yang lalu. John tersenyum kecil, merasa puas. Inilah yang ia tunggu-tunggu. Uang dengan jumlah yang sangat besar. Uang yang didapat dengan cara yang amat mudah. Siapa juga yang cukup bodoh untuk menolak tawaran ini? "Baiklah. Selama aku dibayar cukup, aku akan memberikan apa yang kau mau. Aku akan mrmbuat Celline datang kepadamu. Uh." John memegangi perutnya, merasa ingin muntah. Alkohol yang ia konsumsi malam ini sepertinya cukup banyak. Membuat John merasa terganggu dengan efeknya. "Kau bisa menjamin itu?" tanya Kendall memastikan. Memaksa Celline untuk melalui malam lagi bersama Kendall pasti tak mudah. Wanita itu pasti tidak akan menyerah begitu saja dengan kemauan John. Harga diri wanita itu masih cukup tinggi. Kendall tak yakin John bisa memaksa Celline. "Menjamin? Tentu bisa! Kapan kau menginginkannya?" tanya John terdengar seperti orang b******k sepenuhnya. John masih bisa memaksa Celline selama ada Lily. Adik Celline bisa menjadi kartu as dan kunci dari semua tindakannya. Jika John memberikan ancaman sedikit saja pada Lily, Celline pasti bersedia melakukan apa yang ia mau. Masih mudah bagi John untuk mengendalikan Celline. "Besok." Kendall menyipit penuh pengamatan, menilai John dengan seksama. "Baiklah, Kendall. Besok! Besok uangnya?" "Ya. Uangnya juga besok!" Kendall menatap jijik lelaki di depannya. Tak ada moral sedikit saja yang tersisa dari John. Sebagai lelaki, John sudah kehilangan nilainya sendiri. Kendall tak terlalu menyukai orang-orang yang seperti ini. "Baiklah! Aku akan mengirim sopirku besok!" "Oh, kenapa tidak sekarang saja?" John mencoba menahan Kendall. Jika lelaki itu bersedia melakukan kesepakatan ini sekarang, bukankah itu artinya uang yang akan diterima John akan ia dapatkan lebih awal? Lagi pula, Kendall juga sudah berasa di sini. Kenapa tidak sekalian saja membawa Celline? "Tidak. Aku tak tertarik membawa wanita tanpa persiapan!" Kendall menjawab sinis dan berlalu dari hadapan John begitu saja. John adalah orang yang cukup serakah. Selama ada uang, dia bersedia melakukan apa pun. Termasuk menjual istrinya sendiri. Tidak ada lelaki yang lebih bobrok dari pada John yang pernah Kendall temukan. Celline terlalu bodoh untuk menikah dengan lelaki seperti itu. Senyum Kendall tertarik kecil, menyadari sesuatu. Mungkin itu adalah karma. Celline telah membuang dirinya dengan cukup kejam. Sekarang kehidupan membalasnya dengan sesuatu yang lebih kejam lagi. Berupa suami yang lebih mirip disebut sebagai monster. Memperlakukan Celline semaunya sendiri, menyia-nyiakan Celline dengan sesuka hati. Alam tidak pernah buta. Alam tidak pernah tuli. Orang-orang yang melakukan sesuatu hal yang buruk, akan mendapatkan hasil yang serupa pula. Dan jika Tuhan berbaik hati, dia akan membiarkan orang-orang yang pernah diperlakukan secara tidak adil ikut menyaksikan kehancurannya. Seperti yang Kendall saksikan saat ini. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD