Bangkit Tidak Semudah Itu

1163 Words
Bangkit kembali dari keterpurukan. Sesuatu yang mudah dikatakan tetapi sulit untuk direalisasikan. Niat yang sebelumnya sudah terbentuk sangat kuat di hati Celline, kini terhempas begitu saja saat ia tiba di flatnya. Sendiri dalam kekosongan. John entah pergi ke mana. Celline menebak lelaki itu sedang sibuk menghamburkan uangnya setelah ia menerima transferan besar dari Kendall. Ruangan flat sepi. Membuat Celline terjebak dalam kesendirian. Hening ini bak selimut dingin. Merengkuh Celline dalam kesepian yang penuh teror. Jam masih pagi. Mungkin sekitar pukul tujuh waktu setempat. Belum ada aktifitas yang cukup padat dari lalu lintas jalanan di bawah flat Celline. Beberapa mobil terlihat lewat sesekali, membuat jalanan ini menunjukkan sedikit kehidupan. Flat Celline berada di kawasan yang cukup terpinggirkan dan sepi. Saat siang pun, tak terlalu banyak kendaraan yang melalui kawasan ini. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki tujuan hingga memasuki kawasan pinggiran seperti ini. Dia telah dua tahun berada di flat ini. Dulu, kehidupan Celline lebih baik dari ini. Ia dan John memiliki apartemen mungil yang cukup cantik di pusat Manhattan. Kehidupan mereka baik-baik saja, dengan peninggalan harta yang cukup dari mendiang ayah Celline. Tetapi segalanya mulai berubah ketika suatu malam John didatangi beberapa orang berpakaian hitam dan bewajah sangar untuk menuntut pembayaran hutang judinya yang mulai membengkak. Semuanya mulai berjalan buruk. Kehidupan Celline seperti dibalikkan dengan cepat. Mereka pindah ke flat bobrok ini, menggadaikan satu per satu aset dari mendiang ayah Celline yang masih tersisa, hingga di titik tertentu, untuk makan sehari-hari saja Celline merasa kesulitan. John, dengan kata lain, berhasil membawa hidup Celline dalam kebobrokan baru. Kebobrokan yang baru ia kenal karena kecerobohan suaminya sendiri dalam meja judi. Hingga akhirnya, Celline dijual, dalam arti harafiah, kepada lelaki lain hanya untuk mendapatkan uang demi menutup hutang John dan hobi lelaki itu yang tak sehat. Celline duduk di salah satu kursi kulit yang pinggiranya mulai banyak terkelupas. Dia menatap seluruh jari-jemarinya dengan lemah. Tangan ini, entah bagaimana terasa kebas setelah ia menghabiskan satu malam dengan Kendall. Celline jadi teringat sentuhan demi sentuhan yang dilakukan lelaki itu terhadapnya. Perlahan, tetapi memberi arti mendalam. Keras, tetapi juga lembut. Penuh kekuatan dan penuh damba. Mata emas Celline menatap ragu langit-langit ruangan yang di beberapa sisinya menjadi sarang laba-laba. Dia mengusap lengannya dengan sedikit kasar. Lagi-lagi bayang-bayang Kendall kembali hadir di otaknya. Bagaimana bisa semalam bersama lelaki itu mampu memberikan efek yang sebesar ini pada dirinya. Sebuah efek yang tidak hilang bahkan setelah Celline mandi dua kali dengan air dingin. Rasanya, kulitnya masih sensitif, mengingat setiap jejak ujung jemari Kendall terhadap sentuhan yang ia ciptakan. Seolah-olah tubuhnya memiliki bekas tersendiri dan memproklamirkan diri sebagai milik lelaki itu. Malam yang mereka miliki, bak deklarasi agung kepada dunia tentang ikatan mereka. Seolah-olah segalanya spesial. Seolah-olah segalanya istimewa. Padahal, jauh dari itu semua, Celline tahu ia tak lagi memiliki harga. Dia murah. Dia dijual. Dia tak bernilai. Tak ubahnya seperti wanita lain di ujung distrik yang berdiri menawarkan dirinya sendiri demi untuk satu dua sen uang makan. Mengenaskan. Itulah definisi yang pantas untuk diri Celline saat ini. Lelaki yang pernah ada dalam masa lalunya, lelaki yang pernah ia hancurkan dengan sangat kejam, lelaki yang sialnya masih ia cintai hingga kini, justru menjadi orang yang menyudutkannya dengan tak manusiawi. Bagi Kendall, Celline tak ubahnya seperti seonggok tubuh tak berjiwa yang bisa ia perlakukan semena-mena. Ada kebencian yang jelas dari sorot mata Kendall. Kebencian dan dendam yang lelaki itu tujukan untuknya. Perlahan, Celline berjalan ke kamar dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang lawas yang berderak setiap kali digunakan. Dia memposisikan tubuhnya mencari kenyamanan dan mencoba memejamkan matan. Celline perlu istirahat. Setidaknya, untuk beberapa jam ke depan. Dia perlu berbicara kepada John nanti tentang adiknya. Dia ingin John benar-benar menepati janjinya untuk tetap menjaga Lily dengan baik. Bagaimanapun juga, Lily adalah satu-satunya keluarga yang masih Celline miliki. Satu-satunya orang yang masih ingin ia perjuangkan di tengah semua keterpurukan yang ia alami. Baru saja Celline terlelap setengah jam, terdengar suara pintu flat dibuka dengan gerakan kasar. Menghasilkan suara debuman hebat karena daun pintu itu bergesekan dengan dinding. Celline terkejut dan duduk secara tiba-tiba. Dia menatap sekeliling, mencoba mengumpulkan kesadaran miliknya yang sudah berkurang karena baru saja tertidur. Ada suara dua orang saling bercakap-cakap. Celline menyipitkan mata, memfokuskan perhatian yang ia miliki. "Uh, Sayang … semalam itu tarianmu benar-benar hebat. Aku terpesona." "Uhm. Tentu, Darling. Aku ... uh … hebat dalam menari. Aw! Tanganmu nakal! Di mana … uh … kamarmu? Tanganmu harus kau kendalikan … uh … dulu, Darling." Terdengar dua orang saling berbicara. Yang satu suara John. Yang satu suara wanita asing. Dahi Celline mengerut samar, mencoba menebak keduanya. Dengan perlahan, Celline membuka sedikit celah pintu kamar dan mengintip keluar. Suara mereka seperti di ruang tengah. Pasti akan terlihat dari sini. Benar saja. Celline melihat John yang sedang mabuk bersama seorang wanita berambut hitam sebahu dengan make up berlebihan sedang saling berpelukan. Wanita itu terlihat sama kacaunya dengan John. Rambutnya berantakan, maskaranya luntur, lipstik merah meronanya mulai tampak kacau. Pakaian yang dikenakan wanita itu sama bobroknya dengan pakaian wanita malam pinggir jalan. Tanktop merah yang menampakkan pusar bertato. Rok imitasi sutra yang hanya menutupi satu jengkal saja b****g wanita itu. Di pergelangan tangan dan lehernya, ada perhiasan besar imitasi berwarna mencolok. Celline bergidik kecil. Mereka adalah pasangan yang cocok satu sama lain. Entah kenapa, melihat John pulang dengan membawa wanita asing tak terlalu mengejutkan Celline. Tidak ada rasa sakit hati. Tidak ada lagi rasa terluka. Selama lelaki itu tidak menyakiti Celline secara sengaja, apa pun tindakan lelaki itu sudah tak lagi berpengaruh untuk Celline. Mungkin, inilah yang dinamakan mati rasa. Ketika perasaanmu sudah tak lagi tergerak. Ketika emosimu sudah berhenti di titik tertentu. Hingga tindakan apa pun yang dilakukan oleh orang tersebut padamu, tidak membuahkan efek sama sekali. Memang baru kali ini John membawa wanita lain ke rumah. Memang baru kali ini juga dia begitu berani mengumbar karakternya yang amoral secara langsung. Tetapi Celline merasa sama sekali tak kaget. Entah bagaimana, di hatinya yang terdalam ia tahu hal-hal seperti ini, cepat atau lambat, pasti akan terjadi juga. Hanya masalah waktu sebelum akhirnya John berubah menjadi monster hidup sepenuhnya. "Ayo kita ... emh … ke kamarmu!" Wanita asing itu kembali merangkul dan menyeret John ke sembarang arah. Celline yang mendengar percakapan mereka segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Flat ini hanya memiliki satu kamar. Demi apa pun juga, Celline tak ingin kamarnya ternodai oleh aktifitas kotor mereka. Biar saja mereka melakukannya di ruang tengah, ruang depan, atau lantai. Celline tak peduli. Dia hanya ingin menjaga sedikit prifasi yang ia miliki di flat ini. Sebagai seorang istri, bukankah Celline berhak melakukan semua ini? Pintu kamar mencoba dibuka dari luar. John sepertinya tidak tahu jika Celline telah pulang. Celline menutupi kedua telinga dengan bantal, dan membiarkan usaha John untuk membuka kamar sia-sia. Mungkin, akhirnya John menyadari keberadaannya, mungkin John menyadari tindakannya. Entahlah. Yang jelas suara lelaki itu terdengar pergi menjauh bersama wanita asing yang ia bawa. Dengan begini, Celline merasa sedikit lega. Setidaknya, kamar ini aman sekarang. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD