bc

Don't Hurt Me Again Love

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
one-night stand
arranged marriage
goodgirl
sweet
small town
cheating
chubby
multiple personality
affair
wife
like
intro-logo
Blurb

Andhira seorang gadis yang kehidupannya berubah drastis karena perjodohan. Kemudian dia harus menghadapi sifat asli sang suami pasca kematian ayahnya.

Kenyataan pahit mengetahui jika suaminya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, membuat Andhira sang gadis penurut menjadi wanita pemberontak.

Perceraian membuat dirinya tidak percaya lagi dengan cinta dan ia menjadi penikmat kehidupan malam. Pertemuannya dengan Ivan, seorang bartender akankah mengembalikan lagi kepercayaannya tentang cinta?

chap-preview
Free preview
Prolog
Wanita yang pernah dikhianati dan mati rasa, tidak akan pernah tahu hatinya untuk siapa. Suara dentuman musik di club malam membuat beberapa orang larut di atas lantai dansa. Tidak dengan wanita yang satu ini, dia asyik sendiri menegak tequila-nya yang entah sudah gelas yang keberapa. Wajahnya bisa dikatakan biasa saja. Tapi ada aura tersendiri yang terpancar dari dirinya sehingga tidak bosan untuk dipandang. Matanya sayu karena asap rokok dan alkohol. Dia tidak perduli dengan hingar-bingar yang ada di dalam club malam itu. Seorang pria menarik bar stool di sampingnya. Dia duduk di samping wanita tersebut. Dengan mata sayu, ia memandang pria yang baru saja duduk itu. Wajah pria itu cukup tampan. Rahang tegas, hidung mancung, alis tebal itu membingkai mata elangnya. "Alvin!" ujarnya dengan setengah berteriak dan memperkenalkan diri "Rhe," balas wanita itu. "Nama yang unik!" teriak Alvin. Rhe hanya tersenyum. Dia kembali minta satu gelas tequila kepada bartender lalu menenggaknya lagi. Mata Rhe semakin sayup. Ia sudah sangat mabuk. Langkahnya oleng ketika ia mencoba berjalan. Untung saja dengan sigap Alvin menangkap pinggang ramping Rhe. Senyum Rhe mengembang. Dia malah mengalungkan tangannya ke leher Alvin. Mata mereka saling tatap. Siapa sangka Rhe mendekatkan wajahnya pada Alvin lalu mencium bibir pria asing itu. Alvin mendorong Rhe. Meskipun ia pria normal, tapi dia cukup kaget dengan keberanian wanita ini. Iris coklat Rhe menatap pria di hadapannya itu dengan mata sayu. Ia masih mengalungkan lengannya di leher Alvin lalu tertidur di pelukan pria tadi. ------------------ Pagi ini Rhe bangun di sebuah tempat asing. Ia tidak ingat apa yang terjadi semalam. Begitu ia membuka mata, ia melihat seorang pria berbaring di sisinya. Kepala Rhe terasa sangat berat. Badannya pun sakit semua. Dia merosot turun dari ranjang. Saat bangun tidak ada sehelai kain pun yang melekat di tubuhnya kecuali selimut putih ini. Ia membiarkan kucuran air panas dari shower itu membasahi tubuhnya. Sejak setahun lalu, hati wanita ini membeku seperti es. One-night-stand seperti ini sudah biasa untuknya. Bukan karena seorang pelacur atau pun wanita yang haus akan hasrat bersama pria. Dia hanya ingin bermain-main saja. Rhe selesai mandi. Ia melihat pria asing yang bersamanya semalam itu duduk di tepian ranjang. Pria itu tersenyum. Namun Rhe tidak membalasnya. Dengan acuh tak acuh, ia mengganti jubah mandinya dengan baju yang semalam ia kenakan. "Kamu sudah mau pergi?" tanya pria itu. Lagi-lagi Rhe hanya meliriknya. "Setidaknya kita bisa sarapan bersama," ujar pria itu lagi masih dengan suara serak. "Kurasa kita tidak sedekat itu untuk sarapan bersama!" sahut Rhe ketus. "Aku akan mengantarmu! Tunggu aku mandi dulu!" Tanpa menunggu jawaban Rhe, dia masuk ke kamar mandi. Bagi wanita ini, pria itu hanya sebatas persinggahan saja. Jadi, Rhe merasa tidak punya kewajiban untuk menunggu atau menuruti kata-katanya. Wanita ini keluar dari hotel dan meninggalkan pria yang bahkan ia tidak ingat namanya itu. Rhe mengambil ponsel dari clutchnya. Tepat ketika ia akan memesan taksi online, seseorang mencengkram lengannya. "Setidaknya kamu bisa berpamitan dulu sebelum pergi!" Pria yang bersamanya semalam itu tiba-tiba sudah berada di belakang Rhe. Rhe menepis tangan pria itu. "Maaf, kita hanya sebatas menghabiskan waktu bersama. Selebihnya tidak ada lagi hubungan!" hardik Rhe. "Sangat disayangkan, aku bukan tipe laki-laki yang akan melepaskan wanita begitu saja. Apalagi orang yang pertama kali tidur denganku!" balasnya. Menanggapi kalimat omong kosong itu, Rhe mencebik. Ia memutar bola matanya. "Haruskah aku tertawa mendengar omong kosong dari seorang bajingan yang mengaku baru pertama kali meniduri wanita?!?" sindir Rhe. "Terserah kamu mau berpendapat bagaimana tentangku. Aku hanya ingin menunjukkan tanggung jawabku sebagai seorang pria dan tolong kamu pahami itu!" Pertengkaran mereka di teras hotel itu menjadi tontonan orang yang keluar masuk dari lobby. Beberapa dari mereka berbisik-bisik. Pria ini menarik Rhe ke tempat parkir. Ia tidak perduli dengan tangannya yang mulai memerah karena dipukul oleh Rhe. Ia membuka kunci sebuah Suzuki XL7 dan juga membukakan pintu untuk Rhe yang masih bergeming. Dengan matanya ia memberi isyarat untuk wanita keras kepala ini agar masuk ke dalam. Dalam perjalanan mereka berdua terdiam. "Namaku Alvin," pria itu memperkenalkan dirinya sekali lagi pada Rhe. Rhe mendengus dan tidak ingin melihatnya. "Namamu Rhe, bukan?" lanjut Alvin tanpa memperdulikan wajah masam Rhe. "...asal kami tahu, ya. Yang menggodaku semalam itu adalah kamu. Dan—kamu tahu sendiri, aku masih pria normal," cerocosnya. "Pria normal..." desis Rhe sinis, "baru saja kamu berkata ini pertama kalinya kamu meniduri seorang wanita, kamu bilang kamu pria normal?" Alvin tidak menanggapi sindiran sarkas Rhe. "Ya, karena aku tidak pernah mau berdekatan dengan wanita yang belum pasti akan menjadi pasanganku!" tegasnya. "Lantas?" "Lantas? Lantas ada seorang wanita mabuk yang tiba-tiba saja mencium bibirku tanpa permisi—aku berbaik hati mengantarnya ke sebuah hotel untuk beristirahat, tapi—" "Tapi?" "Cih...kamu masih bertanya? Apa kamu adalah wanita yang tidak tahu malu?!?" bentak Alvin jengkel. Rhe melengos. "Belok kiri. Aku turun di depan!" "Dasar wanita keras kepala!" Alvin membelokkan mobilnya dan menurunkan Rhe di depan sebuah swalayan. Dia memandang punggung wanita itu sampai ia menghilang di balik pintu swalayan. Kemudian pergi meninggalkannya. Di dalam swalayan Rhe celingukan, dia sebenarnya tidak memiliki tujuan untuk berbelanja. Tapi ia tidak ingin pria manapun tahu apartemen tempat ia tinggal. Akhirnya dia keluar dari swalayan itu tanpa membeli apapun. Dirinya memang hanya ingin turun dari mobil pria bernama Alvin tadi. Rhe merogoh clutch-nya. Ia pun memesan taksi online untuk pulang ke apartemen. Sesampainya di apartemen, dia langsung mandi dan membuat wafel untuk sarapan. Dia adalah wanita yang cerdas. Tidak hanya cerdas dalam akademik, tapi ia juga pintar dalam mengurus rumah. Hanya saja nasibnya tidak beruntung dalam rumah tangga. Aroma wafel memenuhi dapur kecil itu. Ponselnya bergetar tepat ketika ia meletakkan sarapannya di atas piring. Sebuah nomer tak dikenal tertera di layar benda pipih itu. "Halo," sapa Rhe. [Andhira! Kapan kamu mau pulang ke rumah?!?] bentak suara dari seberang sana. Rhe tersentak, itu suara Ervin, saudara laki-lakinya. [Sampai kapan kamu mau ninggalin Denaya sendiri?!?] Hening—sudah setahun lebih tidak ada yang memanggilnya dengan nama Andhira. Rhe tidak menyahut. Terdengar suara mendengus kesal lalu sambungan telepon terputus. Selera makan Rhe hilang. Rasa rindu menyusup ke relung hatinya. Denaya adalah anak satu-satu dari pernikahannya dengan Ivan. Wafel itu dibiarkan dingin. Rhe hanya duduk termenung dan membenamkan wajahnya di atas meja. ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

The Luna He Rejected (Extended version)

read
623.0K
bc

Alpha's Instant Connection

read
651.9K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
829.1K
bc

The Abandoned Luna's Return

read
1K
bc

Desired By The Hockey Captain Alpha

read
8.5K
bc

His Unavailable Wife: Sir, You've Lost Me

read
11.3K
bc

Secretly Rejected My Alpha Mate

read
36.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook