bc

Mimpi yang Masih Kuperjuangkan

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
family
fated
single mother
heir/heiress
drama
sweet
lighthearted
serious
bold
loser
mythology
office/work place
small town
lies
like
intro-logo
Blurb

Orang-orang sering berpikir bahwa tinggal di luar negeri berarti hidup sudah sempurna. Mereka melihat foto-foto, pemandangan yang indah, jalanan yang bersih, dan mengira semuanya mudah. Mereka tidak melihat air mata yang jatuh saat malam tiba, ketika rasa rindu datang tanpa diundang.Aku tersenyum di depan banyak orang, tetapi ada bagian dalam diriku yang diam-diam lelah. Aku merindukan rumah. Merindukan suara keluargaku. Merindukan makanan yang dulu bisa kunikmati kapan saja. Merindukan hal-hal sederhana yang dulu tidak pernah kusadari begitu berharga.Aku memilih jalan ini karena ingin masa depan yang lebih baik. Namun setiap pilihan selalu meminta pengorbanan. Ada hari-hari ketika aku bertanya pada diriku sendiri apakah semua perjuangan ini akan terbayar.Aku mencintai suamiku. Kami memiliki mimpi yang sama: membangun keluarga kecil yang penuh cinta dan suatu hari dikaruniai seorang anak. Kami terus berharap, terus berusaha, dan terus berdoa. Meski terkadang hati terasa lelah karena harapan yang belum juga menjadi kenyataan, aku tidak ingin menyerah.Ada begitu banyak urusan yang harus diselesaikan. Dokumen, jarak, aturan, dan berbagai hal yang terkadang terasa lebih besar daripada kemampuanku. Aku hanya ingin semuanya berjalan baik agar kami bisa menjalani hidup dengan tenang.Kadang aku iri melihat orang lain yang hidupnya terlihat sederhana. Mereka bisa berkumpul dengan keluarga tanpa harus menghitung jarak ribuan kilometer. Mereka bisa pulang kapan saja jika rindu. Sementara aku harus belajar memeluk rasa sepi sendirian.Tetapi di balik semua itu, aku masih menyimpan harapan. Aku percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan langkah-langkah yang dijalani dengan kesabaran. Mungkin jalanku lebih panjang, mungkin ujianku lebih berat, tetapi aku percaya setiap air mata yang jatuh tidak akan sia-sia.Aku hanya seorang perempuan yang ingin hidup sederhana. Ingin melihat suamiku tersenyum tanpa beban. Ingin memeluk keluargaku lagi. Ingin mendengar tawa seorang anak memanggilku ibu. Dan ketika hari itu tiba, aku ingin mengingat semua perjalanan ini, bukan sebagai luka, melainkan sebagai bukti bahwa aku pernah bertahan.Sampai saat itu datang, aku akan terus berjalan. Pelan tidak apa-apa. Lelah boleh. Menangis pun tidak salah. Karena selama aku masih memiliki harapan, aku belum benar-benar kalah.

chap-preview
Free preview
Belajar Menjadi Rumah di Tempat yang Asing
Belajar Menjadi Rumah di Tempat yang Asing Banyak orang mengira menikah berarti menemukan rumah baru. Aku juga pernah berpikir begitu. Namun, ternyata membangun rumah tidak selalu mudah, apalagi ketika rumah itu berada di negeri yang sangat berbeda dari tempat kita dibesarkan. Saat berada di Pakistan, aku menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang aku dan suamiku. Ada keluarga besarnya, ada saudara-saudaranya, dan ada budaya yang sudah lama mereka jalani. Aku menghormati semua itu, tetapi sebagai seseorang yang tumbuh dengan kebiasaan yang berbeda, tidak selalu mudah untuk menyesuaikan diri. Hal-hal sederhana yang dulu tidak pernah kupikirkan kini terasa begitu berarti. Aku terbiasa memakai daster atau pakaian santai di rumah, terutama saat cuaca panas. Namun di sana, aku harus selalu berpakaian lebih tertutup karena ada anggota keluarga laki-laki di sekitar rumah. Bukan karena aku tidak menghargai budaya mereka, tetapi terkadang aku merindukan kebebasan untuk merasa nyaman di rumahku sendiri. Aku juga tidak bisa keluar rumah sendirian. Pergi ke pasar, berjalan-jalan, atau sekadar membeli sesuatu bukanlah hal yang bisa kulakukan dengan bebas. Faktor keamanan membuatku harus selalu bergantung pada orang lain. Bagi sebagian orang mungkin itu hal biasa, tetapi bagiku, yang terbiasa lebih mandiri, perubahan itu terasa berat. Lalu ada makanan. Mungkin terdengar sepele, tetapi makanan adalah bagian dari rasa nyaman. Lidahku masih merindukan masakan Indonesia, rasa yang mengingatkanku pada keluarga dan rumah. Setiap kali makan, ada rasa rindu yang sulit dijelaskan. Aku tidak menulis ini untuk mengatakan bahwa Pakistan adalah tempat yang buruk. Tidak. Setiap negara memiliki keindahan dan budayanya sendiri. Hanya saja, aku sedang belajar hidup di lingkungan yang sangat berbeda dari yang selama ini kukenal. Kadang aku membandingkannya dengan kehidupanku di Swiss atau Indonesia. Di sana aku merasa lebih bebas menentukan langkahku sendiri, berpakaian sesuai kenyamanan, dan pergi ke mana pun tanpa terlalu banyak rasa khawatir. Perbedaan itulah yang sering membuat hatiku terasa berat. Meski begitu, aku terus belajar. Belajar menerima, memahami, dan menghargai perbedaan. Karena mencintai seseorang juga berarti belajar mengenal dunia yang membesarkannya. Aku hanya berharap, seiring waktu, aku bisa menemukan keseimbangan antara menghormati budaya baru tanpa kehilangan diriku sendiri. Mungkin inilah arti sebenarnya dari sebuah perjalanan: bukan hanya berpindah tempat, tetapi belajar menjadi diri sendiri di tengah dunia yang terasa begitu asing.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
804.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.0M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
375.7K
bc

Not just, the Beta

read
358.4K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook