Kejutan

2035 Words
Aku hanya bisa nurut apa yang suamiku katakan. Aku diajak ke sebuah rumah baru yang selesai dibangun. Aku tidak tau itu rumah siapa, tapi setiap kepasar aku pasti melewatinya. Dulu waktu belum dibangun pagar, aku bisa leluasa melihat keseluruhan bangunan dari depan, walau melihatnya sambil melintas. Kapan aku bisa punya rumah yang seperti itu yang kubangun dari hasil jerih payahku sendiri, aku bergumam dalam hati. Menjelang hari pernikahanku pagar rumah itu sudah mulai dibangun. Dan sekarang aku diajak mas panji memasuki pekarangannya. Mungkinkah ini rumahnya teman atau saudaranya mertuaku? tanyaku dalam hati. Motor memasuki area carport yang didepannya sudah ada dua mobil. Dua duanya mobil milik mertuaku. Aku juga gak tau yang satunya siapa yang bawa karna yang datang kekosanku cuma mertuaku. Pekarangannya terlihat asri walau masih kelihatan baru ditanam. Disisi dinding depan teras ada kolam ikan dan ada air terjun mininya yang keluar dari dinding yang dibuat seperti tebing batu. Suamiku menggenggam erat tanganku dan kamipun mengucap salam sebelum memasukinya. Jawaban salam rame terdengar dari dalam. kulihat ada mertuaku dan kakak iparku dan paman adiknya ibu mertua. Mereka ada beserta keluarganya, juga pak sopir dan istrinya yang membaur diruang tengah diatas karpet yang sudah dibentang. " sini sini duduk sini tamu istimewa kita, jangan sungkan dirumah sendiri ya " ucap mertuaku menyambut kami. " bu, ini sudah siap semua, mau ditata dimana ya " tanya salah satu asisten rumah tangga mami. Yang kutau dirumah mertuaku ada empat orang asisten. Dan saat ini kulihat ada dua orang yang disini. " ditata dimeja makan dulu aja " jawab ibu mertuaku sambil berdiri dari duduknya. Istri pak tono dan kak hana juga berdiri mengikutinya. Aku juga ikut berdiri mengikuti mereka hingga area dapur terlihat penuh dengan adanya kami. Aku agak menyisih dari dapur sambil menarik lengan kak hana. " kak tuan rumahnya mana, dari tadi kok mamih yang sibuk sebagai tuan rumah " tanyaku " masak kamu belum dikasih tau ini rumahnya siapa? " tanya kak hana sambil tersenyum. " kalo aku tau, ya gak mungkin tanya kakak lah " jawabku. " inikan rumah barumu " ucap kak hana kalem " jangan becanda dech mbak " ucapku tak percaya " mih, mamih, ini lho menantu barumu nggak percaya kalo ini rumahnya " teriak kak hana memanggil ibu mertuaku " selamat sayang, selamat menempati rumah barumu " ucap ibu mertuaku merentangkan kedua tangannya memelukku " mih, ini gak mimpi kan? " tanyaku tak percaya. Aku menangis terkejut dan terharu Saat aku melepaskan diri dari pelukan ibu mertuaku, ternyata bapak mertua, suami dan kakak ipar sudah berdiri diantara kami. Mereka bergantian memeluk kami. Hanya kakak ipar dan bapak mertua yang menyalamiku dan megusap pundakku. " ini memang rumah kita dek, yang sengaja mas jadikan kejutan manis untukmu " ucap suamiku sambil memelukku. Aku hanya bisa mengangguk dalam pelukannya. Aku mengitari rumah ini dari bagian belakangnya ditemani suami. Dapurnya kecil minimalis seperti yang pernah kubayangkan. Disisi dapur dindingnya hanya setengan badan, sementara atasnya dibiarkan terbuka. Disamping luar dinding dapur ada meja fleksibel yang tertempel. Saat mau digunakan meja bisa distel dan ruangan ini menyatu dengan teras belakang. Dibagian sisi sebelah kiri ada tempat cuci yang sudah dilengkapi dengan mesin cuci pintu samping beserta tempat jemuran gantungnya. Juga ada almari yang pintunya bisa berfungsi sebagai alas gosok. Lahan belakang tak terlalu luas tapi penempatannya yang pas membuat kita terasa lapang beraktifitas. Ada atap tembus pandang yang membuat sinar terang bisa masuk. Atapnya bisa digeser sesuai keinginanku. Wah seperti inilah rumah yang kuinginkan. Masuk kedalam ada tiga kamar tidur dan satu ruangan mushola tanpa pintu. Diruang tengah ada meja makan panjang isi enam set kursi yang bersebelahan dengan ruang keluarga tanpa sekat. Memasuki ruang tamu yang tak begitu luas dan terisi meja kursi minimalis. Tak terasa waktu menjelang magrib, kami persiapan melaksanakan sholat jama'ah bersama. Ternyata para bapak bapaknya melaksanakan sholat magribnya dimusholla dekat rumah. Sementara kaum perempuannya sholat dimushola rumah. Hingga kami selesai sholat aku masih bingung dengan kejutan yang suami beri. Selama ini aku tak pernah tau kalo rumah yang sering kulihat adalah milik suamiku. Usai selesai sholat satu persatu tamu mulai berdatangan termasuk kedua orang tuaku dan romlah beserta suami. Bapak mertua, kakak iparku dan suamiku berdiri disisi kanan menyambut tamu laki laki, sementara disisi kiri ada ibu mertua, kak hana dan aku yang menyambut tamu perempuan. Karpet sudah dibentangkan memenuhi ruang tengah. Kami duduk diatasnya membentuk lingkaran. Bapak mertuaku memberi sambutan. " kami ucapkan terima kasih banyak atas kedatangan besan saudara teman dan tetangga semua yang memenuhi undangan kami. Sebelumnya ijinkan saya untuk sedikit bercerita. Anak bungsu saya si ujang biasa kami memanggilnya, walau nama aslinya panji mahendra. Sebagai ayahnya saya sangat bangga karna dia sudah memenuhi janjinya ingin membangun istananya untuk dipersembahkan kepada istrinya dan anak anaknya kelak. Undangan kami ini sebagai bentuk rasa syukur kami selaku orang tua untuk panji dan keluarga agar kelak rumah ini akan nyaman ditinggali dan memberikan keberkahan hingga anak turunannya. aamiin. terima kasih atas perhatiannya, monggo dilanjutkan nak, sebelum acara doa bersama " ucap bapak mertuaku mempersilahkan suamiku berbicara. " alhamdulillah, trima kasih atas kedatangan semuanya, maaf kalo sambutannya hanya ala kadarnya. Alhamdulillah, saya ucapkan terima kasih yang tak terhingga untuk kedua orang tua atas dukungan doa restunya. Jujur lahan ini saya beli sudah beberapa tahun yang lalu, trus saya mulai membangunnya setelah ada niat untuk menikah. Niat menikahnya sudah lama, jadi bangun rumahnya juga pelan pelan mengikuti keadaan dana. Cuma saat mulai ada tanda tanda waktu nikahnya dipercepat, saya juga mengejar rumah ini selesainya dipercepat hingga saya harus menambah beberapa orang tenaga kerja. Inginnya selesai nikah ngasih kejutan ke istri langsung menempati rumah baru milik sendiri. Tapi ternyata harus ditunda hampir dua bulan karna meleset dari perkiraan. Saya ucapkan terima kasih untuk istriku kalila, makasih sayang karna sudah benar benar mau menemani suamimu memulai dari nol. Mau diajak tinggal dikamar kos. Trima kasih trima kasih semuanya atas perhatian dan kehadirannya " ucap suamiku mengakhiri cerita singkatnya. Acara selanjutnya berdoa bersama yang dipimpin oleh pak kyai. Usai berdoa kami lanjut ramah tamah dan makan makan. Rupanya menu yang terhidang merupakan pesanan ibu mertua di rumah makan langganannya. Peralatan makan yang kami pake makan sekarang juga pemberian ibu mertua. Barang barang kado yang kami tinggal dirumah mamih juga sudah diangkut kesini. Mereka meletakkan tumpukan kardus wadah kado dibelakang. Usai acara makan makan para tamu sudah pamitan pulang dan membawa bingkisan dari kami. Tinggal kedua orang tuaku dan keluarga suami. Kamipun mulai membersihkan ruangan yang tadi kami pake. " ini memang sengaja ya mih, gak nglibatin kalila sama sekali " ucapku " namanya juga kejutan sayang, tapi mamih seneng deh akhirnya rumah impian siujang terwujud, makanya mami bela belain nyiapin smua ini " ucap ibu mertuaku antusias " sejak kapan mamih persiapkan smuanya? " tanyaku " kemaren dibantu hana dan mbak mbaknya dah gitu habis subuh baru eksekusi kesini, dah yuk tengokin kamar kamu " ajak ibu mertuaku menarik lenganku menuju kamar utama. Begitu aku masuk kedalam, aku terkejut dengan pernak pernik yang ada dikamar kos sudah pindah kesini termasuk isi lemari. " kok ini sudah ada disini mih? " tanyaku bingung " klo itu kerjaannya siujang tadi, dah gak masalah, kamu gak perlu lagi balek ke kamar kos, karna mulai malam ini rumah ini harus kamu tempati " ucap ibu mertuaku. Setelah berberes mereka semua menginap dirumah baruku. Sementara kedua orang tuaku memilih pulang. Karna ruangan kamar tidak mencukupi selain suamiku yang laki laki tidur diruang keluarga. " makasih banyak mas, sudah memberikan kejutan manis untukku " ucapku sambil memeluknya dari belakang saat suamiku sedang memandang isi lemarinya. " makasih juga dek, atas ketulusannya mendampingi mas, semoga rumah ini memberikan keberkahan untuk keluarga kita, " ucapnya lalu mencium keningku. Malam ini begitu syahdu menempati rumah baru. Betapa bersyukurnya aku mendapatkan banyak cinta dari orang orang sekitarku. Disini aku baru tau ternyata suamiku termasuk orang berpunya. Pertama mengenalnya dia sosok yang sederhana. Tak pernah terpikir dia anak orang kaya. Setelah dua hari menempati rumah baru, baru malam ini suamiku mengeluarkan buku asetnya. Dari peternakan sapi yang dikelola beberapa puluh orang petani hingga kebun karet yang ada beberapa puluh hektar. Dari ceritanya bermula menjalankan bisnis sapi setelah lulus smp dengan modal tabungannya. Ternyata selain ulet suamiku merupakan sosok yang mandiri. Suamiku menyerahkan semua ini untuk aku kelola. Jadi teringat dengan bu bidan dalam memanfaatkan hartanya. Memenuhi kebutuhan hidup yang seperlunya. Yang penting kebutuhan pokok kita sudah terpenuhi maka yang lain tidak begitu penting lagi. Ternyata suamiku juga sudah memiliki kendaraan roda empat. Kendaraan itu sudah dimiliki lama tapi karna saat masih lajang jarang menggunakannya, jadi ya dulu hanya dititipkan ditempat orang tuanya. Setelah aku mempelajari pembukuan usaha sampingan suamiku, aku juga mengetahui bagaimana sistem mereka bekerja. " mas seandainya harta yang mas punya kalila pilah pilah penempatannya gimana? " usulku " maksudnya gimana " tanya suamiku " harta mas sudah banyak, sebagian keuntungannya kita manfaatkan untuk membantu sesama, lila tuh pengen kayak bu bidan, hartanya banyak digunakan untuk membantu sesama " ucapku " emang kamu gak pengen sesuatu gituh " tanyanya " pengen sih! " ucapku " apa " tanyanya " daftar haji, umroh bareng keluarga " ucapku " oke buat agenda prioritas aja dulu kalo gitu " ucap suamiku antusias " kita daftar haji dulu aja kalo gitu, habis tu baru daftar umroh " saran suamiku " Siapa aja mas, yang mau diajak? " tanyaku " yang jelas orang tua kita lah, ajak adek sama keluarga kak hana juga boleh! nanti kalo sudah biar mas cari info bironya " ucapnya " ya Allah maaaass, lila kok kayak mimpi sih, dapat suami mas panji kayak dapat anugrah terindah, lila sama sekali gak pernah terpikir seperti ini, dunia lila seperti melambung tiba tiba " ucapku " Berarti alhamdulillah dong " ucap suamiku " lila memang sempat mikir juga kaget saat liat keadaan mamih papih, trus liat mas, serasa kayak jadi anak pungut " ucapku ucapku sambil meringis " ya Allah segitu mirisnya " ucap suamiku " ya maaf, kalo lila su'udzon duluan " ucapku sambil bergelanyut dilengan kirinya. " tapi sekarang nggak lagi kan? " tanyanya. " setelah mengenal mamih dan papih, ternyata mereka orang tua yang luar biasa, luar biasa baiknya " ucapku. Tak pernah terpikir olehku akan menjadi orang yang mendadak kaya seperti ini. Semoga kekayaan ini tidak membuatku lupa diri. Semoga nafsu duniaku bisa terkendali dari sikap sombong dan angkuh diri. Kami dapat mewujudkan keinginan untuk pergi umroh bersama keluarga besar. Hari dimana aku tak pernah berani bermimpi. Pencampaian hingga ketanah suci bersama suami memang menjadi harapan terindah untuk bermunajat keinginan hati. Hari hari telah berlalu. Kita beraktifitas seperti biasanya. Hingga tak terasa setahun sudah kami lewati. Anugrah kehadiran buah hati masih dinanti, rumah kami masih terasa sepi. Terkadang muncul rasa resah dan lelah. Kami sudah berikhtiar ke medis dan keadaan kami baik baik saja. Tapi tetap optimis, Allah pasti akan memberinya disaat yang tepat menurutNya. Kami nikmati masa masa berdua kami. Enam bulan sekali kami mengagendakan perjalanan honeymoon, menghindar dari rutinitas yang monoton. Kadang iri saat melihat romlah mengajak anaknya. Ya romlah sudah punya anak, terkadang saat bekerja dia akan menitipkan anaknya pada ibu disaat ibu mertuanya ada kepentingan. Sementara untuk mengantisipasi penumpukan antrean, aku merekrut seorang karyawan lagi yang bisa tinggal dirumah orang tuaku. Alhamdulillah walau orang tuaku tinggal berdua rumah mereka tak pernah sepi karna rumah jahitku tetap beroperasi disana. Aku memang berencana menambah luas bangunan biar ruang gerak kami lebih leluasa. Tadinya suamiku menawarkan lokasi yang strategis, tapi aku menolaknya mengingat pelanggan kami sudah banyak yang tau dengan lokasi rumah jahitku. Tetap berusaha tapi tak perlu ngoyo. Yang jelas kami masih bisa bermanfaat untuk sekitar. Pengen juga sih buat usaha konveksi, agar bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain tapi untuk menuju kesana aku perlu persiapan yang matang. Terlalu cepat waktu berlalu hingga ditahun kedua kami baru diberi anugrah buah hati. Penuh suka cita kami menyambutnya. Elok mahendra kami beri nama. Harapan kami dia akan menjadi anak yang elok rupanya dan elok prilakunya. Sekarang bukan kami yang harus datang berkunjung ke mertua, justru mereka sebaliknya. Bertambahnya anggota keluarga kami semakin menyemarakkan hari hari kami. Rumah kami mulai penuh warna ditambah kehadiran anak kedua. Tangguh mahendra kami beri nama. Agar kelak dia akan menjasi sosok yang tangguh dan tanggung jawab. Babak kedua kehidupan kami yang berstatus sebagai orang tua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD