Hadiah dari Allah

2014 Words
Mungkin ini bentuk jawaban dari Allah sehingga dipermudah segala urusan. Dari pertemuanku dengan mas panji, aku bisa menyimpulkan, dia tak akan mengekangku untuk beraktifitas dengan rumah jahitku. Sekalipun kelak jika kami menikah aku masih bisa selalu dekat dengan kedua orang tuaku. Akhirnya kuijinkan mas panji untuk meminangku. Semua diluar dugaanku, kupikir mereka dari kalangan masyarakat biasa, ternyata orang tua mas panji seperti orang berpunya. Dari kendaraan, penampilan dan barang hantaran yang mereka bawa bisa menjadi tolak ukur status sosial dan ekonominya. Aku juga tidak menyangka acara lamaran dan permintaan penetapan hari pernikahan. Selain itu ibu mas panji juga menitipkan sejumlah uang dalam amplop coklat yang tidak kutau besarannya untuk kepentingan biaya pesta yang akan digelar oleh keluargaku. Tadinya aku juga sudah mempersiapkan dana untuk acara pernikahanku agar tidak membebani orang tua. Walau ini acara untuk pernikahanku tapi aku lebih mengutamakan pernikahan yang simple saja. Sayang aja kalo uangnya dihabiskan untuk kemewahan yang berlangsung sesaat, sementara biaya setelah menikah itu jauh lebih banyak. Aku juga menolak untuk memesan gaun pengantin. Untuk apa buat kalo hanya dipake sekali seumur hidup. Sekalipun kami tak banyak menyebar undangan namun bapak memesan tenda yang kelas eksekutif, katanya untuk menghormati besan dan tamu undangan yang datang. Malam pertama setelah menikah sensasinya luar biasa. Perasaan unik yang sulit dijabarkan dengan kata kata. Saat ijab sudah diucap, saat itu aku berjanji dengan Allah ingin menggapai ridhonya dengan menyerahkan dan mengabdikan diriku untuk suamiku. Untuk sementara kami tinggal dirumah orang tuaku sampai acara ngunduh mantu tiba. Dimasa itu aku selalu dibimbing ibu untuk selalu melayani dan mematuhi suamiku. Acara ngunduh mantu tiba. Mertuaku juga gak tanggung tanggung mengirimkan armada bis untuk mengangkut keluarga dan tetangga kami. Pesta besar besaran yang diadakan untuk kami. Katanya karna anak bungsu pesta besar terakhir untuk melepas bungsunya. Disini aku dibuat takjub, karna baru pertama kali diajak kerumah mertua. Rumahnya sangat megah dibandingakan dengan rumah rumah yang ada disekelilingnya, halamannya luas. Saat aku diajak suamiku memasuki kamarnya, terpesonaku luar biasa. Mungkin akan terlihat sekali orang udiknya. Mungkin luas kamarnya bisa empat kali lebih besar dari kamarku. Rasanya baru sekali seumur hidup melihat kamar yang luas begini. Mungkin karna belum terbiasa aku masih merasa risih dan malu saat suami selalu ingin memamerkan kedekatan kami. Tiga hari tinggal ditempat mertua membuatku mengenal sedikit tentang mereka. Aku juga dikenalkan dengan keluarga kakaknya mas panji. " dek, besok kita harus pulang, karna lusa mas sudah masuk kerja " ucap mas panji saat kami sudah didalam kamar. " iya mas " jawabku sambil menata bantal mau merebahkan diri. " tapi nanti untuk sementara tinggal dikosku dulu gimana? sebelum kita mencari rumah tempat tinggal " tanya mas panji meminta pendapatku. " gak papa sih mas, tapi kalo mencari tempat tinggal apa gak kelamaan? bukankah lebih baik cari kontrakan dulu? " tanyaku menyampaikan pendapatku. " begitu juga gak papa, ya udah kalo gitu aku minta waktu dua bulan aja tinggal dikos dulu sambil nanti kita persiapkan langkah selanjutnya " ucapnya. Aku hanya mengangguk tersenyum menyetujui apa yang dipinta. Malam inipun kami habiskan untuk mereguk nikmatnya madu pernikahan dalam hangatnya pelukan dan lembutnya belaiannya. Semoga Allah segera anugrahi kami dengan keturunan yang akan mewarnai kehidupan kami. Selama aku tinggal ditempat mertua, ibuku memperlakukan aku dengan baik, beliau juga memberikan pesan pesan khusus untuk mengikat hati suami sebagai kunci keharmonisan keluarga. Usai menyelesaikan sarapan ibu mertua mengajakku untuk kekamarnya. Luas kamarnya hampir sama dengan luas kamar suamiku, yang membedakan hanya model furniturenya saja. " ini mamih punya tabungan yang mamih persiapkan khusus mantu mamih " ucapnya sambil duduk dan menyerahkan sebuah kotak perhiasan. " lho, mamih kan sudah memberi lila perhiasan " ucapku terkejut " beda sayang, itu perhiasan khusus lamaran dari panji, kalo ini memang khusus dari mami " ucapnya. " tapi sebelumnya kalila minta maaf mi, jikalau perhiasan ini tidak kalila pake gimana mih " ucapku meminta pendapatnya, mengingat beberapa ibu ibu yang cerita saat menaruh bahan jahitan. Ibu itu sangat kecewa saat menantunya tidak mengenakan perhiasan pemberiannya karna dianggap tidak menghargainya. " tidak apa apa nak, mamih memberikan ini bukan untuk dipamerkan, tapi bisa kamu simpan sebagai tabunganmu. Kelak kalo ada kebutuhan besar, perhiasan ini bisa kamu uangkan. Lagian kalian kan belum ada tempat tinggal " ujarnya panjang lebar " makasih banyak mih, atas pemberian mamih dan pengertiannya " ucapku sambil mencium punggung tangannya dan beliau menarikku dalam pelukannya. Hari ini kami berkemas kemas untuk pulang, karna kami akan kembali ke tempat kos suamiku, jadi kami hanya membawa pakaian yang kami butuhkan saja. Sementara kado kado pernikahan dari sanak saudara yang berisi aneka perlengkapan keluarga kami titipkan pada ibu mertuaku. Kelak kalo kami sudah punya rumah tempat tinggal, barang tersebut akan kami ambil. " ante lila, ini kakak hanya bisa kasih kado ini, semoga kamu suka dan dapat bermanfaat ya " ucap kak hana istri kakak iparku menyerahkan amplop coklat besar. " makasih kak, jadi ngrepotin kak hana sekeluarga " ucapku senang " boleh dibuka disini gak kak, siapa tau sertifikat rumah " ucap suamiku sambil bercanda. " wah, kode tuh mih " ucap kak hana sambil merangkul pundak ibu mertuaku " apa isinya dek! " tanya suamiku tak sabar " Alhamdulillah, makasih banyak kak, beneran ini kado buat aku " tanyaku bahagia saat tau berkas pembelian motor matic " ya iyalah buat kamu, tapi barangnya tiga hari lagi baru datang, kakak indent yang warna biru warna kesukaannya panji " ucap kak hana. " kalian jadi pulang hari ini? " tanya ibu mertuaku " iya mih, mas ijin cutinya dah habis, hari senin harus sudah masuk kerja mih " jawabku menjelaskan " kamu cuma bawa itu aja?" tanya ibu mertuaku " kata mas cuma ini dulu, soalnya nanti kami pulang ke kosan " jawabku " jang! maksudnya apa pulang ke kosan " tanya ibu mertuaku pada suamiku saat sudah hadir diantara kami " yaaa tinggal di kos lah mih, cuma sementara aja, kan seru pengantin baru tinggalnya di kamar kos " jawab suamiku dengan mimik bercanda " ish ish....kayak gak punya duit, malu maluin orang tua aja " sahut kakak iparku " bukan gitu bang, ini sebagai bentuk perjuangan kami memulai dari titik nol " ucap suamiku " iya iya papih percaya sama kamu jang, yang penting pesen kami selaku orang tua, jangan sampai kau sia siakan apalagi kau buat sengsara istrimu " ucap bapak mertua ke suami. Akhirnya kami pulang memilih naik travel dari pada diantar sopir. Sepanjang perjalanan aku memilih tidur karna benar benar lelah, karna selama dirumah mertua sibuk menemani mertuaku menyambut tamu juga saudara yang datang. Kami langsung menuju kamar kos suami. Kami memutuskan mengunjungi orang tuaku sepulang kantor suami. Kumasuki kamar kos yang selama ini suamiku tinggali. Baru pertama kali aku kesini. Ukuran kamarnya tak seluas kamar yang ada ditempat mertua tapi juga tak sesempit kamarku. Kamarnya lumayan rapi, fasilitas kamar mandi dalam. Didalam kamar terdapat kulkas mini saat kubuka isinya hanya ada air mineral kemasan. Selain itu juga ada televisi layar datar, teko listrik, rice cooker, panci listrik, lemari pakaian, kasur ukuran double bed, kamarnya pake ac. Setelah mengamati isi kamar, aku menata pakaianku dan suami dalam lemari sementara suamiku sedang dikamar mandi. " mandi dulu gih, biar badannya seger " ucap suamiku setelah keluar dari kamar mandi. Aku masih merebahkan badanku karna terasa lelah diperjalanan. " atau kita nikmati dulu malam pertama di kamar kosan " ucapnya menggoda " ish...mas tu lagian ini masih sore " ucapku manyun " berarti kalo malem boleh ya " ucapnya sambil tersenyum " pahalanya besar lho " lanjutnya saat aku membalikkan posisiku jadi tengkurap. " makan malamnya deliveri aja ya? " tawar suamiku " boleh " jawabku sambil duduk bersandar dikepala ranjang. " pilih mau makan apa!, ntar habis pesan dek lila baru mandi " sarannya. Aku memilih menu nasi goreng sementara suami memilih mie aceh. Untuk minumnua kami memilih buat teh panas rebus sendiri. Usai mandi kami memutuskan duduk di ruang tamu khusus yang disediakan untuk tamu, selain untuk menyapa tetangga kamar yang ada juga sambil menungu kurir antar pesanan. Baru kali ini aku mengalami tinggal dikamar kos, jadi ngerasa agak canggung karna ruang gerak terasa terbatas. " mas minta maaf ya dek, kalo belum bisa memberikan tempat yang layak dari awal kita menikah " ucap suamiku sambil merengkuhku dalam pelukannya. " mungkin bener yang mas bilang, bahwa kita akan memulainya dari titik nol, eh iya mas, uang sumbangan yang kita dapat sepertinya sudah bisa kita pake buat beli tanah kavling mas " ucapku mengingatkan. " sebetulnya bisa sih, lha adek pengen punya rumah yang seperti apa? " tanya suamiku " tak perlu sebesar rumah mamih juga jangan sekecil rumah bapak " ujarku " ini mas punya referensi tentang rumah, interior dan isinya, ntar adek pilah aja mana yang sesuai " ucap suamiku sambil menyodorkan beberapa majalah desain rumah dan interiornya. " masyaAllah mas, orang tanahnya belum kebeli, " jawabku " ya bayangin dulu rumahnya mau seperti apa, ukurannya berapa, baru nanti kita tentukan butuh lahan berapa " jelasnya. Yaa..... malam ini kami sedang mulai merancang akan langkah kami ke depannya. Mas panji mengijinkan aku melanjutkan usaha rumah jahitku. Meskipun lokasi rumah jahit ada dirumah orang tuaku tapi aku masih tetap tinggal dikos. Mas panji memintaku waktu dua bulan untukku bersabar sampai mendapatkan tempat tinggal baru. Kendaraan yang merupakan kado dari kak hana sudah datang dan sudah kupake sebagai sarana transportasiku. Sementara motor lamaku masih dirumah ibu yang sekarang sering dipakai bapak. Aktifitas rumah jahitku pun masih ramai pesanan. Tak terasa pernikahanku sudah jalan satu bulan setengah. Aku dikagetkan dengan kedatangan kedua mertuaku. " maaf ya, kalo mamih datang pagi pagi, sekalian pengen sarapan bareng kalian " ucap ibu mertuaku sambil membuka rantang yang beliau bawa " wah, mamih papih, maaf kalo tempatnya seperti ini, apa sebaiknya kita makan diluar aja biar gak terasa sumpek " tawarku " papih pengen ngerasain nikmatnya makan dikamar kos yang seperti ujang banggakan itu " ucap bapak mertuaku sambil melihat suamiku. Kamipun sarapan berempat, ibu mertuaku membawa lauk semur daging dan tumis toge campur tahu putih. Aku hanya membuatkan minum jeruk panas kesukaan bapak mertuaku. Usai sarapan suamiku pamit berangkat kerja sementara aku dan kedua mertuaku mau berkunjung kerumah orang tuaku. Ibu dan bapakku sangat terkejut dengan kehadiran besannya yang datang tiba tiba. Aku sangat bersyukur memiliki mertua seperti mereka, yang tidak mau membeda bedakan stasus sosial. Kedua mertuaku baru tau kalo aku mempunyai aktifitas menjahit, jadi selama ini suamiku tak pernah cerita mengenai aku yang memiliki usaha rumah jahit. Saking senangnya ibu mertuaku minta diukur untuk membuat baju, walau bahannya nanti akan menyusul. Beliau juga memberikan arahan modelnya untuk kugambar. Karna tau akan kesibukanku beliau pamit mau kerumah teman. Akupun melanjutkan aktifitasku seperti biasanya. Sore harinya tak seperti biasa suamiku datang menjemput. Aku juga baru sadar kalo tadi waktu berangkat tidak pake motor sendiri. " lho sudah pulang, kok gak ngasih kabar? " tanyaku setelah menjawab salam suamiku. Kusambut dan kucium punggung tangannya. " iya ini tadi ada undangan dari mami suruh datang " jawabnya " acara apa mas? " tanyaku " untuk lebih jelasnya adek mandi dulu " suruhnya " tapi aku kan harus pulang dulu mas, ambil bajunya " jawabku " eh iya mas lupa, baju adek sudah mas bawa, ada dijok motor " jawabnya " Nanti habis magrib ibu bapak juga diundang untuk datang syukuran oleh mamih " ucap suamiku ke ibuku. " mbak romlah juga datang ya sama suaminya " ucap suamiku pada mbak romlah " siapa sih mas yang mau syukuran, kok diundang smua." tanyaku kepo " mamih sama papih yang mau menggelar acara syukuran." jawab suamiku " lha syukurannya dimana? " tanyaku " mamih ngasih alamat dijalan garuda nomor lima " jawab suamiku " itukan rumah baru ya, emang itu punya siapa? " tanya romlah " nah kalo itu aku juga kurang paham, tapi untuk lebih jelasnya lebih baik nanti datang aja, ya kan " jawab suamiku. Akupun mandi dan mengenakan gamis yang motifnya couple dengan suami. Usai mandi dan berbenah aku pamit sama ibu untuk berangkat dulu. Aku memboceng suamiku. Tadinya aku mau mengajak ke pasar untuk beli buah tangan. Tapi mas panji melarang katanya yang penting temui ibu dulu baru nanti lanjut mau beli apa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD