pekerja dibawah umur

2014 Words
Pagi ini ada yang aneh, biasanya setelah kumandang adzan subuh suasana dapurku akan terang karna lampu utama sudah dinyalakan, tapi ini masih lampu redup dan tidak kudapati simbok didapur. "mbok, mbook, kok tidak ada sahutan. Kuketuk pintu kamarnya hanya suara deheman saja yang kudengar. Kuputar knop pintu hingga pintu terbuka. Kunyalakan lampu terang dalam kamar, kulihat simbok menyipitkan matanya karna silau dengan cahaya lampu terangnya, badan simbok juga terlihat sedang menggigil seperti orang yang sangat kedinginan. Kutempelkan telapak tanganku didahinya, ternyata beliau sedang demam tinggi. "apa yang mbok rasakan" tanyaku "tiba tiba kepala saya rasanya pusing dan terasa berat, gak kuat bangun, badan rasanya dingin sekali, jelasnya. "ya sudah saya ambilkan obat dulu, kataku sambil berlalu dari kamar simbok. Aku kedapur menyeduh teh panas untuk simbok dan buatku sendiri, selain itu aku juga membuat kopi untuk suamiku. Aku kearah kotak P3K yang tertempel didinding dekat ruang makan. Walaupun aku seorang bidan dan punya klinik sendiri disebelah rumah tapi aku tetap menyediakan kotak P3K didalam rumah yang isinya obat darurat. Seperti salep luka bakar, betadin dan plester. Mbok jinem adalah asisten rumah tanggaku, usianya sekitar lima puluh lima tahunan. Dulu pernah kupanggil bu jinem, tapi beliau minta dipanggil simbok aja, katanya lebih nyaman dipendengarannya, selain itu juga sebagai pengganti obat kangen. Karna dirumah anak anaknya memanggilnya simbok. Simbok kerja ditempatku sekitar lima belas tahun yang lalu saat aku mulai hamil anakku yang pertama. Bagiku simbok sudah kuanggap saudara yang dituakan. Kuambilkan tablet demam yang dibutuhkan simbok sekalian kubawakan teh panas yang tadi kubuat untuknya. "mbok ini obatnya diminum dulu biar cepat turun panasnya. kusodorkan obat yang harus diminum beserta botol minumnya. "ini tehnya juga diminum, mumpung masih panas, biar badannya agak enakkan, kataku sambil menyodorkan teh buatanku. "Bu, saya minta maaf kalo merepotkan dan saya juga minta maaf kalo tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah, ucap simbok sambil memegang kedua belah tanganku. " Sudah mbok gak papa, yang penting simbok sehat dulu, jawabku sambil kuelus lengannya. "Dah, sekarang simbok istirahat dulu, biar nanti cepet sembuh. "sekarang saya mau nyiapkan sarapan buat mas harun dulu, ucapku sambil undur diri dari kamar simbok. Kopi buatanku kubawa kedalam kamar dan kuletakkan dinakas. Suamiku masih fokus sama tabletnya sambil bersandar dikepala ranjang. " piii, hari ini ada acara kemana? tanyaku sambil duduk ditepi ranjang disebelahnya. " acaranya dirumah aja, jawabnya sambil tetap fokus ditablet. "Simbok sakit, kita sarapan dadar telur aja ya ucapku sambil beranjak. " e e e gimana, gimana tadi mami mo ngomong apa? sahut suamiku sambil menaruh tablet dinakas bersebelahan dengan kopi buatanku. "yah, tadi mami ngomong dicuekin jawabku cemberut sambil duduk lagi ditepi ranjang. Suamiku beranjak duduk disebelahku sambil merangkul pundakku. " maaf tadi papi lagi fokus nyelesein laporan, kenapa, tadi ngomong apa? tanya suamiku sambil mengelus pundakku dengan tangan kirinya. " simbok demam, jadi gak bisa masak, kita sarapan sama dadar ya, jelasku sambil tersenyum. "Apapun yang istriku masak pasti aku akan memakannya, jawab suamiku sambil mengerling genit. Kami menyelesaikan sarapan dalam diam, setelahnya baru suamiku baru bicara mengenai rencana aktifitasnya dirumah. Suamiku kerja dikontraktor, lebih sering dibagian lapangan. Waktu kerjanya berubah ubah. Hari ini dia pengen menikmati istirahat dirumah. Sebelum berangkat aku mampir kekamar simbok sambil bawakan sarapan dan air minum, Alhamdulillah panasnya sudah turun, tapi kepalanya masih pusing. " ya sudah simbok istirahat saja, saya mau berangkat kerja, mas harun ada dirumah, nanti kalo ada apa apa simbok minta tolong saja sama mas harun ya ", pesenku ke simbok. " ya bu, trima kasih " jawab simbok. Kuhampiri suamiku yang sedang nyapu diteras. " pi, nanti siang papi pengen makan apa?, nanti biar mami pesen ke bu ratih sekalian diantar kerumah " tanyaku. " apa ya mi?, terserah mami aja dech pengen apa, papi ikut seleranya mami aja, jawab suamiku sambil menyenderkan sapu di sebelah pintu. " ya udah nanti mami pesen opor ayam kampung aja ya, trus nanti siang jangan lupa makan siangnya simbok sama obatnya, simbok tu paling susah minum obatnya, jadi klo pas minum obat musti ditungguin " jelasku, " mami berangkat dulu ya " pamitku sambil ulurkan tangan untuk salim ke suamiku. " eh sekalian nanti beliin pecel ya " seru suamiku. " siap boskuhh " jawabku sambil berlalu. Aku bekerja dipuskesmas yang ada dikecamatan tetangga. Jarak tempuh sekitar 25 menit dari rumah. Aku lebih suka menggunakan kendaraan roda dua. Lebih hemat dan lebih cepat menurutku. Hari ini aku beraktifitas seperti hari biasanya. Bisa terbilang santai sih, karna hari ini tidak ada pasien yang melahirkan. Hanya ada beberapa pasien yang datang untuk pasang alat kintrasepsi. Jam empat aku keluar dari puskemas. Sampai rumah masih sepi, Memang hari hari biasanya juga seperti itu, kecuali kalo sedang ada pasien bersalin yang sedang rawat inap, klinik samping garasi akan terdengar ramai karna dikunjungi keluarga pasien. Aku tidak mempekerjakan karyawan tetap, jadi setiap ada pasien yang akan melahirkan aku baru memanggil bidan vina yang akan datang membantu. Pasienku yang mau bersalin diklinikku rata rata mereka yang rutin memeriksakan kehamilan setiap bulannya kepadaku. Ada juga sih yang mendadak datang bersalin ditempatku tapi itu jarang sekali. Walau mereka rutin kontrol kehamilan setiap bulannya ditempatku, tetap kusarankan dalam periode kebamilannya untuk wajib periksa USG ke dokter kandungan. Yaaa setidaknya ada informasi yang lebih detail tentang kehamilannya. Mayoritas pasienku dari kalangan ekonomi menengah kebawah. Wajarlah ongkos periksa kebidan lebih terjangkau untuk keuangan mereka. Tapi ada juga aku benar benar menggratiskan biaya kontrol kehamilan dan melahirkan, dikarenakan kondisi eķonomi. Mungkin dengan cara begitu aku bisa berbagi dan membantu mereka. Aku hanya menangani persalinan yang diprediksikan normal. Untuk proses persalinan yang bermasalah pasien tetap kurujuk ke rumah sakit umun yang fasilitasnya lebih lengkap dan memadai. Kalo diperlukan aku juga siap antar jemput mereka. Biar mereka tidak repot mencari mobil sewa. Aku memiliki tiga anak, yang pertama perempuan masih kelas dua SMP yang kedua dan ketiga masih SD. Ketiganya aku masukkan pondok semua. Mereka kupondokkan didaerah Kudus. Hampir sebulan sekali kami menyambangi anak anakku yang dipondok. Sebagai orang tua aku memang harus menyiapkan bekal untuk mereka. Bekal tidak hanya berupa materi, tetapi ilmu juga. Bekal tidak hanya untuk mengejar dunia, tetapi bekal untuk keakhiratnya Setidaknya kelak mereka memiliki bekal ilmu agama yang lebih kuat daripada kedua orangtuanya. Kumasuki rumahku dengan mengucapkan salam, tak ada sahutan, hanya suara televisi dengan volume sedang. Aku menuju ruang keluarga, ternyata suamiku sedang tertidur. Aku langsung berlalu menuju kamar, kucuci kedua tanganku dan kubasuh mukaku. Terasa lebih segar. Kulepas seragam dinasku dan menggantinya dengan daster. Bahan yang longgar membuat diriku merasa lebih nyaman. Biasanya kalo simbok sedang sehat, pulang kerja aku akan langsung rebahan. Berhubung simbok masih sakit, aku langsung menuju kedapur, kulintasi ruang keluarga kulihat suamiku masih tertidur. Didapur lenggang tak ada aktifitas simbok. Kuketuk pintu kamarnya, setelah ada sahutan dari dalam aku masuk. Kondisi simbok agak lebih baik tak seperti yang kujumpai tadi pagi, cuma masih terlihat pucat dan lemas. " tadi siang simbok sudah makan obatnya juga diminum? " tanyaku sambil ngecek keadaan diatas nakasnya. Masih ada sisa nasi dipiring dan sisa kuah opor beserta daging ayam. Dalam penilaianku tadi siang simbok sudah makan tapi dalam porsi sedikit. Simbok hanya mengangguk dan tersenyum. " nanti malam simbok pengen makan apa? aku kok pengen beli nasi gorengnya mas didik yang diprapatan, tanyaku pada simbok. " saya kok pengen makan bakso kuah bu" jawabnya. " ya sudah, nanti habis magrib saya keluarnya" jelasku. Aku berlalu dari kamar simbok menuju lemari pendingin. Niatnya hanya mau mau ambil air mineral, tapi kulihat masih ada buah alpukat, jadi ya sekalian buat jus alpukat sekalian untuk suami. Kebetulan jus buah favoritnya suami. Setelah kubereskan peralatan didapur, aku menuju ruang keluarga sambil membawa jus alpukat, niat hati mau sambil membangunkan suami, ternyata suamiku sudah terbangun. " sudah dari tadi mi " tanya suamiku sambil mengucek mata " lumayan jawabku sambil berlalu kedapur lagi mengambil botol air mineral. Kuserahkan botol minum ke suamiku, setelahnya kuserahkan gelas yang berisi jus. " ada berita apa " tanyanya sambil menoleh kepadaku. " beritanya baik baik saja " jawabku sambil pandanganku ke arah tv. Suamiku merebahkan kepalanya kepangkuanku, dan tangan kiriku dipegangnya digenggamnya diatas dadanya. Aku membelai kepalanya sambil menunduk memandangnya. Dia memejamkan matanya dan sepertinya sedang menikmati belaianku. Yach beginilah kami kalo sedang berdua. Bagi kami rumah adalah tempat kembali yang paling nyaman. Suamiku kalo sedang ada waktu libur, dia lebih senang menghabiskan waktunya dirumah, kecuali kalo ada anak anak kumpul yang ada selalu nanyain atau menawarkan berbagai macam acara. Dari acara yang bisa dikerjakan dirumah sampai acara yang menyita waktu diluar rumah. Suamiku adalah sosok yang hangat untuk anak anaknya. " pi, nanti malam mami pengen makan nasi goreng lho, habis magrib anterin mami ya " ajakku. " ya " jawab singkat suamiku. " dah sore, mandi gih pi, ntar keburu magrib " suruhku sambil mencet mencet hidungnya. Dia mendongak sambil menjawab " mandiin ya " Begitulah kami, tinggal berdua serasa jadi pengantin baru terus. Aku juga merasa bersyukur bersuamikan mas harun. Orangnya tak pernah neko neko, orang bilang suamiku lurus lurus aja. Padahal selama menikah kami juga pernah Konflik, tapi setiap kami menghadapi konflik, kami akan mendahulukan komunikasi dan saling menjaga kepercayaan. Kalo sekiranya kami masih sama sama emosi, suamiku lebih memilih diam dan tidur. Sementara aku lebih memilih belanja ke pasar tradisional. Dengan begitu aku bisa ketemu dengan banyak orang dengan berbagai watak dan karakter. Selain itu sambil memupuk rasa syukur. Jadi saat berada dipasar pikiran serasa lega, ketemu banyak orang apalagi yang sudah kenal akan ada saling sapa, seulas senyum yang tercetak dibibir akan melunturkan emosi yang bercokol didada. Walau saat berangkat dari rumah dalam kondisi emosi, tapi bukan berarti akan kalap belanja ya. Selesai belanja aku pulang dalam kondisi emosi yang sudah stabil. Kalo sudah sampai rumah sosok suami yang lebih dulu kucari. Sama juga halnya dengan suamiku, begitu dia terbangun dari tidur marahnya pasti aku yang akan dicari dulu, ntar kalo dah ketemu trus saling pandang, saling senyum, baru beraktifitas seperti biasanya. Sementara konflik yang sedang kita hadapi akan kami bahas sebagai obrolan pengantar tidur. Malam ini akhirnya suamiku mengantarkan aku untuk beli nasi goreng, bakso pesenan simbok dan suamiku sendiri lebih memilih ayam goreng lamongan dengan nasi uduk. Saat menjelang tidur aku berbincang dengan suamiku mengenai keiinginanku menambah asisten rumah tangga. Niatku untuk membantu meringankan pekerjaan simbok. Sebenarnya sebelum ini memang ada dua orang pekerja yang tidak tinggal dirumah. Mereka warga perkampungan yang tinggal disebelah komplek perumahan. Mbak rukah dan bu sumi. Mbak rukah masuk tiap hari selain membantu simbok dia kuberi tanggung jawab untuk kebersihan klinik. Walau tidak bisa dipastikan kehadiran pasienku yang bersalin diklinikku, tapi kebersihan klinik harus selalu terjaga, biar sewaktu waktu ada pasien datang tempatnya tetap selalu bersih. Hanya pasien tertentu yang melahirkan ditempatku, karna sebagian mereka lebih senang melahirkan di puskesmas dengan memanfaatkan program jampersal dari pemerintah. Sudah dua minggu mbak rukah berhenti bekerja karna harus ikut pulang ke kampung suaminya. Sementara bu sumi atau lebih sering kupanghil bu sum, bekerja ditempatku yang datang seminggu dua kali untuk pekerjaan laundry. Disaat kuungkapkan mencari tenaga kerja baru, ternyata bu sum menawarkan keponakannya. Ya sudah kuijinkan saja untuk bekerja dirumahku. Esoknya bu sum datang dengan keponakannya. Sempat kaget juga saat ketemu dengan anaknya. Namanya kalila, dia seumuran putriku. Dia lulusan SMP, dari ceritanya dia masih punya keinginan melanjutkan sekolah tapi terkendala biaya, hingga dia punya niatan untuk kerja dulu buat ngumpulin biaya sekolah. Tersentuh juga denger ceritanya dan perjuangannya. Jadi teringat dengan putriku. Ya Allah, tak bisa kubayangkan seandainya itu putriku. Karna kalila selama ini tinggal dirumah bu sum, maka kuputuskan dia harus mau tinggal disini. Kuajukan beberapa syarat kalo mau bekerja disini, diantaranya harus jujur, rajin dan bertanggung jawab. Besaran gaji juga kusampaikan masih dibawah standar umumnya karna masih dalam masa percobaan. Saat kudiskusikan dengan suamiku, " hati hati lho mi, mempekerjakan pekerja dibawah umur, nanti bisa kena pasal" pesen suamiku. Mendengar ceritanya tadi tentang keiinginannya yang masih berkeinginan lanjut sekolah, niatku jadi berubah haluan. Sambil mengawasi dan membimbing kalila bekerja disini, aku ada rencana membiayai sekolah kalila. Dia tetap sekolah tapi tetap bertanggung jawab atas pekerjaan dirumahku. Suamiku mengijinkan, namun jangan disampaikan niatku buru buru. Katanya tunggu dulu dalam waktu dua minggu, sambil menunggu bagaimana sikap dan tanggung jawabnya terhadap pekerjaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD