Saudari jauhku

2015 Words
Kaget, senang bercampur bingung saat dapat telpon dari seberang. Namanya rani dulu kami bersahabat dekat, selain itu sebenarnya kami bersaudara kalo dilihat dari silsilah keluarga Karna neneknya rani kakak beradik dengan kakekku. Berhubung faktor keturunan yang berkembang biak, maka silsilah keluarga lama lama memudar kecuali yang masih mengikuti acara kumpulan keluarga bani hamdani. Setelah suamiku meninggal aku tidak pernah lagi mengikuti acara tersebut. Selain waktu dan keuangan, aku juga minder dengan penampilanku yang tidak bisa up to date. Aku lebih nyaman begini, jadi diri sendiri. Biarpun aku ditinggall suami tapi aku merasa tidak membebani saudara dan tidak merepotkan mereka, dan alhamdulillah aku dikaruniai anak anak yang mandiri. Biarpun sekolah mereka hanya tamatan SMA tapi mereka memahami kondisi ibunya . Dua anakku selepas SMA mereka langsung nyari kerja dipabrik atas inisiatipnya sendiri. Katanya gak papa bu kerja dipabrik dulu itung itung bisa nabung biar bisa buat modal buka usaha sendiri. Rani yang sudah lebih dari sepuluh tahun tidak ada kabar berita tiba tiba menghubungiku minta tolong mau nitip anaknya. Sekilas dia curhat kalo suaminya sangat keras hati selalu memaksa kehendak sama anaknya. Dia juga cerita anak gadis sulungnya sudah direncana mau dijodohkan sama anak temannya. Jujur rani keberatan dengan keinginan suaminya itu. Sementara anaknya masih punya keinginan untuk melanjutkan sekolah. Akhirnya tiba juga Kalila anak sulungnya rani. Dia seusia anak ketigaku. Aku dulu menikah diusia muda jadi wajar aja kalo diusia empat puluh tahun anakku sudah ada yang lulus SMA. Kusambut dia dengan penuh suka cita mengingat hubungan baik dengan ibunya kala itu. Bagiku dia kuanggap sebagai anakku sendiri. Dia anaknya ramah dan sopan. Merasa sayang aja kalo seusianya harus dipaksa menikah. Dari ceritanya kalila masih ingin melanjutkan sekolah, tapi dia gak ada biaya. Aku juga bingung kalo mau membantunya. Penghasilanku sebagai buruh tukang cuci dan gosok tidaklah seberapa, bisa untuk mencukupi kami sehari hari. Biaya sekolah sekarang mahal apalagi kalo masuk sekolah swasta. Untungnya kedua anakku sudah bekerja jadi saat adiknya mau masuk SMA mereka saling bahu membahu membayar biayanya. Selain itu rumi juga punya kerja sambilan, bantu bantu diwarung kelontongnya bu nani. Alhamdulillah hidupku dikelilingi oleh orang orang baik. Rumi kerja sepulang sekolah sampai malam, tapi selama ini dia tidak pernah mengeluh lelah ataupun tak bisa belajar. Justru rumi merasa beruntung kerja ditempat bu nani, disana dia bisa nyambi belajar. Ikut makan disanapun tidak pernah dibedakan. Beruntung rumi selepas lulus SD bisa diterima kerja ditempat bu nani, jadi selama tiga tahun dia bisa menabung untuk biaya sekolahnya. Walaupun biayanya masih dibantu oleh kakaknya tapi setidaknya tidak begitu memberatkan. Aku sama sekali tidak merasa terbebani dengan kehadiran kalila. Memang rumah peninggalan suamiku tidaklah besar, hanya ada tiga kamar tidur dan ruang keluarga yang berfungsi sebagai tempat makan juga. Kalila datang hanya membawa dokumen persiapan sekolah sama beberapa potong baju. Sementara dari ceritanya dia ingin melanjutkan sekolah. Dia bisanya masuk kesekolah swasta. Sekolah swasta itu biayanya besar, sedangkan kalila sendiri tidak ada persiapan biaya. Terus terang aja kusampaikan kalo aku tidak mampu menanggung biaya untuk masuk sekolah dan uang sakunya. Jujur kusampekan itu pada kalila agar dia tidak tersinggung dan memahami keadaanku. Aku salut sama semangatnya kalila, diusia mnginjak remaja dia sudah berani menentukan langkah untuk masa depannya. Tanpa rasa malu dia minta dicarikan pekerjaan. Aku bingung mau nyarikan kerjaan dimana, kalo dengan berbekal ijasah rendahan ya bisanya hanya buruh buruh kasar sepertiku. Ya Allah lancarkanlah urusanku hari ini dan berikanlah kemudahan untuk kalila mendapatkan pekerjaan, harap dan doaku dalam hati. Pagi ini jadwalnya nyuci dirumah bu bidan dan bu laras. Aku kerja didaerah perumahan dekat perkampungan. Dan aku punya langganan cuci gosok delapan rumah, jadi dalam satu hari aku bisa kerja tiga rumah yang berbeda. Kuawali dari rumah bu bidan dulu, seperti biasa aku langsung menuju kebelakang rumah melalui garasi tengah. Rumah bu bidan isma bentuknya seperti leter U. Kanan bangunan sebagai tempat tinggal bu bidan dan keluarga, ruangan tengah lapang sebagai garasi mobil yang muat menampung enam kendaraan roda empat, sementara bangunan sebelah kiri adalah klinik bersalin dan ruang periksa. Aku paling senang kalo mencuci di tempat bu bidan apalagi kalo ada pasien bersalin dan rawat inap. Aku akan mendapat upah tambahan dari mencuci perlengkapan klinik yang habis dipakai pasien. Seneng lagi kalo mencuci perlengkapan pasien disuruh pake mesin cuci aja, jadi lebih meringankan tugas nyuciku. Tumben sudah jam delapan lebih kondisi dapur masih sepi. Biasanya jam segini mbok jinem masih beraktifitas beberes dapur dan rumah. Kebetulan hari ini minggu jadi bu bidan libur dinas. Aku celingukan mencari mbok jinem, aneh gak ada orang tapi garasi tidak dikunci. Aku mengeraskan mengucap salam tapi tidak ada jawaban. Karna sudah biasa keluar masuk rumah bu bidan, pintu kecil samping garasi tidak dikunci, aku tetap masuk walau salamku tidak berbalas. Belum sampe aku ketuk pintu kamar mbok jinem, sosok bu bidan datang ke arah dapur. Oh bu sum sudah datang, sarapan dulu bu, ini masih ada bubur ayam satu porsi. Niatnya tadi buat simbok, tapi ternyata simbok gak doyan, dia lebih milih makan nasinya jelas bu bidan, lha mbok jinem kemana bu, kok sepi tanyaku. Mbok jinem sudah dua hari demam gak enak badan, tadi habis sarapan dan minum obat terus tak suruh istirahat, mungkin tidur karna efek obat, terang bu bidan. Terus yang masak dan bersih bersih dikerjakan siapa bu, tanyaku penasaran. Walau katanya sudah dua hari libur kerja tapi lingkungan rumah masih terlihat rapi dan bersih. Kebetulan dari kemaren bapaknya dirumah. Bapak yang bersih bersih sekalian olah raga katanya, jelas bu bidan sambil tersenyum. Kalo seumpama mbok jinem masih belum sehat apakah saya bisa ikut bantu bu, tanyaku.Sebenarnya tanpa simbok sakitpun saya tetep butuh orang lagi buat bantu simbok dan beberes diklinik jelas bu bidan. Wah, kebetulan bu dirumah saya ada keponakan dari kampung yang sedang nyari kerja, in shaa Allah anaknya rajin dan amanah. jelasku, Wah, kebetulan itu bu sum, suruh kerja disini aja, dia umur berapa? perempuan apa laki laki? tanya bu bidan. Jujur aja keponakan saya dari kampung niatnya merantau kesini untuk melanjutkan sekolah, tapi berhubung belum ada biaya, dia mau kerja dulu sambil menabung, dia perempuan bu, jelasku. Ya sudah besok ajak aja kesini, oh ya sebelum nyuci ini buburnya dimakan dulu, saya kedepan dulu, pamit bu bidan sambil berlalu dari hadapanku. Alhamdulillah aku merasa bersyukur kalila punya kesempatan untuk bekerja ditempat bu bidan. Semoga ini awal yang baik buat kalila. Walau dia bukan putriku tapi bagiku dia sudah kuanggap sebagai putriku, apalagi dia juga putri dari saudari jauhku yang merangkap sebagai sahabat dekatku. Setelah menghabiskan bubur ayam pemberian bu bidan, aku lanjut melakukan pekerjaanku. Mencuci seragam dinas punya bu bidan dan kemeja punya suaminya. Sementara untuk selimut dan pakaian harian kucuci dengan bantuan mesin cuci. Selesai nyuci kulanjutkan menggosok cucian yang sudah kering tiga hari yang lalu. Setelah beres dengan pekerjaanku, aku berniat untuk menjenguk mbok jinem. Karna pintu kamar mbok jinem terbuka sedikit, aku melongokkan kepalaku kedalam, agak terkejut juga diriku, ternyata bu bidan sedang didalam menyiapkan makan dan obat untuk mbok jinem. Oh, maaf bu bidan saya kira mbok jinem sedang tidur kataku, saat bu bidan menoleh menyadari kehadiranku. Ini lho simbok harus dipaksa makan dan minum obatnya biar cepat sembuh, nanti kalo sampe besok belum ada perubahan sembuh ya terpaksa harus diinfus, bu bidan memberiku penjelasan. Kulihat mbok jinem masih agak pucat, tapi masih sempat mengulas senyum melihat kehadiranku. Bu sum sudah mau pulang? tanya bu bidan. Iya tapi mau njenguk mbok jinem dulu jawabku. Ya sudah, ini simbok sudah makan dan minum obat dan sekarang saya tinggal dulu ya, pamit bu bidan. Masya Allah senengnya punya majikan sebaik dan seperhatian itu sama pembantunya. Selama hampir lima tahun aku bekerja sama bu bidan, aku belum pernah merasa direndahkan, beliau selalu santun. Aku juga belum pernah denger mbok jinem cerita tetang prilaku buruk majikannya. gimana mbok kabarnya? tanyaku sambil duduk dipinggir kasurnya sebelah kakinya yang selonjoran. Ya seperti ini sum, masih sedikit pusing, tapi sudah turun panasnya, sudah mendingan daripada kemaren terang mbok jinem. Gak tau kenapa kemaren bangun tidur kepala kok tiba tiba terasa berat trus mata rasanya kok panas, bersyukur banget selama ini aku ikut ibu, biarpun aku disini kerja sebagai pembantunya tapi kalo aku sedang sakit beliau selalu memperlakukan aku seperti keluarganya. Ya kayak gini selalu dipantau jadwal makan dan minum obatnya, kemaren ibu dinas, kupikir dirumah nggak ada orang, tapi ternyata bapak dirumah, ya akhirnya bapak yang nyiapin, cerita mbok jinem. Karna mbok jinem juga butuh istirahat, aku pamit langsung lanjut kerumah bu laras. Bu laras punya toko sembako dipasar jadi tiap hari bu laras ke pasar. Kadang siang juga pulang ke rumah. Kalo bu laras jualan rumah sering kosong, anak anaknya sekolah. Sementara aku nyucinya dibelakang diluar rumah, kebetulan dibelakang disediakan ruang cuci gosok sendiri. Biarpun bu laras tak dirumah aku masih bisa melakukan pekerjaanku. Gerbang rumahnya pun hanya dikunci slot. Biarpun pekerjaan nyuciku pake tangan tapi rata rata majikanku tetap punya mesin cuci juga. Aku hanya memilah mana yang harus dikucek dan mana yang harus masuk mesin. Tapi aku tetap bersyukur mungkin dengan cara begitu Allah memberiku rejeki yang halal. Aku memilah pakaian yang mau kucuci. Sebagian kurendam untuk kukucek dan sebagiannya lagi kumasukkan mesin cuci. Sebelum mengerjakan pekerjaan selanjutnya, aku melaksanakan sholat dzuhur dulu. Seperti hari biasanya aku kalo berangkat kerja selalu bawa tas cangklong untuk wadah mukena dan bekal. Kadang bekal yang kubawa habis kumakan, tapi kadang juga dibawa pulang masih utuh. Kadang kalo sedang rejekinya bisa dapat makan gratis, tapi tidak setiap hari. Makanya tiap hari selalu bawa bekal biar hemat waktu. Dari pada istirahat pulang kerumah mendingan istirahat ditempat kerja aja. Selesai sholat dan makan menghabiskan bekalku terus lanjut ke cucian. Walau lelah tetap kunikmati dan kusyukuri. Kudengar suara anak anak bu laras sudah pulang sekolah. Bu laras mempunyai dua orang putra yang masih sekolah SD dan SMP. Anaknya yang SD biasanya diantar jemput oleh ayah atau ibunya. Bu laras mengelola toko dengan suaminya, jadi kalo jam pulang sekolah dijemput oleh salah satunya. Kalo anaknya yang SMP sekolahnya bawa motor sendiri. Kalo sudah ngantar anaknya bu laras atau suaminya akan kembali kepasar dan pulang dari pasar sekitar jam lima sore. Tugasku hanya nyuci dan gosok, jadi kalo pekerjaanku sudah beres aku langsung pulang tanpa harus menunggu tuan rumah. Untuk upah biasanya kuambil perminggu. Sementara perhitungan upah tergantung seberapa banyak cucian atau menghitung seberapa banyak orang dirumah yang menggunakan jasaku. Misalnya dirumah bu laras ada empat orang, maka aku dapat upah empat puluh ribu sekali berangkat. Rata rata mereka mintanya aku datang setiap tiga hari sekali. Pekerjaan ditempat bu laras selesai sebelum jam lima sore. Transportasiku mengandalkan sepeda onthel peninggalan suamiku. Jarak tempuh perumahan dan perkampungan tempatku tinggal sekitar tiga kilometer. Kalo langsung pulang tidak sampai lima belas menit aku tiba dirumah. Tapi lebih sering sebelum pulang aku mampir dulu diwarung beli sayur dan lauk untuk makan malam dan buat bekal besok. Aku membeli dua ikat kangkung, telur dan tempe. Terbayang putraku rian yang paling suka kalo kumasakkan tumis kangkung, makannya bisa nambah. Sampai rumah kuucapkan salam, salamku dijawab oleh kalila dan rian. Rian beranjak dari tidurannya didepan televisi, menyambutku dengan senyum manisnya, dia mengulurkan tangan dan mencium punggung tanganku. Kalila juga ikut mengulurkan tangannya ikut mencium punggung tanganku. Awalnya kalila agak canggung tapi sekarang sudah terbiasa. Kutaruh belanjaanku dimeja dapur, kalila mengikutiku. Ini dimasak untuk kapan bude? tanyanya, oh iya bude mau masak tumis kangkung sama goreng tempe, lila bantu potongin sayurnya dan irisin tempenya, bumbunya diiris aja, trus tempenya dipotong seperti ini ya, aku menjelaskan sambil menyiapkan seberapa banyak bumbu yang mau dipake. Ya udah bude mandi dulu, habis itu nanti kita masak, pamitku sambil berlalu dari dapur. Usai mandi aku melanjutkan masak untuk makan malam. Sambil masak aku teringat tawaran pekerjaan buat kalila ditempat bu bidan. Kuutarakan tawaran kerja dirumahnya bu bidan dan kalila menyambutnya dengan antusias. Ya Allah, mudah mudahan bu bidan berkenan dengan hasil kerjanya kalila doaku dalam hati. Selama tinggal dirumahku kalila yang beberes dan nyuci. Hasil kerjaannya juga tidak mengecewakan. Dia juga tidak sungkan untuk nyucikan pakaian kami serumah. Biasanya sebelum ada kalila kegiatan beberes rumah dan nyuci dikerjakan sama rumi. Tidak heran kalo menjelang subuh rumah kami sudah sibuk beraktifitas. Aku berjanji sama kalila besok akan mengantarnya menemui bu bidan isma.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD