Sesuai janjiku dengan kalila, aku akan memberinya jatah uang saku tiga ratus ribu sebulan. Uang sakunya kuberi tiap minggunan. Sementara sekarang sudah genap sebulan kalila tinggal dirumahku. Sesuai perjanjianku aku harus menunaikan kewajibanku memberikan apa yang sudah menjadi haknya kalila.
Usai makan malam kalila kupanggil, kuserahkan uang lima ratus ribu, aku juga berpesan dia untuk membuka buku tabungan dengan menggunakan kartu pelajar sebagai identitasnya. Untuk gajinya simbok sudah langsung kumasukkan ke nomor rekeningnya. Simbok juga bisa mengecek langsung ke nomornya. Selain gaji bulanan simbok akan kuberikan uang isentif saat aku ada pasien yang bersalin diklinikku. Karna saat ada pasien yang bersalin simbok yang bertanggung jawab terhadap menu makanan pasien. Sementara untuk kalila aku tidak memberikan bonus, karna aku bertanggung jawab terhadap biaya sekolahnya yang harus kubayar tiap bulannya.
Aku terlahir sebagai anak tunggal begitupun suamiku. Ayahku sebagai PNS yang dinas dikecamatan daerah magelang. Sedangkan ibuku hanyalah sebagai ibu rumah tangga yang rajin bercocok tanam. walaupun aku anak tunggal aku tidak pernah merasa kesepian. Rumah yang ditempati orang tuaku besar, peninggalan dari orang tua ibuku. Ibuku empat bersaudara dan ketiga saudaranya sudah memiliki keluarga dan tempat tinggal sendiri. Selama ini orang tuaku tinggal bersama asistennya. Satu keluarga asistennya diberdayakan semua oleh ibuku. Pak kartubi bertugas sebagai tukang kebun dan istrinya yang bertugas membantu pekerjaan rumah. Ibuku juga membiayai sekolah anak pak kartubi dua orang. Ibu juga punya beberapa orang pekerja yang mengolah kebun sayur.
Seperti biasa rutinitas bulananku. Aku akan meluangkan waktu liburku tiga hari. Bukan pengajuan cuti sih, tapi jam kerjaku yang dirapel. Aku dan suami ada jadwal khusus mengunjungi anak anakku dipondok daerah kudus jawa tengah. Sambangan pondok. Jadwal sambangan pondok dibuka hari sabtu dan ditutup hari ahad.
Hari ini kami mengunjungi sulungku salma. Para wali santri sudah berkumpul dihalaman. Hanya orang tua yang wanita saya yang diijinkan untuk masuk kekamar asrama. Aku menuju ke meja panitia untuk melaporkan kunjungan dan sekalian meminta ijin mengajaknya keluar untuk bermalam. Setelah bertemu dengan putriku akupun membantunya berkemas untuk keluar. Sementara suamiku menunggu dikendaraan diluar gerbang.
" assalamualaikum cantiknya papi " sambut suamiku sambil mendekap salma. Dia menciumi puncak kepalanya yang tertutup jilbab
" walaikumsalam pi, papi sehat kan? " tanya salma riang
" alhamdulillah selalu sehat biar bisa nyambangi kamu " jawab suamiku
Sambil tanya jawab dengan salma, kami lanjut menyambangi putra kami yang kedua dan ketiga. Surya dan Bintang kami memberinya nama. Sesuai prosedur kami laporan kepanitia sambangan. Kebetulan surya dan bintang kami pondokkan ditempat yang sama. Kali ini walisantri keduanya diijinkan untuk masuk ke kamarnya anak anak. Sebelum mengajak mereka keluar untuk bermalam, kami akan menemui ustad pendamping anak anak terlebih dahulu. Biasalah pasti pertanyaan seputar anak anak, tentang kemajuan hafalan, dan prilaku. Saat bertemu dengan ustadnya sibungsu, beliau juga menceritakan bahwa sudah tiga hari bintang demam. Tapi saat kami ketemu demamnya sudah hilang, hanya masih kelihatan ngantuk dan lemas.
Setelah keluar dari dalam pondok, dimobil kami akan mengadakan rapat kecil terlebih dahulu untuk melanjutkan langkah selanjutnya.
" akan nginep dimana kita?" tanya suamiku
" surya kok pengen pantai lho pi " usulnya
" mbak? " tanya suamiku
" pantai juga oke " respon suamiku
" kalo adek? tanyaku ke bungsu
" adek cuma pengen tidur, kepala adek pusing" sahut bintang
" adek kalo capek dan pusing pindah duduk depan aja, biar mami pindah kebelakang " tawarku
Akhirnya bintang pindah duduk samping kemudi dengan jok yang agak direbahin.
Kami memutuskan untuk mencari penginapan dekat pantai agar mereka puas bermain dipantai. Tujuan kami pantai jepara, teluk awur tepatnya. Sepanjang perjalanan anak anak saling bercerita tentang kegiatan pondoknya, selain itu salma dan surya juga bermain sambung ayat. Rasanya senang melihat keceriaan mereka.
Saat menjelang magrib kami berhenti disalah satu masjid dekat alun alun jepara. Kebetulan aku sedang berhalangan sehingga aku memilih tetap didalam mobil diarea parkiran sekitar alun alun. Bintang kubangunkan, setelah kupegang ternyata badannya panas. Suami dan kakaknya bintang kuminta segera bergegas menunaikan sholat. Sementara aku menemami bintang dimobil. Kusuruh bintang minum banyak air putih biar tidak dehidrasi. Bintangpun enggan berbicara karna bawaannya ngantuk.
Usai mereka menunaikan sholat magrib aku mengajak suamiku mencari apotik terdekat.
" pi, coba cari apotik terdekat lewat aplikasi, biar gak bingung " pesenku ke suami
" panas banget ya dek? " tanya suamiku sambil mengusah dahinya bintang yang panas.
" iya nich, kita beli obat dulu setelah itu cari makan " ucapku
" pi, nanti kita mampir ilfamart ya, aku pengen beli sosis yang viral " reques surya
" adek pengen apa? " tanya surya
Kami mampir ke ilfamart dulu beli air mineral dan jajanan keinginan anak anak dulu.
Aku yang turun sama salma dan surya, sementara suamiku tetap dimobil menemani bintang. Aku mengambil roti tawar, s**u coklat, beberapa botol air mineral, minuman pengganti ion tubuh, dan beberapa jus jambu dalam kemasan kotak. Salma dan surya mengambil beberapa jenis makanan ringan. Kami menuju kasir melakukan pembayaran.
Kami kembali lagi ke mobil dan lanjut menuju apotik. Sampai diapotik aku membeli sirup penurun panas dan tablet vitamin.
Sebelum meninggalkan alun alun, kami mencari makan malam. Kali ini tenda lamongan yang ada lesehannya yang menjadi pilihan kami. Kami turun semua, sementara bintang digendong ayahnya.
" bintang minum sirup dulu ya nak " aku duduk didekat bintang.
bintang nurut buat minum sirup. Pelayan datang untuk mencatat pesanan. Suamiku dan salma pesan ayam kampung, surya dan bintang memilih lele. Sedangkan minumnya sepakat pesan jeruk panas semua.
Saat hidangan sudah tersaji ternyata bintang mogok makan.
" mi, mulutku rasanya pahit buat makan " ucap bintang
" itu karna sedang sakit, imunmu sedang berperang lawan penyakitmu, kalo adek gak mau makan nanti yang menang ya penyakitnya, soalnya imun tubuh adek itu perlu tenaga, lha nanti kalo gak ada tenaga yang kalah ya imunnya, " jelasku panjang lebar
" sini mami suapin, dikit dikit gak papa yang penting ......sering " rayuku
" ya sama aja banyak lah mi" protes surya
" bedalah pe ngu ca pan nya" jawab salma dengan jeda.
Aku nyuapi bintang dengan telaten sambil aku makan sendiri.
" adek papi suapin ya, biar mami makan sendiri " tawar ayahnya
Bintang hanya menggelengkan kepala tandan menolak tawarannya.
" ya udah deh, papi yang nyuapin mami aja " lanjut suamiku sambil menggeser piringku
" yaaa segitunya papi, mami kan bisa makan sendiri " protes surya
" lho ini salah satu bentuk kerja sama yang solid, iya kan mi " jawab suamiku minta dukungan.
" mi adek dah kenyang" ucap bintang menolak suapanku
" ya udah, lelenya aja dihabisin ya " saranku setengah memaksa.
Akhirnya selesai sudah kami makan malam dan lanjut cari penginapan. Kami memang sengaja tidak pesan melalui aplikasi, hingga kami dapat penginapan yang dekat pantai. Kami memesan dua kamar kebetulan kamar yang kami tempati ada pintu penghubungnya. Jadi kalo tidak perlu repot kalo kami ingin berkomunikasi. Satu kamar ditempati ayahnya dan surya sementara satunya lagi ditempati kami bertiga. Selesai kami meletakkan barang suamiku mengajak kami untuk sholat isya berjama'ah. Panas badannya bintang perlahan menurun, diapun kembali tidur.
Suara adzan shubuh berkumandang, kami bangun dan melaksanakan sholat berjamaah. Bintang masih mengeluhkan pusing jadi aku menyarankan untuk sholat dalam kondisi berbaring. Aku membantunya untuk melakukan tayamum.
Usai kami sholat, suamiku mengajak anak anakku untuk lari pagi menyusuri pantai. Aku memilih tetap tinggal dikamar menemani bintang.
Mengamati demamnya bintang aku timbul rasa kuatir. Habis sarapan aku harus cepat cepat mengambil tindakan.
" pi, ini bintang perlu dicek kelaborat deh, panasnya naik turun bawaannya lemes " ucapku disaat suami mau masuk kamar mandi.
" iya tadi papi sudah diskusiin sama anak anak, habis sarapan kita chek out aja " jawab suamiku
Alhamdulillah, gumamku dalam hati, setidaknya pengertian mereka mengurangi rasa bersalahku karna harus memangkas waktu bermain mereka.
Selesai kami berkemas kamipun sarapan dipenginapan.
" mami minta maaf kalo mami harus memutuskan waktu liburan kalian " ucapku didepan suami dan anak anak
" gak papa mi, liat kondisi adek yang butuh perawatan, kami masuk pondok duluan aja mi, ucap salma.
Surya pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. Kami berlanjut menuju arah kudus, sekitar satu jam lebih kami baru sampai kota. Hari minggu jalanan lumayan lenggang jadi arus lalu lintas berjalan lancar.
Tujuan kami mencari klinik yang buka praktek dihari minggu, setelah sampai suamiku langsung melakukan pendaftaran aku memangku bintang duduk diruang tunggu. Antrian pasien lumayan panjang. Salma dan surya berdiri ditepian kursi ruang tunggu karna semua tempat duduk telah penuh.
" mi, antrinya masih lama tadi dapat nomor tiga puluh sementara yang masuk baru nomor lima " ucap suami menjelaskan.
" ya udah gak papa kita tunggu aja" jawabku
" mbak sama mamas gimana?, mau diantar papi balek pondok sekarang? " tawarku
Anak anakku serempak mengangguk dengan lesu.
" ya udah, sekarang papi antar belanja dulu ya" pamit suamiku.
Setiap bulan kami menyambangi mereka dan setiap sambangan pasti ada acara shoping bareng. Karna moment lagi gak tepat, akhirnya mereka ngalah belanjanya diantar sama ayahnya aja.
Bintang hanya mengeluhkan pusing dan ngantuk aja. Suhu badannya naik turun. Sekitar dua puluh menit nama bintang dipanggil untuk cek laborat dengan pengambilan sampel darahnya dan tiga puluh menit baru keluar hasil laboratnya. Ternyata bintang kena gejala DB dan trombosit darahnya turun dibawah normal. Hari itu juga dapat surat rujukan untuk melakukan rawat inap. Kamipun memutuskan membawa bintang pulang.
Setelah selesai dengan acara belanja dengan mereka, kamipun dijemput dan lanjut mengantarkan salma balek pondok.
" adeeeek, cepet sembuh ya, " ucap salma sambil menciumi adeknya.
Kamipun saling berpelukan sebelum meninggalkan area tempat pondoknya salma.
Kami lanjut mengantarkan surya balek pondok sekalian meminta ijin untuk bintang menjalani perawatan dirumah.
Kami lanjut pulang kerumah, tetapi kami harus mampir dulu kerumah orang tuaku. Sudah jadi kewajiban bagi kami untuk mengunjungi orang tua dan mertuaku secara berganti. Terkadang di moment moment tertentu kami juga akan mengunjungi mereka disela kesibukan kami.
Orang tuaku cukup terkejut melihat kondisi cucunya, Karna bintang sakit kamipun mampir sebentar hanya untuk melepas kangen. Sekitar satu jam kami mampir dirumah orang tuaku sekalian suamiku mengistirahatkan badannya. Kebetulan tadi siang ibu habis panen sawi kentang dan wortel, jadi sebagian hasil panennya disuruh aku bawa.
Dirasa cukup istirahatnya, kamipun lanjut pulang kerumah. Aku juga sudah mengabari simbok untuk mempersiapkan kamar bintang. Karna kalo tidak ditempati, kasurnya tidak kupasang spre.
Jam satu dinihari kami tiba, simbok dan kalila menyambut kedatangan kami. Setelah memastikan bintang sudah nyaman di kamarnya, aku memanggil kalila untuk membantuku membawa tiang infus ke kamar bintang. Sementara aku harus mempersiapkan perlengkapan infus yang akan aku pasang untung bintang.
Disaat bintang sedang sakit begini, ayahnya akan selalu didekatnya.
Aku memasang infus dibantu suami. Setelah semua terpasang dengan baik, aku menyuruh kalila untuk lanjut tidurnya karna besok diapun harus sekolah.
Suami memutuskan tidur disofa depan tv, sementara aku tidur dikamar bintang.
Paginya alhamdulillah kondisi bintang sudah lebih baik dari kemaren. Dia minta dibuatkan bubur, katanya lapar. Akupun minta tolong simbok untuk memasaknya. Sebelum berangkat kerja, aku mengambil sampel darahnya bintang untuk dicek dilaborat. Ingin melihat jumlah trombositnya.
Pagi ini aku tetap harus masuk seperti hari biasanya sementara suamiku memilih ngantor dari rumah sehingga bisa kuandalkan untuk menjaga bintang. Setelah sarapan dan memastikan infus dan yang lainnya dalam kondisi baik aku lanjut pamit kerja, aku akan ijin pulang tengah hari. Aku juga sudah pesan kalila untuk langsung pulang jika sekolah telah usai.
Walau sudah ada suami yang bisa diandalkan untuk menjaga anak dirumah, hati seorang ibu tetap tak bisa tenang kalo belum berada didekatnya.
Sampai puskesmas aku menyerahkan sampel darahnya bintang ke bagian laborat. Jadi nanti sebelum pulang aku sudah tau laporannya.
Saat jam istirahat makan siang aku ijin untuk pulang cepat dengan alasan anak sakit. Selain itu aku juga mesti mengganti cairan infusnya. Mudah mudahan dalam waktu dua hari bintang sudah sembuh.
Sebelum pulang, aku mengambil hasil laporan dari laborat. Alhamdulillah sudah ada kenaikan trombosit secara signifikan. Artinya nanti malam infusnya sudah bisa dilepas.
Setelah sampai rumah dan berganti pakaian aku menuju ke kamar bintang. Rupanya ayah dan anak kompak tidur sambil berpelukan.
Melihat kondisi bintang yang sudah membaik, setelah habis makan malam, infusnya aku lepas.
Sekarang tinggal waktunya pemulihan. Badannya harus benar benar sehat sebelum kembali kepondok.
" mi, mbak yang tadi pagi siapa? " tanya bintang
" Ooo itu mbak kalila yang tinggal disini bantuin mami" jelasku
" bantuin mami kok sekolah " tanya bintang penasaran.
" ya karna mbak lilanya masih seusia sekolah, jadi kalo lagi gak sekolah ya bantuin mami diklinik " jelasku
We time dulu ah cuma dengan bintang untuk memangkas rinduku.