Selesai jam sekolah berakhir aku lansung membenahi peralatan sekolahku.
" buru buru amat lil " tanya rumi heran
" iya nih, tadi dipesem ibu harus segera pulang " jawabku
" lagi ada pasien " tanyanya
" iya lagi ada pasien cilik " jawabku
" maksudnya " tanya rumi meminta penjelasan
" semalem bintang putranya bu bidan pulang dari pondok karna sakit, dan sekarang sedang diinfus dirumah " jelasku
"ooo.... gitu, ya udah ayo biar kita cepet dapet angkotnya " ajak rumi
Biasanya kami akan santai saja menunggu angkot yang agak longgar penumpangnya. Soalnya kalo ingin mencari yang tercepat sampai, walau bangku angkot sudah penuh tetep aja diisi penumpang bahkan ada yang rela jongkok disela sela ruang bangku. Seperti kali ini pak kernet tetep masukin aja nawarin penumpang untuk ikut naik walau sudah tidak ada bangku yang tersisa. Ternyata bukan hanya aku yang ini cepat sampai rumah, temen temen yang lainnya juga punya tujuan yang sama, apalagi rumah mereka ada yang jauh dan harus dua kali ganti kendaraan umum.
Sampai dirumah ternyata bu bidan sudah ada, Seperti biasa aku mashk rumah dengan mengucap salam san mencium punggung tangan bu bidan. Bu bidan dan bintang sedang duduk diruang keluarga mereka nonton tv. Dari aku masuk rumah sampei salim tangan bu bidan, bintang mengamatiku. Dia juga mengulurkan tangannya untuk salim juga. Aku menyambutnya.
" gimana dek, sudah sehat " tanyaku
" alhamdulillah sudah, infusnya juga sudah dilepas sama mami " jawab bintang sambil menunjukkan plester di punggung tangannya.
" ya sudah, mbak lila ganti baju dulu ya " pamitku
" lil... " bu bidan memanggilku ketika aku sudah beranjak dari ruang tengah.
" iya bu " jawabku sambil berhenti dan menoleh ke bu bidan
" tadi ibu belanja obat, nanti kalo sudah istirahat tolong obatnya disusun dikotak obat ya " pinta bu bidan.
" baik bu " jawabku
Sampai belakang kulihat dapur sepi, aku lanjut ke kamar untuk ganti baju. Usai ganti baju aku keluar mau mencari mbok jinem, karna dikamar juga tidak ada.
Aku pun mencari ke kebun belakang. Mbok jinem kalo ada waktu senggang lebih seneng menghabiskan waktunya dikebun belakang.
" mbok, mbok " panggilku sambil masuk ke area kebun sayur
" disini " jawab mbok jinem sambil berdiri.
" kamu dah pulang tho!, ada apa cari simbok " tanyanya
" kangen aja, kalo pulang sekolah gak liat simbok " jawabku sambil tersenyum
" ada ada aja kamu ini, " sahut simbok sambil mencebikkan mulutnya.
Simbok lanjut memetik kangkung
" kok kangkungnya cuma dikit mbok " tanyaku sambil liat isi keranjang
" ini hanya untuk campuran aja, simbok mau buat bubur manado untuk pasien cilik " jelas simbok
" pasien cilik siapa mbok, " tanyaku penasaran
" ya siapa lagi kalo bukan bintang " jawab simbok sambil terkekeh.
Kulihat dikeranjang sudah ada pucuk ubi dan kangkung. Kata simbok itu sudah cukup dan kami kembali kerumah. Aku membantu simbok menyiangi pucuk ubi, sementara simbok lanjut membuat bubur manado. Usai dengan pekerjaan didapur aku mengerjakan pesanan ibu untuk menata obat obatan. Tak memakan waktu lama pekerjaanku sudah selesai.
Sudah dua hari bintang ada dirumah, kondisinya sudah membaik. Ternyata dia anak yang rame. Rasanya seru kalo bintang masuk ke dapur karna suka ngerecokin pekerjaannya mbok jinem. Kadang simbok sampe gemes. Kayak tadi saat simbok lagi goreng ikan nila, bintang datang, dia meminta satu, setelah diambilkan lalu dimakan. Daging ikan nila sudah bintang makan, yang tersisa duri dan kepalanya. Tiba tiba dia mendekati simboķ.
" mbok nitip gorengin ini ya " pinta bintang sambil menyerahkan duri ikan yang utuh dengan kepalanya.
" lho, dah gak ada dagingnya kok digoreng " protes simbok
" durinya biar krispi mbok " balas bintang
" lha terus kalo sudah digoreng siapa yang makan " protes simbok lagi
" kan ada kucing " jawab bintang sambil tertawa
Sudah terlanjur dimasukkan ke penggorengan sama bintang dan dengan terpaksa simbok menyelesaikannya.
Saat menjelang makan malam, bintang heboh mencari duri ikannya.
" lho katanya buat kucing, kok dicariin sih dek," tanyaku saat bintang ke dapur menanyakan duri ikannya.
" akukan penasaran mbak, durinya yang krispi masih bisa dimakan enggak? "
" untung belum dikasihkan kucing beneran " jawabku.
Bintang sangat girang saat durinya bisa dimakan. Katanya biar tulangnya kuat kalo banyak makan tulang ikan. Kamipun tertawa berjama' ah.
Karna kondisi bintang benar benar sudah sehat, besok bu bidan dan pak harun akan pergi lagi mengantarkan bintang balek pondok.
Baru ada bintang dirumah, sudah membuat suasana rumah rame, apalagi nanti kalo mereka liburnya barengan.
Akhirnya hari itu datang juga, bintang harus balik pondok untuk menuntut ilmu. Bintang pamitan sama dengan mencium punggung tangannya. Mbok jinen juga ngasih uang saku ke bintang, aku gak tau berapa yang jelas uangnya digulung menjadi gulungan kecil kayak rokok. Setelah selesai berpamitan, mereka berangkat. Kulihat simbok meneteskan air matanya.
" kenapa simbok tangisi, kan dek bintang mau menuntut ilmu " ucapku
" mbok sedih lil, bintang baru aja sembuh dari sakit, dirumah juga cuma tiga hari, rasanya belum sembuh rasa kangen sudah harus pergi lagi " jelas simbok
Rumah terasa lenggang lagi. Ketemu bintang cuma tiga hari, rasanya masih seperti mimpi. Masih terasa dia berlarian kebelakang menuju dapur hanya untuk membuka lemari pendingin dan nyuwil makanan yang disimpan didalamnya.
Masih terdengar saat dia murojaah setoran hafalan ke ibunya. Entah kapan lagi aku bisa ketemu bintang.
Tapi kata mbok jinem setiap bulan puasa menjelang lebaran, bintang dan kedua kakaknya pasti pulang.
Aku tetap menjalani aktifitas sekolah seperti biasa. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu,. Kini aku sedang menghadapi ujian semester. Rutinitas harianku agak berubah selama menjalani ujian. Biasanya jam lima sore sampai malam aku akan membantu bu bidan diklinik. Tugasku dimeja pendaftaran. Biasanya sih aku bisa nyambi baca baca buku pelajaran kalo pasien sedang longgar. Untuk kali ini selama ujian bu bidan mengijinkan aku untuk belajar saja. Yang diklinik ditangani bu bidan sendiri.
Semoga hasil ujian ini tidak mengecewakan, doaku dalam hati. Sebelum menjalani ujian aku juga sudah menghubungi ibu dirumah. Aku hanya meminta doa restunya agar dimudahkan mengerjakan ujian.
Ibuku sangat senang sekali saat tau aku bisa melanjutkan sekolah, beliau sampai menangis haru, bahkan tak henti hentinya beliau mendoakan bu bidan sekeluarga diberi keberkahan umur dan rizki.
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa menyelesaikan ujian dengan lancar. Aku mendapatkan rangking dua. Sementara rangking pertama dipegang oleh rumi. Sama sekali pencapaian diluar dugaanku. Tak kusangka bu bidan dan pak harun menyambut baik pencapaianku. Bahkan diluar dugaanku, bu bidan mengajak kami makan diluar.
Libur semester pun telah tiba, sayangnya aku tak bisa seperti mereka yang sudah punya rencana berwisata.
Pagi ini tak seperti biasanya pak karta sudah datang kerumah. Pak karta datang bersama istri dan anaknya menggunakan sepeda motor, tapi sama bu bidan langsung diarahkan ke klinik. Saat itu aku baru selesai membersihkan ruangan klinik. Aku membantu bu bidan membawa perlengkapan medis ke kamar bersalin. Ternyata anaknya pak karta yang seumuran bintang mengalami demam tinggi. Bu bidan melakukan tindakan dan anak pak karta yang bernama samsul akan menjalani rawat inap. Usai membantu bi bidan dengan pasien barunya aku lanjut kedapur membantu mbok jinem.
" mbok, minta tolong nanti dibuatkan menu makan pasien untuk tiga orang ya " pesen bu bidan
" iya bu" jawab mbok jinem
" lauk dikulkas untuk rumah dan klinik masih ada mbok? " tanya bu bidan lagi
" mungkin untuk hari ini saja bu " jelas mbok jinem
" ini uang belanjanya mbok, simbok ajak kalila aja buat bantuin bantuin, mumpung libur juga " saran bu bidan
" iya bu " jawab mbok jinem.
Aku mengantarkan makanan dikamar pasien. Pak karta sedang menonton tv diruang tunggu sedangkan istrinya sedang duduk ditepi ranjang menunggui anaknya yang sedang sakit.
" kamu pembantu baru disini ya " tanya bu karta tiba tiba saat aku menyajikan makanan di meja yang ada dikamar pasien
" iya bu " jawabku sopan
" berapa gaji sebulanmu disini " tanya bu karta agak sinis
" maaf bu, mungkin sabaiknya ibu tanya bu bidan saja " jawabku dengan hati mencelos
Setelah meletakkan makanan, akupun beranjak keluar dengan badan gemetar hati yang tiba tiba terasa nyeri.
" sudah selesai lil? " tanya mbok jinem membuyarkan lamunanku
" eh sudah mbok, " jawabku
" gimana sikap istrinya si karta itu ke kamu?" tanya mbok jinem tiba tiba hingga membuatku kaget
" maksud simbok " tanyaku lagi
" istrinya si karta kan terkenal judesnya, makanya simbok males menemuinya " jelas simbok.
" tadi biasa aja sih mbok " jawabku
" ya sudah siap siap sana, temani simbok kepasar " perintah simbok
Aku pun mengangguk dan berlalu dari hadapan mbok jinem untuk berganti pakaian.
Sebelum berangkat aku ke klinik menemui pak karta untuk pamit. Kalo biasanya klinik sedang kosong kami akan mengunci semua akses pintu. Sedangkan kalo ada pasien mbok jinem kepasarnya nunggu kalo ada orang di rumah. Biasanya sih kalo ibu pergi dinas akan ada bidan vina yang berjaga diklinik.
Kami kepasar naik bentor atau becak motor, ongkosnya cuma lima ribu. Sampai dipasar mbok jinem memilih beberapa macam sayuran yang tidak ada dikebun belakang dan bumbu dapur. Begitu juga saat masuk ke los ikan dan daging. Mbok jinem akan memilih beberapa jenis ikan dan udang. Aku membantu mbok jinem membawa belanjaan. Mbok jinem juga membeli beberapa macam buah kesukaan bu bidan dan pak harun. Mbok jinem menawariku beli jajan, dan pilihanku sate ayam madura. Usai belanja kamipun pulang dengan menumpang bentor lagi.
Sampai dirumah mbok jinem bergegas masak untuk pasien. Walaupun pasiennya cuma satu, mbok jinem tetap membuat variasi menu disetiap penyajiannya.
Aku berganti pakaian dan setelahnya membantu mbok jinem di dapur. Aku memilah milah sayuran dan kumasukkan dalam wadah kemudian disimpan di lemari pendingin. Aku juga memberihkan semua ikan dan udang untuk kemudian kumasukkan dalam beberapa wadah dan disimpan di lemari pembeku.
" lila ini sudah siap, yuk anterin kesana sekalian simbok njenguk anaknya pak karta " ajak mbok jinem
Aku menjawab dengan anggukan, kemudian membawa baki makanan dan diantarkan ke kamar inap.
Kami masuk dengan mengucap salam, tidak ada sahutan, yang kudengar hanya suara tv. Ternyata pak karta sedang tidur dibangku panjang yang terletak diruang tunggu. Istri pak karta dan anaknya juga sedang tertidur berdampingan dengan anaknya diranjang pasien. Ku letakkan baki makanan dimeja yang ada dikamar. Istri pak karta terbangun dan beranjak turun dari ranjang kemudian mengambil ikat rambut yang ada dilaci meja dan duduk lesehan diatas tikar yang dibentangkan dilantai. Mbok jinem yang tadinya berdiri didepan pintu berjalan mendekat dan ikut duduk lesehan diatas tikar.
" gimana kabarnya mbak, lama gak ketemu?" tanya mbok jinem ke istrinya pak karta.
" duduk sini lila " mbok jinem berucap sambil menepuk tempat disebelahnya.
Kuletakkan baki yang berisi peralatan kotor dilantai sebelah dinding, lalu duduk disebelah mbok jinem.
" kabarku sih sehat cuma samsul yang sudah tiga hari demam gak sembuh sembuh " jawab istri pak karta.
" kata ibu sakit apa? " tanya mbok jinem
" belum tau, tadi mau tes laborat dulu katanya " jawab istri pak karta
" ngomong ngomong sekarang kerjaanmu enak ya, punya asisten pembantu " ucap istri pak karta seraya melirikku
" alhamdulillah mbak, bisa bantu bantu ibu diklinik " jawab mbok jinem.
" Assalamualaikum " suara bidan vina
" eh mbk vina sudah datang " sahut mbok jinem
" ibu belum pulang kan mbok? " tanya vina ke mbok jinem
" belum bu " jawab mbok jinem.
" gimana kabarnya sayang " tanya mbak vina sambil memeriksa samsul
" masih pusing?, perutnya sakit? atau muntah? " tanya mbak vina
Samsul hanya menggeleng
" kalo tadi ngeluhnya sih masih pusing, perut rasanya mual tapi gak bisa muntah, trus tadi diare ada tiga kali " jelas istrinya pak karta.
Bidan vina mengganti botol infus, dan mencatat keluhan samsul yang disampaikan oleh ibunya.
" ya udah, sekarang samsul makan dulu, mbak vina ambilkan obat dulu, biar nanti selesai makan sudah bisa langsung minum obatnya ya" ucapnya lembut dan segera berlalu dari hadapan kami.
" silahkan dimakan dulu mbak, saya mau lanjut pekerjaan dibelakang " pamit mbok jinem
" ini ada sedikit rejeki buat samsul, semoga samsul lekas sehat ya nak!, " ucap mbok jinem sambil menyelipkan amplop putih disela sela telapak tangannya.
Kamipun pamit untuk menghindari beberapa pertanyaan yang membuat perasaan kami tidak nyaman. Sebelum kami keluar pak karta datang dan berbincang sebentar dengan mbok jinem.