Perlahan, mata berat milik Felly terbuka dengan kaku. Dia merasakan tenggorokannya sangat kering dan napasnya sudah kembali normal. Felly menguap lebar dan merentangkan tangannya ke atas dengan tubuh menggeliat.
"Ck, menjadi paparazi rendahan membuat kebiasaan baru untukmu, ya?" Suara itu membuat Felly mengalihkan kepala dan mendapati Felix sedang berkaca sambil membenarkan dasi. "Jorok sekali cara bangunmu. Dan lihat itu pipimu! Sejak kapan kau menjadi ileran seperti itu?!"
"Sejak aku jatuh miskin. Kenapa? Masalah?!"
"Ya! Kau pasti sekarang jarang gosok gigi."
"Hey!! Jangan asal bicara. Aku ini orang paling sering gosok gigi. Sam bahkan selalu memarahiku..." Menyadari ucapannya, Felly menghentikan kalimatnya.
"Sam? Siapa Sam?"
Felly berdeham untuk menutupi kegugupannya. "Ada. Seseorang. Teman serumahku."
Felix mengangkat sebelah alisnya sambil mengambil jam tangan di meja rias. "Teman serumah? Pria atau wanita?"
Felly mendelik dan mengucek matanya. Dia lalu menarik selimut hingga ke lehernya dan memejamkan mata kembali. "Menurutmu?! Pikir sendiri olehmu! Kau mau berkerja?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Ya. Dan bersiaplah, siang nanti aku akan mengirimkan seseorang untuk mendandanimu." Kata Felix sambil memakai jam di tangan kirinya.
Sontak, Felly membuka matanya dan menatap Felix. "Dandan? Kenapa aku harus berdandan?"
Felix menatap Felly, kemudian duduk di tepian ranjang. "Ini tugasmu yang pertama. Menjadi Felicia di hadapan Valerie. Tidak banyak yang harus kau kerjakan. Hanya berbicara dengan Valerie seolah kau benar-benar Feli. Tanamkan keeleganan dan juga intimidasi dalam dirimu. Jangan menjadi kampungan."
Dengan geram, Felly memukul wajah Felix dengan bantal. "Syalan! Kau pikir aku lupa dengan jati diri Phillips dalam diriku?! Aku bisa menjadi putri kerajaan jika sudah berakting, tahu?!"
Rahang Felix terlihat mengeras karena kesal. "Dan apa kau tahu jika kelakukanmu sekarang sudah sangat menyebalkan?! Berani-beraninya kau memukulku dengan bantal!"
"Ya! Aku berani! Mau apa kau hah?! Dasar berandalan."
"Apa katamu?!"
"Berandalan! Kau tidak mendengarnya?! Dasar badjingan! Kemarin aku menahan diri dan tidak bisa marah. Tapi sekarang, aku akan memakimu dasar b******k tidak tahu ma—AKH!"
Ucapan Felly terpotong dengan Felix yang tiba-tiba menarik tangannya dengan keras. Felix menyentak tangan Felly hingga Felly harus terduduk dan berhadapan langsung dengan wajah Felix. "Jalang kecil sepertimu, beraninya menghinaku?"
Felly membulatkan matanya melihat tatapan menyeramkan dari Felix. Dia menggigit bibir bawahnya dengan keras. "Felix, kau berubah."
Felix mendengus meremehkan. "Aku berubah? Ini diriku, Felly. Diriku yang sesungguhnya. Kau mungkin tidak tahu, karena yang kau lakukan hanyalah pergi, kabur, menghilang dari pandanganku."
Felly terdiam mendengar ucapan Felix. Matanya masih terpaku pada tatapan intimidasi yang baru dia lihat di mata sang kakak.
"Dengar baik-baik. Kau bukanlah siapa-siapa selain pekerja rendahan. Jadi, lakukan tugasmu. Karena kau adalah Nafelly Christine. Paparazi rendahan yang haus akan uang."
Felly menelan ludahnya dan mencoba menarik tangannya yang digenggam kuat oleh Felix, namun tidak berhasil. Sekali lagi, Felly menelan ludahnya dengan susah payah. "Ucapanmu terlalu keterlaluan untuk porsi seorang kakak pada adiknya."
"Adik?" Tanya Felix dengan tawa yang menyeramkan. "Kau adikku? Nama Nafelly sama sekali tidak ada di dalam kartu keluarga Phillips."
"Walau bagaimana pun, aku tetap adik—"
"TUTUP MULUTMU!" Bentak Felix, membuat Felly berjengit kaget. Wajahnya pucat seketika melihat wajah Felix yang memerah dan matanya yang melotot lebar. Tangan Felix yang lain menunjuk wajah Felly. "Kau, lakukan tugasmu dengan benar jika tidak ingin kembali masuk kandang berlapis emas. Sekali lagi kau mengajakku berdebat tidak penting, kau tidak akan mau menebak apa yang bisa kulakukan terhadapmu dan orang-orang di sekitarmu."
Felly menahan napasnya. Matanya melotot kaget mendengar ancaman Felix. Ingin rasanya dia membalas ucapan kakaknya. Namun, entah mengapa Felly sendiri takut jika ancaman Felix benar-benar nyata. Felix melepaskan tangan Felly ketika mata Felly sudah mulai berkaca-kaca.
Tubuh Felly berjengit kaget saat mendengar bantingan pintu yang ditutup dengan keras oleh Felix. Saat itulah, air mata Felly mengalir dengan sendirinya. Tangannya memegang d**a kirinya dengan mata yang menerawang. Sedetik kemudian, Felly mendengus mengejek dirinya sendiri. "Berani-beraninya dia mengancamku? Padahal aku bahkan harus pergi demi dirinya."
***
"Jadi, bagaimana? Haruskah kita membuat pesta besar-besaran malam ini di salah satu hotel kami?" Tanya Makiel dengan semangat.
Valerie, istri dari Alarick itu menggeleng dengan wajah dinginnya. "Kenapa harus membuat pesta besar-besaran untuk sebuah ulangtahun?"
Saat ini, mereka sedang berada di kantor milik Felix yang diisi dengan hanya Makiel, Valerie dan Felix sendiri. Mereka bertiga sedang berdiskusi tentang acara ulangtahun Alarick sang sahabat.
Felix menyilang kakinya dan menyenderkan punggungnya di sandaran kursi. Sedangkan tangannya berada di dagu. "Kalau begitu, bagaimana jika kita laksanakan di sebuah kapal pesiar milikku?"
Valerie terlihat kesal sendiri karena setelahnya dia hanya menghela napas panjang. "Permisi, tuan-tuan. Tapi, ini adalah acara kejutan ulangtahun suamiku. Dan karena Alarick selaku sahabat kalian adalah suamiku, jadi kalian harus mengikuti aturanku karena AKU yang akan membayar semuanya. Kalian hanya tinggal datang saja."
"Kalau begitu, rayakan saja sendiri. Kenapa harus mengajak kami? Lagipula, kami dan Alarick masih perang dingin," balas Makiel. "Iya tidak, Lix?"
Felix mengangguk mengiyakan. "Ya. Kami masih bermusuhan. Dia tidak minta maaf, kami enggan minta maaf. Dan sepertinya tidak akan ada yang maaf-maafan."
Valerie mendelik kesal. "Masalahnya, tuan-tuan, suamiku hanya memiliki kalian bertiga sebagai sahabat. Dan yang lainnya hanya rekan kerja."
"Kami juga rekan kerja." Balas Makiel tidak mau kalah.
"Oh ya? Tapi selama lebih dari 2 tahun aku menjadi sekretaris Alarick, hanya kalian rekan yang bisa diajak gila oleh Alarick. Dan saling menghina satu sama lain. Berteriak marah satu sama lain dan juga saling menasihati satu sama lain."
Felix dan Makiel saling tatap sejenak, lalu kembali menghadap Valerie. "Yah, pokoknya kita masih bermusuhan." Kata Makiel dengan tangan yang bersidekap.
Felix mengangguk dan menaikan dagunya tinggi-tinggi seolah menantang. "Ya. Kami masih bermusuhan."
BRAK!!
Felix maupun Makiel sama-sama berjengit kaget ketika Valerie menggebrak meja sekuat tenaga. "TIDAK BISAKAH KALIAN DEWASA SEDIKIT?!"
Felix dan Makiel sama-sama kembali berjengit. Mereka otomatis membenarkan duduknya dengan tegap dan kepala sedikit menunduk.
"DARREN SAJA YANG MAKNAE BISA BERKONTRIBUSI DALAM ACARAKU TAPI KALIAN YANG TUA-TUA MASIH SAJA MEMBICARAKAN TENTANG BERMUSUHAN?!!! LAGIPULA KALIAN HANYA HARUS DATANG SAJA DAN TIDAK PERLU MELAKUKAN APAPUN, DAN KALIAN MALAH JUAL MAHAL?!"
Felix dan Makiel menunduk takut-takut melihat kemarahan Valerie. "I-itu tapi—"
BRAK!!
Sekali lagi, Valerie menggebrak meja dan membuat dua CEO perusahaan terkenal itu berjengit kaget. "Sekali lagi kalian mengatakan tentang bermusuhan, kupastikan semua celana milik kalian yang berada di lemari musnah dan kugantikan dengan rok wanita. Mau??? Hah???"
Gelengan pelan dan patuh didapatkan Valerie sebagai jawaban.
"Apa kalian masih keberatan datang ke acara yang akan kuadakan?"
Felix dan Makiel menggeleng.
"Kalian akan datang kan?"
Mereka kembali menggeleng.
"APA?!"
Makiel dan Felix kembali berjengit kaget. "Ma-maksudnya kami akan datang." Jawab Makiel dan diangguki cepat oleh Felix.
Valerie menghela napas panjang untuk meredakan napasnya yang memburu. "Kalau begitu, aku akan mengabarkan perihal rentetan acaranya pada Felix. Dan kalian akan tau apa akibatnya jika melanggar janji." Katanya, kemudian berlalu meninggalkan ruangan kerja Felix.
Makiel bernapas lega melihatnya. "Wah, entah mengapa, ancaman pembunuhan lebih baik daripada ancaman rok wanita."
Felix berdecak mendengarnya. "Tidak heran mereka bisa menikah. Sifat mereka serupa. Sama-sama tukang marah."
Makiel tertawa sambil menepuk bahu Felix. "Kau benar juga! Pantas saja Alarick sekarang menjadi b***k cinta. Dia benar-benar takut pada istrinya yang pemarah itu."
"Yang menjadikan Alarick b***k cinta adalah rasa posesifnya pada Valerie. Bukan kelakuan Alarick yang akan menjadi kucing lembek dan menuruti segala kemauan Valerie."
"Ck, cinta memang menyebalkan. Aku takkan pernah mau jatuh cinta."
Felix mendengus merendahkan mendengarnya. "Kau pikir, kau bisa mengendalikan perasaanmu jika cinta itu datang?"
"Lix, jangan bahas tentang cinta! Kau membuatkan merinding."
"Kenapa juga kau merinding, Bodoh!" Kesal Felix.
"Karena kita sedang berdua, dan..." Makiel menjeda ucapannya. Dia mengelus wajah Felix dengan punggung tangannya, refleks Felix langsung menghindari tangan Makiel. "... Dan ada kemungkinan kau jatuh cinta padaku. Kau kan tidak pernah tidur dengan wanita manapun setelah Felly pergi. Bisa saja kau sekarang gay."
Felix merinding dengan ucapan Makiel. Dia segera berdiri dan menjauhi Makiel. "Kau yang sekarang terlihat seperti pria gay, B3rengsek! Enyahlah dari ruanganku!"
***
Tok tok tok
"Ya! Sebentar!" Felly membuka pintu hotelnya dengan cepat. Jantung Felly sempat melompat sejenak ketika melihat kurang lebih 10 orang sedang berdiri di depan pintunya dengan bawaan di tangan mereka masing-masing. "Siapa...?"
Seorang pria dengan potongan rambut menyamping dan syal di lehernya serta kacamata hitam di matanya itu meninggikan dagunya sehingga terlihat angkuh. Dia berdiri paling depan seolah memimpin yang lainnya. "Kau Nafelly Christine?"
Sambil mengerjapkan matanya dengan cepat dan tangan yang menggenggam gagang pintu hotelnya dengan kuat, Felly mengangguk. "Ya. Benar. Saya sendiri."
Pria bersyal itu makin meninggikan dagunya. "Aku Madam Ree. Hari ini, kami akan menangani pakaianmu." Ucapnya kemudian bertepuk tangan 2 kali, membuat orang-orangnya serentak menerobos masuk dan membuat Felly terdorong dengan mulut menganga.
Setelah dihitung-hitung, total orang yang datang adalah 12 orang. Dan ditambah Madam Ree menjadi 13 orang. Kamar hotel Felly seketika sesak oleh kesibukan 12 orang yang menerobos masuk ke dalam kamarnya itu.
Felly baru tersadar dari keterkejutannya ketika Madam Ree memegang kedua bahunya dan mendorong Felly masuk ke dalam kamar.
"Apakah kau kiriman dari Felix?" Tanya Felly sambil menoleh ke belakang. Sungguh, jika benar, ini adalah pertama kalinya Felly menghamburkan uang keluarga Phillips walaupun bukan dari ayahnya.
Selama hidup, Felly sangat jarang berbelanja. Walaupun termasuk keluarga mampu, ibunya lebih tahu merk tas mahal dan lain sebaginya dan selalu memberikannya pada Felly. Dan Felly juga sangat jarang ke salon. Dia hanya melakukan perawatan kulitnya dan tidak pernah membawa belasan orang seperti ini.
"Anda benar. Karena itu, diamlah dan ikuti perintah kami," jawab Madam Ree sambil mendudukkan tubuh Felly di kursi rias yang membelakangi kaca.
Jawaban Madam Ree membuat Felly terdiam melamun di tempatnya. Dia terkekeh miris meratapi nasibnya. "Kau yang meninggalkannya, Felly. Kau tidak punya hak untuk cemburu karena dia melakukan hal semaksimal ini untuk wanita lain." Bisiknya lirih.