Hot 7 - Kemarahan Felly

1662 Words
Berkali-kali Felix jatuh cinta. Jatuh cinta pada orang yang sama. Jatuh cinta hanya pada 1 orang dari dulu hingga sekarang. Sungguh, Felix tidak dapat menggerakkan tubuhnya ataupun mulutnya ketika ia masuk ke dalam kamar hotel dan mendapati Felly sedang duduk dengan gaun sederhana dan wajah yang dipoles polos. Belum lagi gaya rambutnya yang terlihat mewah sekaligus modern bagi wanita zaman sekarang. "Bagaimana? Kau tidak mengeluarkan uangmu secara sia-sia, kan?" Felix tersadar dan menatap Madam Ree yang sejak tadi masih berada di sana menonton reaksi Felix. "Ya..." Jawabnya. Madam Ree tersenyum melihat reaksi Felix. "Kalau begitu, nikmati kencan kalian. Aku pergi dulu," ucapnya sambil berjalan berlenggak-lenggok menjauhi Felix dan Felly. Felly segera berdiri menghadap Felix. Anting yang digunakannya bergoyang dan saat Felix melihat keseluruhan tubuh Felly, Felix tidak dapat berkata apapun. "Kita akan ke mana sekarang?" Felix mengerjapkan matanya dan berdeham. "Hanya kafe murahan. Seharusnya, aku tidak melakukan ini jika Valerie merayakannya di tempat biasa-biasa saja. Valerie memang terlalu berpikiran sederhana." Felly memincingkan matanya tidak suka. Alisnya yang lebih tebal mengernyit mendengar ucapan Felix. "Kenapa?" Tanya Felix ketika mendapatkan reaksi seperti itu. Kau cemburu? Batinnya melanjutkan dengan senang hati. Felly menghela napasnya dengan lelah sedangkan Felix sendiri menunggu jawaban dengan hati berdebar. "Tidak. Hanya saja, aku sedang berpikir apakah aku pernah menjadi sepertimu dulu?" "Sepertiku? Memang aku kenapa?" "Ya. Sepertimu. Sering merendahkan orang lain." Felix hanya mengangkat sebelah alisnya mendapati reaksi itu. Dia tertawa pelan. "Aku hanya menyatakan sebuah fakta. Jika memang itu murahan, berarti memang murah—" "Jadi jika kau mengatakan jika aku jalang, berarti aku memang jalang?" Potong Felly dengan tegas. "Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu sedangkan aku bahkan hanya tidur denganmu saja? Bagaimana bisa kau mengatakannya semudah itu padahal aku hanya melakukannya ketika aku mencintai saja? Tidak sepertimu dan teman-temanmu yang meniduri banyak wanita." Felix diam sejenak. Mereka saling menatap di ruangan yang hanya diisi oleh 2 orang itu. "Kau marah karena—" "Bisakah kita pergi sekarang? Aku merasa sedikit tidak enak badan. Aku pikir, tadi aku masih kurang istirahat setelah kemarin demam." Kembali, Felly memotong ucapan Felix. Perempuan itu segera berjalan melewati Felix yang masih mematung memikirkan ucapan-ucapan Felly. Felix kemudian berdecak. "Sial." Kesalnya pada diri sendiri. *** "Kau hanya perlu berkata seolah-olah kau Felicia. Kau sangat mengenal adikmu dulu dan kau juga sangat mengenal Alarick. Aku tidak menyiapkan sebuah naskah dan kau adalah paparazi. Jadi, buatlah karanganmu sendiri." Kata Felix. Saat ini, mereka berdua sedang berada di dalam mobil yang menuju tempat acara. "Hm." Felix menelan ludahnya dengan susah payah mendengar gumaman itu lagi dari Felly. Mereka sudah hampir sampai. Felix pun sudah memberikan semua arahannya pada Felly. Dan Felly hanya menjawab seperti itu. Membuat Felix bingung harus dia apakan Felly agar mau memaafkannya. Felix membenarkan duduknya sambil berdeham. "Oh iya! Recorder yang kuberikan padamu jangan lupa untuk dinyalakan. Kau harus ingat jika itulah yang terpenting ketika kau melaksanakan tugasmu. Rekam percakapan kalian. Jangan sampai kau lupa. Aku memasukkan itu ke dalam daftar pekerjaanmu. Lakukanlah dengan baik. Jangan lupa—" "Kau sudah mengulanginya berkali-kali, Felix. Dan kafe itu sudah di depan mata." Potong Felly dengan kesal. "O-oh, kau benar," Felix gelagapan menatap jalanan dan mendapati jika mereka memang sudah berada di kafe tempat ulangtahun Alarick. Felix menghentikan mobilnya di tempat parkir. "Kau lewat jalan belakang. Tidak ada yang tahu kau akan datang ke sini. Lebih baik, kau tunggu di private—" "Aku akan tunggu di depan toilet perempuan saja." Kata Felly dan tanpa menunggu persetujuan Felix, Felly segera keluar dari mobil dan menutup pintunya dengan cepat. Felly memeluk tubuhnya sendiri selama perjalanan ke dalam kafe. Dia menundukkan kepalanya dalam dan membuang napasnya dengan keras. Ingin rasanya Felly menangis namun rasanya terhambat ketika mengetahui jika wajahnya yang didandani ini harganya tidak murah. Semenjak menjadi warga negara Indonesia yang diberi bantuan oleh pemerintah, Felly benar-benar merasa uang 1 juta sangatlah banyak. Sedangkan Felix mengeluarkan uang 1 juta seolah itu adalah recehan 1 rupiah. Dan 9 tahun terpisah dengan Felix, dia sadar jika dirinya dan Felix sudah memiliki dunia yang berbeda. Nafelly Christine. Felly menghentikan langkahnya. Dia menelan ludah dengan susah payah dan mengembuskan napasnya dengan berat. Mengingat nama itu membuat Felly ingin menangis. Nama yang sangat serupa dengannya dan membuat Felly sangat sakit dan terpuruk mengingat bagaimana ia bisa menjadi Nafelly Christine. Felly memejamkan matanya. Dia menarik napas kuat-kuat dan mengembuskannya perlahan. Dia kembali berjalan memasuki kafe dan menunggu di luar toilet sambil berjongkok dan sesekali menatap ponselnya. Justin mengirimkan banyak fotonya dengan Samuel saat itu. Mood Felly seketika terobati ketika melihat wajah Samuel yang cemberut ketika berfoto dengan Justin. Pasti anaknya itu sangat tidak mau berfoto dengan Justin, tapi justru Justin memaksanya. Felly menatap pesan itu dalam diam. Dia tersenyum tipis yang sarat akan kesedihan. "Andai saja cinta semudah itu, Just." Pikachu! Justin Bagaimana? Apa aku sudah bisa menjadi suamimu sekarang? Pesan baru diterima oleh Felly. Dia segera membukanya ketika melihat kiriman dari Felix. Sebuah foto Alarick berciuman dengan perempuan yang cantik dan terlihat lembut yang bisa Felly tebak adalah Valerie, istri dari Alarick. Felly memiringkan kepalanya sambil menatap foto itu dengan seksama. "Mereka terlihat bahagia. Tidak seperti yang Felix katakan." Komentarnya. Felly menunggu dengan sabar sambil sesekali melihat orang yang keluar masuk ke dalam toilet. Saat akhirnya matanya menemukan wajah yang familier, Felly segera berdiri dan merapikan pakaian dan dandanannya. Dia meniup jempolnya 2 kali, lalu berjalan masuk menyusul Valerie. Baiklah Felly, tenang. Kau pasti bisa berakting. Tapi sial! Aku sangat lemah dalam berbohong! Oke, kau bisa sedikit jujur tapi sedikit bohong. Tapi jangan terlalu menyakiti hatinya karena dia adalah seorang wanita sama sepertimu. Jagalah perasaan sesama kaum wanita. Jangan terlalu menyakitinya. Batin Felly bersahutan ketika ia memasuki toilet dengan perasaan gugup. Dia mendapati Valerie sedang berkaca di wastafel. Segera, Felly merubah cara berjalannya dengan lebih elegan. Sampai di samping Valerie, Felly tidak tahu ingin berbicara apa. Dia malah terfokus pada pantulan wajah miliknya dan juga milik Valerie yang tergolong memiliki banyak kemiripan. Kenapa sangat kebetulan sekali kami memiliki banyak kemiripan? Batin Felly bingung hingga tanpa sadar dia menatap Valerie dengan lama. Dia baru sadar ketika Valerie yang tadinya asik berdandan mulai menolehkan kepalanya menatap pantulan Felly di cermin. Felly menampakkan senyum tipisnya. "Halo." Sapanya. Valerie menatap ke samping, melihat langsung wajah Felly. "Kau mengenalku?" "Tidak. Tapi, kau bisa memanggilku Feli." Ya, benar. Namaku adalah Felly. Felly dan Feli memiliki penyebutan serupa. Aku tidak berbohong, kan? Tubuh Valerie terlihat mematung tidak bergerak sesaat setelah Felly mengucapkan nama panggilannya. Menutupi kegugupannya karena takut ketahuan berbohong, Felly mengalihkan pandangannya pada cermin dan mengeluarkan lipbalm dari tasnya. "Jika kau heran kenapa aku menyapamu, itu karena aku mengenal Alarick. Dan tentu saja, aku pun mengenal Felix." Katanya sambil memoleskan lipbalm di bibirnya. "Kenapa kau diam? Tidak ingin mengenalkan diri padaku?" Aku tidak bohong. Aku tidak bohong. Ayolah, 30 juta Fel. Lakukanlah dengan baik! "A-aku Valerie Selvig." "Ah, Miss Selvig?" "Y-ya." "Bukan Mrs. Damian?" Valerie mematung. Felly melirik tangan Valerie dan mendapati jika Valerie meremas dress yang digunakannya. "Bukan." Jawabnya akhirnya. Felly tersenyum dan memasukkan lipbalmnya kembali. Dia berbalik menatap Valerie dengan tangannya yang dilipat di d**a. "Kau sadar diri juga, ternyata." Katanya sinis. "Baguslah. Aku jadi tidak perlu repot-repot menyadarkanmu, Miss Selvig." MENYADARKAN APA, BODOH?! Mendengar ucapan dengan nada sinis itu membuat Valerie ciut seketika. "Ah ya, apa kau tahu? Tadinya, aku ingin menampakkan diri di depan Alarick hari ini." Kata Felly sambil tersenyum tipis. "Tapi, melihatmu yang dicium oleh Alarick membuatku mengurungkan niat. Mungkin, nanti saja aku menghampirinya saat dia di kantornya." Valerie segera menatap Felly dengan pandangan kaget. "Kapan kau akan ke kantornya?" tanyanya. Felly mendengus sinis. "Itu urusanku. Kenapa kau bertanya? Kau ingin ikut campur ha?" Aktingku benar-benar luar biasa. "Bisakah nanti? Tenggat waktuku 2 minggu lagi." "Tenggat?" tanya Felly heran. Maksudnya? Hutang? Atau, KAWIN KONTRAK?! Valerie menganggukkan kepalanya. Matanya mulai berkaca. "Kumohon, temuilah dia 2 minggu lagi. Jangan sekarang." Katanya. Felly kini berdiri tegap. Tangannya sudah turun ke samping tubuhnya dan tidak lagi terlipat di depan d**a. Apa maksudnya? Kenapa dia berkata seolah hal itu sudah pasti akan terjadi? Dan wajahnya sangat menyiratkan kesedihan. Apa mungkin...? "Apa maksudmu? Kau... Sekarat?" Valerie tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan. "Dia mencarimu dan memberikan waktu 1 bulan pada anak buahnya. Ini sudah 1 minggu lebih dia mencarimu. Yang berarti, waktuku dengan Alarick hanya 2 minggu lebih lagi. Kau bisa datang padanya. Aku takkan melarangmu." Felly diam sejenak. "Dia... Mencariku?" Felicia... Ternyata, ada yang tidak menyerah padamu. Mungkin, satu-satunya yang tidak melupakanmu adalah Alarick. Ah, aku jadi merindukannya. Valerie menganggukkan kepalanya. Air matanya perlahan turun mengaliri pipinya. "Dia berkata sangat mencintaimu." Katanya dengan bibir bergetar akibat tangis. "Bisakah kau menuruti permintaanku?" Felly hanya bungkam. "Aku mencintainya. Tapi Alarick tidak mencintaiku. Kupikir, akan lebih baik jika aku pergi dari Alarick saat dia menemukanmu." Felly mengerjap. "Kenapa?" "Ada masa di mana aku merasa sangat ingin dicintai." Kata Valerie dengan senyum dalam tangisnya. "Aku memang mencintai Alarick tapi Alarick tidak mencintaiku. Bisa bayangkan betapa menyedihkannya kalimat itu? Aku ingin bertahan, sungguh. Aku ingin bertahan dalam luka jika itu bersamanya. Aku ingin bertahan dalam luka jika aku bisa menjadi miliknya. Tapi aku tidak setegar itu. Aku pun butuh dicintai dan dibahagiakan. Bukan hanya mencintai dan mencoba membahagiakan seseorang yang bahkan tidak mengetahuiku sedikit pun. Aku butuh seseorang yang mengetahui apa warna kesukaanku, makanan apa yang kusuka dan tidak kusukai ataupun tanggal ulangtahunku. Bukan hanya aku yang sangat mengetahui apapun tentangnya. Aku... Membutuhkan pria yang mencintai seperti itu." Felly diam saja menatap betapa ringkihnya wanita yang sedang menangis dalam senyum di depannya. Valerie kembali mengulas senyumnya. "Bisakah... Kau mengabulkan permintaanku?" Felly diam sejenak. Dia menatap Valerie dalam-dalam. Wajah yang tadinya menampilkan rasa kasihan, kini menggeleng. "Maaf tapi aku tak bisa." Tubuh Valerie kini menegang sempurna. "Maafkan aku. Jika nanti Alarick sering pulang malam ataupun pergi tiba-tiba, itu mungkin ulahku." Kata Felly. Ia mengambil tasnya yang berada di wastafel dan pergi dari hadapan Valerie yang kini bahkan tidak bisa bernapas dengan benar. Sial Felly. Kau benar-benar melakukan tugasmu dengan baik. Yang artinya, kau bisa membuat Valerie benar-benar meninggalkan Alarick dan pergi ke pelukan Felix.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD