Hot 9 - Seluas Galaxy

1605 Words
"... Ly... Felly." Felly terjaga mendengar panggilan yang membangunkan tidurnya itu. Dia membuka matanya, dan mendapati wajah Felix yang berada dekat tepat di depan wajahnya. Felly kemudian mengedarkan matanya yang masih terasa berat. Tangannya refleks mendorong wajah Felix. Dia kembali menutup matanya. "Kenapa membangunkanku?! Kenapa kita masih di mobil?" Serak Felly. Felly malah menaikan kakinya dan mencari posisi nyaman tidur di atas kursi mobil. "Ck, bangun dulu. Kita sekarang ada di tempat yang kukatakan tadi." Felly mengabaikan ucapan Felix dan mencoba kembali tidur. "Felly! Ya ampun, kenapa kau jadi susah bangun seperti ini, sih?!" Felly terpaksa membuka matanya untuk menatap tajam pada Felix. Alisnya mengernyit tidak suka. "Kau yang tidak normal! Ini adalah waktu di mana orang normal tidur, bukannya dibangunkan!" Felix menghela napas kesal. "Kali ini, keluarlah dulu selama 10 menit. Aku akan mengembalikan moodmu dengan caraku." Felly mendelik dan kembali menutup matanya. "Moodku membaik saat aku tidur." Felix malah menarik tangan Felly. "Ayolah, sebentar saja. Setelah itu, aku akan mengantarmu kembali ke hotel." Suatu pemikiran membuat Felly bangun sepenuhnya dari tidurnya. Dia terduduk, menatap sekitarnya yang gelap dan sepi, lalu menatap Felix. "Kau menyetir seharian ke sini?" Felix mengangguk semangat. "Ya. Hargailah. Aduh, tanganku sakit sekali. Kakiku pun pegal. Auhh punggungku!" Felly mendelik kesal. "Aku tidak menyuruhmu melakukan ini. Tapi karena sudah terlanjur, baiklah hanya 10 menit." Felix tersenyum lebar. Dia segera membuka pintu mobil, dan keluar dengan cepat. Felly baru saja membuka sabuk pengamannya saat Felix sudah terlebih dulu membuka pintu mobilnya. Felix mengulurkan tangannya pada Felly dan Felly yang masih setengah sadar segera menggapai tangan Felix. Setelah berdiri menapaki aspal dan pintu mobil ditutup, Felly menyadari jika di sekitarnya hanya ada jalan dan sebuah padang luas di depan mereka. "Sebenarnya, kita mau apa di sini? Menculikku?" Felix terkekeh. "Berhentilah menjadi ratu drama. Kenapa pemikiranmu sangat sinetron sekali?" "Karena hidupku benar-benar terasa seperti sinetron." Jawab Felly sekenanya, namun sukses membuat Felix terkekeh. "Dan sekarang, aku mau kau diam." "Aku tidak mengatakan atau melakukan apapun." "Ya. Aku ingin kau hanya berjalan pelan dan mencoba tidak bersuara saat kita mendekati padang rumput itu." Felly mengerjapkan matanya. "Kenapa memangnya? Ada sesuatu di sana?" Felix tersenyum lebar dan mengangguk. "Ya. Dan aku membutuhkan kerjasamamu." Felly tidak bergerak di tempatnya kala Felix menarik tangannya. "Ada apa memangnya di sana? Aku tidak mau jika itu bahaya." "Ck, kau ini kenapa selalu berpikiran negatif padaku? Percayalah. Ini akan membuat moodmu naik." "Sudah kubilang moodku naik saat aku tidur tadi." "Felly..." Felix menggeram. Felly menghela napas panjang. Dia mengucek matanya dan menguap lebar. "Baiklah." "Oke. Sekarang, diam." Felly membuat gerakan mengunci mulut, dan Felix kembali terkekeh. Mereka berjalan pelan dan mencoba tidak bersuara ketika mendekat pada padang rumput itu hingga mereka berada di tengah padang rumput itu. Sampai di sana, mereka menghentikan langkahnya. Felix melepaskan tangannya dari Felly. Dan sedetik kemudian, Felix berputar sebanyak 3 kali di sana. Felly terkekeh. "Apa yang kau lakukan? Kekanakan sekali..." Ucapan Felly terhenti ketika melihat banyaknya cahaya yang berkilauan di antara mereka. Daun-daun padang rumput itu memiliki beberapa titik cahaya kuning yang sangat banyak hingga semua daun-daun di sana berwarna titik-titik kuning sepenuhnya. "Woah, kunang-kunang." Bisik Felly dengan takjub. Dia menatap puluhan kunang-kunang yang mulai terbang itu dengan tatapan kagum. Apalagi kunang-kunang itu mulai berterbangan memberikan cahayanya pada gelapnya malam di sana. Felly tertawa senang melihatnya. "Bagaimana? Kau suka?" Tanya Felix, membuat Felly mengalihkan pandangannya pada Felix yang sedang menatap Felly sambil tersenyum. Felly mengangguk cepat menjawab pertanyaan Felix. "Ya! Ini luar biasa, Felix." Jawabnya sambil kembali memperhatikan kunang-kunang dengan berbinar. Felly tidak dapat menghentikan senyumnya. Semuanya sangat indah. Felly baru pertama kali melihat hal luar biasa seperti ini. Dia merasa seperti berada di negeri dongeng dengan kunang-kunang yang mengelilinginya itu. "Kau bilang seluas galaxy." Felly mengalihkan pandangannya pada Felix yang terlihat serius menatapnya. "Hah?" "Cintamu padaku. Kau bilang seluas galaxy." Felly mengerjapkan matanya dengan cepat. Senyumnya seketika menghilang, digantikan dengan raut wajah kaget. Otaknya memutar ulang momen di mana ucapan itu terlontar. "Katakan kau mencintaiku." "Siapa yang bilang aku mencintaimu?" "Kau tidak mencintaiku?" "Ya. Aku tidak mencintaimu, Felix. Tapi sangaaaaaat mencintaimu." "Sedalam samudera?" "Tidak. Itu terlalu sedikit. Cintaku padamu itu seluas galaxy." Felly menelan ludahnya dengan susah payah. Seketika, dadanya berdenyut nyeri mengingatnya. Dia menundukkan kepalanya dan membalikkan tubuhnya menyamping menghindari Felix. "Felix, kita tidak pantas membahas hal itu." Felix malah mendekati Felly. Berdiri di depan Felly dengan raut wajah yang masih sama. Felix menyentuh dagu Felly, dan mengangkat wajah Felly agar menatapnya. "Jika kau tidak yakin sedalam dan seluas itu cintamu padaku, kenapa kau harus mengatakannya?" "Felix!" Sentak Felly sambil menjauhi Felix beberapa langkah. Felix mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menghela napas panjang. "Maaf, aku tidak bisa berhenti penasaran." Hening kembali. Kunang-kunang masih berkeliaran di sekitar mereka. Beberapa sudah mulai turun untuk kembali pada daun yang ditempati. Sedangkan Felly dan Felix masih dilanda keheningan yang menyiksa. "Ini sudah 10 menit. Kurasa, aku ingin tidur kembali." Ucap Felly memecah kecanggungan, sambil berjalan melewati Felix. Langkah yang terdengar di belakangnya membuat Felly tahu jika Felix mengikuti langkah Felly juga. Felly menelan ludahnya dengan susah payah. Dia mencengkram kain dress bagian pinggangnya dengan erat. "Felix." "Hm." Kembali, Felly menelan ludahnya dengan susah payah. Napasnya tersendat. Matanya memanas dan jantungnya berdenyut dengan menyakitkan. Felly bisa merasakan kaki dan juga bibirnya gemetar. "Kau tahu aku membenci drama dengan alur yang klise, kan? Alur di mana saat pemeran utamanya harus pergi meninggalkan orang yang dicintainya itu, agar orang yang ia cintai tidak menderita karena dirinya..." Sejenak, Felly berhenti untuk menarik napas. "Kupikir, itu terlalu berlebihan. Namun, ternyata aku salah. Karena nyatanya, semuanya tidak semudah itu. Sungguh sulit ketika aku berpikir bahwa orang yang kucintai akan menderita dengan alasan bahwa aku adalah penyebabnya. Sungguh sulit." Katanya dengan napas tersendat. Felly merasakan tarikan di tangannya sehingga membuat tubuhnya harus berbalik ke belakang, tepat menatap Felix yang menariknya. "Apa maksudmu?" Tanya Felix. Felly mengembuskan napasnya yang terasa memburu akibat sesuatu yang terasa menyakitkan di dadanya. "Aku bilang aku sangat mencintaimu, itu bukan bohong. Aku bilang aku mencintaimu seluas galaxy, itu tidak bohong. Tapi, Justin benar. Hubungan kita saat itu bukan cinta, melainkan penyakit." Felix mengerutkan alisnya tidak suka. "Siapa Justin?" Felly melepaskan tangan Felix yang menggenggamnya. Dia menatap Felix dengan tegas. "Bukan urusanmu. Aku hanya bilang, jika ini adalah jalan yang terbaik. Kau menemukan wanita yang bisa kau cintai, aku bersyukur. Sangat bersyukur." Felix hanya diam menatap Felly dengan alis yang bertautan. "Tapi raut wajahmu tidak mengatakan jika kau bersyukur." Felly terkekeh miris mendengarnya. "Ketika kau mengatakan jika kau mencintai wanita lain, yang kupikirkan hanya satu. Yaitu, rencanaku berhasil. Dan aku bersyukur kita bisa kembali seperti dulu. Seperti sebelumnya. Seorang adik dan kakak." Felix diam tidak menjawab. Dia menarik pinggang Felly agar melekat dengan tubuhnya. Wajah mereka dekat namun masih memiliki sejengkal jarak. Tangannya kemudian terulur menyentuh pipi Felly dan mengusapnya dengan ibu jari. "Lalu kenapa kau menangis?" Felly menelan ludahnya kembali. Dia mencoba tersenyum walaupun tahu jika bibirnya pasti bergetar dan air matanya terus turun. Rasanya sesak ketika dirinya sudah sedekat ini dengan Felix, namun dia tetap harus membentengi diri dari Felix. Apa yang dialaminya selama 9 tahun belakangan seolah kembali menyerbu ingatannya sekarang. Kesulitannya, kesakitannya. Dan kesakitan sekarang saat ia mendapati jika Felix mencintai wanita lain. "Ini adalah air mata kebahagiaan." Jawab Felly sambil terkekeh kecil. "Tidak. Raut wajahmu tidak memperlihatkan kebahagiaan." Felly memejamkan matanya sejenak, lalu mengatur napasnya yang memburu. Tangannya mencoba mendorong d**a Felix namun tenaganya tidak cukup untuk membuat Felix bergerak. "Felix, lepaskan aku." "Katakan jika ini air mata kesedihan." Kata Felix dengan raut wajahnya yang tegas dan dingin. Felly menggelengkan kepalanya cepat. Dia mencoba memberontak dari pelukan Felix. "Bukan! Lepaskan aku sekarang!" "Tidak. Sebelum kau mengatakan jika kau masih mencintaiku." Kali ini, Felly tidak daaot menahannya lebih lama lagi. Ia mengencangkan tangisnya. Tangannya memukuli d**a Felix dengan kencang. "Kenapa aku harus mengatakannya disaat kau mencintai wanita la—" Ucapan Felly terpotong kala Felix mendorong tengkuknya keras dan mencium bibir Felly dengan brutal. Mata Felly melotot lebar merasakan bibir yang bergerak melumat bibirnya itu. Seolah meluapkan emosi yang selama ini ditahan oleh. Napas Felly tercekat ketika Felix memasukkan lidahnya ke dalam mulut Felly. Segera, Felly memukuli bahu Felix agar menjauhinya. Dia bahkan menjambak rambut Felix agar melepaskannya. Namun bibir Felix tetap gencar mencium bibir Felly tanpa cela. Menekan dengan keras, memasukkan lidahnya berkali-kali dan menggerakkan lidahnya di dalam mulut Felly. PLAK! Tamparan keras dari Felly sukses membuat Felly terlepas dari Felix. Felly menjauhi Felix sambil memeluk tubuhnya sendiri. Air matanya kembali bercucuran. "SEBENERNYA, APA AKU DI MATAMU, FELIX?!" Teriaknya kencang sambil menangis keras. "Kau membeliku dari perusahaanku, menjebakku dengan pekerjaan yang rumit, dan sekarang kau menciumku seolah aku..." Felly tidak dapat meneruskan ucapannya ketika Felix malah tertawa meremehkan. "Lalu, apa aku di matamu, Felly? Kau bersikap munafik seolah tidak mencintaiku lagi." Felly menatap Felix dengan tatapan tidak percaya. "Kau pikir 9 tahun tidak mengubah apapun? Kau pikir, 9 tahun membuatku tetap mencintaimu tanpa ada pria lain di hatiku?" "Jangan munafik, Felly!!" "Terserah apa katamu! Aku membencimu!!" Teriak Felly serak. Dia membalikkan badannya, dan berjalan menjauhi Felix dengan tangisnya yang terus mengalir. Felix mengejarnya. Menarik tangan Felly dengan keras ke arah mobilnya. "Lepas!! Aku tidak mau satu ruangan denganmu!!" Felly memberontak dan mencoba berlari pergi dari Felix. Namun Felix tidak bergeming dan tetap diam menarik Felly. "Lepas!!" Felix membuka kunci mobilnya. Dia membuka pintu mobil belakang. "Duduklah di sini. Setidaknya, kita memiliki jarak." Felly mengeraskan rahangnya. Matanya yang basah menatap Felix dengan tajam. "Perlu, aku memaksamu lagi?" Felly mendelik mendengar ucapan Felix. Dia masuk ke dalam mobil dengan terpaksa dan raut wajah yang masih menyatakan permusuhan. Felix menutup pintu mobilnya. Dia kemudian pergi ke kursi pengemudi. Perjalanan kali ini, kembali hening. Namun lebih mencekam daripada sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD