Hot 10 - Felix Masuk Rumah Sakit

2391 Words
Ini sudah tepat sebulan Felly berada di LA dan di hotel yang sama tempat di mana dia berada pertama kali. Setelah kejadian di mana Felix menciumnya, Felly tidak diberi tugas apapun oleh Felix. Felly pun tahu-tahu sudah terbangun di kasur hotel miliknya. Dia juga tidak tahu Felix berada di mana. Dia hanya bertemu beberapa orang suruhan Felix yang memberikan Felly kendaraan dan juga rekening berisikan uang 30 juta. Yang langsung Felly kirimkan pada Justin untuk berobat anaknya. Setelahnya, Felly berdiam diri di kamarnya tanpa melakukan apapun. Hanya tiduran, makan, dan lain sebagainya. Kring kring!! Telfonnya yang berdering nyaring membuat Felly yang sedang makan sambil menonton televisi, segera mengambil ponselnya dan mengecilkan volume TV. Nama Felix yang tertera di sana segera membuat Felly mengangkat panggilannya dan menempelkan layar ponsel di telinga. "Halo?" Terdengar dehaman keras di sana. "Hey, aku tidak mengabarimu selama lebih dari 2 minggu." Felly mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Felix. "Ya. Aku tahu. Lalu?" Kembali, dehaman keras terdengar di sana. "Kau tidak mau menanyai kabarku?" "Apakah perlu?" "Tentu saja! Kau ini bagaimana, sih?! Aku memang kakakmu, tapi aku membayarmu atas sebuah pekerjaan." "Dan..., Apa hubungannya dengan aku menanyakan kabarmu?" Hening sejenak di sana sebelum Felix kembali berdeham lagi. "Te-tentu saja ada! Aku kecelakaan tahu! Habis pulang dari perjalanan bisnis!" Felly mendengus. "Dan apakah aku harus mengkhawatirkanmu disaat kau bahkan bisa marah-marah dan menelfonku?" "Aku tidak baik-baik saja. Makiel yang membantuku menelfonmu." "Tidak. Aku tidak membantunya. Dia memegang ponselnya sendiri dengan tangannya yang digips." "Ish! Syalan berhentilah berbohong!" "Kau yang berbohong!" "Kau!!" "Kau B3rengsek—" "Dan apakah tujuanmu menelfonku hanya karena ingin membuatku mendengar kalian berdebat?!" Kesal Felly, memotong ucapan Felix. "Maaf. Tapi, Makiel membuatku kesal. Aku babak belur di sini. Kecelakaannya sangat parah sampai kepalaku diperban. Tangan dan kakiku juga digips. Aku tidak dapat bergerak dan terbaring lemah di atas kasur rumah sakit yang sepi dan menyedihkan ini. Tidak ada yang datang kecuali Makiel SI BERENGSEK INI." "Kau!! Dasar iblis tidak tahu diri!!" Felly mendengus geli ketika mendengar Makiel dan Felix mulai berdebat kembali. "Baiklah. Aku datang. Rumah sakit mana? Kau ingin kubawakan apa?" "Aku ada di rumah sakit milik Darren—Ah tidak. Darren sudah jatuh miskin sekarang. Aku ada di rumah sakit di mana dulu Darren menjadi kaya. Dan apapun masakanmu, aku akan memakannya." Felly terkekeh. "Baiklah." "Oke. Aku menunggumu." Dan sambungan pun terputus. Felly tersenyum lebar menatap layar ponselnya. Namun, secepatnya senyum itu datang, secepat itu pula senyumnya menghilang. Semakin dekat dengan Felix sekarang, Felly mulai merasakan keserakahan menggerogotinya. Dia ingin memiliki hubungan lebih dengan Felix. Menentang keluarga, dunia, dan juga takdir. Felly mengembuskan napas panjang, kemudian menggelengkan kepalanya cepat. Dia lalu berdiri dan menuju dapur yang disediakan kamar suit di sana. *** "Aduh, aku babak belur. Tangan dan kakiku digips. Aku sekarat, Felly. Tolong datanglah," Makiel mengulang ucapan Felix dengan nada yang dia lebih-lebihkan. Matanya menatap kesal pada lelaki yang sedang duduk di atas kasur rumah sakit dengan tangan yang digips dan wajah yang babak belur. "Kenapa tidak sekalian saja kau berpura-pura seperti Kakek Dami dan memintanya menikahimu?" Felix terkekeh. "Dan membuat nasib akhirku sama seperti Alarick? Lagipula, akan sangat aneh jika seorang kakak meminta untuk dinikahkan dengan adik kandungnya." Makiel mendengus. "Memangnya, apa yang membuat kau dan Alarick berbeda? Kalian sama-sama menipu untuk mendapatkan perhatian seorang wanita. Dan lagi, sampai kapan kau akan menyembunyikan kebenaran yang tersembunyi itu?! Aku bahkan kemarin hampir keceplosan pada Felly ketika membicarakan tentang kalian." "Tentu saja beda! Alarick membuat seorang wanita harus menempuh sesuatu yang serius. Dan kalaupun kepura-puraanku terungkap, ini hanya akan menjadi candaan bagi Felly. Dan Felly tidak boleh buru-buru mengetahui tentang aku yang bukan kakak kandungnya." "Kenapa begitu? Jika kau mengaku, Felly akan bahagia, bukan? Dan apa sebenarnya tujuanmu pura-pura kecelakaan ini?!!!" Felix menghela napas panjang. Suasana tiba-tiba menjadi serius. Dia menatap langit kamar sambil dua tangannya yang digips itu berada di belakang kepala menjadi bantalannya. "Saat pulang dari ulangtahun Alarick, dia bilang dia membenciku. Dan dia bilang, 9 tahun membuat perasaannya berubah. Apa itu masuk akal? Seseorang yang mencintaiku seluas galaxy itu bisa mencintai pria lain dengan gampangnya. Sementara aku di sini, tejebak olehnya tanpa bisa pindah ke lain hati." Makiel mengangkat sebelah alisnya dengan heran. "Felly bilang dia membencimu? Kenapa? Kau membuatnya kesal?" "Aku menciumnya. Dan dia menganggap dirinya sendiri adalah jalang. Bukan aku yah yang bilang. Tapi, Felly juga tidak bilang begitu sih. Yah, intinya adalah itu pemikiran Felly." Makiel mendelik mendengarnya. "Bodoh! Kau tinggal minta maaf saja dan katakan jika kau takkan mengulanginya." "Kau gila?! Yang kurasakan bukanlah sebuah rasa bersalah. Dan lagi, kenapa aku harus bilang takkan mengulanginya disaat aku ingin melakukan hal yang lebih dari itu?!" Makiel menatap Felix dengan tajam. Tangannya terangkat seolah ingin menonjok Felix. "Dasar pedofil." Felix melotot. Dia menjitak kepala Makiel dengan kencang menggunakan tangannya yang digips. "Sembarangan! Aku harus pergi sampai 7 tahun lamanya untuk membuktikan jika aku bukan p*****l. Salahkan saja Felly yang terlalu cantik di mataku!" Makiel berdecak sambil menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. "Kalau begitu, akan kau kemanakan wanita yang ayahmu jodohkan denganmu?" "Aku buang." "Kau gila?! Ingin menentang ayahmu?!" "Tentu saja. Sebagian besar asetnya sudah menjadi milikku. Dan aset keluarga kandungku sudah sepenuhnya milikku. Aku tentunya lebih kaya dari ayahku. Aku bisa membawa kabur anak wanitanya jika aku mau." Kata Felix sambil tersenyum miring. Makiel kembali berdecak sambil menggelengkan kepala. "Kalau begitu, boleh aku memungutnya?" Tanyanya dengan seringai lebar. Felix mengerjapkan matanya. "Memangnya juniormu sudah bisa berdiri?" Makiel seketika menampakkan raut wajah kesal. "Dasar Valerie syalan. Jika bukan karena ngidam, aku tidak akan menurutinya. Entah bagaimana keluarga Alarick nanti. Bayangkan saja, Alarick iblis, Valerie medusa, anaknya mungkin adalah raja iblis karena keturunan mereka." Felix tertawa mendengarnya. "Kau benar. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keluarga mereka nantinya. Dipenuhi dengan iblis-iblis. Tapi, bagaimana dengan keluarga Darren? Darren dingin, dan Annabelle galak. Menurutmu, bagaimana anak mereka?" "Anak mereka kembar. Pasti yang satu dingin, yang satu galak." "Lalu anakmu? Bagaimana dengan keluargamu nanti?" Makiel malah tertawa mendengarnya. "Lelucon yang sangat lucu, kawan. Sampai tua, aku akan melajang. Menikah? Anak? Mungkin, mereka akan datang sebagai kutukanku." Felix berdecak mendengarnya. "Kau ini. Ucapan adalah doa. Bagaimana jika mereka benar-benar datang sebagai kutukanmu? Nanti kau mendapatkan wanita yang hanya ingin meraup hartamu dan anak yang super bandel." Makiel mengibaskan tangannya dengan santai. "Tinggal aku asingkan ke Afrika. Beres." "Dasar iblis gila! Pada anak dan istri sendiri pun kau tega." "Hey, jika mereka jahat padaku, aku akan lebih jahat 10 kali lipat pada mereka." "Tapi mereka keluargamu, bodoh!" "Itu hanya bayangan, Felix. Khayalan. Kau ini dibawa serius sekali. Lalu, bagaimana denganmu nanti? Bagaimana sifat anakmu nanti?" "Aku?" Felix mengucapkannya dengan senyum lebar. "Aku tidak peduli bagaimana sifat anakku nanti asalkan istriku tetap Felly." Mereka tetap berbincang sambil sesekali memukul kawannya masing-masing dan tertawa. Sampai seorang pengawal masuk ke dalam ruangan mereka setelah mengetuk pintu 3 kali. Pengawal itu menunduk hormat sejenak pada Felix. "Tuan, Nona Felly sudah datang." Makiel dan Felix heboh seketika. "Oksigen! Masker oksigennya belum dipasang!" Bisik Makiel dengan panik. Felix segera membuang masker oksigennya ke lantai. "Tidak perlu! Jika pakai masker, aku takkan bisa disuapi Felly. Mana gips leherku?! Di mana tadi aku menyimpannya!!" Panik Felix sambil membungkuk untuk melihat kolong ranjang. Dia segera turun dari ranjang dengan cepat dan memasang gips lehernya sendiri. Felix kembali ke atas ranjang dengan cepat dan berbaring di atas kasur. "Sudah. Suruh dia masuk." Pengawal yang diberi perintah itu menundukkan kepalanya dengan hormat dan keluar dari ruangan. Felix menoleh pada Makiel. "Bagaimana make up memarku? Apakah luntur?" Makiel menggeleng cepat dan menunjukkan kedua jempol tangannya. "Tapi ada yang kurang, Lix." "Apa?!" Panik Felix. "Ruang ICU. Kenapa kau memilih ruang VIP? ICU terdengar lebih emergency." "Syalan! Aku tidak sedang berperan sekarat—" Srett! Suara pintu yang diseret membuat Felix segera menghentikan ucapannya dan meluruskan tidurnya. "Argh." Rintih Felix kesakitan. "Ya tuhan, Felix. Kenapa sampai separah ini, kawan?" Ucap Makiel dengan prihatin. Felly yang terpaku di depan pintu segera menghampiri dan berdiri di sisi Felix. "Kau bodoh?! Jika tidak bisa menyetir, kenapa tidak menggunakan supir?!" Felix mendelik. Bibirnya berucap dengan kesakitan karena ada make up memar di bibirnya. "Aku bisa menyetir. Aku juga biasanya memakai supir. Hanya saja, ucapanmu yang mengatakan membenciku masih terngiang-ngiang hingga aku tidak fokus ke jalanan." Makiel menarik napas kaget dan menutup bibirnya dengan kedua tangan. "Ya ampun, Felly. Kenapa kau mengatakan hal sekeji itu? Lihat bagaimana hasil dari ucapanmu pada kawan sejatiku ini!" Felly menggigit bibirnya dengan tatapan mata sayu ketika mendengar ucapan Felix. Tangannya terulur menyentuh perban yang ada di kening Felix. Ada darah kering yang membekas di sana. "Sudah berapa lama kau di sini?" Felix mengedipkan matanya dengan lemah. "Aku tidak tahu. Aku koma selama seminggu—" "Pppfft!" Makiel menahan tawanya. Mendapatkan tatapan tajam dari Felix dan tatapan heran dari Felly, Makiel segera angkat suara. "Maaf, aku tadi teringat video yang lucu." Felly kembali memberikan perhatiannya pada Felix dan Felix kembali melanjutkan ceritanya. "Aku koma selama seminggu dan—" "Pppfttt! Ahaha maafkan aku, videonya masih terbayang di pikiranku." "Aku koma selama seminggu dan tiba-tiba—" "AHAAHAHAHA ya tuhan yang benar saja. Bayang-bayang video itu kenapa tidak hilang dari ingatanku?!" "Haish syalan! BISAKAH KAU DIAM?!" Amuk Felix. Felly menatap Felix dengan kaget. Menyadari itu, Felix segera mengerang kesakitan. "Argh, aduh, leherku ya tuhan! Aku sekarat!" "Ya ampun, Lix. Mana yang sakit? Kau seharusnya jangan memaksa dirimu berteriak." Khawatir Felly sambil menyentuh pipi Felix. Felix menenangkan napasnya yang tadinya dia buat memburu. "Aku tidak apa-apa. Ini reaksi wajar. Ini semua gara-gara Kiel." "Kenapa menyalahkanku?! Memangnya tertawa adalah tindakan kriminal?!" "Kau sangat bisa sekali memberikan ucapan balasan. Kau membuatku hampir mati, tahu?!" "Itu bukan salahku jika kau emosian. Aku tidak menyuruhmu berteriak." "Lihatlah! Kau masih bisa membalasku?!" "Kau yang duluan—" "Sudahlah, Kiel," Felly memotong dengan tegas. "Felix sedang sakit. Berhentilah memancingnya untuk berdebat denganmu." "Tapi—" "Sssttt! Kiel!" Peringat Felly. Makiel hanya menggeram kesal dan melipat tangannya di depan d**a. Sedangkan Felix hanya tersenyum penuh kemenangan. "Felly. Kau membawa makanan? Aku lapar. Sudah berhari-hari aku makan makanan rumah sakit yang tidak enak." Felly tersenyum. "Ya. Aku membuatkanmu sup dan bubur jamur kesukaanmu." Katanya sambil meletakkan paper bag di atas rak dan memasang meja makan di atas ranjang Felix. "Bagaimana denganku? Kau tidak membawakanku apapun?" Tanya Makiel. Felly tersenyum lebar. "Tentu saja bawa! Aku bawa pizza bekas kemarin." Makiel seketika menatapnya datar. Felly tertawa melihatnya. "Tidak, tidak. Aku membelinya barusan di depan rumah sakit." Makiel tersenyum lebar. "Memang calon istri idamanku." Felix melotot, sedangkan Felly tertawa lebar mendengarnya. Dia menyerahkan kotak pizza pada Makiel. Felly kemudian mengambil kotak makan berisi bubur dan sup. Dia ingat kesukaan Felix ketika sakit adalah bubur yang dicampur dengan air sup. "Ini, silahkan dimakan." Ucap Felly. "Kau mengejekku? Bagaimana aku bisa makan dengan 2 tangan digips?!" Kesal Felix. Felly meringis tidak tega melihatnya. "Ya ampun, baiklah. Aku akan menyuruh Makiel menyuapimu." "Haish! Kenapa harus Makiel selagi ada dirimu?" "Aku?" "Ya. Apakah kau benar-benar membenciku sehingga tidak ingin menyuapiku?" Felly menelan ludahnya dengan susah payah. Dia menatap kotak makan dan juga Felix bergantian. "T-tapi..." "Kenapa? Kau benar-benar membenciku?" Pancing Felix. "Bu-bukan begitu, hanya saja, aku tidak bisa menjangkaumu. Kau kan tinggi. Sedangkan aku..." "Cebol." Kata Makiel, melanjutkan. Felly menatap Makiel penuh dendam. "Makan saja pizza bodohmu itu!" "Bukan pizzanya yang bodoh, tapi aku yang bodoh. Jangan menyalahkannya." Felly mendelik. "Baguslah jika kau sadar." Felix segera menggeser posisinya sambil berpura-pura berjuang dengan susah payah. "Apa yang kau lakukan?!" Panik Felly. Felix berpura-pura meringis kesakitan. "Duduklah di sampingku. Aku ingin kau suapi." "Kau! Ish!" Felly tidak dapat menolak lagi. Dan melihat perjuangan Felix membuatnya tidak tega. Felly segera naik ke atas ranjang dan duduk di samping Felix. Sedangkan Felix mesem-mesem sendiri. Felly mulai memegang sendok dan menyuapi Felix dengan jantungnya yang berdebar. Berada sedekat ini dengan Felix dan tubuh bagian sampingnya menempel dengan Felix. Felly pun berdeham. "Tapi, apakah benar jika kepopuleran kalian mengalahkan BTS?" "BTS?" Tanya Makiel heran. "Behind the scene?" Felly mendelik. "Yang benar saja. Mereka adalah boy group." "Boy group? Seperti SMASH dan Coboi Junior?" Tanya Felix. "Kau tahu SMASH tapi tidak tahu BTS??! Yang benar saja! Mereka sudah sangat terkenal!" Felix terkekeh. "Jika mereka terkenal, seharusnya aku pun kenal." "Benar. Mungkin, hanya si Felly saja yang kenal. Aslinya orang-orang tidak mengenal BTS itu." Timpal Makiel. Felly cemberut mendengarnya. "Hey, aku tidak terima yah kalian menghina oppa-oppaku!" Makiel dan Felix tertawa. "Opa? Mereka sudah tua?" Tanya Felix. "Ternyata, tipe Felly sangat rendahan. Mau-maunya mengidolakan orang tua." "Ih! Mereka tidak tua! Oppa itu sebutan sayang untuk suami-suamiku." "Suami?!" Pekik Felix syok. "Kau sudah menikah?! Dan lagi, apa tadi katamu?! Suami-suamiku?! Suamimu lebih dari satu?!!" Felly menyeringai melihat reaksi Felix. Dia lalu mengambil ponselnya yang berada di saku celana, kemudian membuka lock screen ponselnya. "Ini nih, salah satu suamiku. Tampan, bukan?" Tanya Felly sambil memberikan foto V BTS pada Felix. Felix menatap dingin pada layar ponsel milik Felly. "Kiel, suruh sekretarisku masuk. Aku harus mencari tahu wajah Asia yang sangat buruk rupa itu." Felly melotot dan memeluk ponselnya dengan posesif. "Hey, jangan hina suamiku!" Felix kali ini menatap Felly dengan tajam. "Sekali lagi kau menegaskan jika dia suamimu, dia tidak akan ada di dunia ini malam ini." Glek! Felly menatap horor pada Felix. "Aku takut kau benar-benar akan melakukannya." "Oh, kau tidak tahu jika aku memang bisa melakukannya." "Tuan, Anda mencari saya?" Pertanyaan itu membuat Felly terkejut mendapati sekretaris Felix sudah ada di dalam ruangan. Karl. Felly beberapa kali melihat sekretaris Felix itu. Felix merebut ponsel milik Felly dan melemparnya pada Karl. "Kau cari tahu pria itu. Segalanya tentang dia." Felly hanya diam terkejut dengan mulut menganga. Dia terkejut mendapati jika tangan Felix yang digips dengan lancarnya mengambil ponsel milik Felly. "Tuan, bukankah ini Kim Taehyung?" Tanya Karl. Felix mengangkat sebelah alisnya. "Kau mengenalnya? Siapa dia? Tetanggamu?" Karl menggelengkan kepalanya. "Dia adalah seorang idol, Tuan. Personil boy group yang bernama BTS. Mereka sudah pernah memenangkan Billboard." Felix mengerjap terkejut. "Felly, bagaimana dia bisa menjadi suami—" Felix menghentikan ucapannya ketika mendapati Felly menatapnya tajam. Seketika, apa yang dilakukannya sedari tadi menyerobot ke dalam ingatannya dengan cara tidak elegan. Sial! Aku ketahuan! Mata Felix bergetar ketika menyentuh tangannya sendiri. "A-ahh... Sakit sekali." Felly menatapnya tajam. Sedetik kemudian, Felix sudah tergeletak di atas lantai akibat tendangan Felly. Dan tawa Makiel menggema di dalam sana. Felix meraung di atas lantai, khawatir pada tulang rusuknya yang sudah hidup 30 tahun lebih itu. Ah syalan! BTS, lihat saja! Ini gara-gara kalian, Syalan!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD