Felix mengerut takut ketika Felly memotong steak di piringnya dengan mata yang tetap menatap Felix. Yang membuat Felix merinding adalah cara Felly mengoyak daging di piringnya seperti ingin mengoyak tubuh Felix dengan bersungguh-sungguh.
Tak!
Felix berjengit ketika Felly menyimpan pisaunya di meja dengan kuat. Felly kemudian mengambil gelas wine dan meminumnya.
Felix menelan ludah dengan susah payah. "Aku—"
"Ahh, sial," potong Felly sambil mendelik kesal. "Tidakkah kau malu? Waktu itu menciumku tanpa izin, dan sekarang kau berani menipuku?"
Felix menundukkan kepalanya dalam. "Tentu saja aku malu. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Setelah hari itu, aku benar-benar tidak tahu cara mendekatimu lagi."
"Kenapa tidak tahu? Kau kan biasanya pemaksa."
"Aku tidak akan memberitahunya padamu. Nanti kau malah menjadikannya kelemahanku."
Napas Felly terlihat memburu. Rahangnya juga mengeras menatap Felix. Sedetik kemudian, Felly menangis kencang di hadapan Felix. "Huaaa!"
Felix mengerjap. "E-eh, ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba menangis?" Paniknya sambil berdiri dan menghampiri Felly yang masih histeris di kursinya. Felix segera memeluk Felly dan meminta maaf pada orang-orang yang terganggu dengan tangis Felly. Jika saja tidak terburu-buru memilih restoran, Felix mungkin sudah menyewa restoran agar tidak ada orang dan hanya mereka berdua saja.
"Kau tahu apa yang kurasakan saat melihatmu babak belur?" Tanya Felly terbata-bata dan sesegukan. "Kupikir, itu salahku lagi. Ingat apa yang waktu itu pernah aku bilang? Yang tentang cerita klise itu? Ingat tidak?!"
"Iya, iya, ingat."
"Lalu kenapa kau melakukannya?! Kau ingin aku pergi lagi dari hadapanmu? Tinggal kau bilang saja aku akan segera pergi."
Felix melepaskan pelukannya. Tangannya menggenggam bahu Felly dengan kencang. Matanya menatap tajam pada mata basah Felly. "Aku tidak menyuruhmu pergi. Dan aku takkan melepaskanmu. Itu tadi hanya lelucon untuk membuatmu mendatangiku, bukan sebaliknya."
Felly masih sesegukan. "Kau pikir itu lucu? Kepala diperban, kaki dan tanganmu digips. Kau juga memar-memar. Kau pikir lucu?"
Felix malah nyengir lebar. "Memangnya tidak?"
"Cih," decih Felly sambil mendorong Felix. "Sudahlah. Aku mau makan saja lagi. Sana pergi ke kursimu!"
Felix malah cengengesan dan tetap duduk di samping Felly. "Kau tidak marah lagi, kan?"
"Kalau aku tetap marah, trik apa lagi yang akan kau mainkan?"
"Aku belum memikirkannya." Jawab Felix spontan, dan dibalas tatapan tajam dari Felly.
"Jangan memikirkannya apalagi melakukannya! Aku sudah memaafkanmu. Terpaksa!"
"Tidak apa. Aku tidak peduli kau terpaksa. Yang penting kau tidak marah."
Felly hanya geleng-geleng kepala melihat sifat kekanakan Felix. "Kau terlalu banyak bergaul dengan The Devils. Yang normal hanya Darren saja."
"Kau pikir orang dingin seperti dia itu normal?"
"Ya. Daripada orang pemaksa dan penipu sepertimu."
Felix yang merasa terhina segera memanyunkan bibirnya. "Baiklah jika kau menganggap Darren sempurna, aku akan seperti Darren sekarang. Bicara beberapa kata dan kalimat saja, otoriter, diktator, dan lihat wajahku sekarang. Aku akan menjadi datar seperti tembok."
Felly malah tertawa. "Tembok tidak memiliki hidung. Bagaimana bisa kau menjadi tembok?"
"Kenapa aku harus menjadi tembok? Mau bagaimana pun, ketampananku ini tidak bisa di duplikasi. Tidak mungkin aku jadi seperti tembok. Tembok saja yang ingin seperti aku."
Felly kembali tertawa. Dia mencubit kedua pipi Felix dengan gemas. "Mana yang tadi bilang akan berbicara beberapa kata saja? Belum semenit tapi kau sudah cerewet begini."
Felix merengut. "Aku tidak bisa diam lama-lama jika denganmu. Memangnya, kau mau aku benar-benar dingin seperti Darren?" Tanyanya, dan mendapat gelengan kepala dari Felly.
Felix mencubit hidung Felly melihat kelucuan wanita itu.
***
Sementara di tempat lain, Darren bersin beberapa kali dan telinganya memerah. Annabelle yang sedang duduk di sampingnya segera menoleh. "Kenapa?"
Darren mengusap hidungnya dan mengelus telinganya. "Sepertinya ada yang membicarakanku."
"Oh. Tidak heran. Orang dingin dan sarkas sepertimu pasti dibicarakan buruk oleh orang-orang."
Darren menatap istrinya dengan datar.
***
"Kau tahu? Sebenarnya, aku masih marah sampai sekarang." Kata Felly ketika mereka dalam perjalanan kembali ke hotel. Kali ini mereka menggunakan supir dan Felix duduk di kursi belakang bersama Felly.
Felix menatap Felly dengan cepat. "Kenapa begitu? Kupikir tadi kita sudah baikan."
"Itu menurutmu. Tapi menurutku?" Felly menggeleng menjawab pertanyaannya sendiri. "Tidak semudah itu."
Felix menghela napas panjang. "Ini sudah malam. Otakku sudah tidak bisa berpikir bagaimana cara membujukmu."
Felly berdecak kesal. "Kenapa kau tidak bertanya saja apa yang kumau?!"
"Baiklah. Apa yang kau mau?"
Felly menyeringai lebar. "Be-lan-ja." Katanya.
Felix menaikan sebelah alisnya. "Belanja?"
"Iya, belanja," jawab Felly dengan anggukkan cepat. "Tapi, tentu saja harus kau yang traktir."
Felix melirik arloji di tangannya. "Waktu yang tepat. Pusat perbelanjaan sudah tutup di jam segini."
Mendengarnya, Felly pun tersadar seketika. Raut wajahnya berubah sedikit murung. "Oh iya kau benar. Mall sudah tutup jam segini."
"Tidak apa. Aku bisa membukanya kembali."
"Apa?"
"Ed, kita ke pusat per—"
"E-eh tidak begitu juga, Lix. Kan isi pusat perbelanjaan bukanlah milik pemilik gedung mall. Memangnya kau punya kuncinya?"
"Kenapa membutuhkan kunci disaat aku bisa mendobrak pintunya?"
Felly memincingkan matanya tajam menatap Felix. Dia melipat kedua tangannya di depan d**a. "Apa aku sudah ketinggalan jaman ya? Aku baru tahu jika perusahaan ayahku bisa seberkuasa itu."
Felix mendengus. Dia mengusap puncak kepala Felly dengan gemas. "Ya. Bukannya sangat menyenangkan? Aku bisa menyewa kamar rumah sakit, mall, resto, dan apapun yang aku inginkan di dunia ini. Dan jangan lupa, aku bisa menyewa kamar hotelmu selama 2 bulan."
"Sungguh? Suite room hotel selama 2 bulan untukku?" Tanya Felly tidak percaya.
Felix mengangguk. "Ya. Menyenangkan bukan bisa menikmati suite room selama 2 bulan?"
Senyum Felly menghilang seketika. "Aku tidak bisa menjawabnya."
Felix mendekati Felly dan menangkup kedua pipi Felly. "Ada masalah apa?"
Felly menghela napas pelan. Dia melepaskan tangan Felix dari pipinya. "Sebenarnya, tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa kesepian di sana sendirian. Kau kan tahu aku penakut dan cengeng."
"Kau takut di sana? Kau ingin pindah?"
Felly menggelengkan kepalanya cepat. "Aku rindu negaraku."
"Ini negaramu. Negara kelahiranmu."
Felly terkekeh pelan. "Nafelly Christine lahir di Indonesia. Kau lupa?"
"Kalau begitu, nanti kita ke Indonesia. Bagaimana?"
Felly mendengus geli. "Tidak usah repot-repot. Sebulan lagi, aku akan pulang, bukan?"
"Sebulan lagi? Memangnya—" Felix menghentikan ucapannya. Dia melupakan fakta jika Felly hanya akan dikontrak selama 2 bulan. Dan ini sudah 1 bulan berlalu. Jika saja bukan karena kemarin Felix memiliki urusan di luar negeri dan harus membantu masalah Alarick, Felix tak akan melepaskan kesempatan untuk berduaan bersama Felly selama sebulan ini. Jika begini caranya, apa lagi cara halus yang harus Felix lakukan agar Felly ada di sini? Sial, kenapa Felix tidak kepikiran hal itu sedari kemarin?
"Tuan, ke mana tujuan kita sekarang?" Tanya supir Felix, Eddie.
"Ke hotel saja, Ed." Jawab Felly.
"Tidak, jangan ke hotel," kata Felix menyela. Felly menatapnya dengan heran. "Kita ke kediamanku."
Felly melotot mendengarnya. "Tidak! Felix! Apa yang kau lakukan?! Aku tidak ingin bertemu dengan Mom dan Dad!"
"Kau tenang saja. Aku tinggal sendirian sekarang. Hanya ada beberapa pembantu dan satpam di rumahku."
Felly mendesah lega mendengarnya. "Lalu, kenapa kita harus ke rumahmu?"
"Mulai sekarang, kau bermalam di rumahku saja." Kata Felix sambil memalingkan wajahnya menatap jendela. "Agar kau tidak kesepian."
"Maksudmu? Aku tidak tinggal di hotel lagi?"
"Ya. Kau akan tinggal bersamaku seterusnya."
"Tapi, bagaimana dengan barang-barangku? Dan uang sewa hotelmu?"
Felix segera menatap Felly. "Aku heran. Apa yang kau lakukan dengan semua uang ayah jika kau tidak bisa menyewa kamar hotel seperti mengeluarkan uang seribu rupiah?"
Felly mendelik. "Aku adalah wanita yang sederhana. Jadi, uang ayah semua kugunakan untuk hal-hal yang kubutuhkan saja. Tidak sepertimu yang boros." Dan tentu saja untuk biaya perobatan anakku.
"Kau akan tahu jika sekarang, bagiku, menyewa kamar hotel selama beberapa bulan itu tidak boros."
Felly berdecak kesal. Matanya menatap penuh dendam pada Felix.
Felix mendengus geli. Dia mencondongkan tubuhnya, menatap Felly dengan binar geli di matanya. "Kenapa? Menyesal sudah kabur? Kau ingin menikmati kemewahan ini juga kan?"
Felly menjawab ucapan Felix dengan tatapan tajam. Dia memalingkan wajahnya dan beringsut menempel pada kursi untuk menjauhi Felix. Felix hanya tertawa melihatnya.
***
Felly melongo melihat bagunan megah yang dipijaknya. Sungguh, Felly sudah sering mendatangi rumah dan apartemen mewah artis-artis yang dilihatnya. Namun, melihat rumah Felix seolah melihat istana yang megah untuk pertama kali. Ya tuhan, Felly benar-benar merasa dirinya sudah sangat ketinggalan jaman sekarang. Dia adalah keturunan Barachandra Phillips tapi dia malah tetap merasa kampungan melihat kediaman kakaknya sendiri. Bangunan dengan cat warna putih dan emas, juga ada beberapa bagian yang menggunakan warna merah dan hijau. Benar-benar rumah idaman semua makhluk di bumi ini. Apalagi dengan patung dan pilar-pilar yang terlihat mewah di sana. Yang membuat Felly mengernyit heran adalah bentuk patung itu adalah seorang bayi dengan tanduk di kepalanya namun memiliki sayap malaikat di punggungnya.
"Ed, kau ambil barang-barang Felly di hotel." Genggaman di tangan Felly dan juga suara Felix yang berada dekat dengannya membuat Felly bangun dari kekagumannya.
Felly segera teringat dengan keadaan kamar hotelnya. Celana dalam di mana-mana, baju berserakan, dan make up yang dia simpan sembarangan. Felly melotot. "Tidak! Jangan, Ed!" Paniknya. "Biar aku saja!"
Felix menghadap Felly. Dia menaikan kedua alisnya dengan heran. "Kenapa?"
Felly menatap Felix dengan kesal. "Barang perempuan. Aku tidak ingin Ed melihatnya. Biar besok aku saja yang bawa."
Felix tersenyum miring. Dia kembali menatap Eddie yang menunggu persetujuannya. "Yasudah, besok saja aku dan Felly yang mengambilnya, Ed."
Eddie mengangguk, dia kemudian pamit undur diri di hadapan Felix dan Felly. Mereka mulai berjalan di halaman saat Felly sudah menguap lebar.
"Kau mengantuk?" Tanya Felix.
Felly menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya. Aku sangat lelah. Lelah karena sandiwaramu."
Felix terkekeh pelan. "Kalau begitu, kau ganti baju dulu. Setelah itu baru tidur di kamar yang nanti akan disiapkan."
Felly hanya mengangguk saja karena memang dia sangat mengantuk. Namun, kantuk Felly segera hilang saat dia sudah berada di depan pintu. Mereka disambut oleh 2 satpam di kiri kanan untuk menjaga pintu. Pintu kaca tebal itu terbuka saat seorang satpam di samping kanan mereka menekan tombol di tembok. Felly masuk dengan tangannya yang masih dalam genggaman Felix. Dia disuguhkan dengan pintu ganda yang mewah kali ini, dan tiba-tiba pintu itu terbuka dari dalam.
Sial, Felix bahkan ada di situasi di mana dia tidak perlu repot-repot membuka pintu sendiri, batin Felly lagi-lagi melongo mendapati satpam yang ada di balik pintu itu. "Wow, berapa satpam yang kau miliki?" Tanyanya takjub.
Felix terlihat berpikir saat mereka mulai memasuki rumah. Felly melihat ke sekitar dan yang ia dapati hanyalah kekosongan. Rumah itu terlalu luas untuk sebuah meja makan dengan satu kursi namun dengan meja yang amat panjang. Dan ada satu set sofa dengan satu TV yang menemani.
"Entahlah," jawaban Felix membuat Felly tersentak dari pemikirannya. "Kupikir, aku harus menjaga seluruh aset-aset yang kumiliki. Jangan sampai ada orang-orang yang bisa menjangkaunya."
"Maksudnya?"
"Dunia bisnis itu kejam. Kau akan mendapatkan banyak musuh, bahaya, dan kompetisi-kompetisi agar kau lebih tinggi lagi. Tidak ada kata keluarga dan pertemanan dalam hal perbisnisan."
"Lalu The Devils?" Tanya Felly heran. Alisnya mengernyit dalam. "Dan apa maksudmu tidak ada kata keluarga?"
"The Devils itu pengecualian. Dan maksudku tentang kalimat itu adalah David."
"David? Dave?? Sepupu kita???" Tanya Felly dengan kaget.
Felix menganggukkan kepalanya cepat. "Ya. Sepupu kita. Beberapa tahun lalu, aku pernah mendapatinya mencari tahu sesuatu tentangku."
Felly menghentikan langkahnya dengan alis yang masih mengernyit dalam. Felix otomatis menghentikan langkahnya juga mengikuti Felly. "Itu tidak mungkin. Dave tidak mungkin gila harta."
Felix mendengus. "Nyatanya, dia memang seperti itu."
"Kalau begitu, kau dan Dave bermusuhan?"
"Tidak persis seperti itu. Kami hanya berlomba tentang siapa yang paling berkuasa."
"Kau kan sudah berkuasa. Apakah kalian masih tetap berlomba seperti itu?"
Felix malah tertawa. "Itu tidak cukup, Sayang." Katanya sambil menarik tangan Felly untuk kembali berjalan.
Namun Felly segera menarik tangannya lepas dari Felix dan mundur beberapa langkah. Felix menghentikan langkahnya lagi dan berbalik menatap Felly. Wanita itu hanya dapat menggelengkan kepalanya melihat Felix yang sekarang. "Felix. Ada apa denganmu? Kenapa Felix yang kulihat sekarang sangat berbeda? Kita seperti ada di dunia yang berbeda."
Felix menghadap Felly sepenuhnya. "Berbeda?"
Felly mengangguk dengan mata yang mengerjap beberapa kali. "Ya. Kupikir, kita dulu tidak seperti ini. Kau terlihat serakah sekarang."
Felix mendengus mendengarnya. "Serakah? Kata serakah itu untuk seseorang yang menghalalkan segala cara agar mendapatkan apa yang dia mau."
"Lalu apa bedanya denganmu? Kau bahkan menganggap Dave adalah musuh. Padahal dulu kita bertiga sering bermain bersama."
"Kita sudah dewasa, Felly. Ucapan sentimentil tentang kalimat yang kau ucapkan itu sudah tidak mempan. Bisnis adalah bisnis."
"Ya. Bisnis adalah bisnis. Dan tanpa sadar, kau kesepian karena bisnis kesayanganmu itu!"
Felix terdiam sejenak. "Dewasa adalah saat kita hanya bergantung pada diri sendiri."
"Benarkah? Lalu bagaimana jika kau juga kehilangan seseorang yang berarti bagimu?" Tanya Felly telak, membuat Felix tidak bisa menjawab pertanyaan Felly. Bayangan Felly yang meninggalkannya membuat jantung Felix terasa diremas kuat. Felix segera menggelengkan kepala sedangkan Felly melanjutkan ucapannya. "Kau tahu pepatah lama? Lebih baik kehilangan segalanya daripada kehilangan seseorang yang berarti di hidup kita. Itu prinsipku. Dan itulah yang membuat kita berada di 2 dunia yang berbeda."
Felix mendengus mendengarnya. "Benarkah? Kau mungkin tidak tahu, Felly. Seseorang yang berkuasa, bisa mendapatkan orang yang berarti bagi orang lain. Dan itulah yang akan kulakukan. Aku, tidak akan kehilangan seseorang yang berarti bagiku karena aku sudah berkuasa."
Felly mendengus tidak percaya. Dia membuang wajahnya dari Felix. "Ada banyak hal yang tidak bisa kau beli dengan uang. Dan itulah kenapa aku dan kau berada di dunia yang berbeda, Lix."
Mereka terdiam sejenak dalam pikiran mereka masing-masing sampai akhirnya Felix menghela napas panjang. "Kita akhiri pembicaraan tidak penting ini. Kau harus tidur. Besok aku akan mengantarmu ke hotel," kata Felix, kemudian berbalik dan menatap barisan pembantu yang menunduk hormat pada Felix. "Elle, berikan pakaian pada Felly dan tunjukkan kamar tamu." Katanya.
Elle yang merupakan kepala pembantu di sana segera mengangguk. "Baik, Tuan." Katanya dan berjalan menghampiri Felly.
Felix sendiri segera berjalan ke arah tangga besar yang ada di dalam ruangan. Sedangkan Felly menatap Felix yang berjalan melewati barisan pembantu yang setia menunduk hormat padanya.