Part 11

994 Words
"Selamat pagi sayang," Sean mengecup bibir Sam. "Selamat pagi juga sayang, sudah bangun?" tanya Sam. Sam mencari ponselnya di nakas tapi tak menemukan ponselnya. "Ponseku dimana yaa Sean?" tanya Sam "Aku sudah membuangnya," kata Sean santai. "Kenapa di buang? Itu masih bagus Sean," kata Sam heran. "Woooh kemana nona manja yang selalu memakai semua keluaran terbaru," ejek Sean. "Sudahlah Sean, banyak yang berubah dalam 4 tahun." Sam tersenyum melihat Sean "Tapi tak ada yang tidak berubah," "Apa itu Sean?" tanya Sam bingung "Ini." Sean menyentuh bagian sensitif Sam. "Kamu sangat nikmat sayang," "Seaaaan kau m***m," kata Sam dengan wajah yang sudah memerah menahan malu. "Saat pipimu memerah begitu, aku jadi ingin lagi sayang." Sean yang langsung mencium bibir Samantha. "Kau selalu membuatku kecanduan Sam." Sean lalu mencium lagi bibir Samantha. Saat waktu sudah siang mereka akhirnya keluar hotel dan menikmati kota Paris. "Ayoo kita jalan jalan sam menikmati kota ini Sam," ajak Sean. "Ayoo kalau dikamar terus bisa bisa kita ga jalan jalan Sean. Kamu itu terlalu m***m," "Tapi suka kan..." ujar Sean sambil membelai rambut panjang Samantha. Sean dan Samantha menikmati waktu mereka berdua bersama. Tertawa, bercanda dan bermesraan bersama. Setelah puas mereka berjalan jalan, menikmati kota Paris... "Sean tunggu aku" panggil Sam saat melihat Sean berlari kecil meninggalkannya. "Aku ingin melihatmu berjalan seperti itu sayang... kemarilah Sam," kata Sean sambil bersandar melihat Samantha berjalan menghampirinya. Mereka makan malam dengan romantis berdua seakan tak ada masalah lagi, tak ada halangan yang mereka hadapi dengan hubungan mereka. ******* Di London "Maaf Mrs. Johanson, Mr. Samuel Peter tak dapat di selamatkan," kata seorang dokter pada Stella Stella sangat sedih, dia menangis dengan meninggalnya Samuel, walau bagaimana pun Samuel menyayanginya. Samuel memperlakukan Stella dengan sangat baik seperti putri kandungnya sendiri. Selalu menuruti segala keinginan Stella begitupun Stella menyanyangi Samuel. Samuel banyak berperan penting di kehidupan Stella. Dari umurnya 8 tahun mommy Jean menikah dengan Samuel, Samuel jarang bertemu Samantha anak kandungnya tapi banyak foto Samantha menghiasi rumah mereka. Wallpaper ponsel Samuel saja foto Samantha. Stella merasa iri, dia berusaha mencari perhatian Samuel, berusaha menjadi anak kebanggaan Samuel tapi tetap kalah dengan Samantha. Samantha anak yang manja, semua serba mewah beda dengan Stella yang sederhana. Jean tak pernah memperbolehkan Stella hidup mewah seperti Samantha. Jean selalu berkata pada Stella bahwa mereka beruntung Samuel mau menikahi Jean dan membiayai kehidupan mereka. Samantha bagaikan benalu bagi Stella, semenjak kepindahan Samantha di London semua kasih sayang Samuel berpindah pada Samantha. Tapi Samantha bukan gadis yang manja dan ceria lagi seperti dulu, dia sudah berubah dan Stella melihat kesedihan dimata Samantha. Samantha menjadi lebih pendiam dan tak memperdulikan barang mewah. Dia naik bus ke kampusnya, tidak bergaul dengan teman teman di kampusnya. Menjadi gadis yang tertutup. Sering Stella melihat Samantha menangis di malam hari, kenapa gadis cantik itu bisa berubah. Stella menjadi kasian, walau bagaimana pun Samantha selalu bersikap baik pada Stella. Daddy kandungnya Stella tidak bertanggung jawab dan peduli dengan Stella lalu malah menjual Stella pada Sean. Stella sampai harus berpisah dengan orang yang sangat dia cintai, Willy Bradley tunangannya. Will ditinggalkan begitu saja oleh Stella. Stella tak ingin menceritakan semua masalahnya pada Will. Biarlah Stella yang menanggung semua sakit dan derita ini. Setelah menikah bukan kebahagiaan yang Stella dapatkan tapi malah perlakuan kasar juga sikap acuh tak acuh dari Sean. Setelah pernikahannya dengan Sean, Samantha lebih banyak diam, semakin dingin dan datar. Samantha makin sering mengurung dirinya dalam kamar. Sean juga seakan acuh pada Samantha, jarang Sean dan Samantha bertegur sapa atau pun hanya sekedar mengobrol. Stella mencoba memaklumi semuanya, mungkin Sean memang begitu sifatnya. Sean pernah berkata pada Stella bahwa dia mempunyai seorang wanita yang sangat dia cintai melebihi apapun. Seorang Gadis dari London yang sangat Sean cintai. Stella teringat perkataan Sean yang menyakitkan padanya... "Aku mencintai seorang gadis, dia sangat berharga bagiku. Jangan pernah kamu jatuh cinta padaku karena itu sia sia," kata Sean dingin. "Lalu kenapa kau menikahiku," tanya Stella "Aku membutuhkanmu karena ada suatu kepentingan. Jika kamu sudah tak kubutuhkan aku akan menceraikanmu," kata Sean. Rasanya sangat sakit dihati Stella, dia ingin marah dan berontak tapi dia tak mampu. "Sam kamu dimana," Stella mencoba terus menghubungi Samantha tapi ponselnya tidak aktif. "Aku akan menghubungi Sean." Berkali kali Stella menghubungin Sean tapi tak ada jawaban. Stella mengirim pesan pada Sean. "Sean maaf menganggumu... daddy Samuel meninggal Sean, adikku tak bisa dihubungi, Sam entah dimana. Tolong aku mencari Sam, Sean" Tak ada balasan dari Sean... Stella hanya bisa menghela napas kecewa. Kenapa Sean makin tak tersentuh... Lelah rasanya hidup seperti ini... "Stella??" Panggil seorang pria. "Will," ujar Stella tak menyangka bisa bertemu will lagi setelah hampir 1 tahun mereka berpisah. "Kenapa kamu menangis Stella," Will melihat Stella yang sedang sedih. "Daddy Samuel meninggal Will," kata Stella "Aku turut berduka cita Stel." Will lalu memeluk Stella. Stella merasakan perasaan yang sangat nyaman dipelukan Will mantan tunangannya. "Suami dan adikmu dimana? Kenapa sendiri?" "Sean lagi ada kerja diluar kota dan adikku Sam entah dimana tak bisa aku hubungi," kata Stella "Eeh maaf aku memelukmu." Will menjadi salah tingkah. "Tak apa will." kata Stella. Stella pun tersenyum melihat Will... "Kenapa kamu di rumah sakit ini Will," tanya Stella. "Aku dipindahkan di rumah sakit ini sebulan yang lalu," "Aku jadi lebih dekat denganmu tidak seperti dulu," kata Will. Stella hanya diam mendengarkan perkataan Will. Will dulu berkerja menjadi dokter di salah satu rumah sakit di luar kota, mereka menjalin hubungan 5 tahun dan sudah bertunangan tapi pertunangan itu putus karena Stella terpaksa menikah dengan Sean. "Apa kau tak bahagia dengan pernikahanmu? Kenapa kau terlihat begitu berbeda tak seperti dulu," kata Will. "Aku bahagia kok Will...” ujar Stella berbohong. "Aku merindukanmu..." kata Will. "Will... aku sudah menikah, maafkan aku Will," kata Stella sangat sedih. "Baiklah aku mengerti... boleh kan kita masih berteman." "Tentu saja Will," kata Stella Mereka pun berpisah setelah saling bertukar nomor ponsel. Entah mengapa Stella merasa seperti mendapatkan kebahagiaan saat ini, pernikahan dengan Sean, Stella tak merasa bahagia dan sekarang tak sengaja bertemu will, membuatnya merasa bahagia. *******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD