Masih dalam rangka liburan singkat, hari ini Kanika ikut lagi dengan Aliya ke rumah sakit. Kemarin saat pulang dari mall paska insiden rebutan barbie, Kanika menangis lagi di rumah dan mengadu pada Papa.
Menangis sejadi-jadinya karena kesal tak dapatkan apa yang di inginkannya, akhirnya Hardi berjanji akan membelikannya sesuai permintaan Kanika meski wajah Mai sama sekali tak bersahabat setelah mendengar jumlah boneka yang diinginkan.
"Jadi kemarin nggak dapat bonekanya, Kani?" tanya Suster Devi saat Kanika anteng di kursinya bermain dengan boneka lain yang Aliya belikan.
"Nggak! Malah di ambil sama anak lain hish..." jawab Kanika setengah emosi, Aliya yang mendengar jadi menahan tawanya sebisa mungkin.
"Ya udah nggak apa-apa nanti beli lagi." sahut Suster Devi mencoba menenangkan Kanika yang masih emosi ketika di tanya boneka barbie nya.
Kanika hanya mengangguk saja tak peduli, ia masih sebal. Bisa di lihat dari wajahnya yang sejak pagi tadi tak bersahabat sama sekali.
"Kalau lagi gitu jangan ditanya, Sus." bisik Aliya saat Suster Devi ada di sebelahnya sambil memeriksa medical record pasien pagi ini.
Suster Devi terkekeh. "Sensi ya, dok."
"Heum, makanya saya biarin aja nanti juga adem sendiri." kata Aliya sambil melirik ke arah Kanika.
.
.
.
.
"Kakak..." rengek Kanika saat jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas.
"Tunggu yaaa." jawab Aliya sekalem mungkin, masih ada pasien di depannya. Kanika sudah mulai cranky.
"Itu adiknya, dok?"
Aliya tersenyum. "Iya bu, ini adik saya." jawabnya setelah selesai menuliskan resep obat. "Ini resep obatnya ya bu, setelah ini ibu saya rujuk ke fisioterapi ya untuk terapi uapnya." ujar Aliya sambil mengangsurkan lembaran resep tadi.
"Iya dok, terimakasih. Kalau begitu saya permisi, mari..."
Aliya mengangguk sambil tersenyum.
"Kaaaakkk lapar..." rengek Kanika sekali lagi.
"Iyaa ini udahan, sabar atuh." Aliya melepas snelinya lalu beranjak dari kursinya dan menggendong Kanika yang sudah cranky di sofa.
"Uugh bayi besar lapar ya? Mau makan apa sih?" tanya Aliya sambil berjalan ke arah kantin, masih menggendong Kanika.
"Apa yaa?" Kanika mengedarkan pandangannya ke arah stand makanan di kantin. "Itu aja Kak, tahu telur." cengir Kanika kemudian.
"Okee..."
"Eh Kak, itu Ayah!" Kanika menunjuk Ayah Mario di sudut kantin. "Kani ke sana ya, Kak." Kanika langsung turun dari gendongan Aliya dan menghampiri Ayah Mario.
Aliya geleng-geleng kepala saja saat melihat adiknya itu lalu memesan makanan yang di inginkan Kanika.
Tanpa Aliya sadari, di sudut kantin ada lelaki yang memperhatikannya. Lelaki yang kemarin tak sengaja yang bertemu dengannya di toko mainan bersama anak kecil seusia Kanika juga yang memperebutkan boneka barbie mereka.
"Tuhkan bener dia udah punya suami." batinnya saat melihat Aliya menghampiri meja di dekat jendela.
"Om Adri lihatin siapa sih kok gitu mukanya?" tanya Amanda--keponakannya dengan polos.
"Eh. Nggak, udah ayo habisin makannya nanti kita ke ruangan Oma Nadia." ajaknya, Amanda mengangguk lalu menyelesaikan makan siangnya itu.
Sementara di meja Aliya, Kanika masih mengadukan hal yang sama pada Ayah Mario perihal boneka yang ia inginkan. "Hahahaha, nggak apa-apa. Nanti beli ya, Aluna juga belum beli tuh kemarin cari-cari juga eh habis." jawab Ayah Mario.
"Nggak ayah, nanti sama Kani ajaa. Kan Papa beli lima, satunya buat Luna ya." ujar Kanika ceria.
"Iya, makasi yaa..." ucapnya, Kanika nyengir kemudian. "Gimana poli, Al?"
"Biasa, Yah. Banyak pasien ispa hari ini." jawab Aliya lalu menyuap nasi campurnya.
Ayah Mario mengangguk-angguk. "Ya cuacanya begini, ini juga hujannya nggak berhenti-berhenti kan dari kemarin malam? Besok Kanika jangan di bawa lagi ya, Al."
"Iya Yah, besok Kani di rumah aja kayaknya. Lagi rentan banget, nggak tahu kan imunnya gimana?"
"Tuh udah mulai pilek-pilek kan?" sergah Ayah Mario saat melihat Kanika menggaruk hidungnya yang gatal dan memerah.
"Oh iyaa.." Aliya langsung membersihkan hidung Kanika yang mulai berair.
"Enghh Kakak..." Kanika mencoba menepis tangan Aliya dari hidungnya. "Orang nggak apa-apa kok." elaknya padahal sudah jelas-jelas Kanika akan segera pilek sebentar lagi.
"Al, Kani, Ayah duluan ya udah di panggil, nih." Ayah Mario pamitan setelah melihat alarm kecil di sakunya. "Segera pulang kalau udah selesai ya."
"Iya Ayah." jawab Aliya.
"Kak, mau main di daycare. Main ayunan." ajak Kanika.
"Eh Kakak mau pulang sebentar lagi."
"Nggak mau, Kanika mau main ayunan!"
Aliya menarik napasnya dalam-dalam, berusaha sabar. "Oke, tapi sebentar aja ya?"
"Iyaaa..."
Kanika dengan semangatnya sudah berlari meninggalkan Aliya di belakang menuju daycare, jarang-jarang Kanika ingin main ke sana. Biasanya jika ingin main ayunan dan prosotan, Kanika akan ke taman tapi karena hujan sepertinya ia ingin main di daycare saja.
Aliya sudah habis kata melarang Kanika jika kemauannya tidak dituruti. Untung saja semua Suster di daycare paham Kanika seperti apa jadi semua sudah memakluminya.
Kanika segera melepas sepatunya saat melihat ayunan yang biasa di naikinya kini kosong tak berpenghuni. Wajahnya sudah berbinar namun lagi-lagi...
"Kamu??!" Kanika dengan kesal menyadari siapa yang ada di sebelahnya.
"Iihh aku duluan!!" ya anak itu Amanda, yang kemarin bertemu Kanika di toko mainan.
"Lho aku dong?" Kanika menepis tangan Amanda dari tali pengait ayunan. "Sana!!" lalu langsung duduk di ayunannya dengan wajah tak bersahabat.
Aliya yang melihat belum sempat melerai hanya bisa menepuk dahinya karena kelakuan Kanika yang sangar jika anak itu tidak di kenalnya. "Aduh! Itukan anak yang kemarin!" gumam Aliya sambil memijit pelipisnya.
Amanda menahan tangisnya lalu pergi dari hadapan Kanika yang sudah asik berayun dengan ayunannya. "Om Adriiii.. Oma Nadiaaa..." tangisnya pecah begitu menghampiri Adrian dan dr. Nadia di meja depan.
"Lho kenapa ini cucu Oma?" tanya dr. Nadia heran melihat Amanda yang menangis mendatanginya.
"Ituuu..." tunjuknya ke arah Kanika yang tertawa saat ayunannya bergerak.
dr. Nadia mengerutkan dahinya, ia mengenali anak di ayunan itu dan yang mengantarnya juga ia kenal sekali. "Lho itu kan Tante Aliya dan Kanika, Manda. Anaknya dr. Mai. Manda lupa ya?" dulu, dulu sekali Amanda pernah bertemu Kanika dan Aliya beberapa kali, sepertinya anak ini lupa.
Amanda menggeleng. "Manda nggak ingat, Oma." jawabnya sambil menyusut hingusnya.
"Lho Mama kenal mereka?" tanya Adrian.
"Ya kenal! Mamanya Aliya itu teman baik Mama, Adri. Yang dulu mama mau kenalkan ke kamu eh kamunya malah nggak pulang-pulang!" protes dr. Nadia, Adrian terkekeh saja.
"Lho bukannya dia udah menikah ya, Ma? Itu, anaknya, kan?" tanya Adrian meyakinkan.
"Ngaco kamu, Dri. Aliya itu belum menikah, Kanika itu adiknya." dr. Nadia menggelengkan kepalanya. "Informasi darimana dia udah menikah, Dri?"
"Tadi Adrian lihat sendiri, Ma. Dia di kantin sama laki-laki dan anak kecil itu satu meja dan Adri denger sendiri mereka panggilnya Ayah kok."
dr. Nadia tertawa mendengar cerita Adrian. "Adri... Adri... Itu dr. Mario, Om nya Aliya dan Kanika. Tapi biasanya dipanggil Ayah, makanya kamu salah paham kan?"
Adrian lantas hanya bisa menjawab Oh saja saat mendengar ucapan Mamanya itu. "Sepertinya aku salah paham." batin Adrian lagi saat mencerna kata-kata Mamanya.
"Adri pikir anaknya. Ehehe..."
dr. Nadia menggelengkan kepalanya. "Udah ayo, Amanda minta maaf sekalian kenalan lagi sama Kanika." ajak dr. Nadia.
"Iya Oma."
dr. Nadia membawa Amanda ke tempat Kanika dan Aliya berada di area bermain, Adrian juga ikur di belakang mereka.
"dr. Aliya?" sapa dr. Nadia.
"Eh, saya, Dok." Aliya tersenyum kemudian.
"Ayo Amanda kenalan lagi sama Tante Aliya." pinta dr. Nadia, Amanda langsung memperkenalkan dirinya.
"Lupa ya, Al. Ini Amanda yang waktu itu saya bawa pas ulang tahun si kembar dan Kanika?"
Aliya nampak terkejut dan baru mengingatnya. "Oh ya ampun, dok, saya lupa. Saya kira siapa, udah lama nggak lihat sih yaa. Maaf ya, kamu jadi nangis deh tadi." Aliya mengelus pipi Amanda.
"Dan ini satu lagi yang susah sekali di ajak pulang. Ini Adrian yang akan praktik di sini juga, Aliya." dr. Nadia memperkenalkan.
Aliya tersenyum dan menyambut uluran tangan Adrian saat lelaki itu memperkenalkan dirinya. "Adrian, maaf ya, saya kira itu anak kamu." ujarnya.
"Aliya. Saya udah biasa di kira punya anak. Saya pikir Amanda juga anak kamu..." balas Aliya lalu tawa terdengar di playground daycare.
"Oh jadi ini yang kamu ceritakan ketemu di toko mainan itu, Dri?"
"Hehehe iya Ma, nanti saya ganti ya Barbienya..." Adrian terkekeh saat Aliya juga ikut tertawa sambil menggelengkan kepalanya tanda tak ingin Adrian mengganti apapun soal barbie yang kemarin.
Mareka masih di sana memperhatikan Kanika dan Amanda yang sekarang sudah akur dan berbagi mainan mereka bersama di sini.
Sesekali Adrian melirik Aliya yang tengah berbincang dengan dr. Nadia nampak akrab sekali. Adrian sudah berkali-kali di minta pulang oleh dr. Nadia dan dr. Irzha untuk bekerja di KMC sekaligus akan di kenalkan pada Aliya.
"Tapi ini bukan perjodohan, kan?" batin Adrian.
❤️❤️❤️❤️❤️
Fresh chapter semoga suka yaa, bener-bener di edit banget fyuhh....hujani aku dengan vote dan komen kalian ya gaes, thank you...
#dahgituaja
#awastypo
Dudui
Danke,
Ifa,