Aliya baru saja menyandarkan punggungnya di kursi setelah tak henti pasien masuk silih berganti dan rasanya lelah sekali. Di tambah banyak pikiran yang masih belum bisa Aliya enyahkan begitu saja setelah Mama dan Papanya pulang dari Surabaya hari Minggu lalu. Masih jelas sekali di kepala Aliya bahwa Papanya kemarin lebih mementingkan perasaan orang lain di bandingkan anaknya sendiri yang bahkan sudah tak jelas lagi bagaimana perasaannya hingga kini. "Papa masih aja egois kalau soal ini. Bingung Kakak sama Papa..." batin Aliya perih sambil termenung. "Dokter Aliya, ada yang cari di UGD." Suster Devi memecahkan lamunan Aliya. "Eh. Siapa Suster?" "Kanika sama si Kembar, dok." "Lho? Sama siapa mereka ke sini?" Aliya heran, ia segera bangkit dari duduknya. "Sama guru dari sekolahnya, Dok

