Part 25

1089 Words
Camila menatap kosong layar komputer di depannya. Padahal file presentasi untuk meeting besok sama sekali belum ia kerjakan. Tapi rasanya mood untuk mengerjakannya sudah tidak ada. Energinya sudah habis entah kemana. Pasti ia harus lembur nanti malam di kamar kosnya demi menyelesaikan bahan meeting ini. Kantor penerbitannya akan mengadakan bazar buku besar-besaran untuk merayakan ulangtahun berdirinya penerbitan ini yang ke dua puluh tahun. Perkembangan penerbitan ini memang agak lambat dulu, mungkin karena minat pembaca sedikit dan belum ditemukan para penulis-penulis yang mau bergabung di sini. Untungnya setelah Camila berinisiatif membuat lomba romance novel gratis di sebuah sosial media yang ternyata peminatnya sangat banyak. Bahkan mereka sempat kewalahan dalam memilih naskah-naskah terbaik yang akan diterbitkan secara gratis di kantor ini. Dan di bazar itu nanti akan sekaligus menjadi pengumuman pemenang lomba naskah terbaik. Pastinya akan meriah. Maka persiapannya pun harus benar-benar matang. Hanya tinggal dua minggu lagi. Waktu yang Camila miliki tidaklah banyak. Camila menghela nafas lalu mengambil file yang akan ia serahkan pada Bara untuk ditandatangani pria itu. Langkahnya agak ragu ketika berdiri di depan pintu ruangan Bara. Ia takut salah tingkah hingga membuat Bara curiga. Ia benar-benar takut jika Bara akan marah padanya dan mengiranya sebagai w************n. Padahal ia benar-benar tidak tahu. Ia memang bodoh dan mengira itu adalah Bara, karena menurutnya tidak mungkin ada pria lain di kamar itu selain mereka berdua. Camila memejamkan matanya dan membukanya kembali dengan cepat sebelum menekan knop pintu dan masuk ke ruangan Bara. Bara tampak duduk di atas kursinya dengan posisi membelakangi Camila. Pria itu memutar kursinya dan tersenyum ketika melihat siapa yang datang. Camila berjalan perlahan ke arah meja Bara, berharap tubuhnya tidak bergetar atau tiba-tiba ambruk di depan pria itu karena tingkat stress dalam kepalanya sangat tinggi saat ini. "Dokumen yang saya minta sudah selesai?" tanya Bara dengan suara lembut seperti biasa. Senyum pria itu pun bahkan terlihat sama saja seperti sebelum-sebelumnya. Entah jika dia tahu yang sebenarnya soal yang terjadi pada Camila, apa semua akan tetap sama atau berubah detik itu juga? "Sudah, Pak. Tapi untuk file presentasi untuk meeting besok sepertinya akan saya selesaikan malam ini," balas Camila dengan sedikit ragu. Sebelumnya ia tidak pernah menunda pekerjaannya jadi rasanya sangat tidak baik bagi karyawan baru sepertinya yang malah keenakan menunda-nunda pekerjaan. "Kenapa? Kamu masih lelah? Atau moodnya sedang tidak baik?" tanya Bara dengan senyum penuh pengertian seakan tahu apa yang Camila rasakan. "Tidak juga, Pak." Camila tersenyum tipis, menyembunyikan kegugupannya. "Saya tahu cara yang bagus untuk meningkatkan mood kamu. Mau coba?" tanya Bara yang menaikkan sebelah alisnya kemudian beranjak dari tempatnya. Pria itu mendekat ke arah Camila dan berdiri di belakang gadis itu. Ia menundukkan kepalanya ke tengkuk milik gadis di depannya. Camila hanya memejamkan matanya merasakan sentuhan dari pria yang sudah beberapa bulan ini menjadi kekasihnya. Meski ia tidak mood melakukan permainan seperti biasa, tapi ia ingin melakukannya, berharap jejak-jejak pria yang tak ia kenal dan sudah menyentuh setiap inchi tubuhnya dapat hilang karena Bara. "Mas," lirih Camila saat Bara sibuk meninggalkan kissmark di tengkuknya serta tangan kekar pria itu yang menyelinap masuk ke dalam kemejanya yang telah dibuka kancingnya. "Kamu menyukainya, kan?" bisik Bara tepat di depan telinga Camila lalu menjilatnya perlahan, membuat gadis di depannya kembali mendesah pelan. Membuat darah Bara semakin mendidih. Ia ingat kata-kata Rene untuk menjadikan Camila bonekanya. Ya, ia melakukan semua ini karena Camila adalah boneka miliknya, bukan karena ia mencintainya. Cintanya hanya untuk Rene. "Aku mencintaimu, Mas. Jangan pernah mengkhianatiku," bisik Camila tepat di telinga Bara. Ia benar-benar takut kehilangan pria untuk yang kedua kalinya. Cukup baginya kehilangan Fahri dulu, sekarang tidak boleh lagi. Bara harus menjadi miliknya, tak peduli meski pria ini hanya menginginkan tubuhnya. Asal dia tidak meninggalkannya, Camila akan melakukan apapun untuknya. Bara semakin mempercepat ritme tubuhnya, menyalurkan segala hasratnya meski pencapaiannya telah selesai. Seakan tubuhnya tidak pernah lelah. Membuat Camila terus menerus mendesah dengan peluh yang semakin membasahi tubuh gadis itu. Berbagai gaya sampai Bara coba demi menyalurkan hasratnya yang tidak kesampaian ia salurkan pada Rene di hari pertemuan mereka beberapa waktu lalu. Sampai Camila tertidur di atas sofa dengan wajah yang kelelahan. Bara menunduk, menatap wajah Camila, seakan takut gadis di depannya akan tiba-tiba menghilang jika ia mengalihkan pandangan darinya. "Kamu akan selalu jadi milikku. Aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku." Anggaplah Bara menjadi pria egois sekarang, tapi inilah dirinya. Ia tidak mau munafik karena menginginkan banyak wanita di dalam hidupnya. Termasuk wanita di masa lalu serta wanita yang akan menemani di masa depannya ini. Bara tidak ingin kehilangan keduanya, ia tahu kehilangan adalah hal terberat yang masih tak bisa ia kuasai. ............... Gilang mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak tega melihat wajah Camila yang stress setelah menerima telepon darinya. Ia hanya ingin gadis itu tahu jika permainan mereka beberapa waktu yang lalu adalah nyata, bukan sekedar mimpi apalagi hanya sebuah khayalan. Ia memang seperti memanfaatkan keadaan. Tapi yang sebenarnya ia hanya ingin menyelamatkan Camila. Sayangnya ini bukan saatnya. Ia masih harus menunggu sembari memberitahu Camila perlahan soal kebusukan yang telah Bara lakukan. Ia belum mendapat cukup bukti yang kuat untuk membongkar kebusukan pria itu. Apalagi Anne menyuruhnya menunggu sampai Bara dan Camila resmi menjadi suami istri. Karena menurutnya hal itu bisa membuat Bara semakin terpuruk dibanding harus menggagalkan pernikahannya lagi. Sayangnya Anne tidak tahu siapa Camila bagi Gilang. Anne hanya tahu jika Gilang ingin membantunya membalaskan dendam atas sakit hati yang gadis itu rasakan. Untuk saat ini Gilang lebih menuruti keinginan Anne sampai ia mendapat bukti yang kuat. Jika ia tidak punya bukti sama sekali dan asal datang dalam kehidupan Camila, yang ada gadis itu hanya akan menganggapnya gila. Seenaknya datang dan mencoba merusak kepercayaannya pada kekasihnya. Tentu saja Gilang tidak sebodoh itu. Ia punya rencana lain dimana Camila bisa menerimanya sebagai teman tanpa curiga dengan apa yang telah ia lakukan dulu. "Terkadang untuk mengelabui musuhmu, kamu harus jauh lebih licik." .............. "Dasar wanita bodoh. Sampai kapan pun kamu tidak akan bisa menarik hati Bara. Kamu hanya akan dijadikan boneka seksnya lalu dibuang setelah dia puas menggunakan kamu. Mungkin kamu merasa jauh lebih beruntung karena dia mau menikahimu setelah habis mengobrak abrik tubuhmu, tapi sayangnya hatinya selamanya tidak akan pernah kamu miliki," gumam Anne setelah berhasil mendapat beberapa informasi dari orang-orang suruhannya termasuk hasil menyadap ponsel pria itu dan tahu jika Bara masih berhubungan dengan Rene. Perlahan tapi pasti, Anne tahu jika Camila hanyalah pelarian bagi Bara. Tidak lebih. "Aku tidak akan melupakannya, melupakan soal kamu yang mempermainkanku, menggunakan diriku bagai p*****r dan membuangku begitu saja ketika kamu mendapatkan mangsa yang lebih segar. Tapi kamu harus ingat, sesegar-segarnya dia... dia akan membusuk juga."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD