Part 26

1319 Words
Flashback... Anne tersenyum kecil ketika dirinya mendapat email balasan dari kantor penerbit tempatnya mengirim naskah novel pertamanya. Ia sebenarnya sangat ingin menjadi penulis terkenal. Maka ia mencoba untuk mengirimkan naskah novelnya ke kantor penerbitan yang sudah cukup lama berdiri itu. Ia berharap naskahnya bisa diterbitkan dan namanya bisa dikenal banyak orang. Namun di dalam isi email itu tidak ada keterangan jika naskahnya diterima atau ditolak, akan tetapi Anne sudah sangat optimis ketika dirinya diundang untuk datang langsung ke kantor penerbitan yang cukup besar itu. Ketika gadis berambut dicat pirang itu sampai di kantor penerbit, ia diarahkan ke sebuah ruangan yang di depannya terdapat nama Bara Tanujaya. Jika naskahnya diterima, seharusnya Anne menemui editornya, kan? Tapi dari ruangan yang ada di depannya saat ini, Anne tahu jika orang yang berada di dalamnya jelas jauh lebih penting dari hanya sekedar editor. Tapi kenapa ia malah disuruh ke sini? Apa ini sudah prosedur jika akan menerbitkan naskah novel di sini? Anne pun mengetuk pintu ruangan itu lalu sebuah jawaban terdengar dari dalam. Gadis itu menekan knop pintu dan melihat pria berusia sedikit lebih tua darinya duduk sembari menatap tumpukan kertas di depannya. Anne pikir itu adalah naskah novelnya karena ia melihat judul novelnya di halaman depan tumpukan kertas itu. "Selamat siang, Pak," sapanya mencoba ramah dan sopan. Pria yang Anne duga bernama Bara itu mengangkat wajahnya dan menatap gadis di depannya lekat-lekat. Kedua sudut bibirnya membentuk senyum yang terlihat mempesona. Membuat siapapun akan terpesona dengan senyuman pria itu. "Siang. Jadi kamu yang bernama Anne? Ternyata sama seperti di foto ya," ucapnya dengan tatapan menilai itu. Anne mengangguk dan tersenyum kecil menanggapinya. "Jadi, apa motivasi kamu mengirim naskah ke kantor ini? Kamu tahu... " Bara menunjuk tumpukan kertas di depannya dengan tatapan tetap ke arah Anne. "Naskah kamu ini tidak sesuai dengan kantor penerbitan kami." Lalu kenapa saya dipanggil ke sini? Batin Anne, bingung. "Naskah romansa dewasa." Bara memperjelas jenis naskah yang Anne kirim. Ya, Anne memang mengirim naskah romansa dewasa. Karena ia merasa lebih mendalami soal naskah romansa dewasa itu. "Iya, Pak. Kalo naskah saya tidak sesuai, lalu kenapa saya dipanggil ke kantor anda?" Bara tersenyum tipis sembari beranjak dari tempatnya. "Tapi saya bisa buat pengecualian buat kamu. Apalagi jika kamu mau jadi terkenal. Itu sangat mudah," ucapnya sembari berjalan mendekat ke arah Anne. "Ma-maksud anda? Saya bisa jadi terkenal?" tanya Anne dengan mata berbinar. Karena ia memang ingin menjadi penulis terkenal yang namanya akan dikenal oleh banyak orang. "Tentu saja." "Saya mau. Lalu apa yang harus saya lakukan?" tanya Anne dengan cepat dan tanpa kecurigaan sedikit pun. Bara tersenyum kecil. "Kamu akan melakukan syarat yang saya ajukan?" tanyanya sembari berdiri di depan Anne dengan melipat kedua tangan di depan dadanya. "Tentu saja. Yang penting saya bisa terkenal. Bahkan saya bisa membayar berapapun asalkan nama saya bisa besar di dunia literasi ini." Anne tersenyum penuh kepercayaan diri, semakin membuat Bara senang karena tidak perlu repot-repot lagi. "Saya ingin berperan seperti di setiap bagian novel yang kamu buat, bersama kamu," bisik Bara tepat di depan telinga Anne. Anne merasa merinding yang luar biasa ketika Bara mengatakannya. Apalagi pria itu sepertinya sengaja meniup telinganya, meninggalkan sensasi geli yang membuat tubuhnya panas dingin seketika. Sejujurnya ia hanya suka berfantasi sembari menulis cerita romansa, tapi ia sama sekali tidak berpengalaman dalam hal itu. "Ta-tapi saya belum pernah melakukannya." Bara tiba-tiba tertawa kecil, merasa ucapan Anne sangat lucu. "Kamu menulis cerita dewasa tapi kamu tidak pernah melakukannya? Bagaimana kamu bisa menghayati tokoh dalam novelmu?" tanyanya dengan meragukan. "Saya pikir tidak harus melakukannya untuk membuat sebuah cerita. Itu kan fiktif, Pak." Bara mengangguk-angguk mengerti. "Tapi seharusnya kamu bisa merasakan seperti yang tokohmu rasakan, dengan begitu ceritamu akan lebih terasa hidup lagi." Anne menarik nafas dalam-dalam lalu menatap Bara. "Kalo begitu, anda mau mengajarkannya pada saya, Pak?" tanyanya yang merasa tidak buruk juga soal ajakan Bara. Toh pria yang ada di depannya ini tampan, dan ia pun akan menjadi terkenal dengan mudah. Tidak harus memulai dari nol. " Tentu saja. Saya bisa mengajarkanmu banyak hal soal kedewasaan." Bara berdiri di belakang Anne dan meremas b****g gadis itu. Anne agak kaget dengan sentuhan Bara yang tiba-tiba, tapi rasa panas yang mendadak datang membuat gadis itu malah menikmatinya. Terlebih ketika tangan kekar pria itu menyelinap masuk ke dalam rok mininya yang kemudian diangkat ke atas, memperlihatkan b****g indahnya yang hanya dilapisi hotpants tipis serta celana dalam berwarna hitam dengan tali tipis yang mengikatnya. "Seharusnya kamu tidak repot memakai celana seperti ini." Srekk!! Entah kekuatan darimana, pria itu dengan mudah merobek hotpants Anne yang memang berbahan tipis. Menyisakan celana dalam hitam yang tidak menutupi b****g indah gadis itu. Bahkan hanya dengan satu kali tarikan pada talinya, celana dalam itu sukses jatuh ke lantai. "Paha indah ini memang seharusnya terekspos," ucap Bara dengan kekagumannya melihat paha serta b****g mulus dan besar milik Anne. "Kamu masih perawan?" tanya Bara sembari menatap ke arah Anne. " Tentu saja," ucap Anne dengan percaya diri, membuat senyum di wajah Bara mengembang. Hal apalagi yang paling membahagiakan pria selain mendapat mangsa yang masih tak pernah tersentuh sebelumnya? Itu membuat kebanggaan tersendiri di dalam diri Bara. "Bagus lah. Kamu akan menyesal jika berbohong padaku." ucap Bara terdengar seperti sebuah ancaman. Anne tentu tidak takut dengan ancaman Bara karena dia sudah sangat jujur soal kondisinya. " Untuk apa aku berbohong? Asal kamu juga menepati janji untuk membuat bukuku terkenal. Awas saja!" ancamnya balik. Bara tertawa sinis kali ini. Hal yang mudah baginya untuk membuat nama Anne menjadi terkenal. Ia bisa dengan mudah mempromosikan buku-buku karangan Anne. Bukan hal yang sulit, asalkan Anne mau ia kendalikan. Asal gadis ini menuruti segala keinginannya, maka ia pun akan menuruti yang Anne inginkan. Sejak saat itu Anne memang berhasil mendapatkan ketenaran dari namanya bahkan keluarganya berhasil membeli saham di perusahaan itu. Anne memang sering tidur dengan pria itu meski Bara masih memiliki hubungan dengan Rene dan akan segera menikah. Karena tidak rela jika Bara menikahi Rene, Anne pun menghancurkan kepercayaan Rene pada Bara hingga berhasil membuat Rene meninggalkan Bara tepat di hari pernikahan mereka. Sayangnya selama itu pula Bara tidak pernah melirik Anne bahkan tidak pernah menyentuh Anne lagi karena rasa patah hatinya apalagi kedua orangtua Bara yang mendadak meninggal dunia. Yang membuat Anne kesal adalah kedatangan Camila yang berhasil membangkitkan jiwa Bara kembali. Gadis itu yakin jika Bara sudah tidur bersama Camila. Anne tidak rela jika Bara hidup bahagia setelah apa yang pria itu lakukan padanya, membuangnya seperti sampah. "Bara... Aku rindu sentuhanmu. Kamu tidak tahu selama apa aku menahannya, tapi kamu malah mau menikahi Camila. Lihat saja! Akan aku buat kamu membenci gadis itu. Agar gadis itu tahu rasanya dicampakkan setelah semuanya direnggut olehmu." Anne merasa dirinya hampir gila, gila karena apa yang telah Bara pernah lakukan padanya di masa lalu. Andai pria itu tidak mempermainkannya dan mencintainya dengan sungguh-sungguh, pasti mereka bisa menjadi pasangan serasi dan bahagia. Bukan malah seperti sekarang ini. Anne tidak bisa membiarkan Bara bahagia dengan wanita lain selain dirinya. Ia sudah menyerahkan segalanya untuk pria b******k itu, tapi pria itu dengan mudahnya menggantikan dirinya dengan wanita lain. Ia tahu selihai apa seorang Bara merayu wanita hingga mau bertekuk lutut di hadapannya, pasti dia telah melakukannya juga untuk Camila. Tapi kenapa Camila? Kenapa bukan dirinya saja? Toh ia tak peduli sebrengsek apapun Bara padanya selama ini, ia akan tetap menerima pria itu dengan senang hati. " Sial! Aku masih saja tidak bisa melupakannya." Anne menarik rambutnya dengan frustasi. Wanita itu pun berjalan menuju dapur apartemennya dan membuat segelas teh demi menyegarkan pikirannya saat ini. Ia pun membawa secangkir teh hijau yang telah dibuatnya ke sudut ruangan dekat jendela, menyesapnya perlahan dan menikmatinya. Matanya menatap ke pemandangan di luar jendela, pada deretan gedung pencakar langit yang tampak gagah. Ini adalah tempat favoritnya ketika ingin menjernihkan pikiran atau ketika ia butuh sebuah inspirasi. Tapi kali ini, ia hanya ingin menenangkan dirinya sendiri. Berharap rencananya akan berjalan mulus sesuai harapannya. Banyak yang telah ia korbankan untuk melakukan rencana ini, termasuk materi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD