Masa lalu memang sudah jauh terlewat, tapi terkadang ketika seseorang tidak bisa mengikhlaskan sesuatu yang telah pergi dari masa lalunya, maka orang itu akan terus berada di dalam masa lalunya. Terjebak dalam sebuah kisah yang bahkan sudah berakhir sejak lama.
Itulah yang terjadi pada Bara. Semenjak dia bertemu dengan Rene lagi, kekasih dari masa lalunya yang meninggalkannya tepat di hari pernikahan mereka... Bara seakan bernostalgia kembali ke masa-masa hubungannya dengan Rene yang masih baik-baik saja. Tidak ada kecanggungan di antara mereka meski mereka sadar jika mereka berdua telah mengkhianati pasangan masing-masing. Terutama Bara.
Pria dengan hasrat seks yang tinggi itu tidak bisa merubah dirinya sejak dulu. Seks sudah menjadi kebutuhan hidupnya. Hanya ia akan pilih-pilih untuk melakukan seks. Tidak dengan wanita malam apalagi wanita yang tidak ia kenal. Kebanyakan partner seksnya adalah kekasihnya atau wanita yang ia kenal dengan baik.
Ada penyesalan dalam hati Bara ketika dulu Rene meninggalkannya begitu saja. Saat itu Bara merasa bersalah karena telah mengkhianati kekasihnya itu. Walau Rene sebenarnya tidak tahu, hal itu tetap menjadi beban bagi hatinya. Kali ini ia mengulang kesalahannya, demi kembali menjalin kasih dengan Rene, ia mengkhianati calon istrinya. Camila.
Merasa bersalah?
Tentu saja.
Akan tetapi Bara tidak menyesal. Baginya kembalinya Rene jauh lebih baik dibanding ketika ia mendapatkan Camila. Karena pria itu sadar jika perasaannya pada Rene sudah sangat dalam. Dibanding perasaannya yang baru terajut dengan Camila, perasaannya pada Rene jelas jauh lebih besar.
Pria itu berjalan menuju lift yang membawanya ke lantai sepuluh. Tempat ia akan bertemu dengan Rene, lagi. Ya, Bara telah membohongi Camila. Tanpa ia sadari, berbohong dan mengkhianati Camila telah menjadi kebiasaan barunya.
Bagi Bara, apa yang ia lakukan tidaklah salah. Ia adalah pria yang butuh kebebasan. Meski ia sudah memiliki hubungan, ia masih ingin menjalin hubungan lagi dengan mantan kekasihnya. Karena orang itu adalah Rene. Mungkin jika bukan Rene, Bara akan setia dengan Camila. Toh, Camila juga punya masa lalu dan mungkin hati gadis itu juga tidak sepenuhnya untuknya saat ini. Bisa saja, kan?
"Bara." Gadis berambut panjang dan hitam lurus itu membuka pintu ketika Bara baru dua kali menekan bel yang ada di depan pintu kamar. Ia langsung menarik pria itu ke dalam dan memeluknya. "Aku rindu."
Bara mengusap-usap punggung Rene yang halus dan tidak tertutup sehelai kain pun karena ternyata gadis itu baru selesai mandi dan saat menariknya ke dalam, dia langsung melepaskan handuknya sehingga tubuhnya polos saat ini juga. Wangi sabun yang khas serta kulit Rene yang terasa dingin dan lembab membuat Bara seketika ingin menerkam gadis itu. Ia pun langsung saja melumat bibir Rene dengan ganas. "Aku juga rindu," ucapnya sembari mengangkat tubuh Rene dan menjatuhkan gadis itu ke atas ranjang.
"Aku rindu setiap sentuhan kamu, Bar." Tatapan Rene terlihat berembun ketika Bara mulai menyentuh setiap inchi tubuhnya. Pria itu tengah meremas gundukan kembarnya sembari menatapnya dalam-dalam. Wajah Bara semakin dekat hingga bibir mereka kembali bertaut penuh gairah, sampai mereka lupa jika seseorang tengah menunggu kepulangan pria yang sedang asik bermesraan dengan wanita lain ini.
....................
Gilang memicingkan matanya ketika mengikuti Bara sampai ke apartemen yang berada di atas pusat perbelanjaan itu. Ia sengaja mengikuti pria itu karena ingin tahu kelanjutan pria itu dengan mantan kekasih di masa lalunya. Ternyata benar kata Anne, jika pria itu tidak bisa lepas dari masa lalunya. Sekali Bara bertemu dengan Rene, maka pria itu tidak akan bisa melepaskan Rene lagi. Padahal pernikahan Bara dan Camila tidak sampai dua minggu lagi. "Dia benar-benar b******k. Pantas saja Anne menyimpan dendam padanya." Ia mengepalkan tangannya, memikirkan bagaimana jika Camila tahu semua ini. Cepat atau lambat, ia tahu gadis itu pasti akan tahu. Karena Gilang tahu semua rencana Anne. Termasuk ia yang juga mengambil peran dalam prosesi balas dendam Anne. Hanya ia punya misi lain yang Anne tidak tahu, dan jelas tidak akan Gilang beritahu. "Cepat atau lambat, aku akan merebut Camila darimu."
................
Flashback...
"Di mana calon istri kamu, Bar?" tanya Diana, Ibu dari Bara. Wanita paruh baya itu terlihat khawatir karena semua tamunya sudah datang terutama keluarga besar mereka. Penghulu pun sudah menunggu sejak dua puluh menit dari waktu yang dijanjikan. Mereka memang melaksanakan akad di sebuah gedung mewah sekaligus untuk resepsinya.
Arga, ayah Bara juga mulai tak tenang. Meski wajahnya memasang ekspresi datar, pria yang sudah berumur lima puluh lima tahun itu memikirkan kemana gadis yang seharusnya menjadi pengantin anaknya saat ini. Bahkan keluarga gadis itu juga tidak menampakkan diri. Padahal para saudara, tamu bahkan karyawan kantornya semua sudah hadir. "Bagaimana ini, Bara? Kamu jangan buat ayah malu ya."
Bara terlihat tidak tenang. Kening pria itu berkeringat padahal ruangan tempatnya duduk kini berAC dan sangat luas. Ia bukannya tidak berusaha menghubungi calon istrinya, tapi ponsel Rene tidak aktif. Bahkan panggilannya teralihkan oleh operator yang berkali-kali membuatnya geram.
"Dia pergi dengan sahabatmu, Bara!" sahut seorang gadis yang mengenakan dress selutut yang terlihat mewah dan pas melekat di tubuhnya.
"Anne. Apa maksudmu?" Bara terlihat geram. Ia menatap tajam pada Anne yang beraninya bicara sekeras itu di acara pentingnya.
"Dia sudah pergi dengan Dion. Aku tahu dari keluarganya. Rene melarikan diri."
Tiba-tiba Arga merasa rongga dadanya begitu sesak dan nyeri. Lalu tubuhnya ambruk, membuat beberapa tamu terkejut terutama Diana dan Bara.
Dengan segala rasa sakitnya, Bara berusaha tegar dan membawa ayahnya ke rumah sakit. Pria itu berhenti sejenak di depan Anne, menatap gadis itu dengan tajam dan penuh tuntutan. Ia tahu Anne tidak berbohong. Tapi mengetahui berita soal kepergian Rene dari Anne, rasanya terlalu janggal. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu.
Sejak saat itu, bukannya Bara bisa dekat dengan Anne, pria itu malah semakin menjaga jarak dari Anne. Ia begitu menyesali kedekatannya dengan Anne. Walau Rene tidak pernah mengetahuinya, ia tetap menyesal karena telah mengkhianati kekasihnya. Mungkin kepergian Rene menjadi karma dari apa yang telah ia lakukan dulu.
Dan selanjutnya kepergian sang ayah dari hidupnya ditambah berita soal pernikahan Rene dan Dion--- sahabatnya, membuat Bara semakin terpuruk dan terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Hidup ini sangat tidak adil!"
................
Hampir tengah malam Bara baru kembali ke rumah, Camila menunggu pria itu sampai ketiduran di ruang tamu. Gadis itu terbangun saat merasakan sentuhan lembab di bibirnya yang ternyata adalah Bara.
"Kamu sudah pulang." Camila tersenyum tipis saat Bara melepaskan kecupan hangatnya.
Bara balas tersenyum hangat lalu pria itu mengeluarkan sebuah kotak yang besarnya sepuluh kali sepuluh sentimeter dengan warna silver itu. "Iya. Tadi aku sekaligus membelikan kamu satu set perhiasan berlian untuk hadiah pernikahan kita nanti."
Camila menutup mulutnya, merasa begitu terharu. Ia merasa bersalah karena sempat berpikiran buruk soal pria yang ia pikir mirip Bara berada di sebuah pusat perbelanjaan tadi sore. Mungkin saja itu memang Bara dan dia sengaja ke sana untuk membelikannya satu set perhiasan ini. Akan tetapi ia malah sempat berpikiran negatif pada calon suaminya ini. "Terima kasih, sayang." Ia langsung memeluk pria itu dengan erat.
Bara mengusap-usap punggung Camila dengan lembut dan mengecup leher gadis itu, menghisapnya dan menjilatnya hingga meninggalkan tanda kemerahan di sana.
"Ja- jangan di sini. Nanti ada yang lihat bagaimana?" Tolak Camila saat Bara mulai mengangkat kaos yang ia kenakan dan meremas kedua bagian sensitifnya.
Bara menggeleng dan tetap mengangkat kaos milik Camila, menikmati tubuh gadis itu seolah tak ada hari lain lagi saja. Membuat Camila mendesah tak tertahankan. "Semua sudah tidur. Aku sudah tidak tahan lagi, sayang."