Part 29

1138 Words
Minggu lalu, Camila dan Bara sudah melakukan tes kesehatan sebagai persyaratan calon pengantin. Bara mendapat info dari dokternya jika hasil tesnya sudah keluar. Jadi saat jam makan siang ia memutuskan untuk langsung ke rumah sakit dan mengambil hasilnya sendiri karena Camila tengah mempersiapkan bahan meeting dan sedang tidak ada di tempatnya. Ia memang tidak berniat mengajak gadis itu. Setelah mendapat hasil pemeriksaan kesehatannya dan Camila, Bara kembali pesimis ketika tahu penyakitnya masih belum mengalami perkembangan. Padahal ia pernah menjalani terapi cukup lama. Namun rupanya semua itu sia-sia jika ia berhenti minum obatnya. Bara meremas hasil pemeriksaannya dengan kesal. Jika begini terus bagaimana bisa ia punya keturunan untuk melanjutkan perusahaannya nanti? Apa Camila akan terus bertahan dan menerimanya setelah mereka menikah meski ia tidak bisa membuat gadis itu hamil? Atau gadis itu suatu saat malah akan meninggalkannya. Walau Camila pernah bilang apapun keadaannya, gadis itu tidak akan pernah meninggalkannya. Mungkin juga Camila sudah menyadari gangguan yang ada pada dirinya karena gadis itu tak kunjung hamil meski mereka sering berhubungan badan hampir setiap hari.  Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Camila tidak boleh tahu soal hal ini. Bara hanya perlu berusaha untuk terapi lagi demi memperbaiki kesuburannya. Atau mereka bisa ikut program kehamilan nanti. Dibanding Camila tahu soal kekurangannya yang sangat buruk ini. Ia tidak mau Camila menganggapnya pria lemah karena tidak bisa memberinya keturunan. "Tidak. Camila tidak boleh tahu. Toh tidak langsung hamil tidak apa-apa. Aku jadi masih punya banyak waktu, dibanding jika punya anak dan waktuku untuk diriku sendiri menjadi sangat sedikit." Ia tersenyum miring sembari melempar hasil labnya ke jok belakang mobilnya. Ia harus menyembunyikan dokumen itu.  .............. "Kamu habis dari mana? Aku tadinya mau ngajak makan siang bersama tapi kamu nggak ada di ruangan," ucap Camila yang ternyata sudah duduk di sofa dalam ruangan Bara. Gadis itu tadi mencari calon suaminya tapi kata karyawan lain dia sudah keluar lebih dulu. Tadi Camila memang sibuk menyiapkan bahan meeting terakhir untuk acara bazar yang akan diadakan perusahaan ini. "Aku tadi habis menyerahkan berkas kesehatan kita, untuk melengkapi dokumen pernikahan," jawab Bara tanpa gugup sedikit pun. Sepertinya ia sudah mulai terbiasa berbohong. "Hasilnya sudah keluar?" Camila tampak antusias. "Lalu bagaimana? Kesuburan kita tidak bermasalah, kan?" tanyanya dengan cepat. Karena ia sangat khawatir jika ada masalah dari dalam dirinya yang membuat ia akan sulit hamil nanti. Bara tersenyum tipis, kepala pria itu menggeleng. Ia berjalan menghampiri Camila dan mengusap puncak kepala calon istrinya itu. "Kamu tenang saja ya. Semua baik-baik saja kok." "Benarkah? Syukurlah jika semua baik-baik saja. Aku sempat khawatir." Camila terlihat begitu lega. Jadi kenapa ia tidak kunjung hamil padahal sering berhubungan dengan Bara tanpa pengaman? Atau mungkin memang belum waktunya ya. Lagipula banyak pasangan di luar sana yang sama-sama sehat kesuburannya tapi belum juga dikaruniai anak. Ia hanya perlu bersabar nanti. Toh ia dan Bara masih belum resmi menjadi pasangan suami istri. "Aku ingin segera istirahat. Ayo kita ke kamar." Bara terlihat lebih dingin dari biasanya. Namun Camila tidak menyadarinya. Ia pikir mungkin kekasihnya hanya kelelahan. Tanpa Camila ketahui jika Bara masih merasa kecewa dengan hasil laboratorium soal kesuburannya. Padahal ia merasa selama ini baik-baik saja. Tubuhnya tidak menunjukkan tanda-tanda jika kesuburannya bermasalah. Ia menatap punggung Camila yang berada di depannya. Jika gadis ini tahu yang sebenarnya, dia pasti akan membatalkan semuanya atau bahkan langsung meninggalkannya.  Tidak. Bara tidak bisa membiarkannya. Ia tidak akan membiarkan namanya memburuk lagi jika ia gagal menikah untuk yang kedua kalinya apalagi dengan karyawannya sendiri. ................ Hari yang terus berlalu, acara pernikahan Bara dan Camila pun semakin dekat. Karena resepsi pernikahan mereka diadakan dua kali yaitu di Malang dan di Jakarta, maka tiga hari sebelum hari H, Bara dan Camila sudah berada di Malang. Mereka akan menjalankan berbagai macam prosesi adat pernikahan khas daerah asal Camila. Sayangnya Om Bara tidak bisa ikut karena penyakitnya yang semakin parah dan dia harus istirahat total di rumahnya. Sehingga Bara sendirian di kota asal calon istrinya. Bara dan Camila tampak serasi saat melakukan prosesi adat pernikahan mulai dari penyiraman sampai saat malam sebelum pernikahan mereka tiba. Setiap prosesi memiliki makna. Termasuk midodareni. Prosesi hajatan pernikahan adat Jawa sebelum hari pernikahan akan diakhiri dengan midodareni. Kata midodareni sendiri berasal dari kata 'widodari' yang dalam bahasa Jawa berarti bidadari. Yang diharapkan dari ritual ini adalah sang pengantin wanita akan secantik bidadari dari surga saat hari pernikahannya esok hari. Malam midodareni dilangsungkan pada malam sebelum acara pernikahan keesokan harinya. Mempelai wanita hanya akan ditemani keluarganya saja dan mendapat wejangan seputar pernikahan. Pada malam ini pula, dengan mengenakan busana Jawa lengkap keluarga calon mempelai pria mengunjungi rumah calon mempelai perempuan untuk memberi seserahan berupa kebutuhan seperti busana, alas kaki, kosmetik, buah-buahan, makanan.  Semua seserahan sudah Bara siapkan dari jauh-jauh hari sehingga saat sudah di Malang, semua persiapannya sudah selesai. Semua seserahan sudah diserahkan pada pihak keluarga Camila. Saat upacara pernikahan pun serangkaian proses Bara dan Camila lalui. Hanya beberapa orang menjadi perwakilan Bara. Itu pun beberapa teman kenalannya yang kebetulan tinggal tak jauh dari Malang dan mau menghadiri pernikahannya.  "Akhirnya nikah juga kalian," ucap Rio, salah satu rekan Bara saat kuliah dan kebetulan dapat kabar dari Bara jika dia akan menikah di Malang. Kebetulan juga Rio sudah bekerja di daerah Surabaya jadi untuk ke Malang tidak terlalu jauh. Jadi ia dan istrinya hadir dalam pernikahan teman kampusnya itu. Rio juga sudah tahu soal batalnya pernikahan Bara beberapa tahun silam dan ia sangat menyayangkan sikap Rene. Padahal yang ia tahu Rene sangat mencintai Bara. "Iya nih. Dimana anak kamu?" tanya Bara yang tahu jika kini Rio sudah memiliki dua anak yang masih kecil. Tidak seperti dirinya yang bahkan baru menginjak pernikahan tapi teman seangkatannya malah sudah punya dua anak.  "Di rumah neneknya. Tidak mungkin mereka kubawa ke sini," balas Rio sembari tersenyum lebar. Ia juga menyalami Camila dan tersenyum pada gadis itu. "Nggak salah kamu pilih gadis ini. Dia bahkan jauh lebih cantik dari Rene." Ia mengedipkan sebelah matanya pada Bara. "Iya dong. Kan harus cari yang lebih baik." Bara menanggapinya membuat pipi Camila memanas. "Sudah sudah. Yang lain sudah mengantri untuk menyalami pengantinnya," ucap Dewi, istri Rio mengingatkan suaminya. "Iya iya. Kami pamit ya. Semoga pernikahan kalian langgeng." "Aamiin. Terimakasih sudah mampir." Bara menepuk-nepuk pundak temannya itu sebelum Rio pergi. Ia lalu menoleh pada Camila dan tersenyum pada wanita yang kini resmi menjadi istrinya. "Aku beruntung memiliki kamu, Mil." "Aku juga, Mas." Camila tersenyum malu-malu, membuat Bara semakin gemas. ................ Rene melempar ponselnya ke segala arah setelah melihat status Bara di sosial medianya. Mantan kekasihnya itu akhirnya menikah dengan gadis lain yang tidak lain adalah Camila. Ia pikir tadinya Bara akan membatalkan pernikahannya demi dirinya tapi sayangnya Bara tidak melakukannya walau hubungan mereka semakin dekat tanpa Camila ketahui. Wanita itu tersenyum miring sembari menatap ponselnya yang tampak baik-baik saja meski telah ia banting. "Aku jamin pernikahanmu akan membuatmu menderita, Camila. Lihat saja. Bara akan menuruti semua keinginanku, meskipun hal itu harus menyakitimu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD